
Anin menarik selimut untuk membungkus tubuh polosnya.
Meraih ponsel dari atas meja dan segera menerima panggilan itu setelah melihat siapa yang menelponnya.
Tarik nafas... keluarkan.
"Fiuh."
"Hallo..ya mah..ada apa? Sampai malam-malam begini telpon Anin."
"...kapan kamu selesai?"
"Minggu besok, Mah. Ada apa?"
"Apa Bima bersamamu?"
Anin melirik suaminya yang juga tengah menatapnya membuat Anin malu saja. "Iya, Mah. Ada apa?" ucapnya kembali fokus pada obrolan.
"Kalau begitu, kalian mamah tunggu di rumah."
" Mah,.. papah baik-baik saja kan?"
"Oh, dia baik. Tentu saja." -sebelum mendengar kabar kau menggugat suamimu.
"Mah...."
"Ya…."
"Sebentar lagi, kalian akan punya cucu." ucapnya pelan-pelan.
"Apa? Tolong bicara yang jelas, Nin. Maksud nya kamu kalian...."
"Iya, mah.. aku hamil."
"Benarkah???? Puji syukur.... papamu pasti senang sekali mendengarnya."
Lalu, kalau dia hamil kenapa justru malah menggugat cerai suaminya?!
"Ya sudah, kamu istirahat, jangan capek-capek, hamil muda itu rawan."
"Sebenarnya sudah masuk trimester kedua mah_ empat bulanan." aku Anin.
"Astaga, Anindira!" lengkingan suaranya berhasil membuat Anin hilang kantuk. Dan untuk menyelamatkan pendengarannya Aninpun menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Selama itu kau menyembunyikannya dari kami..kalau papamu tahu lebih awal pasti kan dia--"
"Justru karena itu, mah." Ucap Anin membela diri.
"Ya sudah, sana istirahat. Sudah larut. Jangan lupa besok lusa, mamah tunggu di rumah."
"Ya, mah." Jawabnya singkat. Lalu mematikan panggilannya.
Ada masalah kah? Atau terjadi sesuatu sehingga mamah tidak lagi menunda telponnya sampai besok.
"Telpon dari siapa, sih? Asyik bener ngobrolnya." tanya Bima bercekak pinggan dalam tidur miringnya.
dan ucapannya berhasil mengembalikan perhatian Anin.
"Mamah," jawabnya singkat lalu meletakkan kembali ponselnya.
Bima memandangi istrinya tak berkedip. Bahkan hanya dengan memakai selimut kamu terlihat sangat menggoda. Dulu pasti saya benar-benar gila telah menyia-nyiakanmu.
Bima tersenyum.
"Ada yang lucu?"
Laki-laki itu menggeleng. "Cantik. Dan menggairahkan," akunya.
Anin membelalak. Pipinya merona."Kau boleh kembali ke sofamu," ucapnya. Anin menggigit bibirnya. Apa yang kulakukan, mengusir pria yang baru saja… dan ia…
dia begitu imut dalam tubuh polosnya. oh lord!! Apa sebenarnya yang sedang kupikirkan!!
Bima nampak bingung.
"Kamu salah, jika berpikir kita akan menghabiskan sisa malam ini dengan saling berpelukan dalam satu ranjang." kata Anin kemudian.
Yaelah. Judesnya balik lagi. Nasib, nasib. "Ku kira, kamu akan membiarkanku terbaring disini dengan nyaman." Gumamnya.
"Silahkan tinggalkan ruangan ini."
"Boleh, saya ___?" Bima memonyongkan mulutnya.
"Enggak," Bentaknya. "Lekas, keluarlah!"
"Ya, baiklah..." Bima pun berdiri enggan. Melangkah kearah pintu. Diam sebentar disana. Lalu memutar kunci nya sekali lagi dan cepat-cepat berbalik ke arah dimana istrinya berdiri kemudian membopong dan membaringkan di atas sprei lusuh akibat pertempuran.
Bima tak memberikan waktu sedikitpun untuk Anin mengajukan protes dan melakukan kudeta pemberontakan. Semuanya terjadi begitu cepat.
Bima kembali mencumbu istrinya, dengan cara yang berbeda. Sehingga Anin tak kuasa menolak sajian cinta suaminya.
Lagi....
