
Selama perjalanan, Yuan bersama Ferdinan saling membuka obrolan hingga tidak terasa sudah sampai di butiknya Yuan.
"Sudah sampai, mau turun atau mau ikut aku ke kantor." Ucap Ferdinan yang baru saja mematikan mesin mobilnya.
"Turun lah, ke kantor kamu yang ada aku hanya jadi patung hidup." Jawab Yuan sambil melepas sabuk pengaman.
"Kok patung hidup, ya enggak lah. Justru itu, kamu akan duduk santai di ruang kerjaku sambil menemani suami kamu ini bekerja." Ucap Ferdinan.
"Hem, apa bedanya dengan patung hidup. Sama-sama diam tanpa aktivitas, ya 'kan?"
"Bisa aja kamunya, ya deh terserah kamu saja."
"Ya udah ya, aku turun."
"Jangan ke mana mana, hubungi aku kalau membutuhkan sesuatu, keluar kek, atau pulang kek, atau yang lainnya."
"Ya, nanti aku telepon kamu kalau aku membutuhkan sesuatu. Ya udah ya, aku turun. Sampai ketemu nanti lagi, hati-hati di perjalanan."
__ADS_1
Ferdinan mengangguk dan tersenyum kepada istrinya, Yuan pun membalasnya dengan sesuatu yang sama. Setelah itu, Yuan segera turun dari mobilnya dan masuk ke butiknya.
Sedangkan Ferdinan sendiri segera berangkat ke kantor, takutnya akan terlambat.
Sampainya di dalam butik, semua karyawan menyapa Yuan seperti biasanya.
"Permisi, Nona."
"Ya, Mbak, ada apa?
"Ini, ada sebuah bingkisan dari seseorang." Ucapnya sambil menyodorkan sebuah bunga dan ada ucapannya.
Karena penasaran, cepat-cepat untuk melihat isi tulisannya.
"Kamu kaget, ya. Aku sengaja memberi suprise ini kepadamu, sayangku. Kamu istriku yang sangat aku cintai, kamu segalanya bagiku untukku selamanya. Aku akan memberimu kejutan, datanglah di hotel Olenda, aku akan menunggumu di sana. Tertanda suamimu, Ferdinan." Ucapnya lirih membaca tulisan tersebut yang menempel di bunga.
"Suamiku memberi kejutan, tapi tadi kan dah bilang, aku dilarang pergi. Juga, kalau aku membutuhkan sesuatu harus menghubunginya. Terus, yang benar yang mana? apa perlu aku menelponnya? tapi, dia sedang berada diperjalanan. Tadi juga bilang kalau dia ada jadwal kerja padat di kantor." Gumamnya sambil menerka nerka.
__ADS_1
Yuan yang tidak ingin ambil pusing, akhirnya memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sedangkan Ferdinan yang tengah berada di kantor, mulai sibuk dengan kerjaannya.
"Benar-benar ini kerjaan, bisa-bisanya numpuk begini. Andai saja tidak ada masalah di waktu itu, pekerjaanku gak sepadat ini." Ucapnya menggerutu sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Saat tengah fokus, rupanya dikejutkan dengan suara bel pintu. Ferdinan yang dikagetkan, langsung menekan tombolnya hingga pintu terbuka dengan sendirinya. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa orangnya yang datang.
"Jenny,"
Ferdinan langsung bangkit dari posisinya.
Dengan percaya dirinya, Jenny langsung berjalan mendekati Ferdinan yang sudah berdiri sambil menunjuk kekesalannya.
"Mau apa kamu datang ke kantor ku, Jenny?" tanya Ferdinan dengan tatapan penuh kebencian.
Jenny justru tersenyum kepada Ferdinan.
"Sayang, kok jadi kasar gitu sih bertanya padaku. Aku datang kemari mau minta maaf sama kamu, kalau kejadian waktu kemarin itu hanya kesalahpahaman saja, sayang. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Percayalah denganku, aku sangat mencintaimu, masa ya, aku tega menyakitimu, gak, sayang."
__ADS_1
"Aku sudah menikah, dan jangan menggangu kehidupanku. Satu lagi, pergi sekarang dari hadapanku. Aku sudah tidak menganggapmu ada, pergilah sebelum aku usir paksa kamu." Ucap Ferdinan yang semakin geram melihat tingkah Jenny yang datang dan mencoba untuk merayunya.