
Anin sedang menelungkupkan tubuhnya di atas kasur –yang sering dipakai Mika ber-jengjengjeng ria itu- dengan sebuah jurnal tentang macam–macam penyakit dan penanganannya, tergenggam di tangannya.
Lima belas menit sudah Anin membolak balik halaman yang sama, namun tak ada satupun yang masuk ke dalam otaknya. Oh my god, what wrong with my brain!
"Pasien dengan sesak nafas tiba–tiba penanganan pertamanya yaitu harus dilakukan....." Anin tak mampu mengingat lagi apa yang telah lima kali dibacanya.
"Aaakkhh, kenapa susah sekali!!" Erang Anin frustasi.
Akhirnya Anin mengalah pada jurnalnya. Mungkin otaknya terlalu lelah untuk sekedar menghafal.
Anin membalikkan tubuhnya menghadap langit-langit apartemen lamanya. Yang dulu ia tempati bersama Mei.
Sore itu ia memutuskan untuk sementara waktu tidak ingin pulang –tidak ingin bertemu suaminya. Anin merasa jijik dan butuh menenangkan diri serta berfikir bagaimana nasib rumah tangganya untuk kedepannya. Dan kepada Mika, Anin beralibi suaminya sedang keluar negeri. Dia tidak mau kesepian di rumahnya. Untungnya, sahabatnya percaya-percaya saja.
Begitulah kalau sedang dimabuk cinta!! Bumi sekitarnya gempa pun tak akan berasa. Desah Anin dalam hati.
Alih-alih memikirkan jalan keluar permasalahan rumah tangganya, Justru pikirannya melayang pada kejadian siang tadi.
Bocah itu!! Bocah??? Dulu memang terlihat seperti bocah, tapi siang tadi kenapa begitu sexi. No, no, o, Anin!! stop thinking about him. Ingat dia lah yang telah memperlakukanmu dengan kurang ajar. Melecehkanmu, hingga tiap malam kamu dihantui mimpi buruk yang menyiksa. Kau lupa?!
Flashback…...
Di dalam lorong itu....
Pria itu melepas bekapan tangannya lalu mengulum bibir Anin ganas, Suara gadis itu pun teredam.
Aroma tembakau terasa di lidah Anin. Pria itu tetap melahap bibir Anin, Pria itu mengunci kedua tangannya ke atas kepalanya dengan tangannya yang kuat.
Tangannya yang lain mulai menyusup masuk dalam rambutnya dan menariknya.
"Lepasin!! maki Anin marah. Apa-apaan kamu?''
"Diam!!" Pria itu menjilat bibirnya, Tatapan matanya tampak ingin menerkam.
Lalu pria itu menggigit leher bawahnya.Rani tersentak.
"Ja..Jangan!!!"
Pria itu menghisap kulit leher Anin
"Bajingan kamu!!!" Teriak Anin "TOLONG!!!!!" Anin meronta. Badannya gemetar. Air matanya Keluar.
"Nggak bakalan ada yang menolongmu disini."
"Lo suka di giniin, perempuan? bagaimana rasanya?" Pria itu mencekik leher Anin dengan Satu tangan lainnya menangkup sebagian dadanya dan meremasnya.
Anin bergidik ngeri. Kebenciannya muncul kembali ke permukaan. Padahal beberapa hari terakhir hubungannya dengan dokter Firman sedikit mencair. Dan Kenapa Indra bocah itu malah muncul lagi di hadapannya setelah usahanya berhasil? Menyingkirkan mimpi-mimpi itu?
Apa sesungguhnya rencanamu tuhan?? Tidak bolehkah aku bahagia?? Kenapa masalah datang tak berkesudahan?
Anin tersentak kaget ketika Mika masuk ke kamarnya dalam linangan air mata.
"Hei, hei.. what wrong beb?" tanya Anin heran. Bukannya sore tadi dia pergi dengan Abi? Ada apa dan kenapa ini?
