Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Nilai sebuah Harga


__ADS_3

Akan ada fase dimana orang yang sabar menjadi muak.


Orang peduli menjadi masa bodo,


Dan orang yang setia akan angkat kaki.


Ketika sabar, peduli dan setianya tidak lagi dihargai.


-Aku-


***


Hiruk pikuk di pagi hari pada sebuah rumah sakit besar.


Meskipun sudah mengadop pada sistem berbasis online dan termutakhir, tetapi masih saja terdapat beberapa antrian pada sebagian loket.


Salah satunya loket pengambilan obat. 


Disana selalu penuh antrian.


Pernah kan? Periksa nya nggak ada lima belas menit tapi antri obatnya sampai satu jam.


Periksanya nggak ada sepuluh menit, nunggu dokternya sampai berjam-jam.


Harap maklum ya saudara - saudaraku.


Karena dokter juga manusia, Seperti Anin, dibalik senyum bahagia yang kerap dilihatkan pada pasien-pasiennya, sesungguhnya ada gunung berapi yang kapan pun siap untuk meletus.


Dan setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Termasuk masalah kesehatan yang juga dialami seorang dokter.


Nah ini nih, celetukan yang buat saya merasa tidak nyaman -enak- dan mood hancur seketika.


Kalimat yang paling sering dilontarkan, ketika dokternya tutup atau dokter curhat, besok ijin nggak masuk karena sakit. Terus ada yang nyeletuk "masa dokter sakit."


Baik itu Anin Dokter wisnu, maupun dokter Firman, apalagi saya, Pengen banget rasanya saya Lem tu mulut.


Memangnya dokter malaikat?


Ya walaupun ada juga yang bilang bidadari tak bersayap --- uhuk.


Bima  itu mah, yang lagi gombalin Anin


Ya begitulah...


Dan kenapa pengambilan obat jadi butuh waktu sedikit lebih lama??


Mungkin...


Mungkin loh ya ...


Salah satunya, Karena untuk sebagian petugas, perlu tenaga ekstra untuk membaca resep yang ditulis dokternya. - maybe- hehe.


Dan kenapa ya. Tulisan dokter rata-rata begitu??


Entahlah. Saya juga heran.


Dulu jaman sekolah menengah Atas Anin pernah janji pake acara sumpah -nanti suaminya jelek segala loh kalau ingkar-- untungnya nggak ya.


Kalau nanti jadi dokter, nggak akan pake tulisan abstrak. Eh ternyata setelah jadi dokter, lupa kalau dulu pernah sumpah-sumpah nggak bakal pake tulisan cacing.


Lagi-lagi.. manusiawi ya kan..


Dan kursi tunggu di ruang praktek dokter maharani hari ini lumayan penuh.


Hampir semua kursi terisi pasien dan pengantarnya.


Padahal bisa di bilang, untuk saat ini rani sedang sangat kacau.


Boro - boro inget sumpah janjinya- supaya nulis resepnya dengan tulisan paling bagus.


Nggak mewek di depan pasien nya aja sudah puji tuhan - syukur alhamdulillah.


Pikirannya kalut.


Kusut


Keriput


Semrawut


Tapi kewajiban tetaplah kewajiban.


Dan pasien tidak mau tahu, apa yang sedang di alami dokternya.


Mereka datang membawa setumpuk masalah dengan harapan dapat menyelesaikannya bersama dokternya.


Dan dokter harus selalu tampil bahagia, sehat jiwa raga di depan para pasiennya.


Senyum.....


"Yaa, silahkan duduk," sapa dr. Anin yang tengah mengisi status pasien sebelumnya.


"Terimakasih."


Anin kemudian mengangkat kepalanya, "Ada yang bisa di ban-tu...." katanya lagi pada seorang yang dikenalnya.


Keterkejutannya tak lantas membuatnya lupa daratan.


Bukan pasien.


Eh


Bekas pasien.


