Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Menerima ajakan


__ADS_3

Setelah beberapa hari dan juga sudah lewat sepuluh hari lebih, suana di kediaman keluarga mendiang Tuan Arvando menjadi sunyi dan sepi.


Keluarga Jayakama yang tidak ingin menantunya terus-menerus larut dalam kesedihan, mengajaknya untuk tinggal di rumahnya.


Awalnya Yuan menolak, tetapi tidak mempunyai pilihan lain untuk menolak. Dengan tekadnya yang sudah bulat, akhirnya Yuan menerima permintaan dari ayah mertua maupun ibu mertuanya, juga suaminya yang mengajaknya untuk tinggal bersama.


"Bagaimana Nak Yuan, apakah kamu sudah siap untuk kembali ke rumah kami?" tanya ibu mertuanya.


Yuan pun mengangguk tanda menyetujui atas pertanyaan dari ibu mertuanya.


"Ya, Ma. Yuan nurut saja apa yang menjadi keputusan Mama dan Papa."


"Tidak untuk keputusanku, 'kan?"


Ferdinan pun langsung ikut menimpali.


"Terserah kamu, aku hanya seorang istri, tidak menuntut apapun darimu." Jawab Yuan dengan perasaan malu.

__ADS_1


Ferdinan tersenyum mendengarnya.


"Ya udah, kamu ikut aku, karena kamu sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjagamu, juga membahagiakanmu." Ucap Ferdinan, sedangkan Yuan sendiri tersenyum malu.


"Karena sudah malam, sebaiknya kita segera pulang. Untuk rumah ini, biar di urus oleh kepercayaan keluarga kamu. Papa sudah memberikan perintah dan juga untuk menjaga rumah kamu ini." Timpal ayah mertua kepada Yuan.


"Ya, Pa." Jawab Yuan tanpa ada penolakan apapun dengan apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya.


Karena tidak ingin pulang larut malam, Tuan Herdana mengajak anak dan menantunya untuk pulang ke rumah, lantaran agar cepat sampai rumah dan istirahat.


Yuan tersenyum dan juga meneteskan air matanya ketika teringat kenangan kenangan indah bersama keluarganya yang penuh tawa dan juga senda gurauan.


Ferdinan yang melihat istrinya meneteskan air matanya, langsung mengambilkan tisu dan memberikannya kepada sang istri.


"Sini, biar aku bantu usap air matamu. Aku mengerti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, kamu pasti rindu dengan keluargamu, 'kan? berdoalah, semoga Mama dan Papa, juga kakak kamu tenang di alam sana. Jangan terus menerus larut dalam kesedihan, karena yang sudah tiada tidak akan pernah kembali." Ucap Ferdinan sambil menyodorkan tisu kepada istrinya.


Yuan yang mendapat perhatian dari suaminya, seraya memiliki hutang budi yang cukup banyak kepada suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak galak lagi denganku, apa kamu hanya merasa kasihan denganku? abaikan saja aku, kamu tidak perlu repot repot berbuat baik padaku." Jawab Yuan tanpa menoleh pada suaminya.


Ferdinan menarik kembali tangannya.


"Tidak ada untungnya bagiku jika terus-menerus menjadi suami galak terhadap mu, karena aku mempunyai tanggung jawab besar kepadamu. Jadi, sudahi saja pertengkaran kita yang sudah sudah. Tidak ada untungnya kita menuruti ego kita masing-masing." Ucap Ferdinan yang selalu teringat akan pesan dari ayah mertuanya.


Yuan tidak berucap, dan memilih kembali diam dan bersandar di jendela kaca mobil.


Ferdinan yang tidak ingin obrolannya mengarah ke perdebatan dengan istrinya, memilih ikutan diam hingga tidak terasa sudah sampai di depan rumah.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Ferdinan kepada istrinya.


Yuan yang tersadar dari lamunan, langsung terkesiap ketika suaminya mengagetkannya.


"Kita sudah sampai di depan rumah, ayo kita turun." Ajaknya lagi kepada istrinya.


Yuan yang merasa malu, pun langsung turun dari mobil. Kemudian, disusul oleh Ferdinan dan juga oleh kedua orang tuanya Ferdinan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2