
Sepanjang perjalanan Anin kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Apa mungkin?? Sebelumku ada yang datang lalu kemudian meninggal kan miliknya di sana secara tidak sengaja. Jatuh mungkin~~
Sebelumnya bapak sedang ada tamu. Kalau Tamunya~~ wanita yang tadi, yang tadi itu.. tamu atau rekan kerja atau karyawan kantor.
Aaahh iya~~~ dia mirip dengan yang tempo hari datang ke rumah sakit.
Jadi dia karyawan sini?? atau dia yang.....
Please Nin, jangan berpikir yang macam-macam! Bisa saja hanya kebetulan atau ada kembarannya.
Bisa juga, memang dia orangnya. Dia yang Sengaja datang ke tempat praktek untuk sekedar melihat seberapa hebat saingannya. Seberapa cantik-menarik istri dari kekasihnya.
Anin spontan menutup mulutnya ketika sesuatu dari dalam perutnya mendesak ingin keluar.
"Pak, tolong menepi sebentar."
Pak surip yang melihat perubahan pada paras nyonya-nya segera menepi.
Anin segera menghambur keluar. Mencari lokasi aman yang tidak mengganggu orang lain. Lalu ia muntah kan lagi isi perutnya di sana.
Pak surip berinisiatif menawarkan diri. "Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja, Bu??" Tawarnya.
Anin menyeka mulutnya. "...tidak perlu, Pak." Lalu kemudian kembali ke dalam mobil. "Kita pulang saja. Saya sudah tidak apa-apa." Perintahnya.
"Baik, Bu."
"Oh iya pak, pak surip tahu tidak, siapa tamu yang sering bapak temui?" tanya Anin untung-untungan.
Karena sepengetahuan Anin Orang yang pertama akan jadi saksi atas perbuatan majikannya adalah sopir pribadinya dan pak surip adalah sopir pribadi Mas Bim di kantor.
"Saya kurang tahu, Bu." jawabnya.
"Tapi kalau yang sering berkunjung ke kantor bapak saya tahu, sampai bosan saya, Bu."
Pak surip tersenyum malu-malu. "...dan beberapa kali saya diminta untuk mengantarnya pulang." tambahnya lagi.
Ada kemungkinan pak surip ini kurang suk .dari nada bicaranya.
"Siapa itu pak?"
"Namanya ibu kartika, Bu, dari PT.Wahana. infonya beliau itu supply barang ke perusahaan kita." Pak surip melirik dari kaca spion. Tadi juga ada di disana. Apa ibu tidak ketemu?"
Tebakan Anin Pak surip mengetahui sesuatu lebih banyak. "Ooh, tidak pak..mungkin sudah pergi sebelum saya datang."
Kartika??
***
Bintang masih duduk di pangkuan dan memainkan rambut Bima. Mengacak-acaknya.
"Sorry, Bee.. sepertinya, malam ini saya harus pulang. Kita tunda saja yaa..."
"Yah, payah!! Kau takut istrimu?"
"Tidak. Bukan begitu. Kelihatannya dia sakit. Saya tidak tega meninggalkannya sendirian."
"....dan Kau selalu tega terhadapku." Bintang memasang ekspresi cemberut. "Padahal gue punya kabar bagus."
"Kabar apaan?"
"...sepertinya, aku mulai jatuh cinta dengan seseorang."
"Hoh! Bagus dong. Siapa orang yang beruntung itu? Yang telah berhasil menyeretmu ke dalam lembah penderitaan." Lalu Bima tertawa karena menurutnya lucu seorang Kartika berbicara soal cinta yang menurutnya adalah sumber penderitaan.
"Dan sialnya gue ngebiarin dia ngehamilin gue, gimana coba?" Ucap Bintang dengan entengnya seolah yang sedang dibahasnya adalah soal kerupuk atau gorengan.
"Wo..wow. jadi sekarang Lu bunting? Nggak takut rusak??"
"Hh-hmm. Ya mau gimana lagi, Gue juga kecolongan!! Dan itu hasil karya insinyur bodoh, kenamaan: yang terhormat bapak Basuki Bima Aji." Bintang lalu menatap matanya karena merasa perlu mengamati ekspresi Laki-laki itu.
"Haha~~luar biasa becandaan Lu, nggak lucu."
Namun melihat ekspresi serius yang ditunjukan Bintang Bima segera menyadari kekeliruannya. "Jadi....itu.."