Sontoloyo ni si mbak ida. Nggak kasih tahu.


"Ha-hai…." Sapa Anin setelah menegakkan posisi duduknya.


"Hai," jawab pria tampan imut itu yang kini tengah menatap dokter Anin dengan seksama sehingga yang ditatapnya makin salah tingkah.


"Ibu-- apa kabarnya? Beliau sehat?" sungguh bukan berniat basa-basi tapi hanya itu kalimat yang melintas di benak Anin.


"Ibu sehat. Saya nggak di tanya, nih? Kamu sendiri, bagaimana?? Sepertinya masih mampu menggodaku untuk membatalkan pernikahanku." Katanya diikuti gelak tawa. Sehingga Anin pun mau tak mau ikut tertawa untuk mengalihkan kecanggungan dirinya pada pria di depannya.


"Aku kesini untuk mengantarkan ini," ucapnya setelah itu. Sambil menyodorkan undangan pernikahan.


Indra dengan Mirna B Fayfet.


Anin sampai tak sadar, alisnya hampir saja menyatu ketika membaca surat undangan itu.


"Sepertinya, dokter terserang syok mendadak, apa benar tebakan ku?" Tanya Indrs yang menangkap perubahan mimik wajah dokter itu.


"Ya!" Lalu, "Eeh, enggak. Justru saya senang akhirnya kamu menemukan pendamping hidupmu."


"Yah...pasien kecewa." Katanya pura-pura sedih.


"Apa dia ___"


"Warga negara Indonesia, dengan ayahnya dari Australia. Kalau itu yang ingin kau tanya," potong Indra.


"Oo..." Anin mengangguk angguk. "Selamat kalau begitu, pasti saya datang kalau tidak ada halangan."


"Kalau kau datang, Aku yang takut. Takut salah gandeng mempelaiku," kelakarnya.


"Hahaha, kau bisa saja," jawab wanita itu di tengah perasaan tidak enaknya.


"Kalau begitu, saya permisi," Indra bangkit, untuk berpamitan. "Antriannya masih panjang."


"Oh iya," Anin mengulurkan tangannya, "Selamat...semoga kalian berbahagia."


Indra menjabat jemari wanita itu.


Kalau boleh, aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kali.


Lalu,


Menciummu sekali lagi untuk ku simpan sebagai kenangan manis terakhir kita.


Apa boleh?


Ada sedikit rasa haru yang Anin rasakan ketika manik matanya bertemu dengan milik pria itu. Ia pun dapat merasakannya, luka seperti apa yang tengah pria itu tutupi.


Demi tuhan, aku sungguh-sungguh atas doa yang ku panjatkan untuk kebahagiaanmu.


Cinta selalu menemukan jalannya sendiri untuk kembali pada pemiliknya, Apapun itu bentuk jalannya.


Mungkin di lain waktu, di lain kesempatan, di lain kehidupan. Kita dipersatukan dalam takdir yang sama. Bahagia bersama.


"Hei, can i....?" Tanya Indra kemudian, sambil membuka lebar kedua lengannya.


Sesaat Anin dilanda kebimbangan.


Ah, its oke! pelukan seorang teman.


Gadis itu tersenyum, "Come here... wanita hamil ini lamban gerak."


Indra pun segera menghambur memeluk tubuh Anin walaupun harus tetap jaga jarak, sebab perut wanita itu sudah cukup mancung.


"Aku juga berharap, semoga kamu bahagia...." gumam Indra.


"Ya, tentu. Aku (sedang berusaha untuk) bahagia."


"Syukurlah." Pria itu tersenyum dari balik punggungnya lalu melepas pelukannya dan berpamitan.


Setelah sebelumnya mencuri sebuah ciuman singkat di bibir wanita itu.


Sorry!


Yang berhasil membuat Anin melongo beberapa saat dan bersemu merah selama sisa waktu prakteknya.


Selalu seperti itu, Dia memang nekat!!


