Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Khawatir


__ADS_3

Setelah itu, Ferdinan kembali masuk ke kamar istrinya untuk melihat keadaannya. Rupanya seorang dokter sudah datang dan tengah menangani kondisi istrinya.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Ferdinan.


"Seperti istrinya Tuan masih shock, saya harap untuk menghiburnya agar tidak semakin berat pikirannya. Untuk obat, sudah saya jelaskan kepada asisten rumah. Satu lagi, jangan menambahkan pikiran kepada istrinya Tuan, takutnya akan bertambah penat pikirannya." Jawab seorang dokter memberi penjelasan.


Ferdinan mengangguk tanda mengerti.


"Terima kasih banyak, Dok. Sekali lagi terimakasih." Ucap Ferdinan.


"Ya udah kalau gitu, saya pamit, permisi." Jawab sang dokter dan pamit pergi.


Ferdinan kembali mengangguk dan mengiyakan. Kemudian, meminta asisten rumah untuk mengantarkan sang dokter sampai di depan rumah. Kini, tinggallah Yuan tengah ditemani suaminya.


Lagi-lagi Yuan masih diam, seolah serasa berat untuk membuka suara.


"Minum dulu obatnya, agar pikiranmu tenang dan kesehatan kamu tidak terganggu." Ucap Ferdinan sambil meraih obat yang tergeletak di atas nakas.


Yuan tetap diam, juga sama sekali tidak bersuara meski hanya menjawabnya satu kata.


Ferdinan yang mengerti akan kondisi istrinya, pun memilih untuk tidak marah dan tetap menjaga istrinya. Meski hanya pernikahan paksaan demi menggantikan posisi kakaknya, Ferdinan tidak mempunyai pikiran untuk menceraikan istrinya.


"Sudahlah, tak perlu kamu terus menerus seperti ini. Semua orang mempunyai takdirnya masing-masing, dan kita sendiri tidak bisa untuk mengelak ataupun melawan takdir. Jadi, kamu harus kuat dan tegar. Jangankan kakakmu, kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita ini nantinya. Semua sudah ada takdirnya, dan kita tinggal menjalaninya. Ini obatnya diminum dulu, jangan siksa dirimu yang larut dalam kesedihan." Ucap Ferdinan menyodorkan obat beserta air minumnya.


Yuan langsung menyambar obatnya yang langsung meminumnya sekali minum dengan tiga kapsul, dan dilanjut dua kapsul hingga air dalam satu gelas pun tandas tidak tersisa.


"Istirahat lah, dan jangan siksa diri kamu yang larut dalam kesedihan." Ucapnya mengingatkan.


Yuan tetap diam dan memilih untuk tiduran dengan posisi memeluk guling. Sedangkan Ferdinan sendiri mencoba mengecek ponselnya, takut jika ada pesan penting yang masuk ke nomor ponselnya. Benar saja, baru saja membuka layar ponsel, rupanya ada pesan masuk dari nomor orang kepercayaannya.


"Ada apa lagi, Zon?" tanya Ferdinan lewat sambungan teleponnya.

__ADS_1


Dengan serius, Ferdinan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Zoni.


"Apa! istrinya Tuan Arvando kritis?"


Ferdinan yang lupa tengah berucap dengan suara yang cukup keras, rupanya dapat di dengar oleh istrinya.


"Mama, Mama!"


Yuan memanggil ibunya dengan suara yang cukup keras, dan kembali beranjak dari tempat tidurnya keluar dari kamarnya.


"Yuan!" teriak Ferdinan memanggil istrinya yang langsung memutus sambungan telepon dan bergegas mengejar istrinya keluar dari kamar dengan langkah kakinya yang cepat.


"Yuan! tunggu." Panggil Ferdinan sambil mengejar istrinya.


"Kamu mau kemana, Yuan? jangan pergi sendirian, biar aku yang akan mengantarkan kamu ke rumah sakit."


Ferdinan langsung menghadang istrinya dengan merentangkan kedua tangannya.


Dengan emosi, Yuan membentak suaminya.


