
Jadi, kedua putri ini bukan tipe orang bodoh seperti apa yang Ardian nilai selama ini. Ardian Prasetya merenungkan pemikirannya dangkal. "Itu tidak buruk, bro! Itu cukup tinggi untuk pertama kalinya!" Lee Rion memuji, juga terkejut. Ardian Prasetya hanya empat poin lebih rendah darinya.
"Aku beruntung, kurasa." Ardian Prasetya merasa bahwa dia masih mendapat skor terlalu tinggi, terutama mengingat kesulitan pertanyaannya. "Jadi, tentang traktiran itu? Kamu setuju, kan?" Lee Rion mengajukan tawarannya lagi.
"Bagaimana dengan akhir pekan? Aku tinggal cukup jauh dari sini, dan aku tidak bisa kembali jika aku sampai terlambat." Ardian Prasetya berkata dengan nada meminta maaf.
"Hmm… kau benar, hanya ada beberapa halte bus di sekitar sini. Sampai ketemu di akhir pekan kalau begitu!" Kata Lee Rion, jelas salah paham dengan kata-kata Ardian Prasetya.
Ardian Prasetya menyukai karakter Lee Rion, dan dia benar-benar memilih untuk tidak membohonginya, jika memungkinkan, tetapi pria itu membuat asumsi sendiri. Ardian Prasetya, tentu saja, tidak akan membuat koreksi apa pun. Meskipun, apa yang dia katakan secara teknis tidak benar; Angkara Elvira memang tinggal cukup jauh dari sekolah, dan Arnold Ken tidak bisa hanya menunggu semalaman untuknya……
Ardian Prasetya berjalan ke gerbang sekolah bersama Lee Rion begitu sekolah berakhir. Dia menatap Angkara Elvira dan Tinia Atmaja, yang sedang membuka pintu mobil Arnold Ken. "Aku pergi, sampai jumpa."
"Sampai jumpa." Lee Rion merasa agak sedih, dia berencana untuk minum-minum dan mengobrol dengan Ardian Prasetya malam ini, tetapi lelaki itu sepertinya benar-benar tidak punya waktu.
"Hey! Kau pikir kau akan kemana?! Berhenti di sana!" Lee Rion melompat saat suara keras terdengar di belakangnya. Dia mengangkat kepalanya hanya untuk melihat Roland Pratama, Kevin Dura, dan Seok Ma mengelilinginya. Suara keras itu milik Seok Ma.
Roland Pratama telah melakukan panggilan telepon ke rumah sebelumnya, dan dia mengetahui bahwa Eksekutif Kim mengambil semuanya di pundaknya. Roland Pratama, bagaimanapun, mendapat omelan dari ayahnya, dan dia sangat kesal tentang itu. Semuanya salah Ardian Prasetya, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Ini menyebabkan lonjakan frustrasi Roland Pratama.
__ADS_1
Karena belum ada cara untuk berurusan dengan Ardian Prasetya, Seok Ma menyarankan untuk membalas Lee Rion terlebih dahulu. Bocah itu cukup penuh dengan bangga diri di atap kemarin, bahkan dia menendang ************ Eksekutif Kim setelah Ardian Prasetya menjatuhkannya.
Mata Roland Pratama berbinar mendengar kata-kata Seok Ma. Benar, itu benar! Ardian Prasetya berada di luar kemampuan mereka, tetapi Lee Rion jelas berada di bawah mereka. Memberi beberapa pukulan padanya tidak ada salahnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Lee Rion menjadi lebih jantan dalam dua hari terakhir, tapi saat itu Ardian Prasetya berada tepat di sebelahnya. Sebenarnya tidak banyak yang bisa dia lakukan sendiri, dan ketiga berandalan itu mendatanginya dengan niat jahat yang jelas
"Apa yang kita inginkan? Mengapa kau tidak mencoba mengingat apa yang kamu lakukan dua hari terakhir ini?" kata Roland Pratama. Dia terkekeh dingin sambil menepuk pipi Lee Rion. "Lee Rion, ternyata aku meremehkanmu selama ini, ya? Baru aku tahu bahwa kamu cukup hebat di sekitar sini!"