Sesekali ia meraba bibirnya di sela-sela kegiatan memeriksa pasien dengan senyum tertahan. 


Entah apa yang ia cari disana. Atau apa yang sedang ia bayangkan. Yang pasti, Setitik bahagia ia rasakan dalam hatinya.


Anin ikhlas walaupun dengan cara dicuri.


Anggaplah dengan cara itu, ia mengambil kembali hatinya yang ia titipkan kepada Anin secara tidak sengaja.


Dan begitulah seharusnya, ia melepas kepergian pria itu.


Dengan iringan do'a kebahagiaan.


Selamat berbahagia Indra.


Kamu berhak bahagia.

__ADS_1


Maaf aku telah menyakitimu, mengecewakanmu dan menyia-nyiakan ketulusan mu.


Dan kulakukan semua itu demi cintaku...


Begitu juga Indra, yang merelakan cintanya untuk orang lain.


Dengan iringan doa di setiap langkahnya yang kian jauh dan semakin jauh hingga tak terlihat tak tergapai.


Selamat berjuang Anin... Semoga hidupmu akan seindah parasmu.


Indra menitikkan air mata.


Mencintaimu adalah kebahagiaan untukku.


Terimakasih atas cinta kasihmu.


Pada kehidupan ini, takdir hanya mempermainkan kita. Dipertemukan untuk dipisahkan.


Tak apa.


Begitu pun aku bahagia.


Seperti alunan detak jantungku 


tak bertahan melawan waktu


Dan semua keindahan yang memudar


Atau cinta yang telah hilang


Jiwa yang lama segera pergi,


Bersiaplah para pengganti


Tapi kumohon


Biarkan aku bernafas sejenak


Karena mengganti jiwa tak semudah membuka mata


Karena Ini tentang cinta


Jiwa


Lara


Yang ku alami


-Kekasih bayangan-


***


Pukul setengah tiga sore persisnya setengah tiga lewat lima menit.


Saat itu Anin hendak menyendok puding pesanannya, Ketika Anin menerima kabar dari informan itu.


Yang mengabarkan bahwa benar adanya, foto itu.


Kejadian yang terpotret itu benar-benar 'benar' telah terjadi.


Bahkan informan itu, mengirimkan beberapa foto lain yang ia ambil entah dari mana.


Termasuk di dalamnya foto Bima sedang bersama Kartika saat ini.


Di sebuah cafe. Dengan kue berhias lilin angka.


Walaupun tak nampak mesra, namun gambar itu berhasil mencabut setengah nyawa Anin.


Mereka masih bertemu!!


Ponselnya masih bergetar menerima pesan bergambar tapi Anin sudah tidak peduli lagi pada foto-foto itu, juga pada kalimat panjang lebar yang ia terima pada pesan whatsapp.


Pada pudingnya ia juga tak peduli.


Ia bergegas.


Meraih tas dan jass- nya kemudian berpamitan pada suster Ida.


Kepada sopirnya, ia minta diantarkan ke cafe tersebut.


Setelah melewati beberapa titik kemacetan, Anin pun akhirnya sampai pada tujuannya.


Ooh, pesta kejutan rupanya?


Boleh juga.


Anin mengelus-elus perutnya yang terasa ngilu sebab di dalamnya bergerak-gerak.


Kamu siap sayang?? Tarik nafas, keluarkan. "Temani momy." gumamnya.


Anin memulai langkahnya dengan mantap.


Menuju sebuah cafe yang sedang riuh ramai merayakan sebuah pesta.


Yang berulang tahun tampaknya sedang tidak bahagia. Terlihat dari raut mukanya.


Barangkali firasat, keanehan sudah ia rasakan Dari sejak pagi tadi.


Yang Bima tak sengaja melihat kotak warna biru lengkap dengan sebuah pita pada tutupnya, tapi tak berani menilik isinya.


