
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, menembus jalanan Otista. Ia menatap fokus lurus ke jalan dengan sisa-sisa kebingungan yang sengaja ia samarkan dan disebelahnya duduk seorang wanita yang yang sangat cantik, menggemaskan.
Sesekali Bima melirik istrinya yang sedang asyik memainkan game Onet pada ponselnya.
Tidak salah, jika Bima berpikir istrinya terlihat begitu cantik menggemaskan dan terlihat lebih padat berisi pada area tertentu, karena Anin sendiri merasakannya, bagian dadanya terasa lebih ___ dan entah kenapa, malam ini ia semangat untuk memoles dirinya hanya untuk sekedar menikmati es krim ragusa kesukaannya.
Shit! dalam situasi bingung saja kau masih sempat memikirkan hal–hal tak seronok. Bima merutuki dirinya sendiri.
Anin menyapu pandangannya sekilas pada suaminya yang terlihat bingung. Namun kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan permainan onetnya dan membiarkan suaminya dalam diam.
Salah sendiri, pake acara pulang telat! Awas saja kalau sampai kehabisan es krim. Gue tinggal kabur! ucapnya dalam hati.
Bima menoleh lagi." Apa harus ke Ragusa?!"
"Yap."
"Jauh sayang, belum lagi macetnya..." Ungkap Bima. "Apa tidak cari tempat lain saja?"
"Hhmm __"
"Sekitar sini juga banyak es krim yang enak." Bima melesatkan pandangannya ke segala arah.
"Kalau kamu nggak mau anterin, biar aku turun disini saja," Ungkap Anin kesal tanpa perlu menatap suaminya lagi.
Habis gimana? Sedari bangun tidur siang tadi, tiba-tiba ingin makan es krim ragusa. Dan ingin ditemani juga. Sialnya yang janji pulang cepat justru malah ngaret hampir dua jam. Kan kesel!
"Bukan begitu, Sayang... aku cuma tidak mau kamu masuk angin," ucapnya lirih.
"Kamu, nge-doain aku supaya sakit –masuk angin?!" bentak Anin. Trus kena serangan jantung terus mati trus kamu kawin lagi.
Bima melebarkan tatapannya dengan masih fokus menatap jalanan. "Ya ampun, Sayang. Ya enggak lah! Kamu ini kalau ngomong jangan asal."
Anin membuang tatapannya keluar jendela. "Jadi... masih mau antar atau tidak?" Anin menyembunyikan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. Yang ia sendiri tidak tahu kenapa mendadak ia menangis hanya karena soal sepele.
"Siap. Saya antarkan hingga selamat sampai tujuan," ucap Bima akhirnya. Ini bidadari kenapa yah, sensian amat hari ini, udah mirip Devil saja. Apa mungkin, Dia tau?! Ah tidak mungkin. Bima buru-buru menepis praduganya. Everything will be okay.
Lantas keduanya dilanda kebisuan sepanjang sisa perjalanan. Hanya pemutar musik yang masih bersedia mendendangkan lagu Iwan Fals dalam kesunyian.
Kini mengungkap tanya, siapakah dirinya Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami
Ketika malam tiba, Kurela kau berada Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami...
Tiba-tiba Bima mengulurkan tangan kirinya untuk meletakan handphone-nya di atas dashboard, yang sebenarnya tidak benar-benar ingin ia letakkan di sana.
Bima kemudian menempatkan jarinya untuk menekan tombol next pada layar LCD yang sedang memutar lagu tersebut dan otomatis berganti lagu setelah tombol itu ditekan.
Anin menautkan kedua alisnya yang hampir beradu, melihat keanehan suaminya.
"Hehe… Lagunya bikin nggak semangat." Sangkal Bima yang entah kenapa ia merasa tertuduh dengan kalimat yang sedang bang Iwan nyanyikan.
Lah, Kenapa? Bukannya itu lagu favorit. Anin mengedikkan bahunya acuh.
Benar saja, ketika mereka datang, tempat itu begitu ramai, sampai-sampai mereka harus mengantri untuk mendapatkan giliran tempat duduk.