Ferdinan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya dengan mengendarai mobil, langsung menarik tangannya dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobilnya. Kemudian, Ferdinan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan, Ferdinan tidak peduli dengan kendaraan lain yang lalu lalang dengan arah yang saling berlawanan. Juga, tidak peduli jika harus celaka sekalipun, pikir Ferdinan yang semakin menambahkan kecepatan laju kendaraannya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di halaman rumah sakit. Karena sudah tidak sabar, Yuan turun begitu saja dan berlari untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya dirawat.


Ferdinan yang masih dihantui perasaan takut jika terjadi sesuatu pada istrinya, buru-buru untuk mengejarnya.


Setelah mendapat nomor kamar rawat kedua orang tuanya, langsung masuk tanpa permisi dan diikuti oleh Ferdinan dibelakang istrinya.


"Ma! Mama ...."


Dengan perasaan hancur dan bersedih, Yuan langsung memeluk ibunya dengan posisi membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Ma, Mama, maafkan Yuan yang baru datang. Maafkan Yuan, Ma." Ucap Yuan dengan tangisnya. Sedangkan ibu mertuanya Yuan memilih diam, dan tak lupa memberi kode kepada putranya untuk memberi perhatian kepada Yuan.


Mau bagaimanapun, Yuan tetaplah istrinya Ferdinan, dan juga tanggung jawabnya sebagai suaminya.


Ibunya Yuan yang begitu shock bagai mendapatkan sambaran petir dengan kabar duka yang menimpa putrinya, seolah dunianya runtuh dan juga gelap.


Sama halnya yang tengah dirasakan oleh seorang ayah, tentu saja penuh penyesalan ketika putrinya harus berakhir dengan kematian.


Yuan yang tak kuasa lagi untuk berpikir, semakin membuatnya bersedih.


"Ma! bangun, Ma."


Yuan yang seperti kehilangan semangat hidupnya, tak bisa berbuat apa-apa.


Ferdinan yang tidak ingin istrinya jatuh sakit karena beban pikirannya, mencoba untuk membujuknya, dan berharap sang istri akan nurut dengannya.


"Biarkan Mama kamu istirahat, jangan kamu ganggu, kasihan. Lebih lagi Mamamu mempunyai riwayat penyakit jantung, juga penyakit sesak napas, kasihan jika Kesehatannya terganggu." Ucap Ferdinan yang berusaha membujuk dan merayu istrinya agar mau menerima nasehat kecil darinya.


"Lepaskan! aku tidak akan nurut dengan perintahmu, lebih baik kamu pergi dari hadapan ku, karena kamu itu hanya pembawa sial bagiku." Jawab Yuan sambil menepis tangan miliknya suami.


"Aku mana tahu kalau akan terjadi sesuatu yang seperti ini. Sudahlah, jangan larut dalam kesedihan terus menerus." Ucap Ferdinan yang tanpa bosan untuk mengingatkan istrinya, juga memberi nasehat kecil untuknya.


Sedangkan ibunya Ferdinan memilih untuk keluar dari ruang rawat besannya.


"Ferdinan, Mama mau menemui Papa dulu. Kamu bersama istrimu tetap lah berada didalam ruangan ini. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa hubungi Mama atau Papa." Ucap ibunya Ferdinan memberi pesan kepada putranya.


Tidak ingin menjadi pengganggu suami-istri, ibunya Ferdinan segera pergi dari ruangan tersebut.


Tidak ada pilihan lain, Ferdinan melayani istrinya layaknya istri yang sesungguhnya. Namun, pernikahan keduanya berawal dari paksaan demi menjaga nama baik keluarganya. Juga, untuk menutupi malu keluarganya dengan terpaksa menjodohkan anak keduanya dengan anak kedua calon besan.


Siapa sangka juga, jika Ferdinan beneran menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak dikenalinya. Namun, siapa sangka jika kakak dari Yuan telah mengalami musibah dan nyawalah yang harus menjadi taruhannya.

__ADS_1


__ADS_2