
Jenny yang menyesali atas ucapannya, pun langsung mengatupkan kedua tangannya seraya meminta maaf.
"Sas-sayang, aku tadi cuma bercanda. Aku hanya mengerjai kamu saja, serius. Maafkan aku, sayang. Aku tidak ada niat untuk menyakiti kamu, aku mohon maafkan aku. Juga, aku tidak ada hubungan apapun dengan Remon, ya 'kan, Remon?"
"Benar, aku dan Jenny tidak ada hubungan apapun. Aku sebenarnya tahu kalau kamu ada di sini, aku tadi melihat orang suruhan kamu yang sudah ada disini, makanya aku langsung mengajak Jenny untuk datang kesini dengan cara mengerjai kamu, serius." Timpal Remon ikut bicara.
Ferdinan yang sudah mempunyai keputusan dan tekad yang tidak bisa untuk dibohongi, pun Menyeringai dihadapan Jenny dan Remon.
"Kalian pikir, aku mau percaya gitu sama kalian? tidak akan. Sekali berbohong, tidak akan pernah aku percaya. Aku lebih percaya dengan Zoni dari pada kalian." Jawab Ferdinan dengan seringainya.
Kemudian, Ferdinan menatap serius pada Jenny, perempuan yang pernah menjalin asmara dengannya.
"Sekarang juga, kamu dan aku sudah putus. Kita berdua sudah tidak ada lagi hubungan apapun, end." Ucap Ferdinan pada Jenny.
"Enggak, sayang, kita jangan putus." Pinta Jenny sambil merengek, bahkan langsung bersimpuh di kaki miliknya Ferdinan.
Dengan kuat, Ferdinan langsung menarik kakinya agar tidak ditahan oleh Jenny.
__ADS_1
Sedangkan Remon sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, lantaran semua kesalahan sudah dilakukan atas kecerobohannya. Tetap saja, serapat rapatnya menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti akan tercium bau busuknya.
"Zoni! ayo kita pergi, abaikan dua manusia terkutuk ini."
Ferdinan langsung pergi meninggalkan Jenny begitu saja, tentunya dengan rasa kekecewaan.
Jenny yang sudah melakukan kesalahan besar dan juga sudah ceroboh, pun tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih lagi ucapannya yang sudah didengar oleh Ferdinan, yang pastinya sudah tidak dapat dipercaya lagi.
Ferdinan yang sudah hilang kendali saat melihat kekasihnya telah berselingkuh, tentunya kecewa dan sakit hati ketika kesetiannya dibalas dengan sebuah penghianatan.
Tanpa peduli dengan jalanan yang di padati oleh kendaraan yang lalu lalang dengan arah yang berlawanan, Ferdinan menambah kecepatannya, dan tidak peduli dengan keselamatannya.
Ferdinan sama sekali tidak peduli dengan ucapannya. Baginya meluapkan emosinya jauh lebih baik dari pada harus memendamnya.
Seketika, Ferdinan langsung menurunkan gasnya, dan berbelok ke rumah sakit.
Saat mesin mobil dimatikan, ingatannya kembali tertuju dengan apa yang dirasakan oleh istrinya yang telah di tuduh kekasihnya bahwa Yuan telah melakukan pengkhianatan.
__ADS_1
Napas yang terasa berat, Ferdinan akhirnya membuang napasnya dengan kasar. Kemudian, ia memukul setir mobilnya dengan kuat.
"Kenapa lagi, Bos?" tanya Zoni saat melihat bosnya seperti meluapkan kekesalannya.
Ferdinan masih diam, ia mencoba untuk mengatur napasnya agar tidak terasa sesak di bagian dadanya.
"Sekarang juga lebih baik kamu pulang."
"Tapi, Bos."
"Apa kamu gak mendengarkan apa yang aku katakan?"
"Bab-baik, Bos. Kalau Bos Ferdi membutuhkan sesuatu, segera hubungi nomorku. Satu lagi, urusan jenazah keluarga istrinya Bos sudah saya serahkan kepada orang kepercayaan Tuan Herdana." Jawab Zoni.
"Ya, aku serahkan semuanya padamu. Jika ada sesuatu hal yang kamu butuhkan, hubungi saja kedua orang tuaku." Ucap Ferdinan.
"Ya, Bos. Kalau begitu saya pulang duluan, permisi." Jawab Zoni dan segera pergi dari rumah sakit.
__ADS_1
Ferdinan yang sama halnya telah kehilangan kekasihnya seperti sang istri, hancur sudah perasaannya.