Keduanya kembali merenda bunga bunga.. menyatukan lagi kepingan rasa untuk kemudian meleburnya lagi menjadi berjuta-juta rasa.
Asyik - masyuk keduanya berenang dalam kolam cinta seolah tak kenal lelah.
Pada akhirnya keduanya menghabiskan sisa malamnya dengan saling memeluk.
Sampai fajar menyingsing.
***
Dua hari setelah setelah Anin sampai di Jakarta, setelah menyelesaikan ikatan dinasnya -internsip. Anin kini tengah disibukkan dengan mengurus persyaratan perijinan karena rencananya nanti ia akan buka praktek mandiri sambil tetap kembali bekerja di rumah sakit setelah masa liburnya selesai.
Walaupun sebenarnya Bima kurang setuju, kalau Bima harus kembali bekerja di rumah sakit yang sama. Toh di Jakarta banyak rumah sakit yang siap menerima bahkan meminta dirinya untuk bergabung. Entah alasan apa sehingga ia tetap memilih rumah sakit itu.
__ADS_1
Setelah kabar kehamilannya mencuat kini Anin diperlakukan bak Ratu cleopatra sungguhan setiap harinya.
Terlebih dari ibu mertuanya yang hampir setiap saat menelponnya, mengingatkan ini, mengingatkan itu,menanyakan ini, menanyakan itu, dilarang ini, dilarang itu.
Kesalnya lagi simbok ikut-ikutan bawel. Tidak boleh menyentuh ini, menyentuh itu. Jangan melakukan ini, jangan melakukan itu. Nanti capek katanya.
Fiuuh!! Baiklah aku akan duduk diam saja keluh Anin kala itu.
Ditambah lagi aturan baru yang diberlakukan untuknya. Tidak boleh nyetir mobil sendiri, tidak boleh kemana-mana sendiri, sampai sampai mertua laki-lakinya sengaja menyiapkan petugas khusus untuk mengikuti kemanapun Anin pergi.
Tentunya setelah mengetahui kelalaian Bima menjaga istrinya. Sehingga menantu kesayangannya kabur dengan surat pengajuan gugatan cerai pada anaknya. Dan oleh sebab itu Bima dimarahi habis-habisan kedua orang tuanya. Mereka sangat murka pada anaknya sendiri. Terlebih setelah tahu Anin tengah hamil saat mendapatkan KDRT
Orang Tuanya pun akhirnya terpaksa mengubah surat wasiat -dengan menambahkan bunyi, "Bas Bima Aji akan secara otomatis di coret dari daftar ahli waris tunggal dari seluruh aset milik keluarga. Dan semua aset atas namanya akan berpindah kepada Anindira sebagai penanggung jawab sampai cucunya telah cukup usianya."
Dengan begitu, setidaknya, dia akan berpikir seribu kali. Atau kalau memang dia siap menjadi gembel dan masuk bui.
Lalu seperti apa murka mereka, kalau sampai tahu, kabar perselingkuhan anaknya?? Dan ada cucu yang lainnya?
Kalau sudah begitu, Anin bisa apa.
Ah sudahlah, itu tak perlu dipusingkan saat ini.
Dan ketika dirinya janjian bertemu dengan dr.Wisnu di sebuah cafe, Anin di bully habis-habisan oleh pria itu. Diperlukan sebuah cubitan untuk menghentikan gelak tawanya.
"Jadi... sekarang kalian sedang di pingit?" godanya lagi.
"Ya, begitulah." Ucapnya acuh. "Bahkan nafasku pun telah diaturnya juga."
"Haha.." dr.Wisnu kembali berderai.
"Stop menertawakanku, Dok. Atau kusuruh dia menutup paksa mulutmu." dengus Anin seraya melirik laki-laki bertubuh tegap yang sedang duduk di luar cafe menungguinya.
"Ow, ow, ow. Takut," dr. Wisnu mengangkat kedua telapak tangannya persis adegan penjahat yang tertangkap basah oleh petugas kepolisian. Lalu kembali tertawa.
"Jadi kapan kau akan kembali bekerja?" tanya Wisnu.
"Besok lusa. Tapi sebelum itu aku harus bertemu dengan seseorang dulu."
"Siapa?" tanya Wisnu, lalu menyeruput lagi kopinya.
"Kepo.." jawabnya ngasal sambil nyengir kuda.
