Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Meyakinkan pasangannya


__ADS_3

Selesai sarapan pagi, Yuan dan Ferdinan kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat ke tempat kerjanya masing-masing. Begitu juga dengan Daniel, sama halnya yang sedang dilakukan oleh Ferdinan yang sama-sama tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Setelah sudah siap untuk berangkat, Yuan dan Ferdinan segera keluar dari kamar. Juga dengan Daniel yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Wah, anak Mama semuanya ganteng ganteng. Kerja yang benar ya, kalian berdua. Ingat, fokus dengan pekerjaan, nanti kesuksesan akan menyusul kalian." Ucap ibunya kepada Ferdinan maupun Daniel yang hendak berangkat ke kantor.


Setelah itu, ibunya Ferdinan menoleh kepada Yuan yang terlihat sudah siap untuk berangkat kerja seperti suaminya.


"Yuan boleh ke butik 'kan, Ma?" tanya Yuan sebelum mendapat pertanyaan dari ibu mertuanya.


"Tentu saja, Mama tidak melarang kamu untuk melakukan aktivitas yang kamu sukai. Selagi itu hal yang positif, kena gak. Yang terpenting kamu tidak mengabaikan kesehatan kamu, juga statusmu sebagai istri." Jawab ibu mertuanya dan tersenyum.


"Ya, Ma, Yuan akan membagi waktu antara kerjaan dan untuk suami." Ucap Yuan dengan senyumnya yang sumringah.

__ADS_1


Daniel yang melihat raut wajah Yuan yang terlihat bahagia dengan pernikahannya bersama Ferdinan, merasa dirinya tidak seberuntung adiknya.


"Ma, Daniel berangkat kerja dulu ya. Ferdinan, aku duluan." Ucap Daniel berpamitan kepada ibunya, juga kepada adiknya.


"Ya, Kak, hati-hati diperjalanan." Jawab Ferdinan yang merasa tidak enak hati karena posisinya yang kini sudah menjadi suami dari perempuan dimasa lalu kakaknya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan kakak kamu. Yang harus kamu pikirkan adalah kebahagiaan dalam rumah tanggamu. Kami itu harus fokus dengan tujuan kamu setelah menikah, bukan untuk memikirkan perasaan tidak enak hati. Kalau kamu terus memikirkan, yang ada kamu yang akan tersiksa." Ucap ibunya mengingatkan putranya.


"Yang dikatakan Mama, itu benar. Aku hanya fokus menjalani hubungan bersamamu, bukan untuk memikirkan masa laluku. Aku tahu ini sangat rumit, kita pasti punya cara lain untuk menyikapinya. Sudah jam tujuh lebih, nanti kamu terlambat, ayo kita berangkat." Timpal istrinya yang juga meyakinkan suaminya.


"Aku percaya sama kamu, karena kamu perempuan yang terbaik untukku. Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi milik lelaki lain, aku akan selalu mempertahankan kamu hingga kamu merasa bosan denganku. Tetap saja, tidak mudah bagiku untuk melepaskan kamu. Sesuatu yang sudah menjadi milikku, tidak ada orang lain yang bisa merebut mu dariku, terkecuali aku sudah tiada lebih dulu." Ucap Ferdinan dan mencubit gemas pipi milik istrinya.


"Aw!" pekik Yuan saat mendapat cubitan di pipinya.

__ADS_1


"Ferdinan, kamu ini ya. Punya istri itu bukan untuk dianiaya, tapi disayang."


Ibunya pun memarahinya dan langsung menjewer telinga miliknya Ferdinan.


"Ampun, Ma, ampun. Ya iya ya iya, Ferdinan gak akan mengulanginya lagi. Ampun dah, ampun, Ma." Jawab Ferdinan sambil memegangi telinganya sambil meringis kesakitan.


Yuan yang melihat ekspresi suaminya yang tengah memegangi telinganya, pun tertawa kecil.


"Mama ini, sakit tau, Ma. Ya deh, Ferdinan gak akan mengulanginya lagi. Ferdinan akan menyayangi Yuan seperti Papa menyayangi Mama." Ucap Ferdinan sambil mengusap telinganya.


"Makanya tuh, jadi laki-laki harus peka. Karena apa? ras yang paling terkuat di dunia para wanita itu, ya para istri." Kata sang ibu sambil bersenda gurau.


"Ya, benar, Papa saja sampai takut sama Mama. Kabur ...." Jawab Ferdinan yang langsung menarik tangan istrinya untuk mengajaknya berlari.

__ADS_1


"Hem! benar-benar itu anak, gak jauh beda dengan Papanya." Gerutu ibunya sambil berkacak pinggang sambil melihat anak dan menantunya tengah berlari.


__ADS_2