Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
15.1. Handphone baru


__ADS_3

"Besok gue temenin cari handphone baru deh," ucap Mika menawarkan diri ketika mereka sedang duduk-duduk santai di ruang periksa yang kebetulan belum buka.


"Aku males, Mik. Sumpah deh."


"Aelah, timbang ke mall bentaran doang."


"Kamu aja yang beliin deh ya! please....."


"Hhm!! Yaudah iya, siang nanti gue cariin sekalian makan siang bareng  Abi."


"Nah gitu dong, kan enak."


"Tapi kalau lu mau ikut juga nggak pa-pa kali, nggak usah sungkan."


"Yakin??? Lu nggak merasa terganggu?" Ledek Anin yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Ngapel bawa sahabat masih wajar.  Ini nge-date mau bawa mantan kekasih nya sang kekasih.  Apa nggak salah?!


Mika berpikir sejenak lalu memajukan mulutnya protes. "Tapi beneran Lu udah nggak ada rasa apa-apa kan, sama Abi?" Tanyanya penasaran.


"Em! Gimana yaaa...." Anin pura-pura berpikir.


"Ish, nyebelin deh." Mika mencubit gemas sahabatnya.


"Aw...." Anin mengelus lengan yang tak nampak apa-apa itu. "Kalau aku sih udah mati rasa. Tapi nggak tau kalau yang sono?!"  bisik Anin menahan tawanya.


Melihat ekspresi sahabatnya, timbul niatan untuk mengerjai sahabatnya itu. Kan biasanya dia yang suka ngusilin aku.


Mendadak Mika diam mematung, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Hei, jadi nggak, ngajak makan siang bareng-nya??"  ucap Anin  setengah teriak yang sebenarnya disengaja untuk mengagetkan Mika.


"Ah-ya! Ah engga-enggak! nggak jadi. Batal. Tawaran dibatalkan." Koreksi Mika dengan cekatan.


"Haha, Aku juga ogah nimbrungin orang kasmaran. Males!!" Jawab Anin tegas.


"Iyaa, ya Nin, lagian bego banget gue, biar kata sudah tidak ada apa-apa, tapi tetap saja ada rasa sakit yang muncul. Sorry yaa Nin, gue nggak bermaksud buat---"


"Ih ihi ih, apaan sih kamu mah, Jangan gitu deh. Sumpah demi bulu dadanya raja dangdut, aku udah nggak ada rasa apapun sama dia, Mik." Ada jeda beberapa menit sebelum Anin menghela nafas. "...kan aku juga sudah punya suami, Kamu lupa? apa hilang ingatan??"


"Haha, iya juga sih. Eh by the way, apakabar suami Lu? Makin sibuk aja kayaknya."


"Ya begitulah," ucap Anin acuh.


Mika mengawasi sahabatnya, "Begitulah gimana??"

__ADS_1


"Ya begitulah sibuk." Anin berusaha sebiasa mungkin di depan sahabatnya ini.


Mika memincingkan sebelah matanya dengan mengerahkan kekuatan cenayangnya untuk mulai beraksi. Namun kali ini tidak ditemukan apa-apa. Barangkali cuma perasaan Mika saja, kalau Anin semakin kurus dan pucat, mungkin karena sakit kepalanya. Bukan karena dipaksa melayani suaminya siang malam. Hehe.


Anin memang pandai berakting. Salut!!!


Namun ketika siang hari Anin sedang memasang sim card pada handphone baru yang dibelikan Mika, Anin dikejutkan dengan kemunculan suster Ida yang tiba-tiba muncul di depan mukanya dan menanyakan hal yang tak kalah membuat Anin kaget.


Ternyata kekuatan cenayang suster ida lebih kuat dari Mika dan Mei.


Anin tersenyum simpul dalam lamunannya. Sebelum ia menjawab pertanyaan suster ida.


"Enggak kenapa-kenapa kok, Mbak. Pas pulang handphoneku jatuh trus malah terlindas roda mobil." Jawab Anin sekenanya dan berharap perawatnya percaya.


Suster Ida tersenyum. "Untung handphone yang terlindas dan bukan hati pemiliknya yang tergilas.” Lalu suster Ida terkekeh.


"Haha. Mbak Ida ini, bisa saja." Hampir saja mencelos hati  Anin. Apa mungkin mbak Ida curiga?