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Lee Rion memahaminya dengan jelas, memohon tidak akan ada gunanya baginya di sini. Dia secara aneh juga merasa bangga dengan ini, karena dia sudah dianggap ancaman sampai-sampai dijadikan sasaran. Bagaimanapun juga, dia tidak akan terbunuh hanya dengan pemukulan sederhana.
"Masih bertingkah tangguh, ya?!" Roland Pratama menantang sambil memelototi Lee Rion. "Hm? Terlalu takut untuk mengakui kesalahan? Atau karena murid pindahanmu tidak ada di sini untuk melindungimu?"
Lee Rion memperkuat keinginannya, toh tidak ada jalan keluar. "Roland Pratama, kamu dapat melakukan apa pun yang kamu inginkan kepadaku hari ini, tetapi ingat kalau aku akan membayarnya kembali sepuluh kali lipat suatu hari nanti!"
Dengan itu, Lee Rion menegaskan pandangan matanya dan dadanya membusung dengan berani. Dia tahu dirinya lemah, dan dia juga sadar bahwa keberanian adalah satu-satunya yang ia punya.
"Sialan! Pria tangguh, ya? Menarik! Teman-teman, untuk apa kalian masih berdiri di sana? Ayo hajar dia!" Keberanian Lee Rion membuat ancaman dan omong kosong lebih lanjut menjadi sia-sia, dan Roland Pratama memutuskan untuk menyelesaikannya.
__ADS_1
"Ini... Tuan Muda...." Seok Ma berkata dengan gugup saat dia menarik lengan Roland Pratama. "Apa?" Roland Pratama mengerutkan kening. "Apa yang salah dengan kalian?"
Seok Ma menunjuk agak jauh saat dia berbicara, suaranya sedikit bergetar. "Tuan Muda, di sana...."
"Eh!? Apa-apaan itu!?" Roland Pratama mengutuk saat dia menoleh untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleg Seok Ma. Matanya membelalak kaget saat melihat Ardian Prasetya berjalan ke arah mereka dengan seringai di wajahnya.
Apa-apaan ini?! Kenapa dia datang kesini? Bukankah dia sudah pergi?! Roland Pratama sangat panik pada saat itu. Ardian Prasetya benar-benar gila, tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan jika mereka sampai tertangkap lagi olehnya.
Dia merasa malu dengan rasa takutnya, dan dia merasa marah karenanya, tetapi meskipun demikian, bentrok dengan Ardian Prasetya hanya akan berakhir buruk baginya.
Dengan itu, Roland Pratama berputar dan berlari menjauh. Begitu pula dengan Seok Ma dan Kevin Dura, mereka melakukan hal yang sama
Leher Lee Rion masih meregang, dadanya masih menggembung saat dia mempersiapkan diri untuk pukulan yang akan segera terjadi. Namun, apa yang datang di matanya bukanlah sebuah pukulan, malahan yang ia lihat Roland Pratama melarikan diri bersama kelompoknya.
"Huh? Mereka kenapa?" Lee Rion menatap pemandangan itu dengan kaget, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah keberaniannya yang tak terduga membuat mereka takut? Mungkin ancamannya untuk membayar mereka sepuluh kali lipat membuat mereka berpikir dua kali untuk melewatinya? Namun, itu tidak masuk akal. "Memangnya ini dunia di dalam Novel?"
Lee Rion masih berusaha memproses apa yang terjadi ketika sebuah tangan besar mendarat di bahunya, membuatnya terlonjak. Dia menoleh hanya untuk melihat Ardian Prasetya tlersenyum padanya. "Apa yang kamu lakukan, berdiri di sini seperti itu?"
__ADS_1
"Oh!?" Lee Rion langsung mengerti setelah melihat Ardian Prasetya. Mereka lari darinya. "Yah, kali ini aku benar-benar pergi, jaga dirimu!" Ardian Prasetya menepuk bahu Lee Rion lagi sebelum dengan cepat berjalan ke mobil Arnold Ken.
Ardian Prasetya telah menangkap situasi Lee Rion di sudut matanya setelah berpisah dengannya. Dia tidak ingin temannya dihajar oleh Roland Pratama dan antek-anteknya. Jadi, dia memutuskan untuk membantunya.