"Eh. Mulai berani kamu ya. ingat Anin, saya masih jadi seniormu. Jangan coba-coba berani membantah apalagi berniat melawan." Ucapnya pura-pura marah.
Anin tertawa, dr. Wisnu menyusul mengikutinya.
***
Jakarta siang ini begitu terik, lengkap dengan hiruk pikuk kemacetan dan keramaiannya. Berbanding terbalik dengan suasana asri disana.
Rasanya aku merindukan suasana desa yang tenang, sejuk dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Anin menghela nafas ketika mobilnya melaju tersendat di ruas toll dalam kota.
Rupanya, membutuhkan waktu dua jam untuk sampai pada sebuah gedung apartemen yang ia tuju. Padahal dalam kondisi normal jarak tempuhnya sekitar tiga puluh menitan. Luar biasa ibu kota!!
Tidak ada jawaban tidak juga muncul seseorang.
Kedua.... masih sama.
Ketiga.... lama juga tak ada sambutan. Hampir saja Anin menyerah ketika terdengar sayup grendel ditarik.
Seorang wanita membukakan pintu.
Wanita itu terkejut, ketika mendapati Anin lah yang menekan bell dan kini berdiri di depan pintu apartemen.
Anin sendiri juga heran. Kenapa akhirnya ia sampai perlu menghampiri wanita sialan, fu*cking-ini. Mungkin sebab perkataan ibu nya waktu itu. Sehingga ia punya keberanian untuk menatap kenyataan.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Anin datar atau –mungkin– berusaha datar agar tidak ada kilat marah ataupun tatapan ingin membunuh.
"Masuklah," katanya.
Anin berdiri cukup lama menatap sekeliling ruangan. Dari tatapannya bahkan Kartika tahu apa yang sedang tamunya itu pikirkan. Seberapa sering Suaminya tidur dan menikmati ranjang bersama. Bintang a.k.a Kartika menyunggingkan bibir.
"Silahkan duduk," Kartika berjalan menjauhi pintu, "Mau minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot." Anin duduk di salah satu sofa untuk satu orang. Dan nyonya rumah memilih duduk di tempat seberangnya.
Mereka diam. Kartika hanya menunduk seraya meremas jemarinya dalam kegelisahan. Dia nampak rapuh tidak seperti yang terlihat terakhir kali di ruang prakteknya dulu. Percaya diri, menantang dan menggoda.
"Kau sudah tahu semuanya?" tanya Kartika memulai obrolan.
Anin tersadar dari lamunan dan menoleh pada sumber suara. "Ya, Bima sudah menceritakan semuanya."
"Lalu?"
"Lalu? Apa maumu? Kau berharap kami akan bercerai agar kamu bisa bersama Mas Bim?"
Bintang a.k.a Kartika Menggeleng. "Bukan itu maksudku. Lalu bagaimana tanggapanmu? Kamu pasti lebih ingin membunuhku ketimbang duduk santai sambil mengobrol begini."
Anin tersenyum miris. "Ya... Memang itu yang aku inginkan, karena nyatanya kaulah sumber dari semua kekacauan dalam rumah tanggaku serta hidupku."
"Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan? to the point aja, saya tidak punya banyak waktu."
"Awalnya, aku ingin memintamu menjaga mas Bim untukku mengingat kau sedang mengandung anaknya." Anin sampai harus memalingkan muka ketika mengucapkan kata–kata tersebut. Jantungnya seperti diremas–remas.
Kartika tersenyum sinis dengan sudut bibir yang sedikit naik. "Sebenarnya, saya bukan jenis wanita yang ingin terjebak dalam pernikahan."
"Aku -pun tidak bisa melepaskan suamiku, dan asal kamu tahu, Bima juga tidak berniat melepaskanku." Anin menahan getaran pada suaranya, "Aku tidak tahu, kalian kembali bersama karena apa, atau kamu mencintai dia karena apa, apa karena masa lalu yang tertunda atau penyesalan yang terabaikan aku tak peduli. Dan Aku mempertahankannya karena dia adalah Dia, dan aku mencintainya."
"Lalu, kau mau saya meninggalkannya?" nadanya sinis.
"Mungkin, Ya." Anin mengambil tissue dari dalam tas untuk berjaga-jaga saja, jika air matanya sudah tak dapat lagi di tahannya.
