Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Mendapat perhatian


__ADS_3

Benar saja, karena rasa kantuk yang sudah menyerang kedua matanya yang sulit untuk di buka, akhirnya Ferdinan tertidur dengan posisi bersandar di kursi.


Yuan yang tersadar dari tidurnya, pelan-pelan membuka kedua matanya. Kemudian, ia mengamati isi dalam ruangan kamarnya.


Saat kedua matanya terbuka dengan sempurna dan kesadarannya sudah pulih, pandangannya tertuju pada suaminya yang tengah tertidur sambil bersandar di kursi. Merasa kasihan dan juga merasa sudah merepotkan, Yuan mencoba untuk membangunkan suaminya. Namun, niatnya diurungkan, lantaran takut mengganggu waktu istirahatnya.


Karena merasa dahaga dan ingin minum, Yuan meraih gelas yang ada di atas nakas, tepatnya di sebelah tempat tidurnya.


Nahas, bukannya gelas dapat di raih, justru jatuh ke lantai dan mengagetkan suaminya yang tengah tertidur.


Seketika, Ferdinan langsung terbangun dari tidurnya dan bangkit dari posisinya.


"Yuan, Yuan! kamu gak apa-apa?"


Ferdinan yang khawatir dengan istrinya, pun panik bukan main.


Yuan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak kenapa napa, aku hanya ingin minum. Maaf, sudah membangunkan kamu dari tidurmu." Jawab Yuan sambil menunduk.


Ferdinan meraih dagu milik istrinya.


"Maafkan aku, tadi aku ketiduran. Tidak seharusnya aku tidur, sampai-sampai kamu kesulitan untuk mengambil air minum. Maaf, aku minta maaf." Ucap Ferdinan merasa bersalah karena telah lalai menjaga istrinya.


"Tidak apa-apa, justru aku yang sudah merepotkan kamu. Aku minta maaf, karena sudah menjadi beban kamu." Jawab Yuan, dan mencoba untuk melepaskan tangan suaminya yang tengah memegangi dagu miliknya.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu air minumnya." Ucap Ferdinan yang langsung menuangkan air minum lewat teko kecil yang sudah disediakan oleh asisten rumah.


Setelah itu, Ferdinan menyodorkannya kepada sang istri.


Yuan menerimanya dan segera minum untuk membasahi tenggorokannya.


Ketika rasa dahaga tidak dirasakan, menyodorkan gelas kosong pada suaminya.


"Apakah jenazah Papa dan Mama sudah sampai di rumah? aku ingin melihat mereka berdua untuk yang terakhir kalinya."

__ADS_1


Ferdinan yang mendapat pertanyaan dari sang istri, pun masih diam.


"Kenapa diam? jenazah Papa dan Mama belum dimakamkan, 'kan?" tanya Yuan yang berusaha untuk tetap tegar, meski sebenarnya sangatlah rapuh.


"Aku belum melihat ke bawah, sepertinya belum dimakamkan. Soalnya tadi masih sibuk mengurus pemakaman kakak kamu, jadi harus bergantian. Apa kamu yakin ingin melihat mendiang kedua orang tuamu? kalau kamu tidak sanggup, jangan paksakan diri kamu untuk melihatnya." Jawab Ferdinan untuk mengingatkan.


"Aku akan terima takdirku, seperti kamu menerima takdirmu. Kamu saja mampu melewati masa sulit mu, lalu kenapa aku gak. Aku tahu ini sangat sakit untukku, tapi aku bisa apa? semua telah pergi meninggalkan aku, mungkin benar katamu, kita harus bisa menerimanya dengan lapang, meski itu sangat menyakitkan untuk kita terima." Ucap Yuan yang berusaha untuk tegar, meski hatinya hancur berkeping-keping.


Ferdinan yang mendengar ucapan dari istrinya, pun mengangguk.


"Aku akan temani kamu, apapun itu. Katakan saja jika kamu tidak kuat, aku tidak akan memaksa kamu untuk menemui mendiang kedua orang tuamu." Jawab Ferdinan.


"Terima kasih sudah memberi waktunya untukku, maafkan aku yang sudah banyak merepotkan kamu." Ucap Yuan yang selalu merasa merepotkan suaminya.


Ferdinan meraih tangan istrinya layaknya pasangan suami istri pada umumnya.


"Kamu sudah menjadi tanggung jawabku, sampai kapanpun. Juga, aku tidak akan membiarkan kamu larut dalam kesedihan." Jawab Ferdinan meyakinkan istrinya.

__ADS_1


Yuan yang mendapat perhatian dari suaminya, seraya beruntung bersuamikan Ferdinan yang begitu bertanggung jawab atas dirinya.


__ADS_2