Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Berusaha menutupi rasa kecewanya


__ADS_3

Karena panggilannya tidak tersambung saat menghubungi kakaknya, Ferdinan memilih kembali masuk ke kamarnya untuk istirahat, lantaran besok paginya harus melakukan aktivitasnya seperti biasa, yakni di kantor.


Namun, tidak dengan kakaknya. Daniel yang sudah melarikan diri dari acara pernikahannya, pun tengah menyusul kekasihnya untuk diajaknya menikah.


Begitu juga dengan kakak perempuannya Yuan, sama halnya yang dilakukan oleh kakaknya Ferdinan yang tengah kabur dengan seseorang yang menjadi pilihannya.


Yuan yang tidurnya begitu pulas, rupanya posisinya pun berubah-ubah tanpa ia sadari dan kini tidak lagi membelakangi suaminya.


Semakin malam semakin larut, Yuan merasa kedinginan dan ia terus menarik selimutnya hingga suaminya sendiri tak lagi mengenakan selimutnya.


Tidak hanya itu saja, rupanya Yuan ketika tidur bagai jarum jam yang bisa memutarkan badannya di atas tempat tidur.


Entah gerak reflek yang bagaimana lagi, sampai-sampai si Yuan mendorong tubuh suaminya hingga terpental dan jatuh ke lantai.


"Aw!" pekik Ferdinan saat dirinya jatuh dari tempat tidurnya.


Sedangkan tubuh Yuan tangah menggantung kepalanya yang juga hampir jatuh ke lantai.


Ferdinan yang terasa sakit di bagian anggota tubuhnya, pun bagai pinggulnya yang terkena encok, sakit itu sudah pasti.


"Woi! bangun!" teriak Ferdinan dengan suara yang cukup lantang, yakni penuh kesal dibuatnya.


"Aw!" pekik Yuan meringis kesakitan, karena dirinya juga jatuh dari tempat tidur, lantaran dikagetkan oleh suaminya dengan suaranya yang cukup nyaring dan juga melengking.


"Kamu itu ya, masih saja membuatku sial. Sebenarnya kamu itu man_usia bukan, sih? ha. Lihat nih, badanku sakit gara-gara jatuh dari tempat tidur." Ucap Ferdinan penuh dengan perasaan kesalnya.

__ADS_1


Yuan yang tidak terima ketika harus mendapat tuduhan dari suaminya, pun langsung bangkit dari posisinya yang susah payah untuk berdiri.


"Kamu pikir, cuma kamu doang yang merasakan sakit. Sama, aku juga jatuh gara-gara kamu yang selalu membuat ku sial, puas."


"Cih! enak saja nuduh aku, yang jatuh duluan juga aku, bukan kamu. Enak aja cuma bisa protes."


Ferdinan yang sama halnya merasa dongkol dan kesal seperti Yuan, pun langsung kembali dan naik ke tempat tidur. Setelah itu, keduanya sama-sama membelakangi.


Yuan yang sebenarnya masih mengantuk, akhirnya memilih untuk memejamkan kedua matanya agar tidurnya lebih pulas, meski badannya terasa sakit karena sialnya jatuh ke lantai.


Begitu juga dengan Ferdinan, dirinya pun memilih untuk memejamkan kedua matanya agar pikirannya tidak bertambah penat. Juga dari pada harus berdebat dan berdebat terus dengan istrinya, Ferdinan memilih untuk tidur hingga pagi hari.


Benar saja, hangatnya mentari pagi rupanya tengah membangunkan sepasang suami istri dari tidur pulasnya.


Keduanya pun tampak lesu dan seperti tidak bersemangat, lantaran badannya yang terasa capek dan juga pegal-pegal.


Sedangkan Yuan sendiri kembali meringkuk sambil menunggu suaminya. Setelah Ferdinan keluar dari kamar mandi, kini giliran Yuan yang membersihkan diri.


Tidak ingin berlama-lama didalam kamar mandi, Yuan buru-buru untuk segera membersihkan diri dan ikut sarapan pagi bersama keluarga suaminya.


Saat sudah berada di ruang makan, Yuan ikut menikmati sarapan pagi dengan roti yang diolesi dengan selai.


"Ma, Pa, apakah udah ada kabarnya Kak Daniel?" tanya Ferdinan sambil mengunyah rotinya.


"Belum ada, kata Herdi masih ada di kota, tapi entahlah, Papa sendiri tidak tahu. Juga, kakak kamu itu sangat keras kepala. Biarkan saja, nanti juga bakalan pulang kalau sudah tumbuh penyesalan." Jawab sang ayah.

__ADS_1


"Semalam sih aku sudah menghubungi kak Daniel, tapi tiba-tiba ponselnya dimatikan. Ya semoga saja kak Daniel segera pulang." Ucap Ferdinan yang masih mengunyah rotinya.


Yuan yang mendengar pembicaraan antara suaminya dengan ayah mertua, dirinya memilih diam dan menikmati sarapan paginya.


Ketika selesai sarapan, Ferdinan maupun ayahnya segera berangkat kerja. Sedangkan Yuan sendiri yang tidak mempunyai kesibukan di rumah mertuanya, merasa bingung harus melakukan aktivitasnya apa.


Karena tidak mempunyai kesibukan, Yuan memilih kembali masuk ke kamarnya.


"Nak Yuan," panggil ibu mertuanya.


"Ya, Tante." Jawab Yuan yang hendak berdiri dari posisi duduknya.


"Kok Tante, panggil saja Mama. Sekarang kan, kamu sudah menjadi bagian keluarga Jayakama, dan juga anak Mama. Jadi, jangan malu atau ragu untuk memanggil Mama, juga Papa. Karena kamu sekarang sudah menjadi istri sahnya Ferdinan, dan tidak ada alasan apapun itu." Ucap Ibu mertua.


Yuan mengangguk dan tersenyum.


"Iya, Ma. Kalau Mama izinin, boleh gak, kalau Yuan pergi ke butik. Soalnya kerjaan Yuan di butik, bukan di kantor. Itupun kalau Mama izinkan."


"Mama dan Papa tidak melarang kamu untuk melakukan aktivitasmu, tapi ..."


"Tapi kenapa, Ma?"


"Tidak apa-apa, Mama cuma tidak ingin kamu kecapean saja. Tapi kalau kamu memaksa, Mama juga tidak akan melarang mu." Jawab ibu mertua.


"Gimana ya, Ma. Soalnya Yuan udah terbiasa melakukan aktivitas di luaran sana. Jadi, kalau tidak melakukan aktivitas, keknya terasa ada yang kurang gitu sih, Ma."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mama bisa ngertiin posisi kamu kok, Nak. Maafin kami sekeluarga ya, sudah memaksa kamu dan Ferdinan untuk menikah. Sebenarnya kakak kamu dan kakaknya Ferdinan yang akan menikah, tapi rupanya mereka berdua kabur. Jadi, kamu dan Ferdinan yang harus menggantikan posisinya kakak kalian berdua."


"Gak apa-apa kok, Ma. Yang terpenting kedua orang tuanya Yuan baik-baik saja, dan kondisi kesehatan mereka juga stabil." Kata Yuan, yang sebenarnya juga merasa berat untuk menerima sebuah pernikahan paksa tanpa dilandasi rasa saling suka.


__ADS_2