"Saya membutuhkan dia, Saya juga membutuhkan dia! saya butuh dirinya untuk melewati masa-masa sulitku yang akan datang."
__ADS_1
"Aku tahu,"
"Lalu apa yang kamu mau?" Kartika nampak bingung. "Tolong bicara yang jelas!"
"Menghilanglah dari kehidupanku, dari kehidupan kami. Kisah kalian sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Jadi kumohon pergilah dan jangan ganggu kehidupan kami lagi."
Kartika kaget tak percaya. Memutar bola matanya. " Apa kau gila!" bentaknya.
"Ya, dan begitu seharusnya! Jadi bisakah aku memintanya dengan baik-baik?"
"Tidak!" menatap Anin dengan pandangan keras. "Jangan pernah bermimpi bahwa Bima akan semudah itu melupakanku atas kesalahannya."
"Itupun aku tahu, tentunya kau pun juga paham bagaimana murkanya dirinya bila seandainya dia tahu telah dibodohi dikhianati bahkan sejak kalian remaja. Dan menanggung rasa bersalah bertahun-tahun atas apa yang tidak ia lakukan."
Paras Kartika memucat. "A-pa Maksudmu."
"Jangan katakan aku kejam, karena nyatanya aku cukup berbaik hati padamu dengan memintamu secara baik-baik mengingat kau sedang mengandung yang baru-baru ini aku tahu, itu bukanlah ulah suamiku."
Anin melihat dengan cepat perubahan paras Bintang yang pucat semakin pias. Dan benar dugaannya. Padahal dia hanya berniat menggertak. Namun melihat ekspresi Kartika yang sedemikian hebat, membuat Anin semakin yakin bahwa Kartika hamil dengan pria lain, bukan dengan suaminya.
Anin berdiri hendak meninggalkan ruangan terkutuk itu.
"Tu-nggu...." cegah wanita itu. "Apa sebenarnya tujuanmu ?" imbuhnya.
"Aku? Aku hanya sedang mempertahankan apa yang menjadi milikku, dan menyadarkanmu dimana persisnya posisimu."
"Kau kira siapa dirimu?" makinya.
"Seluruh dunia pun tahu siapa Aku, dan siapa dirimu?!" Anin tersenyum ramah penuh kemenangan. "Dan kau tahu, dimana tempat yang paling pantas untukmu?" Anin menoleh dan menatap tajam lawan bicaranya. "MEMBUSUKLAH DI NERAKA, KARENA DISITULAH SEHARUSNYA KAU BERADA."
Sekujur muka kartika merah padam menahan amarah.
"Dan_satu lagi, Aku tahu Abi adalah adikmu, dan aku punya cukup bukti untuk menyeretmu ke penjara atas keterlibatan perusahaan mu terkait kejahatan yang telah dilakukan nya. Jadi jangan coba-coba berbuat macam–macam padaku ataupun keluargaku, kau mengerti kan, Nyonya Kartika?"
Kartika sama sekali tak berkutik. Diam membisu, hanya ekspresinya saja yang memancarkan kemarahan.
"Oke, aku rasa cukup. Dan aku hanya wanita biasa, dan tidak yakin bisa mengendalikan diri berlama-lama bersamamu dengan tidak mencekikmu."
Anin berbalik. Dan sebelum melanjutkan langkahnya ia bergumam, "Jagalah baik-baik kandunganmu, karena bulan-bulan awal adalah bulan yang rentan. Terimakasih atas waktunya, Selamat siang."
***
Anin menumpahkan air matanya sebanyak yang bisa dikeluarkan. Betapa ia sangat marah dan ingin mencekik saja wanita itu, lalu menamparnya dan memaki sejadi-jadinya. Namun semuanya ia tahan dengan alasan sebuah perlakuan ber–MORAL – wanita hamil untuk wanita hamil.
Kenapa semuanya terjadi begitu kebetulan, seolah semuanya telah direncanakan dengan apik.
Jika diruntut secara gamblang, semua masalah yang menimpanya sungguh mirip seperti drama korea, dan sudah barang tentu akan memenangkan penghargaan dengan rating tertinggi jika itu adalah sebuah gimmick yang sengaja dirancang dalam sebuah acara.
Sebenarnya Dunia berpihak pada siapa? gumam Anin. Dan tuhan sedang ingin menguji siapa?
Coba saja kalian bayangkan..