Tak sengaja melihat istrinya bangun dengan muka sembab.


Tapi setelah memastikan semua isinya utuh dan tak ada yang berubah Ia sedikit lega. Lalu segera memindahkannya.


"Ayo dong, di tiup lilinnya," seru seseorang dari ujung kiri.


"Iya dong pak, lapar nih.. kapan makan-makan nya," teriak salah seorang lagi. Yang sontak membuat semua hadirin di dalam cafe tertawa.


"Dasar rakus, kau!" Balas laki-laki kurus yang sedang memegang kamera. Siap untuk memontret.


Gelak tawa pecah lagi, menanggapi celotehan orang itu.


Kartika yang sedari tadi nempel terus kayak perangko pun ikut berkomentar, "Iya tuh, ayo dong .. di tiup!" Desahnya bergelayut manja di lengan Bima.


Dengan alasan tidak enak, Bima Pun akhirnya meniup lilin itu dengan diiringi gemuruh suara tepuk tangan dan suara suara sumbang yang meminta segera memotong kuenya.


Kue pun dipotong.


Suapan pertama dari Potongan kue pertama ia berikan pada Kartika.


Kepada siapa lagi? Kalau ada istrinya tentu ia akan memberikan untuk Anin.


Pintu cafe terbuka tepat di saat Kartika mencium pipi Bima.


Manis sekali bukan? Mereka berdua.


Anin membalas sapaan waiters yang menyapanya dengan sebuah senyuman dan anggukan.


Dengan tubuhnya, wanita itu membelah kerumunan yang menutupi suaminya sampai pada baris terakhir, sehingga dapat dengan jelas ia melihat wanita itu tengah mengecup mesra pipi lelakinya.


Marah?


Tidak perlu.


Nangis histeris?


Percuma, hanya akan mempermalukan diri sendiri.


Siram pake air?


Ah, nggak usahlah. Terlalu biasa.


Mau tahu gimana cara wanita ini menghadapi situasi ini??


Sejujurnya aku pun tak tahu. Harus bersikap seperti apa dan bagaimana.


Anin diam terpaku, dengan sebuah ponsel di tangan kirinya.


Bima dan beberapa karyawan yang mengenal Anin terkejut berbarengan.


Tiba-tiba saja suasananya menjadi horor.


Bakal ada perang dunia ketiga ini! Pikir salah seorang karyawan.


Wah, wah... seru nih!! Pesta nya. Gumam pria lainnya.


Aduh, ketangkap basah yaa si bos. Bisik wanita pojokan.


Apa rasanya ya.. lihat suaminya di cocol-cocol cewek gatel nggak tahu diri begitu. Ucapan dari salah satu cewek yang duduk di tengah.


Ya ampun??! Itu istrinya si bos?? Bunting pula??!! Astaga!!


Dan Beberapa pasang mata yang menatap penuh tanya kepada mereka bertiga bergantian.


Mungkin mereka merasa aneh dan bingung. Ada apa sebenarnya? Atau akan ada apa selanjutnya.


Situasi masih dalam kecanggungan ketika Anin memutuskan untuk mengambil langkah awal menjalankan ide otaknya.


Dari semua orang yang membisu, Anin duluan lah yang berhasil mengendalikan dirinya.


Setelah sekuat tenaga meyakinkan dirinya bahwa : tidak akan menangis, tidak akan marah-marah, tidak akan bertindak bodoh.


Gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman.


Kemudian,


Menjabat tangan suaminya, mengucapkan selamat. "Selamat sayang, Maaf Aku terlambat." seraya mengguncangkan tangannya.


Dilanjutkan dengan memeluk laki-laki yang tengan duduk disamping wanita itu, yang masih bingung harus berbuat apa atas kedatangan tak terduga istrinya.


Bima merasa istrinya telah memergokinya.Dan reaksinya??


Reaksi macam apa itu??!!! pikir Bima. Akan lebih baik jika dia marah, menampar, memaki atau melakukan apa saja.