Mika menangis sejadi-jadinya memegangi dadanya.
Anin memeluk sahabat kesayangannya itu. Menepuk-nepuk punggungnya. Jika ini karena Abi, tentu sebagai sahabat bukan tidak pernah Anin mengingatkan. Dan hari ini sudah diprediksi akan terjadi. Yang Anin tak menyangka, kenapa tangisan Mika terdengar begitu menyayat hati. Toh selama ini dia tidak pernah menangis karena seorang cowok. Tidak main perasaan! Pacarnya banyak, hatinya kebal. Gonta ganti pacar sudah kayak minum obat.
__ADS_1
Jadi? Apakah kali ini Mika benar-benar mencintai Abi?! Ya tuhan... Kenapa harus dengan Abi, Dan dia bukan laki-laki baik. Dia terlalu berambisi.
Anin melepas pelukannya ketika dirasa Mika sudah cukup tenang dan dapat diajak berbicara.
Anin mengawasi gerak tubuh sahabatnya yang masih sesenggukan. Rasanya aneh melihat Mika yang centil ceria bawel rempong dll, kini berurai air mata. Begitu dalam sedihnya sampai tak mampu berkata-kata.
Tiba-tiba Mika mengeluarkan sebuah undangan dan menyerahkannya pada Anin.
"Undangan pernikahan?! Apakah…." Tanya Anin meyakinkan praduganya.
Mika mengangguk lalu mulai mengeluarkan air matanya lagi.
Anin membuka dengan tidak sabar. Lalu membaca tiap inci kalimatnya.
Abi dengan Lily dan bukan Mika?? Apa-apaan ini?!
Anin menatap Mika meminta penjelasan. Namun sahabatnya itu justru semakin larut dalam kesedihannya.
"Keterlaluan!!" dengus Anin kesal.
"Jadi selama ini, dia anggap aku ini apa, Nin!" teriak Mika diantara tangisnya. "Bahkan, dalam tiga hari sudah tiga ratus kali dia mengatakan mencintaiku, dan kita baru saja selesai having s*x sebelum dia mengeluarkan kertas sialan ini." ucap Mika bergetar hebat.
Jadi gadis itu Lily!! Dan, wait... bukankah itu nama gadis yang sama dengan adiknya Firman?!
Anin kembali membuka kertas undangan tersebut, dan dia menemukan nama keluarga mempelai putri. Apakah bukan suatu kebetulan? Atau memang dari awal sudah terencana seperti ini?!
Anin hendak memeluk sahabatnya lagi ketika ponselnya bergetar.
Ibu! Ada apakah? Anin buru-buru mengangkat teleponnya.
"Iya Mah, Ini Anin di rumah Mah. Anin sehat, baik-baik saja, ada apa Mah? kok tumben malam–malam telpon."
“Syukurlah, kalau kamu baik-baik, mamah cuma kangen dan sedikit khawatir. Tapi tidak apa –apa.”
Anin menggigit bibirnya. "Ah, iya mah, Anin baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba mamah tanya begitu?"
"Oh tidak kenapa-kenapa, Cuma, tadi suamimu kemari. Katanya ada urusan bisnis dan sekalian mampir."
Anin terkesiap kaget. Really?? Mas Bim ke Bandung lagi? Mungkinkah dia mencariku? atau mungkin??
Tarik nafas.....keluarkan!!! "Ooh, Itu. kirain kenapa, Mamah ini ngagetin Anin aja deh." Anin menarik nafas yang terasa berat. "Iya, mas Bim sedang ada project di Bandung, Mah."
Dan kamu bukan orang yang pandai berdusta. "Ya sudah, jangan lupa makan, jaga kesehatan. Dan ingat! Kamu masih punya rumah, masih punya kami disini."
"Iyaa Mah." Lalu Anin menutup sambungan teleponnya.
Aneh! Pikir Anin. Apa Ibunya sedang mencurigainya?
