
Di lain tempat, Zoni yang ditemani seseorang tengah sibuk mengurus kepulangan jenazah kakak ipar bosnya. Begitu juga dengan Ferdinan sendiri, dirinya juga sama halnya tengah sibuk menjaga kejiwaan istrinya yang tengah mendapatkan musibah yang cukup besar di keluarganya.
"Bagaimana dengan istri saya, Dok?" tanya Ferdinan penuh khawatir.
"Pasien sangat shock dari pingsan yang awal. Saya sarankan untuk tetap didampingi, takutnya melakukan sesuatu diluar kendalinya." Jawab sang dokter.
"Baik, Dok." Ucap Ferdinan.
"Kalau gitu, saya permisi."
Ferdinan mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah istri selesai diperiksa, Ferdinan berjalan mendekatinya dan duduk di dekatnya.
"Malang sekali nasibmu, kamu harus kehilangan bagian keluargamu dan juga kekasihmu." Ucapnya lirih sambil memperhatikan wajah istrinya yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Ferdinan, gimana keadaan istrimu, Nak?" tanya ibunya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Ferdinan langsung menoleh ke arah pintu.
"Belum sadarkan diri, Ma. Sepertinya Yuan sangat shock mengetahui jika ayahnya telah meninggal. Ujian untuknya memang sangat berat, semoga saja Yuan bisa melewatinya." Jawab Ferdinan dengan perasaan sedih ketika melihat kondisi istrinya.
"Kasihan sekali Yuan, kehilangan ayah dan kakaknya. Jaga Yuan dengan baik, jangan sampai kesehatannya terganggu, termasuk kejiwaannya. Mau bagaimanapun, kehilangan orang kita sayangi sekaligus dua itu sangat sakit, bahkan tidak bisa untuk digambarkan." Ucap ibunya yang juga ikut bersedih atas musibah yang menimpa keluarga besannya.
Lebih lagi dengan menantunya, baru saja menikah karena sebuah paksaan, kini harus menerima kenyataan yang begitu pahit, sungguh tak mampu untuk dibayangkan.
"Ya udah, kamu temani istri kamu. Soal urus jenazah dan menjaga ibunya, biar Mama sama Papa. Lebih baik kamu fokus dengan istrimu. Satu lagi, jangan membuat istrimu larut dalam kesedihan. Hibur saja istrimu, buat dia merasa nyaman berada di dekatmu." Ucap ibunya berpesan sebelum keluar.
Setelah itu, ibunya Ferdinan bergegas keluar dari ruang rawat menantunya. Kemudian, segera kembali ke ruang rawat besannya.
Saat sudah berada di ruang rawat ibunya Yuan, istri dari Tuan Herdana segera mendekatinya.
__ADS_1
"Dimana putriku Yuan, juga bagaimana dengan kondisi suamiku?" tanya ibunya Yuan sambil celingukan mencari keberadaan anak dan suaminya.
"Yuan sedang istirahat, juga Tuan Arvando sedang dirawat." Jawab ibunya Ferdinan berusaha untuk tidak menjawabnya dengan jujur, tentu saja demi kesehatan besannya.
"Benarkah? padahal aku ingin menyampaikan sesuatu pada putriku, juga kepada menantuku. Aku takut jika aku akan pergi lebih dulu ketimbang suamiku, maka dari itu aku ingin bertemu dengannya, termasuk dengan putramu." Ucap ibunya Yuan.
Istrinya Tuan Herdana yang bingung harus berkata apa, akhirnya meminta salah seorang asisten rumah besannya untuk memanggilkan Ferdinan untuk segera menemui ibu mertuanya.
"Tolong panggilkan Ferdinan untuk datang kemari. Katakan padanya, ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan." Ucap ibunya Ferdinan memberi perintah.
"Baik, Nyonya." Jawabnya dan bergegas pergi.
Setelah itu, ibunya Ferdinan meraih tangan besannya.
"Bersabarlah, semua pasti akan berlalu. Ujian ini memang berat, tapi kita tidak bisa mengelak." Ucap ibunya Ferdinan mencoba untuk menenangkan pikiran besannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dengan usiaku, bisa sekarang atau nanti. Tolong, terima putriku sebagai menantumu layaknya anak kamu sendiri. Sayangi dia, beri cinta untuknya. Aku tidak bisa menjamin, sampai kapan aku akan memberinya cinta untuk Yuan. Sekarang dia putri satu-satunya kami, juga permata kami. Sedikitpun kami tidak akan rela jika dia terluka hatinya." Jawab ibunya Yuan yang takut akan meninggalkan permata hatinya.
Ibunya Ferdinan sendiri yang mendengar pesan dari besannya, pun pikirannya mulai tidak karuan.