
Dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba Ferdinan dikagetkan dengan suara ponselnya.
"Zoni, ada apa dia menelepon ku?" Gumamnya saat melihat kontak ponselnya.
"Ya, Zon, ada apa kamu menelpon ku?" tanya Ferdinan sambil menyetir mobilnya.
Dengan fokus menyetir, Ferdinan juga fokus mendengarkan Zoni berbicara lewat sambungan telepon.
"Ok ok ok, nanti malam 'kan, ya. Baiklah, kamu tunggu aku di sana, jangan sampai kamu bohongi aku." Ucap Ferdinan dan tak lupa untuk memberi perintah kepada orang kepercayaannya.
Setelah mendapat kabar dari orang suruhannya, Ferdinan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak terasa sudah sampai di kantornya. Dengan terburu-buru karena sudah terlambat, segera masuk ke ruang kerjanya.
Saat sudah berada didalam ruang kerjanya, Ferdinan disibukkan dengan pekerjaan yang cukup padat dan menguras pikiran dan juga energinya.
Karena jadwal yang padat dan ditambah lagi teringat dengan ucapan yang disampaikan oleh anak buahnya, tentu saja menghalangi cara berpikir untuk menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Yuan, dirinya yang sudah diputus hubungan asmara oleh Vando, serasa tidak terima ketika diputuskan dengan alasan yang belum jelas dan juga belum mendengar kebenarannya.
"Aaaa! kenapa pake acara ponsel di non aktifkan lagi, aih. Ini semua gara-gara lelaki cong_ek tadi, ikut campur urusan pribadi orang saja. Awas saja, aku sumpahin kalau dia juga punya pacar, maka hubungannya akan ikutan hancur sepertiku. Bila perlu pacarnya suka selingkuh, biar nyahok itu orang." Gerutunya sambil berkecak pinggang saat dirinya harus menerima kesialan, juga kehilangan orang yang dicintainya.
Karena tidak ingin otaknya dibuat penat dan banyak pikiran, Yuan akhirnya memilih untuk tidak terlalu pusing memikirkan masalah yang sedang ia hadapi. Sebisa mungkin untuk tetap tenang agar tidak semakin pusing dan kesehatan menurun.
Begitu juga dengan Ferdinan, kini tengah menyelesaikan pekerjaannya hingga tidak terasa sudah siang dan waktunya untuk istirahat.
Jam istirahat yang biasanya menikmati makan siangnya, justru Ferdinan memilih untuk menghubungi Zoni sebagai orang kepercayaannya.
Sedangkan di kediaman keluarga Hamoko tengah dihebohkan dengan kabar duka dari luar negri.
"Apa! Meila!" teriak ibunya Yuan yang memanggil nama putri sulungnya.
"Nyonya! Nyonya! Nyonya kenapa?" teriak salah seorang asisten rumah sambil menepuk kedua pipi milik majikannya.
__ADS_1
Karena sudah panik duluan, salah seorang asisten rumah untuk menghubungi Tuan Arvando Hamoko untuk diminta pulang ke rumahnya. Selain itu, Yuan juga merupakan bagian keluarga Hamoko untuk diminta pulang secepatnya oleh salah seorang asisten rumah orang tuanya.
Karena takut terjadi sesuatu pada ibunya, Yuan langsung pulang ke rumah.
"Mbak, tolong butiknya diurus. Saya mau pulang ke rumah. Satu lagi, nanti kalau ada yang mencari saya, katakan saja sudah pulang duluan." Ucap Yuan memberi perintah kepada salah satu karyawannya.
"Baik, Nona." Jawabnya.
Setelah itu, Yuan bergegas pulang ke rumah dengan memesan taksi. Tidak lama kemudian, taksi yang ia pesan datang dengan tepat waktu yang diminta.
"Pak, tolong tambahkan kecepatannya. Saya buru-buru, dan waktu saya sudah mepet." Pinta Yuan untuk menambah kecepatan laju kendaraan.
Tetap saja, demi keselamatan, pak supir tidak menuruti kemauan Yuan yang ingin segera sampai ke tempat tujuan.
Yuan yang sudah tidak sabar, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan di rumah kediaman keluarga Hamoko tengah panik menunggu pemilik rumah pulang, dan juga kedatangan Yuan.