Pengganti Sepasang Pengantin

Pengganti Sepasang Pengantin
Tiba-tiba hatinya tersentuh


__ADS_3

Sambil berjalan menuju ruang rawat istrinya, Ferdinan sama sekali tidak memperhatikan kanan dan kiri maupun depannya, dirinya terus berjalan hingga sampai di depan pintu ruang rawat pasien.


"Aw!" pekik Ferdinan yang tiba-tiba keningnya terbentur pintu cukup keras karena baru saja ditutup dari dalam oleh Yuan.


Ferdinan yang melihat pintu terbuka, dirinya langsung masuk begitu saja. Sialnya, justru keningnya harus mendapat benturan lewat pintu.


Yuan yang mendengar suara pekikan dari luar, langsung membuka kembali pintunya untuk melihat siapa orangnya.


Seketika, Yuan nyengir kuda saat melihat suaminya yang tengah meringis kesakitan sambil mengusap keningnya.


"Kamu! selalu saja mencelakai aku, benar-benar perempuan sialan, kamu itu. Sudah diselingkuhin pacar, terbentur pintu, lagi. Benar-benar kamu pembawa sial." Bentak Ferdinan yang masih menahan rasa sakit di bagian keningnya, tanpa disadari jika dirinya keceplosan.


Seketika, Ferdinan langsung melotot ketika menyadari apa yang diucapkannya.


Saat itu juga, Yuan tertawa puas ketika melihat suaminya tengah patah hati.

__ADS_1


"Oh, ceritanya patah hati, mam_pus Lu."


"He! tertawa lagi, ini semua gara-gara kamu, minggir." Bentak Ferdinan yang nyelonong masuk ke dalam, lalu dirinya langsung berbaring di ranjang pasien.


"Enak aja gara-gara aku. Pacar dia yang selingkuh, aku yang disalahin." Gerutu Yuan sambil berkacak pinggang.


Suasana yang sedang sedih, kini harus dibumbui pertengkaran di antara keduanya. Yuan yang tidak terima atas tuduhan dari suaminya, pun langsung menutup kembali pintunya dan segera mendekati suaminya.


"Bangun! woi! ini tempat tidurnya pasien, bukan tempat tidurnya orang sehat sepertimu. Tau gak sih, yang perlu di rawat itu aku, bukan kamu." Bentak Yuan dengan suaranya yang cukup melengking.


Ferdinan langsung duduk bersandar, dengan santainya menatap wajah istrinya yang sedang marah-marah dengan dirinya.


Yuan yang masih dirundung kesedihan yang mendalam karena kehilangan saudara perempuannya, justru harus menghadapi sikap aneh pada diri suaminya.


Saat itu juga, Yuan langsung melotot tepat di hadapan wajah suaminya.

__ADS_1


"Ini ruangan pasien yang jiwanya sedang terganggu, bukan kek kamu yang sedang patah hati. Mana ada disini dokter cinta, gila aja kamunya."


Ferdinan langsung memegangi kepala istrinya dan menempelkan keningnya tepat di kening milik istrinya. Sedikit saja, Ferdinan dan Yuan sangat mudah untuk saling berciu_man. Namun, bukan itu tujuan Ferdinan.


"Kalau aku gila beneran kenapa? kamu ini istriku, dan kamu juga yang harus merawat suamimu ini." Ucap Ferdinan dengan lirih, namun dapat didengar oleh istrinya.


Yuan yang terasa geli saat mendengar ucapan dari suaminya, pun langsung melepaskan tangan suaminya.


"Jangan gila, kamu. Dah, mendingan juga kamu itu tidur, dari pada harus menambah masalah." Ucap Yuan dengan kesal, lantaran harus menghadapi suami yang super bikin kesal, pikirnya.


Ferdinan yang sedikit terhibur karena ulah istrinya, pun tersenyum tipis tanpa sepengetahuan istrinya. Kemudian, Ferdinan langsung bangkit dari posisinya dan berjalan mendekatinya.


"Istirahat lah, sudah malam. Tidak baik seorang perempuan malam-malam harus bergadang. Oh ya, gimana keadaannya ibumu? apakah sudah sadarkan diri? terus, bagaimana dengan ayahmu, baik-baik saja, 'kan?"


Yuan langsung menoleh pada suaminya, yang menurutnya aneh, yang tiba-tiba bertanya dengan suara yang lembut.

__ADS_1


"Ibuku belum sadarkan diri, begitu juga dengan ayahku. Penyakitnya ibu dan ayahku langsung kambuh, bahkan tadi sempat kesulitan untuk bernapas. Juga ayahku yang dinyatakan jantungnya membengkak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan menerima takdir, seperti yang kamu katakan." Jawab Yuan dan memilih untuk duduk dipinggir ranjang pasien.


Ferdinan yang mendengarnya, pun ikut merasa sedih dengan nasib istrinya.


__ADS_2