
Setelah ibunya pergi, Ferdinan tetap duduk di sebelah istrinya sambil menyibukkan diri dengan ponselnya hingga tanpa sadar waktunya sudah sore, dan Yuan sendiri justru pingsan karena tidak dapat menahan kesedihannya.
Ferdinan langsung membawa istrinya ke ruang pemeriksaan.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?" tanya Ferdinan yang kembali khawatir, lantaran sang istri kembali jatuh pingsan.
"Istri Tuan baik-baik saja, dan hanya mengalami shock, tetapi tidak begitu berat. Jadi, biarkan istirahat. Satu lagi, jangan lupa untuk selalu menghiburnya, agar pikirannya tidak terus menerus memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu kesehatannya." Jawab sang dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak." Ucap Ferdinan.
"Sama-sama, intinya jangan banyak pikiran, itu saja."
"Ya, Dok." Jawab Ferdinan, sang dokter pun pamit untuk melanjutkan tugasnya memeriksa pasien lainnya.
Sedangkan Ferdinan sendiri tengah menemani istrinya yang tengah berbaring di ranjang pasien.
"Kak Meila ...!" teriak Yuan yang langsung terbangun dari pingsannya.
"Yuan, sadar, Yuan." Ucap Ferdinan sambil memegangi kedua lengannya.
"Lepaskan! sudah aku bilang berapa kali sih. Kamu ini ya, kenapa masih saja ada di dekatku. Aku sudah mengatakannya padamu, jangan muncul di hadapan ku, ngerti." Bentak Yuan yang kini semakin benci melihat wajah suaminya.
'Kalau saja bukan karena musibah, tidak sudi aku ada di dekatmu.' Batin Ferdinan yang merasa kesal lantaran dirinya harus menjadi sasaran istrinya.
"Selama kedua orang tuamu masih butuh perawatan, dan juga kamu, maka aku akan selalu muncul di hadapan kamu sampai kamu dan kedua orang tuamu baik-baik saja." Jawab Ferdinan.
__ADS_1
"Permisi, Tuan, Nona, sudah waktunya untuk makan malam." Ucap salah seorang perawat tengah membawakan makan malam untuk pasien.
"Terima kasih." Jawab Ferdinan.
"Silakan, Nona, permisi." Ucapnya yang langsung kembali ke luar.
Yuan yang melihat makanan di sebelahnya, pun tidak ada selera.
"Makan dulu, isi dulu perutmu. Jangan abaikan waktunya makan, nanti urus urusannya menjadi panjang. Kasihan dengan kesehatan kamu. Kedua orang tuamu sedang dalam penanganan dokter, juga kepergian kakakmu. Apa iya, kamu tidak mau sehat, kasihan kedua orang tuamu jika kamu menyiksa diri seperti ini." Ucap Ferdinan sambil meraih porsi makan makan milik istrinya.
Yuan hanya menatap suaminya penuh dengan kebencian.
"Buka mulutnya, aku suapi." Ucap Ferdinan sambil menyodorkan satu suapan kepada istrinya.
"Terus, kamu mau makan sendiri? ini, kalau mau makan sendiri." Ucap Ferdinan dengan menyodorkannya pada sang istri.
"Aku masih kenyang." Jawab Yuan mengganti alasan.
Ferdinan tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya.
"Sudahlah, apa susahnya tinggal buka mulut dan menerima suapan dariku."
Yuan yang merasa kesal, ia langsung meraih tangan suaminya yang memegangi satu suapan dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Ferdinan akhirnya tersenyum tipis ketika melihat sikap istrinya yang akhirnya mau disuapin.
__ADS_1
"Nah gitu dong, 'kan sayang kalau suapan dariku di cuekin. Gimana, enak 'kan?"
"Gak usah kepedean, ini juga terpaksa." Jawab Yuan dengan ketus.
"Kepedean juga gak apa-apa, lagian sama istri sendiri." Ucap Ferdinan yang sengaja untuk mengajak istrinya bersenda gurau, setidaknya menuruti kata dokter untuk menghibur istrinya agar tidak larut dalam kesedihannya.
"Hem."
"Buka mulutnya," perintah Ferdinan yang hendak menyuapi yang ketiga kalinya.
Yuan menerima suapan dari suaminya hingga porsi makanannya pun habis tak tersisa.
"Minumlah." Kata Ferdinan sambil menyodorkan satu gelas air minum, Yuan pun menerimanya.
"Setelah ini, obatnya diminum. Terus, istirahatlah. Nanti asisten rumah mu yang akan menemani mu, malam ini aku ada pertemuan penting dengan orang kepercayaan ku. Jadi, tidak apa-apa 'kan, jika aku tinggal kamu di sini?"
"Tentu saja aku sangat senang, karena melihat wajahmu saja bikin kenyang. Sudah sana pergi, bosan aku melihat wajah mu." Jawab Yuan dengan ketus.
Lagi-lagi Ferdinan justru tersenyum melihat istrinya yang terlihat kesal.
"Ya udah, minum dulu obatnya." Ucap Ferdinan membantu istrinya minum obat.
Setelah itu, Ferdinan pamit untuk pergi. Tidak lupa juga berpesan kepada asisten rumah mertuanya.
Tidak ada lagi yang tertinggal atau sesuatu yang lupa, Ferdinan bergegas pergi untuk melakukan pertemuan dengan Zoni, orang kepercayaannya
__ADS_1