"Selalu seramai ini?" tanya Bima
Anin menoleh ke arah suaminya, "he-hem," jawabnya singkat.
Yang kemudian dibalas dengan ber-O ria oleh Bima.
Setelah menunggu tak kurang dari setengah jam, akhirnya ada juga tempat duduk yang ditinggalkan penghuninya.
Tanpa komando Anin segera melesat ke arah meja tersebut dan mendaratkan pantatnya pada salah satu kursi yang tersedia disana yang kemudian disusul suaminya yang sebelumnya sedang menerima panggilan telepon entah dari rekan kantor yang mana lagi.
Tidak bisakah kita menikmati waktu berdua saja dengan tenang barang sebentar. keluh Anin dongkol.
Lima menit berlalu...
Anin menangkap kegelisahan pada gerak gerik suaminya semenjak dia mendapatkan telpon tadi.
"Kalau memang penting, Pergilah..." ucap Anin sambil melesatkan sendoknya ke mulutnya yang masih berisi es krim.
"Kamu nggak apa-apa, kalau saya tinggal sebentar?"
"Ya, Pergilah."
"Saya janji, begitu urusan kantor selesai---"
__ADS_1
"Nggak perlu buru-buru, aku bisa pulang sendiri,"
"Bener? Nggak perlu dijemput?!" tanya Bima.
Anin mengangguk mengiyakan. Padahal biasanya pasti ia akan memaksa dan tetap akan menjemput istrinya secapek apapun.
"Oke, begitu selesai, langsung pulang ya, jangan keluyuran." Bima melirik jam tangannya, "Sudah malam."
"Iya...pergilah!" ucap Anin setengah kesal.
"Kok gitu sih, sayang... mana tega saya pergi kalau kamu cemberut begitu," protesnya. "Senyum dong…." pintanya lagi.
Anin mendengus kesal lalu menunjukkan deretan gigi putihnya menirukan senyum pepsodent yang sama sekali tidak mampu membuat Bima tenang karena meninggalkan istrinya sendirian jauh dari rumah.
Tapi toh, akhirnya ia pergi juga meninggalkan istrinya, yang tidak diketahuinya bahwa ia tengah hamil muda dan sedang mengalami sindrom ngidam, atau –mungkin- saja sedang terancam nyawanya demi wanita yang juga sedang hamil entah anak siapa.
Kalau saja Bima bisa berfikir jernih, seharusnya ia dapat menduganya, bahwa belum tentu janin dalam kandungan Bintang adalah darah dagingnya. Sedangkan dari hasil pemeriksaan usia kandungan baru saja memasuki usia enam minggu.
Semenjak berbaikan dengan istrinya, dua bulan lalu tepatnya, hampir tidak pernah ia berlama-lama dengan bintang apalagi sampai berhubungan badan. "Sedang tidak berselera." ucap Bintang kala itu yang rupanya sedang dimabuk kepayang dengan pengusaha properti yang sedang naik daun. Sehingga Bintang pun lupa akan keberadaan Bima. Dan baru bertemu kembali pada malam dimana ia sangat merindukan istrinya yang tengah pergi ke Jogja. Lalu ia putuskan untuk pergi minum–minum bersama temannya ke salah satu club malam dan disana ia bertemu dengan Bintang yang sudah setengah mabuk.
Dalam kondisi seperti itu, Sebagai laki-laki yang pernah ditolongnya, ia merasa tak tega melihat bintang di goda dan digerayangi oleh -hampir- semua pria yang berada disana. Hingga akhirnya, malam itu ia memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.
Seperti belum puas membuat Bima pusing dan malu akibat tingkah mabuknya, bintang kembali berulah ketika mereka tiba apartemen itu. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Bintang justru memilih kamar tidur utama untuk dirinya sebelum Bima sempat menawarkan kamar tamu untuknya.
Tidak cukup sampai disitu, Bima tak sempat mencegah Bintang yang sudah lebih dulu meluncur masuk ke kamar, tanpa mempedulikan protes Bima dibelakangnya.
