
Tetap saja, Yuan tidak meresponnya sama sekali.
"Yuan, minumlah." Ucap Ferdinan kembali dengan menyodorkan air minum kepada istrinya.
"Aku tidak butuh perhatian dari laki-laki yang sudah menghancurkan hubungan ku dengan kekasihku. Lebih baik kamu pergi dari kamarku ini, dan pulanglah ke rumah mu." Jawab Yuan dengan ketus.
Ferdinan yang mendengarnya, pun justru tersenyum pada istrinya.
"Oh, jadi kamu masih marah dengan kejadian yang tadi? mana aku tahu, kalau kekasih mu ada di butik."
"Diam lah, lebih baik kamu pergi dari hadapan ku. Karena aku gak butuh kamu untuk bersimpati dengan keadaan keluargaku saat ini. Seharusnya kamu senang melihat keadaanku yang sekarang, sudah kehilangan lelaki yang aku cintai, dan kini harus kehilangan seorang kakak yang aku sayangi. Jadi, kehadiran kamu di dalam hidupku itu hanya pembawa sial, paham." Ucap Yuan dengan penuh kesal.
Ferdinan yang mendapat tuduhan dari istrinya, pun tidak marah sama sekali. Justru si Ferdinan memilih untuk diam, dan tetap berada didalam kamar.
"Aku minta maaf, soal kesalahanku tadi. Sekarang minumlah, setidaknya emosi kamu berkurang." Jawab Ferdinan dan menyodorkan kembali air minumnya.
__ADS_1
Yuan yang memang terasa haus, pun menerimanya dan meminumnya hingga tandas tak tersisa.
"Sekarang kamu istirahat lah, biar aku yang akan menunggumu disini. Juga, aku akan mencarikan informasi tentang kecelakaan kakakmu. Jadi, kamu tidak perlu memikirkannya terlalu larut dalam kesedihan. Soal kedua orang tuamu, sekarang sedang ditangani oleh dokter. Jangan khawatir, kedua orang tuaku yang menunggunya." Ucap Ferdinan yang lagi-lagi mencoba untuk menenangkan pikirannya sang istri.
Yuan tetap diam dan tidak menjawabnya sama sekali. Rasa kesal terhadap suaminya masih ia simpan karena dirinya merasa mendapat kesialan setelah menjadi istrinya.
Pernikahan yang tidak pernah diharapkan oleh keduanya, pun sama sekali tidak terlintas dalam benaknya masing-masing hingga menjadi kesedihannya soal kabar duka yang diterima oleh Yuan mengenai kakaknya sendiri yang memilih kabur di hari pernikahannya.
"Permisi, Tuan, Nona."
"Di depan ada pak polisi, katanya ingin bertemu dengan anggota keluarga Tuan Arvando."
Seketika, Yuan langsung bangkit dari posisinya dan keluar dari kamarnya. Kemudian, ia buru-buru menemui pak polisi yang tengah menunggu di depan rumah.
Sontak saja, Ferdinan sendiri kaget saat melihat istrinya yang langsung keluar dari kamar.
__ADS_1
Ferdinan yang takut emosi istrinya tidak dapat dikendalikan, secepatnya mengejar istrinya.
"Pak Polisi, Kakak saya selamat 'kan, Pak?" tanya Yuan yang sangat ingin mendapat kabar baik dari polisi.
Pak Polisi yang mendapat pertanyaan dari Yuan, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Maaf, kami tidak bisa membawa kabar baik untuk keluarga Tuan dan Nona, bahwasanya Nona yang bernama Meila tidak terselamatkan dari kecelakaan pesawat terbang. Sekarang jenazah korban sedang di urus dan akan dipulangkan ke rumah duka." Jawab pak polisi sesuai informasi yang didapat.
Yuan bagai kehilangan semangatnya, dan sekujur tubuhnya mendadak tak berdaya sama sekali. Bahkan, kedua kakinya tak dapat menopang berat badannya dan jatuh pingsan. Ferdinan langsung menangkap tubuh istrinya dan membawanya ke kamar dan meminta kepada asisten rumah untuk memanggilkan dokter agar memberi penanganan kepada istrinya.
"Bi, tolong temani istri saya sebentar sampai dokter datang. Saya harus menghubungi orang tua saya terlebih dulu untuk memberi kabar yang baru saja polisi sampaikan." Ucap Ferdinan kepada asisten rumah.
"Baik, Tuan." Jawabnya dengan anggukan.
Ferdinan yang sebenarnya tidak tega untuk menyampaikan kabar duka kepada orang tuanya, pun tidak mempunyai pilihan lain selain menyampaikan pesan dari polisi untuk mertuanya. Tetap saja, Ferdinan meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak mengatakannya di depan ayah mertua maupun ibu mertua dalam keadaan yang belum siap untuk menerima informasi yang sudah benar beritanya.
__ADS_1