Tapi itu gayaku.


Wanita itu kemudian sedikit membungkuk untuk kemudian mencium pipi dan bibir bergantian.


Entah siapa yang mengomando, Sehingga yang hadir disana secara bersamaan bersorak dan bertepuk riuh ketika Anin mencium bibir suaminya.


Tanpa malu-malu, Bima pun membalas pagutan istrinya mesra.


Sorak sorai makin ramai ketika sepasang suami istri itu semakin dalam saling membalas seolah tak ingin dipisahkan.


Wuw...


Wwooow

__ADS_1


Auu...boss.... please...


Sensorr bos....


Suit suit...


Dengan sudut matanya, Anin menyempatkan diri melirik ke arah wanita itu.


Kau lihat!! Kau bukan siapa-siapa!!


Enyahlah!!!


Kartika meradang, kesal hingga rasanya mau meledak kepala batunya itu.


Ia merasa tersisih dan terabaikan.


Dengan rasa malu, ia pun memilih untuk pergi menghindar dari pesta yang dibuatnya.


Terusir dari pesta yang dibuat dan direncanakan. Gila!!! Lihat saja nanti!!!


Anin tersenyum penuh kemenangan menatap kepergian Kartika.


Dilanjutkan dengan menatap suaminya.


Seolah tahu apa maksud istrinya. Bima pun mengangguk. Memberi isyarat. Semua Bisa ku jelaskan.


Dan untuk pertama kalinya secara resmi Bima memperkenalkan istrinya di hadapan karyawan-wati nya.


Di tengah acara, Anin pamit pulang lebih dulu pada suaminya. Karena ia merasa sedikit capek.


"Mas, aku duluan ya, rasanya kaki-kakiku mau patah."


Tanpa menaruh curiga, Bima pun menguyakan ucapan istrinya dan akan segera menyusul setelah selesai acara.


Sesampainya di rumah, Anin segera mengemas pakaian dan barang bawaan lainnya.


Tak ketinggalan pasport - nya.


Pada sopirnya ia minta di antar ke gambir untuk bertolak ke Bandung.


Sepeninggal sopirnya, Anin dan pengawalnya pergi ke Halim.


Pada pengawalnya, ia suruh untuk antri beli tiket dan pergi bersama-sama ke jogja. Menemui papa mertuanya.


Ada yang harus segera disampaikan. Tidak bisa ditunda lagi.


Kepada papa mertuanya, ia segera menghubunginya.


Untuk membuat janji bertemu.


"Dengan sangat terpaksa, aku lakukan cara ini." gumam Anin. "Maaf mas Bim."


****


Pukul 19. 10 wib


Di rumah, Bima tidak menemukan istrinya di manapun.


Dan tidak juga berkesempatan menjelaskan semuanya.


Hanya sebuah kotak biru, dan selembar kertas Di Atas nakas yang tak sempat lagi ia baca.


Serta map berisi dokumen yang selama ini Anin kumpulkan.


Firasatnya, ia harus segera melihat pada barang-barang istrinya.


Setelah mengecek isi lemari yang sebagian isinya telah kosong. Ia yakin, ada yang tidak beres.


Berdasarkan pengakuan sopir istrinya. Lelaki yang tampak kebingungan itu pun minta di antar ke Bandung saat itu juga.


Sesampainya di Bandung, justru ibu mertuanya yang di buat bingung.


"Anin tidak ada datang kesini, telpon saja tidak. Memangnya kalian kenapa lagi?" Tanya ibu mertuanya.


"Nanti pasti Bima jelaskan, ma.. sekarang yang penting Bima harus ketemu Anin dulu."


"Coba kau telpon si botak." Kata mamah mertuanya. (si Botak - pengawalnya).


Iya, sampai lupa!! batin Bim.


Bima pun mengikuti instruksi mamah mertuanya. Untuk segera menghubungi si botak.


