
Yuan yang melihat Daniel sudah pergi dari hadapan suaminya, dirinya menghampirinya.
"Kak Daniel memang masa laluku, sedangkan kamu masa depanku. Terima kasih sudah memberiku perhatian yang cukup banyak kepadaku, hingga aku tidak tahu harus mengingatnya yang mana dulu. Kamu datang di kehidupanku seakan menyulap kesedihanku ini menjadi hidupku yang penuh bararti setelah aku kehilangan keluargaku." Ucap Yuan dan langsung memeluk suaminya dengan erat.
Ferdinan pun membalas pelukan dari istrinya.
"Kamu perempuan yang sangat istimewa untukku, darimu aku belajar bagaimana menjadi seorang lelaki yang bertanggungjawab dan memenangkan hatimu." Jawab Ferdinan merasa sangat beruntung dipertemukan dengan sosok Yuan, dan juga sangat beruntung ketika kedok kekasihnya telah terbongkar.
Ferdinan tidak bisa membayangkan jika dirinya menikah dengan Jenny, mungkin saja dirinya akan menjadi budaknya dan juga alat peras oleh Jenny, pikirnya.
Tapi takdir berkata lain, Ferdinan akhirnya dipertemukan dengan perempuan yang tidak pernah ia sangkakan dan tidak pernah terbesit didalam pikirannya jika dirinya akan menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak di sukainya. Namun, justru dirinya sangat bersyukur telah menikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Ferdinan benar-benar merasa sangat bersyukur melebihi memenangkan hoki.
"Sepertinya sudah waktunya untuk sarapan pagi, ayo kita masuk ke dalam." Ajak Ferdinan kepada istrinya.
__ADS_1
"Tunggu,"
"Ya, kenapa?"
Yuan tersenyum terlebih dahulu kepada suaminya sebelum meminta izin.
"Aku boleh ke butik lagi, gak?" tanya Yuan dan menggigit bibir bawahnya karena takut dirinya tidak akan mendapatkan izin dari suaminya.
"Boleh saja, tapi tidak untuk bertemu dengan lelaki siapa itu dulu, si pacar atau si kekasih?"
Lagi-lagi Yuan seperti mendapat sindiran dari suami. Saat itu juga, justru Yuan tertawa kecil ketika mengingatnya lagi.
"Enggak lah, untuk apa bertemu dengannya. Aku sadar jika aku memang salah, itu juga diluar kendaliku. Mungkin dia memang bukan ditakdirkan untuk menjadi jodohku, tentu saja tidak akan berjodoh. Semoga kamulah orangnya yang menjadi jodohku hingga maut menjadi jalan perpisahan."
__ADS_1
"Semoga benar, bahwa kita memang berjodoh. Ya udah, ayo kita masuk ke rumah. Nanti aku yang akan mengantarkan kamu ke butik, pulangnya juga aku yang akan menjemput mu." Ucap Ferdinan dan menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
Saat berada di dalam rumah, Ferdinan dan Yuan segera mencuci tangan dan ikut sarapan pagi bersama keluarga.
Daniel yang sedari tadi memperhatikan Yuan, terasa berat untuk melihat pemandangan yang bukan menjadi miliknya.
Yuan yang tidak ingin membuat suaminya cemburu, memilih untuk menundukkan pandangannya meski tetap saja masih dapat diperhatikan oleh Daniel.
Sedangkan Tuan Herdana dan istrinya yang melihat suasana di dalam ruang makan serasa sunyi, pun akhirnya membuka suara.
"Tidak ada yang perlu canggung di dalam rumah ini. Satu lagi, tetap ingat dengan posisinya masing-masing. Kalau terus-terusan selalu seperti ini, mana bisa kita menikmati sarapan pagi bersama tanpa rasa canggung." Ucap Tuan Herdana yang akhirnya membuka suara.
Daniel yang masih kaku di hadapan Yuan, dirinya belum terbiasa memperlakukan Yuan layaknya adik iparnya. Mau bagaimana pun, masa lalu yang pernah dilewarmti bersama meski sebentar, tetap akan teringat dan membekas. Lebih lagi di antara keduanya tidak ada yang mengajaknya putus ataupun berpisah, tentunya Daniel masih terngiang akan masa lalunya bersama Yuan.
__ADS_1