
Yuan yang seperti dunianya telah runtuh, seakan tidak lagi mempunyai harapan. Kesedihannya yang tengah dirasakan oleh Yuan, dirinya bagai hidup sebatang kara. Meski sudah bersuami, tetap saja masih merasa asing dengan suami sendiri maupun dengan mertuanya.
Ferdinan yang mengetahui jika istrinya sudah tidak mampu untuk berjalan, dirinya langsung menggendong istrinya untuk membawanya pulang ke rumahnya. Sedang kedua orang tuanya Ferdinan sendiri tengah mengurus kedua jenazah besannya.
Ferdinan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, selalu berada di dekatnya dan mengajaknya bicara meski ucapannya tidak ditanggapi oleh istrinya.
Selama dalam perjalanan pulang, Yuan masih bersandar di dada bidang milik suaminya. Sedikitpun Ferdinan tidak merasa risih, juga sudah menjadi tanggung jawabnya.
Cukup lama menempuh perjalanan pulang, akhirnya sampai juga di kediaman rumah milik keluarga mendiang Tuan Arvando, yakni keluarga Hamoko.
Sampainya di depan rumah, Ferdinan kembali menggendong istrinya sampai di kamar. Sedang para asisten rumah dan orang-orang kepercayaan keluarga Hamoko tengah disibukkan dengan sesuatu untuk mengurus kepulangan jenazah.
Belum juga menapaki anak tangga, langkah kaki Ferdinan tengah dihentikan oleh seseorang yang menjadi orang kepercayaan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Permisi, Tuan. Maaf, jika saya sudah mengganggu Tuan. Begini, sebentar lagi jenazah Nona Meila akan segera sampai. Apakah pemakamannya akan di langsungkan? atau menunggu jenazah Tuan Arvando dan Nyonya." Ucapnya meminta pendapat dari Ferdinan selaku menantu di keluarga Hamoko.
"Dilangsungkan saja, soalnya tidak mungkin juga untuk diinapkan. Sedangkan untuk jenazah kedua orang tua istri saya, pun segera dilangsungkan setelah pulang dari rumah sakit. Soalnya saya tidak ingin istri saya terlalu larut dalam kesedihannya, karena saya tidak ingin itu terjadi, dan mengganggu kesehatan istri saya." Jawab Ferdinan atas keputusan yang ia ambil sebagai menantu keluarga Hamoko.
Yuan yang sudah tertidur karena rasa penat yang tidak lagi tertahan, akhirnya tidur begitu saja.
Ferdinan yang tidak ingin kondisi kesehatan istrinya menurun, langsung membawanya ke kamar. Sampainya di dalam kamar, Ferdinan segera menghubungi seorang dokter untuk memberi penangan khusus kepada istrinya, lantaran takut terjadi sesuatu dengan kesehatannya.
Ferdinan menghela napasnya panjang, dan mencoba memejamkan matanya sejenak untuk memenangkan pikirannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, akhirnya dokter pun telah datang dan memeriksa kondisi Yuan yang tengah berbaring lemah di atas tempat tidur.
"Kondisinya lemah, sepertinya istri Tuan mengalami sok berat. Saya sarankan untuk dipasang infus, kasihan dengan kondisinya." Ucap sang dokter yang baru saja memeriksa kondisinya Yuan yang terlihat pucat.
__ADS_1
Ferdinan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, pun mengiyakan atas saran dari dokter kepada dirinya.
"Saya nurut saja, apa yang dikatakan dokter. Saya hanya tidak ingin hal buruk terjadi pada istri saya, maka lakukan saja yang terbaik untuk kesehatannya." Jawab Ferdinan, dan nurut dengan saran dari dokter.
"Baiklah, saya akan memberi penanganan yang baik untuk istrinya Tuan. Semoga Nona baik-baik saja, dan kembali stabil kesehatannya." Ucap sang dokter.
Ferdinan mengangguk dan mengiyakan.
Setelah mendapat penanganan dari dokter, Ferdinan menemaninya istirahat. Bahkan, untuk pemakaman mendiang kakak iparnya, pun tidak ikut. Tidak hanya untuk pemakaman mendiang kakak ipar, pemakaman mendiang ayah mertua maupun ibu mertuanya pun tidak ikut, dan memilih untuk menemani istrinya yang sedang mengalami shock berat.
Sedangkan untuk pergi ke pemakaman, pun bisa menunggu kondisi istrinya sudah stabil.
Ferdinan yang masih menunggu istrinya di kamar, dirinya masih terjaga kesadarannya. Takut, ketika istrinya bangun dirinya tidur, itu sangat memalukan sebagai suami yang tidak siaga menjaga istrinya, pikir Ferdinan.
__ADS_1