Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Menerima nasehat


__ADS_3

Sang ibu pun tersenyum tipis ketika mendengar ucapan dari Daniel, dan mengusap punggungnya.


"Semua sudah berlalu, tidak bisa kita rubah menjadi waktu yang semula. Kamu cukup jalani hidup ini sebagaimana seperti air mengalir, tak perlu kamu mengulanginya lagi, tapi memperbaiki diri itu jauh lebih baik lagi. Percayalah, jodoh dan maut itu kita tidak akan pernah tahu, bahkan kesuksesan pun kita tidak bisa mengetahuinya. Setidaknya kita harus berhati-hati ketika melangkahkan kaki kita. Jadi, kamu yang sabar ya, semoga kebahagiaan akan segera kamu dapatkan." Ucap ibunya mencoba memberi ketegaran kepada Daniel.


"Ya, Ma. Terima kasih banyak sudah memberi nasehat kepada Daniel. Mungkin belum jodohnya Daniel dengan Yuanda, dan mereka berdua mungkin memang berjodoh." Jawab Daniel yang tengah menyadari atas kesalahan dirinya sendiri yang telah kabur di hari pernikahannya.


Sang ibu kembali mengusap punggung Daniel untuk menguatkan hatinya agar tidak mudah termakan oleh emosinya sendiri, karena bisa merugikan diri sendiri.


"Sudah hampir larut malam, ayo masuk ke rumah. Tidak baik malam-malam begini kamu masih berada di luar bergadang." Ucap ibunya yang mencoba membujuk putranya untuk istirahat.

__ADS_1


Daniel yang memang mulai merasa kantuk, pun menerima ajakan ibunya untuk istirahat. Setelah itu, Daniel bergegas kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan ibunya, sama halnya untuk kembali ke kamarnya.


Sedangkan di kamar yang satunya, Ferdinan tengah memeluk istrinya tanpa ada rasa canggung maupun malu. Kini keduanya tengah tidur dengan pulas layaknya suami-istri yang sesungguhnya.


Awal pernikahan yang penuh keterpaksaan, dan sekarang sudah menjalani hubungan pernikahan tanpa keterpaksaan. Bahkan, Ferdinan dengan beraninya mengutarakan isi hatinya. Begitu juga dengan Yuan, sama halnya yang tengah mengakui atas perasaannya dan tidak ada penolakan apapun meski masa lalunya telah datang di hadapannya.


Ferdinan lah yang ia pilih menjadi teman hidupnya untuk selamanya, hingga napas berhembus diakhir perjalanan hidupnya.


Yuan yang tersadar dari tidurnya yang nyenyak, pun terbangun seketika.

__ADS_1


"Mau kemana, hem? sini aku peluk lagi, aku masih mengantuk. Biarkan kita bangun kesiangan, anggap saja kita sedang berbulan madu." Ucap Ferdinan kembali menarik tangan istrinya hingga berada didalam dekapannya.


"Iya aku tahu, tapi ini sudah pagi. Apa kamu sudah lupa, hari ini kamu harus pergi ke kantor. Aku merasa gak enak, juga malu dengan Mama dan Papa, jika aku bangunnya kesiangan. Sudah deh, biarkan aku bangun." Jawab Yuan sambil melepaskan pelukan dari suaminya.


Bukannya dapat terlepas dari pelukan suaminya, justru semakin erat memeluk dirinya. Tentu saja, Yuan semakin kesulitan ketika dirinya harus bisa lepas dari pelukan suaminya.


Merasa tidak sanggup untuk berlepas diri dari sang suami, Yuan akhirnya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya atas kemauannya.


"Nah, begini 'kan enak. Kamu tahu, pagi ini adalah awal kebahagiaanku karena sudah memenangkan hatimu. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kamu untuk menjadi miliknya orang lain. Aku akan selalu mempertahankan kamu untuk menjadi istriku selamanya, hingga napas kita telah berakhir." Ucap Ferdinan sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


Yuan yang merasa begitu beruntung mempunyai suami yang bertanggungjawab dan penuh pengertian, hidupnya seakan sudah sempurna dengan cinta yang ia dapatkan dari suaminya.


__ADS_2