
Sang ayah menepuk pundaknya Ferdinan ketika Daniel sudah pergi.
"Mungkin dengan cara mendonorkan darah, kakak kamu bisa membalas budi atas kebaikan istrimu yang sudah menyelamatkan kakakmu. Meski dengan donor tidak cukup untuk menggantikan nyawa yang menjadi taruhan, setidaknya kakak kamu mempunyai kesempatan untuk mendonorkan darahnya kepada istrimu." Ucap sang ayah mencoba untuk meyakinkan putranya yang tengah dirundung kesedihan.
Ferdinan masih terdiam, sepatah katapun terasa berat untuk ia ucapkan.
"Yang dikatakan Papa kamu itu benar, Fer. Kamu masih punya waktu dan banyak kesempatan untuk memberinya cinta, juga tanggungjawab mu sebagai suami untuk istrimu. Sedangkan kakakmu, tidak bisa berbuat apa-apa selain mendonorkan darahnya untuk istrimu." Timpal ibunya memberi nasehat kecil untuk putranya.
Lagi-lagi Ferdinan masih diam, terasa berat untuk menelan ludahnya.
"Berpikirlah yang positif, jangan terus menerus berburuk sangka kepada diri sendiri. Kamu tidak perlu takut untuk tidak bisa memberi sesuatu kepada istrimu, secara kamu akan hidup bersamanya, dan juga waktumu lebih banyak untuk memberi perhatian. Jadi, kamu tak perlu berprasangka buruk terhadap siapapun, karena bisa mengenai diri kamu sendiri." Sahut sang ayah ikut berkomentar.
Ferdinan yang mendengar nasehat dari kedua orang tuanya, pun mengangguk tanpa berucap.
Cukup lama menunggu dengan penuh kekhawatiran, Ferdinan masih mondar-mandir karena takut dengan keselamatan istrinya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Daniel, meski sudah mendonorkan darahnya, hatinya belum terasa tenang ketika belum mengetahui kondisi adik iparnya.
Daniel yang tengah disuguhi makanan, selera makannya pun hilang. Ingatannya kembali di masa lalunya saat mengungkapkan perasaan cinta kepada Yuan. Juga, ingat segala janji-janjinya yang akan menjaga hubungannya dengan baik hingga ke pernikahan. Namun hahas, Daniel harus melanjutkan kuliahnya di luar negri, dan dilarang pulang sebelum membawa keberhasilan.
Saat dirinya mendapatkan izin pulang, Daniel harus kehilangan jejak kekasihnya. Dengan segala upaya untuk mencari keberadaan sang kekasih, sama sekali tidak menemukan keberadaannya.
Hubungan yang begitu singkat, namun penuh kenangan.
"Yuan, meski aku tahu bahwa kamu miliknya Ferdinan, tapi aku tidak bisa melupakan kenangan indah bersamamu. Kamu tahu, aku pergi dihari pernikahanku, semata aku masih berharap padamu akan adanya keajaiban dipertemukannya lagi denganmu. Tapi, omong kosong segala drama ku selama ini hanyalah sia-sia. Aku kira setelah bisa menetap di kota ini bisa bertemu denganmu dan menikahimu. Tapi, itu hanyalah mimpi burukku." Ucapnya lirih dengan penuh kesedihan.
Tanpa disadari, ada Ferdinan dibelakangnya yang dapat mendengar keluh dari sang kakak.
Ferdinan ikutan duduk di hadapan sang kakak, tentu saja membuat Daniel kelabakan atas apa yang diucapkannya.
"Kakak," panggil Ferdinan dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Daniel mendongak dan menatap adiknya.
"Kenapa, Fer?"
"Kakak masih mencintai Yuan, kah? katakan saja dengan jujur."
Daniel tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu ngomong apa, ha? aku masih mencintai Yuan, katamu? ada-ada saja kamu ini, memberi pertanyaan kepadaku yang sangat konyol. Yuan itu istrimu, juga kamu mencintainya. Kalian berdua sudah saling ada rasa, untuk apa aku mengganggu hubunganmu. Sudahlah, kamu tak perlu membahas aku masuk dalam hubungan pernikahanmu."
"Tapi hati Kakak terluka, mana bisa aku bahagia sedangkan Kak Daniel hatinya terluka karena diriku."
"Kamu itu kenapa? jangan menambah masalah, kamu harus memikirkan kondisi istrimu. Aku memang mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang sudah menjadi istrimu, bahagiakan dia, sayangi dia, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan untuknya. Sudahlah, ayo temani aku makan."
Ferdinan tidak menjawab, dan masih menatap wajah kakaknya.
__ADS_1
"Kalau Yuan bersamaku, apa hatimu tidak terluka. Aku yang sudah melakukan kesalahan karena mementingkan karir ketimbang perempuan yang aku cintai, dan akhirnya kami tidak bisa saling memiliki. Lalu, apa kamu juga mau sepertiku. Kamu rela menyerahkan istrimu padaku, dan kamu akan menyesal ketika istrimu tidak bisa bahagia hidup denganku, karena istrimu terpaksa menjalin hubungan pernikahan bersamaku. Pikirkan baik-baik, fokuslah dengan istrimu. Meski aku masih ada rasa, setidaknya rasa itu akan pudar."
Ferdinan kembali diam.