Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Takut jujur


__ADS_3

Tidak ada pilihan yang lainnya karena memang sudah menjadi kesibukannya dan juga aktivitas kesehariannya Yuan, tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Dalam perjalanan menuju butik miliknya, Yuan tengah ikut bersama suaminya dalam satu mobil hingga sampai ke tempat tujuannya tepat pada waktunya.


"Oh ya, nanti aku bisa pulang sendiri lewat jasa taksi. Jadi, kamu tidak perlu repot repot menjemput ku, ok." Ucap Yuan sebelum keluar dari mobil suaminya.


"Terserah aku, kalau aku pulang lebih awal, maka aku akan menjemput mu."


"Aku bisa pulang sendiri dan,"


"Aku tidak suka kamu protes, apapun itu. Kalau kamu masih saja protes, sama saja kamu menginginkan aku agar mendapat marah dari kedua orang tuaku." Ucap Ferdinan yang langsung menyambar ucapan dari istrinya.


"Ya, ya, ya, terserah kamu." Jawab Yuan dengan perasaan dongkol dan juga kesal.


Malas untuk berdebat, Yuan akhirnya segera turun dari mobil dan masuk ke butiknya. Sedangkan Ferdinan sendiri kembali melajukan mobilnya untuk berangkat ke kantor.


Semua karyawan yang mengetahui pemilik butik sudah datang, pun bergegas menyambutnya dengan hangat.


"Selamat pagi, Nona." Sapa semua karyawan yang tidak seperti biasanya berdiri berbaris saling berhadapan satu sama lainya, tentu saja membuat Yuan merasa aneh, pikirnya.


"Hei, kalian sedang tidak kekurangan pekerjaan, 'kan?" tanya Yuan sambil mengecek semua kening milik karyawannya satu persatu.


"Pagi, sayangku ...." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul secara tiba-tiba di hadapan Yuan.

__ADS_1


Sontak saja langsung kaget saat kekasihnya sudah datang ke butiknya.


"Bukankah kamu bilang masih betah di luar negri?" tanya Yuan serasa tidak percaya ketika kekasihnya sudah pulang dari luar negeri, pikirnya.


"Hari ini aku berencana untuk melamar mu, sayang. Sesuai janjiku padamu, aku akan melamar mu setelah pulang dari luar negri. Lihatlah, aku sudah siapkan semuanya untukmu." Jawabnya dan memberi kode kepada salah satu karyawan di butik miliknya Yuan.


Bagai mimpi ketika mendapat kejutan dari kekasihnya, namun sayangnya tidak seperti yang diharapkannya. Justru seakan memakan buah simalakama ketika mendapat kejutan dari kekasihnya tetapi sudah menjadi milik laki-laki lain.


Yuan terdiam saat tidak tahu harus berkata apa di hadapan lelaki yang menjalin hubungan dekat dengannya, yakni kekasih tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Sayang, kenapa kamu diam? bukankah ini semua yang kamu inginkan dariku? katakan padaku, apakah ada yang salah dengan ku?"


Yuan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang salah, semua sudah terlambat." Jawab Yuan sambil menunduk, dan dirinya sama sekali tidak berani untuk mendongak.


Yuan menganggukkan kepalanya.


"Ya, Van. Semua sudah terlambat." Jawab Yuan yang kini memberanikan diri untuk menatap wajah kekasihnya yang bernama Vando.


Vando yang seperti dikerjain oleh kekasihnya, pun langsung memegangi kedua pundaknya, yakni untuk memastikan atas jawaban dari Yuan, kekasihnya.


"Kamu sedang bercanda, 'kan? sudahlah, hentikan candaan mu itu. Bilang saja, kalau kamu sudah tidak sabar untuk aku lamar. Baiklah, bagaimana kalau sekarang aku datang ke rumahmu dan melamar mu. Setelah itu, aku akan menikahi kamu." Ucap Vando sambil menatap Yuan dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Yuan yang ingin berteriak kencang dan menangis, sedikitpun tak kuasa untuk mengatakannya dengan jujur.


"Sayang, kenapa kamu masih diam? kamu jangan membuatku semakin panik, juga bingung. Katakan padaku, kamu sedang mengerjai ku, 'kan? ayo jawab."


Saat itu juga, Yuan langsung menjulurkan lidahnya, dan sengaja meledek kekasihnya yang terlihat begitu panik.


Vando yang merasa dikerjain, pun langsung membuang napasnya dengan kasar. Kemudian, dirinya berkacak pinggang karena merasa gemas dengan tingkah Yuan yang selalu memberi kejutan yang tidak pernah diduganya.


"Aw! sakit, tau." Pekik Yuan saat kedua pipinya dicubit gemas oleh Vando.


"Makanya jangan suka ngerjain orang, gini kan jadinya. Oh ya, gimana kalau seharian ini kamu libur kerja. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat, bagaimana, setuju, 'kan?"


Yuan yang sadar akan statusnya yang sudah menjadi istri lelaki lain, pun merasa berat hati untuk menerima ajakan dari Vando, lelaki yang menjalani hubungan spesial dengannya.


"Tuh 'kan, diam lagi. Kamu ini kenapa sih, gak lagi ada masalah, 'kan?"


"Enggak, enggak ada. Aku cuma lagi gak enak badan aja. Jadi, gimana kalau kita di butik sini aja, aku sedang tidak ingin keluar kemana-mana." Jawab Yuan beralasan, lantaran belum siap untuk mengatakan kejujuran atas statusnya yang sudah menjadi istri laki-laki lain.


"Kamu sakit? mana, aku cek suhu badan mu."


"Jangan jangan jangan, nanti bisa merambah lagi. Gini aja, aku pesankan cemilan sama minuman, kita ngobrol di sini saja, bagaimana?"


"Tapi kondisimu harus diperiksa, kalau sampai kamu drop, bagaimana, sayang?"

__ADS_1


"Enggak apa-apa, gak bakalan drop. Palingan juga hal yang lumrah, kita masih banyak waktu. Jadi, kamu gak perlu heboh dan khawatir." Jawab Yuan yang berusaha untuk tetap tenang.


Vando yang tidak bisa melakukan pemaksaan, pun memilih untuk mengiyakan kemauan kekasihnya.


__ADS_2