Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Babak pertama


__ADS_3

-Malapetaka juga bisa datang ketika seseorang mendewakan cinta dan meletakkan cinta di atas segalanya-


                                                                              --------------------- ** -------------------


Dua bulan sudah semenjak Anin berdamai dengan dirinya serta suaminya. Kehidupan rumah tangganya pun telah berangsur membaik layaknya suami istri pada umumnya.


Terkecuali sikap posesif Bima yang belum hilang dan justru terkadang dirasa keterlaluan. Membuat Anin jengah. Dan hal itu yang sering menimbulkan perdebatan serta pertengkaran kecil.


Namun tak butuh waktu lama untuk Bima memperbaiki keadaan. Kalau istrinya sudah menabuh genderang dan mulai diam tak berkomentar lalu pergi meninggalkannya buru-buru Bima meminta maaf dan mengakui kecemburuannya maupun kekhilafannya.


Begitulah selama dua bulan belakangan ini. Anin benar-benar menjadi seorang istri yang disayang dimanja suaminya.


Dan seorang dokter yang dicintai pasien-pasiennya ketika sedang menjalani profesinya. walaupun pernah suatu pagi ia dibuat heran sekaligus bertanya-tanya oleh salah satu pasien yang datang berkunjung.


Anin sedang duduk menulis resep di balik meja kerjanya sambil menunggu pasien selanjutnya yang akan diperiksa.


Anin mengangkat kepalanya dan menyambut pasiennya ketika pintu ruangan terbuka dan muncul seorang wanita dari balik pintu itu.


Seorang perempuan berwajah manis yang datang sendirian ke ruang praktik. Begitu masuk dia langsung duduk dihadapkan Anin tanpa berkata sepatah katapun.


Tetapi entah kesan dari mana dan mengapa demikian, begitu melihat pasiennya, Anin langsung menaruh perasaan negatif terhadapnya. Rasanya dia pernah melihatnya tapi entah dimana dia lupa.


Namun bukan kebiasaan Anin untuk mencampurkan pendapat subjektifnya terhadap pasien-pasiennya sehingga ia segera menepis jauh-jauh perasaan yang tidak rasional itu dan menggantinya dengan perhatian lebih terhadap pasiennya.


Meskipun tidak tampak seperti sedang kesakitan namun, caranya duduk seperti cacing kepanasan, terus saja bergerak tidak mau diam. Dan entah mengapa matanya berulang kali mencuri pandang ke arah Anin.


Dari kartu status pasien yang diantarkan oleh suster di depan disitu tertulis dengan jelas bernama Bintang.


"Ny. Bintang..." usianya dua puluh delapan rumahnya di Tebet.


Setelah beberapa saat lamanya pasien itu terdiam akhirnya Anin mendahuluinya berbicara.


"Selamat siang, Ibu," sapa Anin. "Sakit apa yang ibu rasakan?"


"Tidak ada...eh, Pusing, Dok." Agak tergagap dia menjawab.


"Pusing atau sakit kepala?"


"...Dan sudah berapa lama ibu menderita hal itu?"


"Berapa lama, ya?" perempuan itu mengernyitkan dahi. "...satu minggu barangkali atau, aah... saya lupa dokter."

__ADS_1


"Mm, Ibu sudah bersuami?"


"Belum, tapi apa hubungannya dengan pusing kepala saya?" Bintang tampak tersinggung.


"Tentu ada." Anin mencoba tersenyum. "Bisa jadi, pusing ibu ada kaitannya dengan kehamilan atau permasalahan–permasalahan dalam rumah tangga. Atau berkaitan dengan hubungan suami istri yang kurang harmonis."


"Ooh, begitu."


"Lalu, kapan saja pusing itu menyerang? Pagi, siang atau malam? Atau kalau melakukan aktivitas tertentu misalnya setelah berolahraga, berkebun atau aktifitas langsung dibawah terik matahari?" tanya Anin lagi.


"Wah...entahlah saya tidak tahu."


Dia yang pusing kok dia juga tidak tahu kapan pusingnya. Aneh! "Sekarang ini apa juga sedang terasa pusing?" Anin bertanya lagi.


"Tidak."


"Lalu, apa ada keluhan lain? Seperti mual dan nyeri pada bagian perut atau bagian ulu hati?"


"Tidak ada..tapi eeh yaa pernah mual dan perut juga terasa tidak enak."


"Di bagian mana? Ulu hati?"


"....mungkin."


"Baiklah kalau begitu, silahkan ibu berbaring di tempat itu," Anin menunjuk ke arah bed di sisi kiri dinding ruang praktek. Kemudian Anin meraih stetoskop yang terletak di atas meja. Lalu kemudian ujung stetoskop nya dipasangkan ke telinganya.


Mendengar perkataan Anin, Bintang mulai berdiri bak peragawati. Seandainya ucapannya lebih ramah pastilah perempuan berwajah manis cantik itu akan menjadi wanita sempurna.


Namun penilaian Anin seketika buyar tatkala melihat perempuan itu tidak berjalan ke arah tempat tidur melainkan ke arah pintu keluar lalu memutar handle pintu. Dan sebelum sempat Ani  mengatakan sepatah kata, dia lebih dulu berkata dengan sedikit tersipu-sipu.


