Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Memberi ketenangan


__ADS_3

Ibunya Ferdinan yang mendapat permohonan dari besannya, segera menggenggam tangannya.


"Ibunya Yuan, anda pasti akan sembuh. Jangan larut dalam kesedihan, tidak baik untuk kesehatan anda. Yuan sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, tidak ada yang dibedakan antara anak kandung sendiri atau pun menantu. Kami akan menyayanginya seperti kami menyayangi Ferdinan." Ucap ibunya Ferdinan berusaha untuk meyakinkan besannya.


Saat itu juga, tiba-tiba ibunya Yuan menahan rasa sakit yang teramat dalam, benar-benar sulit untuk ditahan rasa sakitnya.


Napas yang awalnya teratur, kini mendadak tidak karuan rasanya. Bahkan, napasnya mulai terasa sesak.


"Ibunya Yuan, Bu, Ibunya Yuan kenapa?"


Dengan perasaan panik, ibunya Ferdinan langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


Saat itu juga, seorang dokter bersama asistennya telah datang dan segera memeriksa kondisi pasien.


Napas yang terasa sesak dan seperti tersumbat, juga dengan detak jantungnya yang semakin melemah, dokter pun kesulitan untuk menangani pasiennya. Bahkan, sudah berbagai cara untuk mencoba memberi pertolongan, tetap saja tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.


Tidak hanya detak jantung yang semakin melemah, rupanya napasnya semakin lama semakin pelan untuk menarik napasnya. Seketika, tubuhnya yang sempat mengejang, akhirnya menghembuskan napasnya yang terakhir.


Ibunya Ferdinan yang tengah menunggunya di luar ruangan, benar-benar sangat khawatir dengan kondisi besannya yang tengah kritis.

__ADS_1


Sang dokter yang tidak lagi bisa memberi pertolongan, akhirnya menyerah sudah dan meminta asistennya untuk mengurus jenazah pasien.


Setelah itu, dokter segera keluar dari ruangan.


"Bagaimana dengan kondisinya pasien, Dok?" tanya ibunya Ferdinan penuh dengan kecemasan.


Sang dokter pun menggelengkan kepalanya, yakni tanda sudah menyerah dan hasilnya pun nihil.


"Maaf, pasien tidak lagi tertolong. Pasien sudah meninggal dunia, dan kami sudah berusaha untuk semaksimal mungkin untuk menangani pasien." Jawab dokter apa adanya.


Ibunya Ferdinan menunduk sedih, ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh menantunya.


Tanpa disadari, rupanya Yuan juga mendengar apa yang dikatakan dokter. Yuan bagai kehilangan semangat hidupnya, seolah jiwanya ikut pergi saat kabar duka kembali menyelimuti hidupnya. Pertama, kakaknya yang telah mengalami kecelakaan. Kedua, ayah yang terkena serangan jantung dan tidak lagi bisa tertolong. Kini, dirinya kembali mendengar kabar jika ibunya ikut pergi meninggalkan dirinya. Sungguh, hidupnya benar-benar sangat menyakitkan.


Yuan tak lagi mampu menangis histeris, dan hanya seperti kehilangan bahan bicara, juga mulutnya yang terasa bungkam. Pandangannya pun kosong, lantaran harus kehilangan orang orang yang sangat disayanginya. Kini, harus kehilangan untuk selama-lamanya.


Ferdinan yang tidak tega melihat kondisi istrinya yang tengah berduka, perasaannya ikut merasakan sakit dan bersedih.


"Ayo bangun, semua sudah takdir, kita tidak bisa melawan. Bahkan, sekalipun kita memberontak, tetap saja kita hanya bisa menerima takdir yang sudah ditentukan untuk kita. Percayalah, bahwa kamu kuat untuk menjalani semua ini." Ucap Ferdinan berusaha untuk menguatkan hati istrinya.

__ADS_1


Yuan yang mendengar ucapan dari suaminya, pun langsung bangkit dan memutarbalikkan badan, lalu menatap tajam pada suaminya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.


"Kamu tahu apa tentang hidupku, hah!" bentak Yuan yang terbawa emosi.


"Tenangkan pikiran kamu. Aku akui kalau aku tidak tahu tentang kamu, tapi setidaknya kamu terima kenyataan ini walaupun sangat sulit dan juga menyakitkan. Satu hal lagi, kita tidak bisa mengelak dari kematian, dan kita hanya diminta untuk menerima kenyataan dan juga takdir. Aku tahu yang kamu alami ini sangat menyakitkan melebihi diputuskan pacar, tapi apa yang bisa kita lakukan selain menerima dengan lapang walaupun sulit." Ucap Ferdinan yang berusaha untuk menenangkan pikiran istrinya.


"Omong kosong." Jawab Yuan dengan penuh kesal.


"Tidak cuma kamu saja yang kehilangan orang tua, tapi aku yang lebih dulu kehilangan kedua orang tuaku. Kamu tahu, kedua orang tuaku yang sekarang yang tidak lain adalah pamanku, adik dari ayahku. Juga, aku kehilangan seorang kakak perempuanku. Lalu, siapa yang tidak tahu tentang hidupmu, jika aku yang lebih dulu merasakannya?"


Yuan yang mendengar ucapan serta penjelasan dari suaminya, langsung diam seribu bahasa. Bahkan, dirinya tidak mampu untuk mendongak dan menetap wajah suaminya.


Ferdinan yang mengerti apa yang tengah dirasakan oleh istrinya, pun langsung memegangi kedua pundaknya.


"Kamu tidak sendirian, ada aku yang akan selalu berada di dekatmu. Juga, kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Bersabarlah, ini ujian untukmu, dan kamu tidak sendirian." Ucap Ferdinan mencoba untuk memberi pengertian kepada istrinya.


Yuan masih diam, benar-benar tidak tahu harus berkata apa dan menjawabnya apa.


Ferdinan yang tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan, ia langsung memeluknya untuk memberi ketenangan.

__ADS_1


"Jika kamu ingin menangis, menangis lah jika itu membuatmu menjadi lebih lega. Kamu harus kuat, dan aku yakin bahwa kamu pasti bisa untuk melewati semua ini." Ucapnya lagi sambil memeluk istrinya.


Yuan tetap diam, dirinya sama sekali tidak berucap sepatah katapun dan memilih diam dan diam.


__ADS_2