Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Pesan terakhir


__ADS_3

Ferdinan yang mengerti akan keadaan istrinya yang tengah dirundung kesedihan, dirinya ikutan duduk di sebelahnya.


"Kamu yang sabar, ya. Mungkin ini ujian mu, semoga musibah yang sedang menimpa keluargamu segera berlalu, dan kamu dapat menjalani hidupmu dengan tenang." Ucap Ferdinan yang mencoba untuk bicara yang baik-baik terhadap istrinya.


Lebih lagi dengan musibah yang tengah menimpanya, tentu saja bukan perdebatan yang harus ditunjukkan.


"Ya, sabar banget malah. Gak cuman sabar menerima musibah, tetapi juga sabar menghadapi kekesalan darimu." Jawab Yuan dengan ketus, dirinya masih merasa kesal lantaran selalu mendapat makian dari sang suami.


Ferdinan yang mendengar kalimat terakhir yang menyebutkan dirinya, pun tersenyum tipis.


"Sudahlah, mendingan kamu istirahat saja. Soal kedua orang tuamu, biar aku yang menunggunya. Jangan biarkan untuk bergadang, nanti kesehatan kamu menurun." Ucap Ferdinan berusaha bersikap baik terhadap istrinya.


Meski tidak ada rasa saling cinta, sebisa mungkin untuk bersikap baik kepada istrinya. Mau bagaimanapun, Yuan adalah istri sahnya, juga tanggung jawab dirinya dengan sepenuhnya.


Yuan yang memang membutuhkan waktu untuk istirahat, sama sekali tidak menolak dengan perintah suaminya.


"Terima kasih banyak, karena kamu sudah peduli dengan keluargaku. Maaf, sudah merepotkan kamu." Jawab Yuan sebaik mungkin, dan juga mencoba untuk meredakan kekesalannya.


Ferdinan mengangguk.


"Selamat malam." Ucap Ferdinan dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Kemudian, Ferdinan segera melihat kondisi ayah mertua maupun ibu mertuanya. Belum juga masuk ke ruangan pasien, Ferdinan dipertemukan dengan ayahnya.


"Papa, dimana Mama?"


"Mama kamu sedang menemani Mama mertua kamu, soalnya kasihan dengan asistennya. Jadi, Mama kamu memilih untuk menunggu Mama mertua kamu sampai sadarkan diri." Jawab sang ayah.


"Terus, apakah Mama mertua sampai sekarang belum sadarkan diri?" tanya Ferdinan penasaran.


"Tadi sudah, itupun karena napasnya. Sekarang belum sadarkan diri, juga dengan kondisi Papa mertua kamu, yang juga kritis. Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan kedua orang tuanya istri kamu. Oh ya, tadi kamu pergi kemana? kata Yuan kamu ada pertemuan, dengan siapa?"

__ADS_1


"Tidak dengan siapa-siapa, hanya teman. Ya udah ya, Pa, Ferdinan mau temui Papa mertua dulu. Oh ya, Papa mau kemana?"


"Papa mau nyari makanan dulu, kasihan Mama kamu belum makan. Ya udah kalau kamu ingin melihat kondisi Papa mertua kamu, jangan lama-lama, itu pesan dari dokter."


"Baik, Pa." Jawab Ferdinan yang langsung segera pergi untuk melihat kondisi ayah mertuanya.


Ferdinan yang benar-benar penasaran dan juga khawatir, ingin segera melihatnya. Saat sudah di depan ruang rawat ayah mertuanya, pelan-pelan membuka pintunya.


Sedih, itu sudah pasti tengah dirasakan Ferdinan. Meski belum mengenalnya dengan akrab, Tuan Arvando adalah ayah mertuanya. Tentu saja, ikut merasakan sedih dengan musibah yang tengah menimpa keluarga istrinya.


Sambil memperhatikan kondisi ayah mertuanya, Ferdinan mendoakan untuk kesembuhan ayah mertuanya. Juga, berharap keluarga istrinya segera dijauhkan dari musibah maupun mara bahaya.


Karena tidak mendapat respon atas kehadirannya, Ferdinan akhirnya memilih untuk melihat kondisi ibu mertuanya.


Seketika, tiba-tiba tangannya ada yang meraih, juga menahan langkah kakinya. Ferdinan yang mendadak kaget, pun langsung menoleh.


Alangkah terkejutnya saat ayah mertuanya menyambar tangannya.


Ferdinan yang merasa dipanggil, mendekati ayah mertuanya.


"Ya, Pa, Papa sudah sadar, 'kan? tunggu, Pa, Ferdi panggilkan dulu."


Tuan Arvando menggelengkan kepalanya, yakni tanda menolak.


"Tit-tidak perlu," jawab ayah mertua dengan terbata-bata.


Tetap saja, Ferdinan langsung menekan tombol dan berharap dokter segera datang dan memeriksa kondisi ayah mertuanya.


"Nak, Pap-papa tit-tip Yu-Yuan sam-ma kam-kamu. Jag-jaga did-dia, daaan sas-sayangi did-dia."


Seketika, Tuan Arvando menghembuskan napasnya yang terakhir.

__ADS_1


"Papa ...!" Pa! bangun, Pa! Papa! bangun." Teriak Ferdinan yang seperti kehilangan seorang ayah, meski yang ada dihadapannya itu adalah seorang ayah mertua.


Saat itu juga, dokter pun datang dan segera memeriksa kondisi Tuan Arvando yang tidak sadarkan diri.


Dengan segala cara dalam pemeriksaan, sang dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Pasien sudah tidak terselamatkan, telah tiada." Ucap sang dokter.


Ferdinan yang mendengar ucapan dari dokter, pun sangat terkejut.


"Papa ...!" teriak Yuan yang rupanya sudah berdiri di belakang suaminya dan langsung memeluk tubuh sang ayah yang tidak lagi berdaya.


Yuan menangis histeris.


"Papa! bangun, Pa. Pa! jangan tinggalkan Yuan sama Mama, Pa. Papa bangun, Pa."


Yuan terus memanggil ayahnya, dan berharap mendapatkan keajaiban. Namun, yang namanya takdir tetap lah takdir dan tidak dapat di elak.


Ferdinan yang melihat istrinya tengah menangis histeris sambil memeluk ayahnya, berusaha untuk menenangkan pikirannya.


Yuan yang seakan dunianya runtuh dan gelap gulita, tubuhnya tak mampu untuk berdiri. Seketika, Yuan kembali jatuh pingsan.


"Yuan, bangun, Yuan." Panggil Ferdinan sambil menepuk pipinya dan berharap mendapatkan respon dari istrinya.


Ferdinan yang takut terjadi sesuatu pada diri istrinya, segera membawanya ke ruang pemeriksaan agar mendapatkan penangan khusus.


Sedangkan orang kepercayaan ayahnya Ferdinan yang tengah menunggu di luar, segera mengurus jenazah ayah mertuanya.


Sungguh nasib yang begitu malang tengah menimpa keluarga istrinya. Selain kehilangan sosok Melia, Yuan juga kehilangan sorang ayah.


"Bagaimana ini, apa yang harus dikatakan kepada ibunya Yuan kalau Tuan Arvando telah tiada. Sungguh, musibah ini sangat berat untuk diterima oleh Yuan maupun ibunya." Gumam Ferdinan yang tengah menunggu istrinya dalam pemeriksaan dokter.

__ADS_1


__ADS_2