Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Bertambah benci


__ADS_3

Pak supir yang sudah di depan pintu, langsung membukanya. Pintu pun terbuka dengan sangat lebar.


Arah pandangan Yuan seketika lurus ke depan, tepatnya menembus dalam ruangan yang begitu luas. Juga, terlihat dari belakang ada sosok laki-laki yang tengah berdiri tegak.


Yuan yang melihatnya, pun mencoba untuk mengingat baju yang dikenakan suaminya ketika pergi ke kantor.


Saat itu juga, tubuh Yuan langsung didorong oleh pak supir dengan cukup kuat, hingga Yuan jatuh tersungkur di lantai. Pintu pun terkunci dari luar.


Yuan mendadak bergemuruh didalam dadanya ketika pak supir dengan kurang ajarnya telah mendorongnya begitu kasar.


Yuan yang masih tersungkur di lantai, dirinya masih menunduk dan napasnya yang mendadak berubah terasa panas. Juga aliran darahnya yang terasa mendidih hingga sampai ke otaknya.


PROK! PROK! PROK! PROK!


Suara tepukan tangan tengah mengagetkan indra pendengaran Yuan yang masih menunduk.


"Bagus, bagus! sekali. Akhirnya kamu datang di hadapan ku, sayangku."


Seketika, Yuan langsung mendongak ketika dirinya mendengar suara yang tidak begitu asing di indra pendengarannya.

__ADS_1


"Vando!"


Yuan dengan reflek langsung menyebutkan nama Vando, lelaki yang harus putus hubungan asmara begitu saja, lantaran dirinya harus mengganti posisi kakaknya.


Vando berjalan semakin dekat, dan berjongkok di hadapan Yuan. Kemudian, Vando mengangkat dagu miliknya Yuan sambil menatapnya dengan tajam.


"Kau benar-benar licik menjalin hubungan denganku. Kau harus menjadi milikku, apapun yang terjadi. Jika aku tidak bisa memiliki mu, maka kau!"


Vando langsung meraih pis_tol dari bilik celana panjang miliknya.


"Kau! harus mati." Sambung Vando sambil menempelkan bibir pistol tepat di bagian pelipis miliknya Yuan.


"Aku bisa jelaskan semuanya padamu, tapi singkirkan dulu pistol mu itu." Jawab Yuan penuh dengan rasa takut.


"Aku sudah tidak butuh penjelasan darimu, sekarang juga kau tinggal pilih, tinggalkan suamimu, atau kau akan berhadapan dengan peluru ini." Ucap Vando memberi pilihan juga ancaman.


Yuan menelan ludahnya dengan kasar, sungguh pilihan yang sangat sulit.


PROK! PROK! PROK! PROK!

__ADS_1


Tepuk tangan kembali di dengar oleh Yuan. Saat itu juga, Yuan langsung menoleh ke sumber suara.


Perempuan asing yang sama sekali belum pernah ia temui, membuat Yuan berusaha untuk berpikir. Yakni, siapa perempuan itu? pikirnya.


"Kau penasaran denganku, bukan? tentu saja kau ingin tahu siapa aku."


Yuan langsung menyeringai, dan meludah ke sembarang arah.


"Kau pikir, kau ini siapa? kenapa aku mesti penasaran sama kamu, ha. Kau dan Vando tidak jauh beda, untuk apa aku bertanya padamu?"


Merasa kesal karena seperti tertantang oleh ucapan Yuan, langsung mendekati dan berjongkok.


"Kau masih ingin hidup, 'kan? ceraikan Ferdinan, atau nyawamu yang akan melayang." Ucapnya memberi ancaman.


Yuan tetap menatap perempuan yang ada di hadapannya itu dengan tatapannya yang sinis.


Vando semakin menekan kuat bibir pistolnya, dan kali ini menekannya di bagian rahangnya. Sakit, itu sudah pasti.


"Cepat! kau pilih sekarang juga, sebelum pel_uru ini tembus di kepalamu." Ucap Vando yang berubah menjadi kasar, bagai singa yang kelaparan.

__ADS_1


Yuan menatapnya penuh dengan kebencian, sungguh menyayangkan atas perbuatan Vando terhadap dirinya. Meski ia menyadari jika dirinya memang salah, tetapi setidaknya tidak melakukan kekerasan terhadap dirinya.


__ADS_2