Dan, entah siapa yang memulai lebih dulu, akhirnya perdebatan itu berakhir dengan pertarungan panas keduanya di atas ranjang. Disaat penghuninya sedang tidak di tempat.
Seperti belum puas dengan kegiatannya semalam akibat terganggu telepon dari seseorang, dengan sadar keduanya kembali melanjutkan lagi keesokan harinya di kantor. Dan Sengaja pergi pagi-pagi sekali sebelum mbok jum datang untuk bersih-bersih.
Ibarat gajah di pelupuk mata tak nampak, Semut di seberang sana justru terlihat dengan jelas.
Bima terlena atas euforianya sendiri atau tertutup akal sehatnya karena kebingungannya.
***
Terlepas dari perlakuan manis suaminya, Anin justru semakin curiga bahwa saat ini sedang terjadi sesuatu dengan mas Bina-nya lagi. Semenjak beberapa bulan belakangan telah kembali seperti Mas Bima-nya yang dulu, yang lembut, tegas, sok atur dan penuh cinta kasih.
Semakin besar usaha untuk menutupi apapun itu, maka akan semakin terlihat dengan jelas bahwa ia sedang berdusta untuk menutupi 'sesuatu itu'.
Anin kembali teringat benda yang ia temukan secara tidak sengaja, -sebuah G-string berwarna hitam-
Siapa yang sengaja meninggalkannya di sana? Atau karyawati seperti apa yang iseng membawa benda itu di dalam tasnya lalu menjatuhkannya dengan sengaja. Atau karena alasan apa, sehingga ia tergesa-gesa dan tidak sempat memungutnya atau tidak sempat memakainya lagi. Astaga!!!
Hilang sudah minat makan es krimnya, Namun enggan pulang ke rumah.
"Kemana enaknya ya... apa ke monas?? Ah jangan deh. Sendirian kesana kayak orang ilang." Gumamnya pada diri sendiri.
Anin tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahunya. Lalu otomatis menoleh pada sumber yang membuatnya terkejut.
"Tidak disangka, malah ketemu disini. Bahkan di rumah sakit saja kita hampir tidak pernah ketemu."
Anin tersenyum ramah pada dokter yang menyapanya -ralat- mengagetkannya. "Iya, ya, Dok. Dokter sih sibuk terus...." jawab Anin ramah tamah.
"Sendirian?" Dokter itu lalu menolah-noleh mencari keberadaan orang lain.
"Iya, Dok. Dokter sendiri?" selidik Anin.
"Aah, itu. Saya ___" bisiknya salah tingkah.
Anin hampir tak dapat menahan tawanya lagi melihat laki-laki yang biasanya tegas serta jutek itu bisa juga salah tingkah sampai merah mukanya. "Kencan?"
Pria itu mengangguk malu. Yang kemudian dibalas suara nyaring tertawa Anin.
Buru-buru Anin menyadari aksinya telah membuat pria yang berdiri di sampingnya semakin merah padam. "Eh… Sorry–sorry, Dok. Saya gak bermaksud menertawakan dokter...hanya saja ______"
"Sudah, sudah. Kalau begitu, lebih baik Saya pergi saja, daripada kau permalukan Saya seperti ini," ucapnya pura-pura kesal.
"Hee, Sorry Dok, silahkan duduk. Mau saya pesankan es krim?" tawar Anin sopan.
"Tidak, terimakasih. Saya sudah menghabiskan dua porsi Banana split tadi."
"Woow, Awas lemak, Dok?" goda Anin.
"Kamu sendiri, sepertinya pesan dua porsi?" Melirik kearah mangkuk yang masih utuh belum tersentuh. Namun es krim nya mulai mencair.
"Oh itu... tadi itu pesanan suami, tapi ia pergi sebelum sempat mencicipinya."
"Tidak kau makan? Mubazir loh,"
Anin menggeleng. "Kenyang, Dok. Lagian takut jadi lemak juga…." seloroh Anin.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu...." Pria itu perlu meneliti penampilan Anin dengan seksama. "Sepertinya, lemak tubuhmu sudah mulai berkembang biak disana–sini, Nin?"