Aku, Anindira akhirnya menyerah dan menerima cinta Abi saat itu, yang aku tahu dia adalah bad boy kelas kakap.
Lalu Firman, hadir menjebak Abi dengan menggunakan adiknya sebagai umpan, yang awalnya aku sendiri tidak mengetahui kenapa dan atas dasar apa dia melakukan itu.
Kami putus.
Firman gencar mendekatiku, Abi memacari Adik perempuan Firman.
Sebuah kesalahan yang kulakukan menyeret Pemuda bernama Indra masuk dalam permasalahan kami.
Firman yang mengetahui hubungan akrab kami (bahkan aku jatuh hati pada Indra), marah emosi. Karena ternyata Dia menaruh hati padaku.
Abi yang mendendam memanfaatkan Indra untuk menghancurkan kepercayaanku pada Firman begitu juga sebaliknya. Dan mendekati Adik Firman untuk sebuah tujuan keuntungan harta serta kekuasaan keluarganya atas rumah sakit.
Malam na'as terjadi, yang kukira adalah karena murni kesalahanku, kecerobohanku di Ruang IGD, tapi ternyata telah ditumpangi oleh tujuan Abi yang sengaja ingin menghancurkanku.
Begitu egois cintanya, sehingga tak ingin membiarkan siapapun memiliki-ku. Dan dia senang melihatku sakit, tersiksa terbuang. Itu tujuannya. Benarkan cuma itu?
Meski begitu aku tidak membencinya, tidak juga membenci Indra, saat itu. Dan justru mati-matian membenci Firman. Dunia pasti menertawakan kebodohanku saat itu.
Perjodohanku dengan Mas Bim pun tak ter elakkan, mungkin memang sudah jalan takdirnya begitu.
Masalah baru muncul, lebih tepatnya sengaja dimunculkan Abi, karena ternyata Abi tak cukup pintar membuatku terpuruk pada percobaan pertamanya.
Wanita di masa lalu suamiku muncul. Lalu, Kesalahan terjadi. Wajar, namanya manusia..... ya kan?!
Lagi-lagi masalah yang seharusnya sederhana itu ditumpangi Abi untuk mencoba sekali lagi menghancurkanku, dengan mengirim video sialan itu. Lagi-lagi aku mencoba bertahan.
Dari sebuah kesalah fahaman Indra dan Dirman bersahabat, dalam prosesnya Adik perempuan Indra jatuh hati pada sahabat kakaknya itu.
Mungkin terbayang di otak Abi, jika Firman menikah dengan Keluarga Indra, jadi sebesar apa kekuasaan Firman. Maka sebelum itu terjadi Abi memutuskan menikahi putri semata wayang pemilik rumah sakit itu, yang juga adik perempuan Firman dengan tujuan yang mungkin hanya Abi yang tahu.
Dan kabar mengejutkan lagi, wanita perusak rumah tangga itu adalah kakak dari mantan kekasih bejatku dulu.
Lalu, apa dulu Abi sengaja mengincar diriku menjadikanku kekasihnya karena dia tahu aku akan berjodoh dengan Bima? Rasanya itu tidak mungkin, Aku hanya tidak tahu bahwa dia punya seorang kakak perempuan seumuran kakakku. Yang kalian tahu kan, kakakku belum juga ingin menikah, entah kenapa.
Kebetulankah? Atau memang disengaja? Bagaimana menurut kalian?
Jadi ini sebenarnya 'Siapa korban dari siapa?
'Siapa musuh dari siapa?'
Kalian bingung? Sama, aku juga.
Jelasnya, yang aku tahu -Akulah korban dari kekejaman cinta keegoisan cinta, juga korban perjodohan yang masuk kategori gagal dalam perjalanan menemukan cinta.
Dan dengan kebodohanku –Aku melakukan hal yang sama pada wanita itu -Aku egois, aku juga gila-
Sudah benarkah apa yang telah kulakukan barusan?
Anin kembali menangis tersedu-sedu, betapa ia merasa sangat kejam. Dan itu bukanlah dirinya. Tapi, kali ini ia tak kuasa, tak rela berbagi miliknya dengan orang lain.
Dan jika dugaanku benar segalanya menjadi mudah, namun jika ternyata salah dan benar itu darah daging suamiku, aku harus bagaimana?!
__ADS_1