Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Sudah bisa mengobrol


__ADS_3

Setelah menunggu lama, Ferdinan sudah tidak sabar ingin melihat keadaan istrinya. Lagi-lagi Ferdinan mondar-mandir ditemani kedua orang tuanya menunggu dokter keluar dari ruangan.


Saat melihat dokter keluar, Ferdinan langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya istri saya, Dok?" tanya Ferdinan khawatir saat mendapati sang dokter yang baru saja keluar.


"Keadaannya baik-baik saja, hanya belum sadarkan diri. Kalau mau menunggu, cukup satu orang saja dulu ya, soalnya pasien butuh istirahat yang cukup." Jawab sang dokter.


"Baik, Dok."


"Baiklah, kalau gitu saya permisi." Ucap sang dokter berpamitan.


Setelah itu, Ferdinan segera masuk kedalam dan menemui istrinya yang tengah terbaring di ranjang pasien. Sedangkan untuk kedua orang tuanya dan kakaknya diminta untuk di luar terlebih dahulu.


"Ma, Pa, Ferdinan dulu ya, yang masuk kedalam. Nanti setelah Yuan sadarkan diri, kalian boleh masuk." Ucap Ferdinan.


Kedua orang tuanya mengangguk.

__ADS_1


"Ya, tidak apa-apa. Yuan istrimu, dan kamu yang berhak masuk duluan." Jawab ibunya.


"Kak, aku masuk duluan." Ucap Ferdinan yang sebenarnya merasa tidak enak hati.


Daniel tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, silakan. Yuan istrimu, dan kamu suaminya yang berhak atas dirinya. Benar yang dikatakan Mama, kita masuknya nanti aja kalau Yuan sudah sadarkan diri." Jawab Daniel.


Karena sudah tidak sabar untuk melihat keadaan istrinya, Ferdinan masuk kedalam. Saat menutup kembali pintunya, arah pandangannya tertuju pada istrinya yang terbaring lemas karena luka tembakan dari mantan kekasihnya.


Perlahan Ferdinan melangkahkan kakinya, rasa bersalahnya begitu besar karena harus menerima tembakan dari mantan kekasihnya yang gelap mata.


"Maafkan, Yuan. Gara-gara aku, kamu harus mengalami luka tembakan dari Jenny. Seharusnya aku yang kena, tapi justru kamu. Aku janji, aku tidak akan lengah lagi untuk menjaga dirimu. Aku akan menebus lukamu, dan aku akan membahagiakanmu." Ucap Ferdinan sambil mengusap punggung tangan milik istrinya.


Yuan yang tidak lagi terpengaruh oleh obat bius, pelan-pelan menggerakkan jari jemarinya, juga membuka kedua matanya hingga pandangannya sempurna. Kemudian, Yuan tersadar jika suaminya memegangi tangannya masih dengan melamun.


Karena ingin membuyarkan lamunan suaminya, Yuan dengan sengaja menggerakkan tangannya cukup kuat, hingga Ferdinan sendiri dibuatnya kaget.

__ADS_1


"Kamu, kamu sudah sadar? benarkah?"


Ferdinan yang seperti tidak percaya ketika mendapati istrinya sadarkan diri dengan waktu yang cukup singkat, pun tersenyum menatap wajah istrinya.


Entah gerak reflek dari mana, Ferdinan langsung mencium kening milik istrinya, Yuan pun kaget dibuatnya.


"Maaf, aku sudah ceroboh, karena sudah siuman." Ucap Ferdinan sedikit malu, meski dirinya sudah pernah mengambil ciuman di malam itu.


"Tidak apa-apa." Jawab Yuan tersenyum malu, tentu saja teringat saat dirinya mendapatkan ciuman yang begitu lembut dari suaminya.


"Bentar, aku panggil dulu. Mau bagaimanapun kamu harus diperiksa lagi, bentar ya." Ucap Ferdinan dan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


Yuan mengangguk. Tidak lama kemudian, Dokter pun datang dan memeriksanya. Setelah itu, sang dokter kembali menangani pasien yang lainnya. Kini, didalam ruangan tersebut hanya ada Yuan dan Ferdinan.


"Mama sama Papa, mana? oh ya, Vando gimana? apakah sudah ditangkap polisi? juga, perempuan yang siapa itu aku gak kenal, sudah ditangkap juga kah? terus, Kak Daniel gimana? baik-baik saja, 'kan?"


"Sudah, mereka sudah mendapatkan hukumannya yang stimpal. Untuk kak Daniel, dia baik-baik saja. Bentar, aku panggil mereka dulu." Jawab Ferdinan, Yuan pun mengangguk.

__ADS_1


Ferdinan yang tidak ingin kedua orang tuanya dan kakaknya menunggu lama di luar, segera dipanggil untuk masuk kedalam.


__ADS_2