
Yuan yang sudah naik ke atas tempat tidur dan posisinya yang ada disebelah suaminya, langsung menyambar guling yang ada di dekatnya. Nahas, Ferdinan yang lebih dulu merebut bantal guling.
"Berikan padaku bantal gulingnya, cepetan. Kamu kan cowok, jadi gak perlu pakai bantal guling segala." Ucap Yuan sambil menatap kesal pada suaminya.
Ferdinan yang sengaja ingin membuat istrinya kesal, langsung turun dari tempat tidur dan mengambil bantal kecil yang berukuran persegi yang ada di sofa, ia memberikannya kepada sang istri.
"Nih! bantal buat kamu, ini guling punyaku, titik. Satu lagi, jangan menggangguku saat tidur, awas saja kamu kalau mengganggu tidurku, apalagi harus mendengkur, bakal aku pasang lakban itu mulutmu." Jawab Ferdinan sambil menyodorkan bantal kecil kepada istrinya, Yuan menatap suaminya sambil melotot.
Yuan yang merasa seperti dikerjain oleh suaminya, langsung merebut bantal guling yang ada ditangan suaminya. Keduanya terjadi saling tarik menarik bantal guling yang ada pada Ferdinan.
"Aaa ...!" teriak keduanya saat sama-sama terjatuh ke lantai.
Posisi Yuan yang tengah berada di atas suami, dan untungnya antara Yuan dan Ferdinan tidak terjadi saling berci_uman, lantaran keduanya dengan posisi yang bisa dikatakan sangat tepat.
Ferdinan yang merasakan sakit pada bagian punggung dan kepalanya yang terbentur lantai, dirinya pun meringis kesakitan.
"Kamu ini ya, selalu aja bikin sial." Ucap Ferdinan dengan kesal.
"Enak aja ngatain aku selalu bikin sial, ini semua tuh gara-gara kakak kamu. Coba kalau kakak kamu gak kabur, aku gak akan nikah sama kamu, juga gak bakalan kena sial kek gini." Jawab Yuan sambil bersandar lemari baju yang berada di dekat tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi, gara-gara kakakku? enak aja kalau ngomong. Apa aku gak salah dengar, ini semua juga gara-gara kakak perempuan mu itu yang main kabur aja di acara pernikahan, ngerti."
Yuan yang juga ikut dikomentari, langsung komat kamit yang entah apa yang diucapkan oleh Yuanda.
"Aw!" pekik Yuan saat mulutnya ditepuk oleh Ferdinan karena komat kamit tidak jelas.
"Bisa diam gak itu mulut."
Yuan langsung diam dan tidak berucap sama sekali.
Sedangkan Ferdinan langsung bangkit dari posisinya dan berpindah ke tempat tidur untuk istirahat. Begitu juga dengan Yuan, sama halnya seperti suaminya yang kembali ke tempat semula, yakni berpindah ke tempat tidur.
Malam semakin larut, Ferdinan maupun Yuan masih saja terjaga kesadarannya. Hanya saja, keduanya tidak ada satupun yang bersuara, dan sama-sama diam.
Yuan yang mulai sulit untuk menahan rasa kantuk, pun sudah tidak bisa lagi untuk bergadang. Alhasil, lambat laun si Yuan mulai menyerah dan tertidur dengan sendirinya karena rasa kantuknya yang sulit untuk ia tahan.
Berbeda dengan Ferdinan, dirinya masih belum bisa untuk memejamkan kedua matanya. Bahkan, kesadarannya masih terjaga seperti lampu yang menyala dengan terang.
Karena penasaran dan ingin melihat istrinya sudah tidur atau belum, alih-alih dirinya mengubah posisinya untuk berbaring. Kemudian, ia sedikit mengangkat tubuhnya dan mencoba untuk melihat keadaan istrinya.
__ADS_1
'Sudah tidur rupanya.' Batinnya saat mendapati istrinya yang tengah tidur dengan pulas.
Saat itu juga, tiba-tiba Ferdinan merasa kasihan saat melihat istrinya yang tidur hanya meringkuk tanpa ada bantal guling yang bisa ia peluk.
Ferdinan yang tidak tega untuk melihatnya, pelan-pelan untuk memberikannya kepada sang istri. Kemudian, Ferdinan memasangkannya tepat bagaimana dirinya memeluk guling.
Setelah itu, Ferdinan memilih untuk menyibukkan diri di ruang kerjanya, lantaran rasa kantuk yang belum juga ia rasakan.
Didalam ruang kerjanya, tiba-tiba Ferdinan teringat atas permintaan orang tuanya untuk mencari tahu dimana keberadaan kakaknya sekarang. Tentu saja untuk dimintai keterangan agar masalah cepat selesai dan tidak ada gosip yang bermunculan di media manapun.
Karena penasaran, alih-alih si Ferdinan mencoba untuk menghubungi kakaknya di waktu tengah malam.
Saat sambungan teleponnya tersambung, Ferdinan langsung antusias untuk menunggu, dan berharap sang kakak akan menerima panggilan telepon darinya.
Sayangnya, bukannya diterima panggilan telepon dari Ferdinan, justru tiba-tiba panggilannya pun terputus.
Ferdinan pun penasaran dan panik, akhirnya mencoba untuk menghubunginya lagi. Nahas, justru nomor yang ia hubungi tidak lagi aktif. Tentu saja, Ferdinan dapat mengetahui jika telepon telah dinonaktifkan.
"Dimana sebenarnya kak Daniel berada? kenapa tiba-tiba ponselnya dimatikan. Apa iya, kak Daniel masih ada disekitaran sini saja? semoga saja dalam waktu dekat ini bisa aku temukan keberadaannya." Ucapnya lirih.
__ADS_1