Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Kekhawatiran


__ADS_3

Jenny yang mendapat tatapan tajam dari Ferdinan, justru tersenyum mengembang.


"Baiklah, aku akan keluar. Lihat saja, hidupmu tidak akan pernah bahagia, camkan! itu." Jawab Jenny dengan tatapan penuh dengan kekesalan kepada Ferdinan.


Sedangkan Ferdinan sendiri pun menatapnya dengan sinis, terasa muak ketika harus bertemu dengan Jenny.


Sedangkan di butik, Yuan sambil menyelesaikan pekerjaannya, juga tengah penat memikirkan kiriman bunga dari seseorang yang sangat mencurigakan, pikirnya.


Yuan yang penasaran, pun akhirnya mengubungi nomor suaminya dan berharap mendapat jawabannya.


"Mungkin lebih baik aku menghubungi suamiku terlebih dahulu, agar aku tidak salah beranggapan." Gumamnya sambil membuka kunci layar ponselnya.


Yuan terus memikirkannya, dan berharap jika dirinya sedang tidak masuk dalam jebakan, pikirnya. Seketika, ingatannya tertuju pada Daniel, kakak dari suaminya yang pernah menjalin hubungan asmara dengannya. Tentu saja, Yuan mempunyai kekhawatiran.

__ADS_1


Tidak hanya terpikir dengan Daniel, tetapi juga lelaki yang putus karena statusnya yang sudah menikah, yakni Vando.


Yuan yang semakin penat memikirkan kiriman bunga yang mengatasnamakan suaminya, masih menjadi misteri baginya.


"Kok gak aktif sih nomornya, apa benar kiriman bunga tadi itu dari suamiku? dan beneran mematikan ponselnya? Aaa! rumit amat lah. Datang, gak, datang, gak. Benar-benar membingungkan. Kala gak datang, entar salah lagi. Datang, gak tahunya bukan dia, melainkan jebakan." Gumamnya lagi saat mengetahui nomor ponsel milik suaminya tidak aktif, tentunya menjadi kecemasan untuknya.


Cukup lama berada di ruang kerja, rupanya sudah waktunya untuk makan siang. Yuan yang tiba-tiba perutnya keroncongan, segera menyuruh karyawannya untuk memesan makanan.


Belum juga menyuruh, suara bel pintu tengah mengagetkan dirinya. Yuan langsung menekan tombolnya, dan pintu pun terbuka dengan sendirinya.


"Ya, Mbak, ada apa?" tanya Yuan.


"Di luar sudah ada mobil yang menunggu Nona, katanya dari orang suruhan Tuan Ferdinan untuk menjemput Nona." Jawabnya.

__ADS_1


Yuan yang mendengarnya, pun mendadak takut dan cemas ketika ada mobil yang siap menjemput dirinya. Lebih lagi dirinya tidak mempunyai nomor ayah mertua ataupun ibu mertuanya.


"Bagaimana ini, aku sama sekali tidak mempunyai nomor ibu mertua maupun ayah mertua sekalipun. Bodohnya aku, kenapa aku tidak meminta nomor mertuaku. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana? yang menjemput ku itu orang suruhan suamiku, atau justru orang yang ingin mencelakai aku." Gumamnya yang bingung antara pergi atau tidak, pikirnya.


"Nona, mobilnya sudah menunggu." Ucap karyawannya lagi.


"Ya ya ya, saya akan segera turun. Oh ya, kamu jaga butik ini ya. Satu lagi, kalau jam tiga saya belum pulang juga, maka kamu harus mengecek isi ruangan butik ini, dan jangan sampai ada yang lalai dengan tugasnya masing-masing." Jawab Yuan dan tak lupa untuk mengingatkan karyawannya.


"Baik, Nona."


Setelah itu, Yuan langsung menyambar tasnya dan bergegas keluar. Namun, tiba-tiba langkah kakinya terasa berat untuk melangkah. Juga, Yuan kembali teringat dengan pesan suaminya untuk tidak keluar dari butiknya.


Yuan membuang napasnya dengan kasar, dan berharap prasangka buruknya tidak terjadi, pikirnya.

__ADS_1


"Suamiku memang suka berubah ubah dengan segala keputusannya, mungkin memang benar dan sengaja mau memberi kejutan untukku, semoga saja benar." Gumamnya saat hendak melangkahkan kakinya keluar dari butiknya.


Sedangkan seorang supir sudah berdiri di dekat pintu, dan siap untuk mempersilakan Yuan masuk ke dalam mobil.


__ADS_2