Anin ikut meneliti tubuhnya, lengannya dan berhenti pada perutnya. "Ah, Masa, apa begitu kentara, Dok?"
"Enggak, enggak... saya bercanda.... kamu masih selang-- eh, tunggu sebentar!" godanya. Lalu dokter yang dijuluki dokter super itu melihat sekali lagi ke arah Anin tanpa bermaksud melecehkan. "Kamu, Hamil?" tanya dokter Wisnu lantang dan dengan suaranya ia telah berhasil membuat hampir seluruh pengunjung menoleh ke arahnya.
"Sstt.. dokter!" Anin melirik ke kanan dan ke kiri.
"Haha, sorry, sorry… kelepasan."
Dokter Wisnu tersenyum malu-malu, "Beneran kamu sedang hamil?"
Lalu ia memelankan suaranya, "Terus, kemana suamimu?"
Tanpa mengacuhkan pertanyaan dokter yang lain, Anin justru menjawab pertanyaan yang paling menohok hatinya. "Mendadak ada urusan kantor. Oh, ya, Dokter mau pulang kan?"
"Ya iya, masa nginep disini. Kenapa, mau nebeng?"
"Kalau tidak merepotkan sekalian antar sampai rumah. Hee."
"Tarif dua kali lipat."
"Siap! Pasti suamiku tak keberatan."
"Yasudah, ayok.. keburu kemalaman di jalan."
"Sebentar, Saya bayar dulu, Dok." Sebelum Anin berdiri, dokter Wisnu sudah lebih dulu menahannya.
"Sudah, biar saya saja. Wanita bunting terkadang lambat jalan." Dokter Wisnu kemudian berdiri, "Kau tunggu di depan saja." ucapnya.
Anin memicingkan sebelah matanya, "Ckck...dokter mau kita adu lari?"
"Tidak, tidak! Saya malas berurusan dengan wanita hamil diluar jam praktek. Mood- nya selalu jelek. Oke saya kesana dulu." terang dokter Wisnu.
"Ahhh, Oh ya, Terimakasih, Dok. Yang sering-sering aja....." Goda Anin.
"Jaman koas dulu, kau begitu alim, kenapa sekarang jadi centil begini?" selidik Dokter ganteng itu. Yang walaupun sudah berumur, namun masih tampak muda.
"Bawaan hamil kali, Dok ...."
"Jangan beralasan! Kau lupa sedang berbicara di depan siapa?" selidiknya.
"Ops!" Anin menutup mulutnya pura–pura kaget.
"Sudah sana, tunggu di depan." Seru dokter Wisnu.
Anin tersenyum mengiyakan perintah bekas dokter pembimbingnya itu yang sekarang telah menjadi rekan kerjanya di rumah sakit.
***
Bima melintas sesaat setelah Anin baru saja turun dari sebuah mobil SUV hitam keluaran Honda tersebut.
Ketika Anin sampai dirumah, ternyata suaminya sudah menunggunya, lengkap dengan beberapa pertanyaan untuk menginterogasinya.
"Dari Mana saja?"
"Ragusa, kemana lagi." Anin baru saja akan melepaskan stilettonya ketika tangannya ditarik oleh suaminya.
"Kenapa baru pulang?"
"Macet parah di Jatinegara, sepertinya ada kecelakaan tadi." Ungkap Anin jengah.
"Naik apa tadi?"
"Taxi," Jawab Anin singkat. Dan entah kenapa, ia justru sengaja memberi jawaban dusta pada suaminya.
"Bohong!!"
"Memangnya kenapa kalau aku berbohong!!?" tantang Anin pada suaminya.
"Kau _____"
PLAK!!!
Anin memegangi sebelah wajahnya yang berkedut hebat. Detik berikutnya ia segera menghambur keluar. kemana saja asal tidak disana, didepan suaminya.
Karena aku muak!!!
Seakan baru tersadar atas apa yang telah dilakukannya, bahwa ia melayangkan tangannya dan mendaratkannya tepat di sisi kiri wajah mulus istrinya. Ia buru-buru mengejar istrinya.
Shit! Shit!shit! kemana perginya wanita jalang satu itu.
__ADS_1
****