"...maaf, dokter... tidak jadi." Lalu seiring dengan terbukanya pintu ruang praktek dia keluar menutup pintunya kembali dan menghilang dari pandangan dokter Anin


Aneh benar perempuan itu. Jangan–jangan suster di depan salah mengirimkan pasien, pikir Anin sambil tersenyum.


Anin pun menunggu pasien berikutnya masuk. Dan segera melupakan peristiwa itu.


Oh ya, Kemaren lusa adalah kabar yang menggembirakan yang diterima oleh Anin dan Mika. Bahwa sahabatnya Meii minggu depan akan melangsungkan pernikahannya di Jawa dengan pemuda pilihan orang tuanya.


Ecie.. Korban perjodohan juga.


Dan untuk peristiwa penting itu, Anin dan Mika sudah berencana untuk mengajukan cuti dan sebetulnya Anin ingin mengajak Suaminya sekalian untuk berlibur. Namun apalah daya Bima selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan menjadi susah dihubungi ketika jam kerja.

__ADS_1


Terkadamg Anin sesekali ingin mengunjungi kantor suaminya untuk sekedar mengajaknya makan siang. Namun belum terealisasi sampai saat ini.


Rutinitas kesibukan di tempat kerja tidak banyak berubah bagi Anin. Semua sama, berjalan normal seperti biasa beriringan dengan kemajuan gosip-gosip yang mensejajarinya. Terkecuali Abi. Semenjak dokter satu itu menikah, tingkahnya semakin aneh-aneh saja.


Dan tidak ada yang berani membantah kehendaknya. Begitu juga ketika Anin memergoki Abi yang sedang menggoda mahasiswi kebidanan yang sedang praktek, namun Abi seakan tak peduli sampai-sampai Anin malu sendiri dan terpaksa mencari alternatif waktu lain untuk menemuinya dan meminta izin untuk cuti.


Lain soal ketika Anin memergoki sahabatnya yang sedang berduaan dengan Mika di ruang arsip. Manusia dewasa beda jenis di ruang sepi, tidak mungkin hanya mengobrol Apalagi mereka pernah terlibat cinta lokasi dan rasanya aneh kalau Anin tidak menegur. Lalu membiarkan begitu saja sahabatnya berbuat dosa. Itu bertentangan dengan hati nuraninya.


Namun Anin masih menahannya karena itu urusan pribadi mereka dan ia tak punya hak ikut campur di dalamnya. Mungkin di lain kesempatan Anin akan menegur Mika ketika dirinya hanya berdua saja tanpa kehadiran Abi.


Dan ketika Anin mendapat kesempatan untuk menegur sahabatnya. Justru anin lah yang tercengang dengan jawaban sahabatnya. Bahwa mereka selama ini masih berhubungan dan Abi benar-benar mencintainya. Hanya saja keadaan yang tidak berpihak pada cinta mereka. Lalu Mika percaya begitu saja.


Cinta memang edan!! dan cinta seperti itu memang tak memerlukan nalar. Kapan dia datang dan kepada siapa dia menghampiri tak ada yang mampu menepisnya. Namun salah ketika meletakkan cinta di atas segalanya, karena cinta juga bisa mendatangkan malapetaka.


Lalu apa bedanya dengan cinta buta?!!


Entahlah, barangkali untuk itu aku salah satu korbannya. Cintaku memang buta. Buta dalam arti yang sesungguhnya. Sejak malam itu hati ku buta. Perasaanku tak bisa mengenali yang mana dan siapa cintaku sesungguhnya, karena keduanya selalu ber-iringan saling menyahut.


Dan cinta telah hadir karena sebuah kekeliruan. Sedangkan yang satunya Cinta tumbuh karena waktu.


Itulah rahasia yang selama ini Anin pendam hingga lubuk hati yang paling dalam. Yang paling gelap dan terpencil.


Pada setiap malam terbangun karena mimpinya. Mimpi yang tidak pantas untuk seorang istri. Dimana terbaring di sebelahnya seorang suami. Namun ia justru memimpikan pria lain.


Gejolak batin yang dirasakan Anin kian parah ketika dirinya juga merasakan cinta suaminya. Menyambut suaminya. Hingga ia merasa dirinya hampir gila. Karena telah menghianati suaminya, membohongi suaminya. Sebab pada beberapa kesempatan ketika mereka sedang mamadu kasih, bukan Suaminya lah yang ia bayangkan, namun pria lain yang muncul tanpa diminta dalam pikirannya. Itulah sebab utamanya kenapa untuk sementara waktu Anin ingin menunda kehadiran momongan sampai dirinya yakin pada perasaannya. Dan bukan karena ingin melanjutkan pendidikan.


Dan setelah beberapa waktu perasaannya seolah membeku. Diam, tenang, tiba-tiba terusik dengan kembalinya sebuah kesalahan.


Kembali dengan sebuah keberanian yang lebih besar.


Kembali dengan membawa penawar luka


Kembali di saat kondisi perasaan dan batinnya terguncang.


Lalu kebingungan pun kembali menyapa.


Andai saja Anin lebih tegas pada dirinya sendiri. Pada cinta dan perasaannya.


Mungkin ia tidak akan terjebak dalam ilusi dan realita cinta yang aneh itu.


Nasi sudah menjadi bubur dan aku bukan malaikat yang mampu mengembalikan waktu. Kita jalani saja takdirnya sampai dimana batasnya., batin Anin berucap lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2