
Sampainya di rumah, Yuan segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Mama! Ma!" teriak Yuan sangat kencang ketika memanggil ibunya sambil berlarian.
Juga, Tuan Arvando ikut berlarian untuk melihat kondisi istrinya. Dengan napasnya yang terengah-engah, akhirnya sudah berada didalam kamarnya.
"Ma! Mama kenapa? Mama baik-baik saja 'kan, Ma?"
Yuan begitu khawatir dengan kondisi ibunya. Sang ibu menggelengkan kepalanya. Tuan Arvando segera menarik kursi dan duduk didekat istrinya.
"Ma, ada apa dengan Mama? katakan saja, Mama jangan dipendam sendiri."
"Nona Meila, Tuan."
"Meila, kenapa dengan Meila?" tanya Tuan Arvando yang langsung berdiri ketika mendengar ucapan dari asisten rumahnya.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya ini kabar duka, bahwa Nona Meila telah mengalami kecelakaan dalam pesawat. Kabarnya, Nona tidak selamat." Jawabnya dengan menunduk karena takut informasi yang ia berikan salah, meski informasi tersebut dari pihak kepolisian.
Tuan Arvando yang mendengar ucapan dari asisten rumahnya, pun sangat terkejut bagai terkena sambaran petir. Begitu juga dengan Yuan, tubuhnya mendadak lemas tak berdaya. Bahkan, kedua kakinya seraya tidak mampu untuk menopang berat badannya hingga terjatuh, dan langsung ditahan oleh asisten rumah satunya.
"Kak Meila, Kak Meila. Enggak, ini pasti berita bohong. Tidak, Kak Meila masih hidup, aku yakin itu." Ucap Yuan yang tidak percaya jika kakaknya telah tiada.
__ADS_1
"Nona, yang sabar, Nona. Kita bisa tanyakan lagi mengenai informasi dari pihak kepolisian, sekarang tenangkan dulu pikirannya Nona." Jawab salah seorang asisten rumah untuk memenangkan pikirannya.
Tuan Arvando sendiri masih diam membisu, seraya tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari asisten rumahnya.
"Tuan, Tuan, Tuan!"
Saat itu juga, Tuan Arvando dan istrinya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Sedangkan Yuan sendiri tengah menangis dengan tubuhnya yang tidak berdaya. Salah seorang asisten rumah tengah mencoba untuk menenangkan kesedihannya.
"Nona, tenangkan dulu pikirannya Nona. Semoga informasi yang diterima itu salah, dan Nona Meila masih diberi keselamatan dan kembali ke rumah dengan keadaan selamat." Ucapnya yang berusaha untuk menenangkan majikannya.
Yuan yang masih diam membisu, seolah dunianya runtuh. Pertama, dirinya harus kehilangan orang yang dicintainya, dan kedua harus kehilangan saudaranya yang sangat disayanginya. Kini, seolah dunianya tengah merenggut kebahagiaan yang ia punya.
Tidak hanya Ferdinan saja yang mendapat kabar, tetapi kedua orang tuanya juga mendapat kabar yang sama seperti putranya. Karena khawatir dengan kondisi besannya dan juga menantunya, kedua orang tuanya Ferdinan segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi besannya.
Ferdinan yang tengah dalam perjalanan menuju rumah kediaman keluarga istrinya, menambah kecepatan laju kendaraan mobilnya.
"Bagaimana ini, mana nanti malam ada rencana lagi. Kalau sampai aku melewatkan, maka aku tidak akan mempunyai bukti." Gumamnya, dan langsung memukul setir mobilnya.
Ferdinan yang merasa waktunya akan terbuang sia-sia, dirinya menggerutu tidak ada hentinya.
Cukup kencang laju kendaraannya, akhirnya sampai juga di halaman rumah milik mertuanya.
__ADS_1
"Tuan, akhirnya datang juga. Kasihan Nona Yuan, dari tadi hanya bengong dan melamun." Ucap seorang yang menjadi kaki tangan keluarga mertuanya.
"Dimana Nona Yuan, Pak?" tanya Ferdinan yang memang belum mengetahui dimana kamar milik istrinya.
"Mari, Tuan. Mari saya antar Tuan ke kamar Nona Yuan." Jawabnya sambil membungkukkan badan dan berjalan menuju anak tangga dan menapaki anak tangga paling bawah hingga ke anak tangga yang paling atas.
Sampainya di depan pintu kamar miliknya Yuan, pun berhenti.
"Silakan masuk, Tuan." Ucapnya mempersilakan masuk kepada majikannya.
Ferdinan mengangguk dan segera masuk ke kamar istrinya. Saat pintu dibuka, Ferdinan melihat kondisi istrinya yang tengah bersandar di atas tempat tidurnya dan berjalan mendekatinya. Salah seorang asisten rumah segera keluar dari kamar majikannya. Kini, tinggal Yuan dan Ferdinan yang ada didalam kamar.
Ferdinan yang awalnya merasa kesal, tiba-tiba mendadak merasa kasihan ketika melihat kondisi istrinya yang tengah bersedih.
"Yang sabar dulu, mungkin informasi yang kamu terima tidaklah benar. Mungkin saja polisinya salah memberi informasi, tenangkan dulu pikiran kamu." Ucap Ferdinan mencoba untuk menenangkan pikiran istrinya.
Kemudian, Ferdinan meraih gelas berisi air minum. Lalu, ia menyodorkan kepada istrinya.
"Minumlah, setidaknya pikiran kamu sedikit tenang. Jangan menyiksa diri, kesehatan lebih utama." Ucap Ferdinan.
Yuan masih diam, terlihat jelas jika pikirannya tengah kosong. Kemudian, Ferdinan mencoba untuk melambaikan tangannya yakni membuyarkan lamunan istrinya, dan berharap sang istri mendapat respon darinya.
__ADS_1