
Lain dengan Daniel, justru dirinya harus kehilangan cintanya di masa lalunya. Kini, dirinya seolah tidak mendapatkan apa-apa, hanya nasehat kecil yang ia dapatkan dari sang ibu, juga mendapatkan pelajaran yang cukup berharga untuk dirinya.
Daniel yang harus memulai karirnya dan menjalani hidupnya tanpa seorang kekasih, kini tengah memberi semangat untuk diri sendiri agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama, yakni sebuah penyesalan.
Karena sudah pagi dan waktunya untuk memulai aktivitasnya, Daniel bergegas bangun dari tidurnya dan membersihkan diri agar badan terasa segaran.
Kemudian, Daniel keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar di taman belakang. Begitu juga dengan Yuan maupun Ferdinan, keduanya pun segera bangun dan membersihkan diri. Setelah itu, keduanya keluar dari kamar yang juga untuk mencari udara segar di sekitaran halaman rumah.
Sambil berjalan mengitari halaman di samping rumah, Ferdinan mengajak istrinya untuk duduk sejenak.
"Sini, duduklah. Lihat itu, burungnya masih berkicau." Ucap Ferdinan mengajak istrinya untuk duduk bersebelahan.
Yuan mengiyakan dan ikutan duduk di sebelah suaminya.
"Ya, itu burung masih berkicau kek kamu yang dulu itu." Jawab Yuan setengah menyindir suaminya yang suka ngomel dan membentak dirinya.
__ADS_1
Ferdinan yang mengerti maksud dari istrinya yang tengah menyindir, langsung menoleh ke istrinya dan tertawa kecil. Kemudian, Ferdinan merangkul istrinya dan memeluknya.
"Tau aja kamu, nyindir nih ceritanya. Kamu juga, galaknya minta ampun waktu itu. Mana bikin badanku remuk jugaan, benar-benar ekstra tenaga kamu itu." Ucap Ferdinan yang masih memeluk istrinya.
Tanpa disadari, ada Daniel yang tengah memperhatikan mantan kekasih di masa lalunya yang tengah bermesraan dengan adiknya sendiri.
Menyesal dan kecewa tengah dirasakan oleh Daniel, semua itu tidak bisa untuk diulangi, dan hanya bisa menerima kenyataan yang ada didepan mata.
"Aw!" pekik Daniel saat kakinya tersandung batu dan hampir saja dirinya tersungkur ke bawah.
Ferdinan dan Yuan yang tengah di kagetkan dengan suara pekikan Daniel, langsung menoleh ke sumber suara.
Ferdinan langsung menghampiri kakaknya yang melihat sang kakak tengah meringis kesakitan karena tersandung batu.
"Kakak kenapa, kesandung?" tanya Ferdinan ketika melihat sang kakak tengah fokus dengan kakinya yang terasa sakit di bagian jempolnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, cuma kesandung saja tadi. Sudah sana bareng istrimu, aku baik-baik saja, cuma kena sial aja." Jawab Daniel beralasan, yakni untuk tidak membuat adiknya mencurigai dirinya.
"Kakak cemburu kah denganku? aku minta maaf, jika aku sudah merebut wanita yang kakak sukai."
"Sudah jangan diteruskan, Yuan sudah menjadi jodohmu. Kamu jangan sia-siakan dia, Yuan perempuan baik-baik, jangan kecewakan dia. Aku memang pernah menyukainya, tapi bukan berarti harus memilikinya. Jadi, jangan mempunyai prasangka yang tidak tidak, aku sudah tidak ada lagi rasa untuknya. Kalau aku punya rasa pada Yuan, tidak mungkin aku mempunyai kekasih lagi." Jawab Daniel menjelaskan dengan panjang lebar, yakni agar tidak menjadi kesalahpahaman dengan Ferdinan.
"Aku doakan, semoga kakak segera temukan perempuan yang lebih baik dari istriku dan hidup bahagia bersama Kakak." Ucap Ferdinan tak lupa memberi ucapan doa kepada kakaknya.
Meski bukan saudara kandung, Ferdinan tetap menganggapnya saudara kandungnya sendiri. Tidak ada perbedaan antara Ferdinan dengan Daniel, Tuan Herdana memperlakukan keduanya sama adilnya.
"Terima kasih atas doa darimu. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu, dan bahagia selalu bersama istrimu Yuan." Jawab Daniel, tetap saja arah pandangannya sekilas ke arah Yuan, perempuan yang pernah ia sukai di masa lalunya.
Yuan yang merasa risih saat diperhatikan oleh Daniel, langsung menundukkan pandangannya.
Daniel tersenyum tipis, dan menetap kembali ke adiknya.
__ADS_1
"Aku duluan, aku mau siap-siap berangkat ke kantor. Oh ya, sekali lagi selamat atas pernikahan kamu dengan Yuan, bahagia selalu untukmu bersama istrimu." Ucap Daniel dan bergegas pergi dari hadapan adiknya.
Ferdinan yang mengerti akan perasaan kecewa yang tengah dirasakan oleh kakaknya, pun tidak bisa untuk mengalah. Istri tetaplah istrinya. Meski Ferdinan mengetahui jika kakaknya pernah menjalin hubungan asmara dengan istrinya di masa lalu, tetap mempertahankan pernikahannya apapun yang terjadi, yakni sesuai janjinya kepada mendiang ayah mertuanya yang akan bertanggungjawab sepenuhnya kepada sang istri untuk memberi kebahagiaan dan menjaganya sebaik mungkin.