Darinya, ia mendapatkan info bahwa Anin tengah berada di Jogja.


Mengadukah ia pada papa tua? Ya tuhan....


"Mah, Bima langsung ke Jogja ya… Anin disana."


"Sudah malam, besok pagi saja. Tiket juga paling-paling sudah kosong. Tenanglah dulu…."


Bima berpikir sejenak. Benar juga pikirnya.


"Kalau begitu, Bima pamit pulang aja mah, biar besok pagi-pagi bisa langsung berangkat ke jogja."


"Ya sudah hati-hati, apapun masalahnya, selesaikan dengan kepala dingin. Mamah titip anak dan cucu mamah."


"Iya mah."


Bima pun berpamitan pada wanita yang masih terlihat cantik meskipun warna rambutnya telah bertambah.


Sepanjang perjalan Bima sudah membayangkan kengerian apa yang akan menimpanya.


Kalau nggak masuk ICU, jadi gembel.


Damn it!! Dan kenapa nomer telpon orang orang disana susah sekali dihubungi!!!! Maki Bima pada udara.


***


Dirumah…. di kamar.


Kotak biru dengan pita yang sangat manis.


Bima membuka kotak itu yang ternyata berisi foto hasil USG.


Dengan sebuah tulisan pada sepotong kertas : 


-- Kado terindah dari tuhan untuk kita.


-Calon anak kita seorang jagoan.


Selamat ulang tahun papa muda.


Salah satu Doa mu terkabul.


-ttd-


Anin- (masih) your wife.


Laki-laki itu tersenyum memandangi foto jagoannya. Menciumnya kemudian menangis haru tanpa suara.


Rasanya sudah tak sabar ingin cepat-cepat esok hari.


Malam itu, ia lalui dengan sangat menyiksa dan terasa sangat lama.


Sampai akhirnya pagi yang ditunggu tiba, ia segera meluncur ke Soetta.


***


Dengan perasaan tak tenang, Bima memasuki halaman rumah masa kecilnya.


Dari sepanjang perjalanan ia memikirkan hal-hal apa yang sebentar lagi akan menimpanya.


Namun kali ini ia sudah sangat siap jika harus berdarah-darah lagi.


Oke, come on...


Aku sudah sangat ingin menemui jagoan dan istriku, itu motivasi terbesarku.


Tapi ternyata semua tebakkan dan kekhawatirannya keliru.


Justru yang tidak ia sangka-lah yang terjadi.


Sesampainya di dalam rumah Ia tidak mendapatkan apa-apa.


Tidak juga menemukan siapa-siapa.


Berdasarkan info dari asisten rumah tangganya, Ibunya tengah bertolak ke Jakarta.


Yang sebenarnya ke Bandung untuk menemui orang tua Anin. Sedangkan, Ayahnya sedang menghadiri rapat.


Anin istrinya tidak ada lagi disana.


Permainan macam apa ini!!! Sungguh tidak lucu. Makinya dalam hati.


Dan barulah ketika si botak menyerahkan amplop, Bima tertegun.


Tertegun setelah membaca sebait tulisan pada bagian belakang amplop tersebut.


Akan ada fase dimana orang sabar menjadi muak. 


Orang yang peduli menjadi masa bodo,


Dan yang setia akan angkat kaki Ketika sabar, peduli dan setianya tidak lagi di hargai.


Maaf aku pergi


- Anin-


Apa maksudnya ini?


Dengan tidak sabaran laki-laki itu merobek amplop tersebut.


Membacanya.


Kemudian,


Bima meremas kertas itu penuh sesal.


Ia tersedu menangisi kebodohannya.


Mengutuki ketololan dirinya yang menyangka istrinya baik-baik saja.


Seharusnya tidak seperti ini.....


Seharusnya tunggu aku sebentar lagi...


Seharusnya tidak seperti ini......

__ADS_1


Anindiraa......


***


__ADS_2