
Takdir sudah ada pada diri masing-masing di setiap makhluk-Nya. Manusia tidak bisa mengelak dan menolak, maupun memberontak atas takdir yang menjadi takdirnya.
Begitu juga dengan Yuan, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi, karena takdir tetaplah takdir yang sudah dikehendaki. Sedikitpun tidak bisa lari dari kenyataan sekalipun bersembunyi di manapun.
Ferdinan yang selalu berada di dekat istrinya, sama sekali tidak merasa risih ketika dirinya mempunyai tanggung jawab yang cukup besar atas istrinya. Lebih lagi sang istri yang tidak mempunyai keluarga yang utuh, tentu saja merasa sangat kehilangan atas kepergian kedua orang tuanya bersama kakaknya. Sedih dan sangat menyakitkan itu sudah pasti.
Namun, mau bagaimana lagi, manusia tidak bisa melawan takdir.
Kedua orang tuanya Ferdinan yang tengah istirahat karena selalu siaga menjaga kedua orang tuanya Yuan, pun masih merasakan kesehatan atas musibah yang menimpa keluarga menantunya. Lebih lagi keluarga Jayakama dan kelurga Hamoko sudah bagai bagian keluarga dari masa lalu hingga kini, tentunya hubungan kedua keluarga sangatlah baik.
Yuan yang sudah meyakinkan dirinya untuk melihat mendiang kedua orang tuanya, berusaha untuk tetap tegar ketika menerima ujian yang begitu berat untuknya.
__ADS_1
Meski kehilangan anggota keluarganya, Yuan tidak merasa sendiri lantaran ada suami yang begitu bertanggung jawab atas dirinya, tentu saja membuatnya sedikit tenang, meski masih dihantui dengan perasaan khawatir jika perhatian yang didapat dari suaminya hanya drama, pikir Yuan yang masih ada rasa sedikit ragu, pikirnya.
"Kamu yakin nih, mau melihat kedua orang tuamu yang terakhir kalinya? pikirkan lagi jika kenyataannya kamu tidak kuat menahan kesedihanmu. Jangan memaksakan diri, kamu bisa mendatangi makamnya besok pagi." Ucap Ferdinan yang berusaha untuk meyakinkan istrinya.
Yuan mengangguk.
"Aku yakin kalau aku bisa menghadapi semua ini, percaya lah denganku." Jawab Yuan penuh yakin, meski ada rasa sedikit was-was jika dirinya akan jatuh pingsan, pikirnya.
Karena sudah yakin dan tidak ada yang dipikirkan lagi, Ferdinan menggandeng tangan istrinya sambil menuruni anak tangga.
Saat sudah berada di ruang tamu, didalam ruangan tersebut tengah dipadati oleh orang-orang yang tengah datang untuk melayat meski sudah lewat tengah malam sekalipun. Yuan yang mulai terasa sesak bagian dadanya karena melihat suana duka di rumahnya. Lebih lagi yang berbaring lemas tak bernyawa yang tidak lain kedua orang tuanya sendiri, tentu saja sangat bersedih.
__ADS_1
Yuan tengah memandangi kedua orang tuanya secara bergantian, sungguh menyayat hatinya ketika melihat kedua orang tuanya berbaring tak bernyawa.
"Mama, Papa, selamat jalan. Semoga kalian tenang di alam sana. Yuan pasti bakal merindukan kalian, juga dengan kakak. Yuan tidak punya siapa-siapa lagi, Yuan sebatang kara sekarang." Ucap Yuan dengan isak tangisnya.
Ferdinan yang mengerti dengan suasana hati istrinya, memeluknya untuk memberi ketenangan.
"Lapangkan hatimu untuk kepergian Papa dan Mama, juga kakak kamu. Percayalah denganku, kamu tidak sebatang kara, kamu masih ada aku dan juga kedua orang tuaku, juga keluarga dari kedua orang tuamu. Ayo, lebih baik kita kembali ke kamar. Relakan kepergian Mama dan Papa. Kita sebagai anak untuk tidak lepas dari doa, ayo kita kembali ke kamar." Timpal Ferdinan yang mencoba untuk membujuk istrinya agar mau nurut dengannya.
Yuan yang sudah tidak sanggup lagi untuk berada di dekat mendiang kedua orang tuanya, akhirnya nurut dengan ajakan suaminya.
Karena waktu yang sudah hampir pagi, cepat-cepat untuk segera mengebumikan kedua jenazah orang tuanya Yuan sebelum matahari terbit.
__ADS_1