"Yuk ah, dok. kita visit penggemar dokter." Suster Ida sudah siap dengan peralatan serta note kecilnya.


"Sebentar. Nanggung, pasang ini dulu." Cegah Anin.


"Eh, dok, anaknya pasien Sintya semalam datang lho? Dan cakep dok, imut." Suster ida tersenyum tipis lalu menoel salah satu lengan dokter Anin.


Mau tak mau Anin berbagi konsentrasi dari ponselnya dengan perawatnya. "Hmm, Terus?"


"Lalu, Apa hubungannya dengan memberitahu saya, Mbak?" Jawab Anin tanpa meninggalkan tatapan matanya pada ponselnya. "Naah...selesai. Ayo, jalan. Ntar keburu sore." Perintah dokter Anin.


"Kan, dokter mau dikenalkan. ciee..." Meledak juga akhirnya tawa yang sejak tadi ditahan-tahan suster Ida.


Anin melotot gemas. "Please, stop menggodaku, Mbak Ida! Dan ingat, saya masih istri orang." ucap Anin menimpali candaan perawatnya. "Ayok jalan."


Sebenarnya Anin sedikit terhibur dengan adanya mbak Ida. Entah kenapa dia merasakan kenyamanan pada perawat yang satu ini.


"Ah. Siap!" Suster Ida masih senyum-senyum.


"Stop mbak ida, jangan tertawa di belakang saya." Tuduh Anin.


"Dokter tahu aja." Jawab suster ida terkekeh.


Kemudian keduanya melangkah menyusuri lorong rumah sakit.


**

__ADS_1


"Selamat siang, Tan---te." suara Anin mendadak terbata-bata. Gugup. Salah tingkah.


"Selamat sore..."  jawab yang (tidak) disapa.


Suster Ida mengawasi dokternya yang tiba-tiba salah tingkah. Kenapa dia?!


"Nah. Ini dia dokter yang Mamah ceritain." Sintya menoleh pada putra sulungnya yang sedang mengawasi dokter yang dimaksud ibunya itu.


"Nak dokter ini anak pertama tante yang bandelnya minta ampun." Terang Sintya. "Dia baru saja sampai tadi malam." Tambahnya.


"Ah ya, ya…."  Anin mengangguk ramah setelah berhasil menguasai dirinya. "Suster tolong periksa tensi nya dulu."  ucap Anin menginterupsi.


"Baik dok," segera suster Ida menjalankan tugasnya. "130/70 dok, sudah bagus ini." jelasnya kemudian.


"Kalau besok masih stabil\, Tante sudah bisa pulang." Terang Anin pada pasiennya tanpa menghiraukan tatapan mata pria disebelahnya. Walaupun sebenarnya risih juga dipandangi dalam diam seperti itu. "Dan\, Pak ____"


"Panggil saja Indra, Dok. " Jawabnya singkat.


"Ah, ya...pak Indra, tolong perhatikan untuk pola makan tante Sintya. Nanti saya buatkan daftar menu sehatnya." Anin tersenyum ramah.


Baik suster Ida maupun pasien hanya menatap dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada lagi, yang mau ditanyakan??" Tanyanya kemudian setelah terjadi hening.


"Kapan saya bisa ajak dokter kencan??" Tanya pria itu kemudian.


"Huss...ngaco kamu!!" Bentak Sintya pada putranya yang dianggap kurang ajar.


Anin dan suster Ida hanya tersenyum menanggapi kekurangajaran keluarga pasiennya.


Tak berapa lama Anin dan perawatnya pamit untuk melanjutkan memeriksa pasien yang lainnya.


Dalam langkah kakinya, Anin mengingat -ingat kembali tatapan dan ucapan itu.


Anin terkejut ketika suster Ida menepuk halus lengannya.


"Tuh kan, bener kan, dok. Cakep kan?"


Hampir lepas jantungku. "Mbak Ida ini, ngagetin aja." Gerutu Anin tanpa mengacuhkan ucapan perawatnya.


"Lah, dokter ngelamun?? Haha...hayoo...."


"Eh, nggak!!"

__ADS_1


"Ngelamun jorok ya, Haahaa.."


"Mbak...." Anin melotot imut pada perawatnya. Yang kemudian perawatnya itu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.


__ADS_2