Namun ia segera kembali fokus pada Mika yang masih saja terisak.
Justru karena itu, ibunya curiga. Pasti ada apa-apa dengan rumah tangga anaknya.
Dan Bukan Bima mampir ke rumah. Tapi mertuanya melihatnya sedang duduk mesra, berdua bersama seorang wanita yang bukan istrinya. Dan Sofia menelepon ke rumahnya tidak ada siapa-siapa selain mbok Jum disana. Dan mbok Jum menceritakan bahwa Nyonya rumah nya belum pulang setelah insident tivi retak.
***
Di sebuah kamar hotel kawasan Bandung
__ADS_1
Malam ini Bima kembali menemui Bintang setelah kemarin malam dia juga bermalam di tempat hiburan malam di Bandung bersama Bintang.
Namun kali ini dengan misi yang berbeda. Kalau malam yang lalu Bima datang kepada Bintang karena ingin meminta tolong padanya. Apakah Bintang dapat membuat bos kecilnya bangun atau tidak.
Tapi malam ini, Karena Bima penasaran! Penasaran dengan apa yang diucapkan Bintang di telpon siang tadi.
Bahwa Bos kecilnya kemarin mampu berdiri kokoh dan mampu berperang dengan gagah berani.
“Bisa saja karena pengaruh alkohol,” Pikir Bima. “Dan malam itu saya pun tak ingat apa yang telah kulakukan.”
Jadi itulah alasan kenapa seorang Bas Bima Aji saat ini berada pada sebuah hotel di kawasan Dago.
Bintang mulai membuka kancing kemeja yang Bima pakai. Melucuti satu persatu kain yang menempel pada tubuh laki–laki itu.
Tak lama, Bintang mulai menciumi setiap inci tubuh bagian yang terekspos bebas tanpa penutup.
Semakin kebawah, semakin liar Bintang menggerakan lidahnya. Sampai pada kain satu-satunya yang masih menutupi bos kecil -yang sama sekali bukan hak nya itu.
Bintang segera menurunkan boxer itu dan dibiarkan menggantung pada bagian lutut Bima.
Bintang mulai bergerak di bawah sana. Terus dan terus hingga Bima merasakan sang Artur berkedut hebat.
"STOP. STOP!!!" Teriak Bima menahan gejolak gairahnya. "Kali ini saya percaya padamu. Please stop!" ucap Bima terengah. "Saya harus segera pulang." Tambahnya.
"Why? kenapa tidak kita selesaikan urusan kita terlebih dulu, dan baru kamu pulang." Rayu Bintang.
"I can't." Desah Bima frustasi. Antara gairahnya atau rumah tangga dan istri tercintanya.
"Oh, come on. Please don't make me like a female escort. Let's have fun!! Having s*x until tomorrow."
"Please.... " ucapnya lagi ketika Bima tak juga bereaksi. "...don't you want this. Hhmm..?" Bintang menuntun jemari Bima pada dadanya. "Are you sure?"
"Fuking ****!!! " Teriak Bima. Lalu menarik tubuh wanita itu dengan kasar. "Let's show your skills. Don't make my little boss disappointed. "
"I will." Balas Bintang menantang. Detik berikutnya Bintang telah ******* habis bibir Bima dengan rakusnya.
"Oh, shit!!" rancau Bima.
Dan lagi! keduanya berkubang dalam lumpur dosa sekali lagi. Pada pagi harinya, dosa itu mereka lakukan sekali lagi dan sekali lagi.
***
Pagi itu Anin mampir kerumah untuk sekedar menukar baju, Sekilas Anin Melihat kondisi tempat tidur yang masih rapih. Tidak pulang lagi!
Dan kemudian berangkat lagi ke rumah sakit setelah menitipkan sebuah pesan pada mbok Jum untuk suaminya.
***
Jangan lupa like, & tinggalin komen ya....
ig : kata_upil
noveltoon
bellacandra
anin
__ADS_1