Bintang mengangguk tanpa ragu. Sorry, Bim, Karena gue nggak tahu harus berbuat apa! Aku terpaksa.
__ADS_1
******
Bima seperti terseret arus dan kembali pada masa putih abu-abunya.
Ingatannya kembali pada malam prom night waktu itu, ketika pertama kali merasakan indahnya masa remaja.
Semasa SMA Bima bukanlah tipe cowok idola, yang digandrungi cewek-cewek di sekolahnya. Dia tak lebih dari murid biasa yang bahkan keberadaannya tidak berpengaruh apa-apa.
Lain dengan sahabatnya yang populer diantara siswi perempuan. Tidak hanya pandai membawa diri tapi juga keren di setiap aksinya dalam ring tinju. Pembawaannya yang Romantis, serta ketampanan diatas rata-rata hasil persilangan Arab - jawa, semakin banyak pula cewek-cewek di sekolah yang tergila-gila padanya.
Dan hanya satu kekurangannya, dia lemah dalam hal potensi akademik. Alias bodoh!! Oleh sebab itulah Bina selalu ada di sebelahnya, sebagai sahabatnya.
Ya, gue -Bima- lah siswa terpandai dalam kelas. Sebelum kedatangan siswi baru yang kemudian merebut posisiku.
Siapa bilang, siswa pandai selalu identik dengan kacamata setebal pantat botol. Saya tidak.
Siapa bilang penampilannya, gayanya selalu culun??
Sekali lagi Saya tidak. Dan hal itu diperkuat dengan pernyataan siswi pendatang baru yang kemudian jadi primadona sekolah. Karena dia terlalu cantik, terlalu menggoda dan terlalu pintar untuk menjadi seorang murid SMA kelas dua.
Untuk seumurannya, buah dadanya-pun sudah menampakkan bentuk yang begitu indah menggoda. Tak heran, guru-murid laki-laki di sekolahnya terkadang sengaja berlama-lama memandang Kartika pada bagian dadanya daripada murid cewek lainnya. Tubuhnya yang tumbuh lebih tinggi dari gadis-gadis pada umumnya seolah ingin melengkapi kesempurnaan dirinya.
Alih-alih menunjukan rasa sukanya, Bima justru berusaha menghindar dan bersembunyi dibalik punggung sahabatnya seperti yang selama ini ia lakukan.
Walaupun Bima selalu jadi pihak yang kalah, selalu jadi nomor dua, selalu jadi objek yang diperbandingkan. Namun Bima merasa nyaman dan seolah enggan beranjak dari zona nyamannya.
Hingga pada malam pesta perpisahan kakak kelas. Bima akhirnya sadar akan pesonanya, akan kemampuannya. Ia pun memberanikan diri mencium pipi seorang gadis. Yang ternyata lebih berpengalaman darinya. Dan semenjak saat itu, selama dua tahun jalinan kasih antara galih dan ratna milenium itu semakin hangat.
Walaupun dibutuhkan perjuangan yang cukup sulit untuk mempertahankannya.
Sesekali Bima pulang dengan pipi lebam, bibir sobek. Terkadang dengan muka babak belur, hidung berdarah. Pernah waktu itu, Bima harus dilarikan ke rumah sakit terdekat sebab luka robek akibat sayatan belati hingga tangannya patah.
Karena hal itulah Bima tumbuh menjadi pria tampan yang ditakuti dan tangguh di tahun terakhir sekolahnya. Tidak hanya titakuti, dia juga disegani adik-adik kelasnya.
Namun sayang sikap temperamen serta posesif juga mulai muncul seiring dengan obsesinya ingin memiliki Kartika hanya untuk dirinya sendiri. Walaupun hal itu, bertentangan dengan sifat kekasihnya.
Gadis muda belia nan cantik itu, Kartika tidak suka dikekang, tidak suka diatur apalagi terikat. Dia menggilai kebebasan. Dan menganggap cinta adalah sumber penderitaan. Sungguh bertolak belakang.
Meski begitu, Bima dan kartika ibarat perwujudan dari surga dan neraka, pahala dan dosa, sungguh bertolak belakang namun ada karena keberadaan yang lainnya.
Emosinya bergejolak hingga menyentuh titik kulminasi. Namun ia tak sampai hati melukai sahabatnya sendiri, karena dia tahu, Bintanglah yang menggodanya. Selalu begitu. Setiap laki-laki yang ia pukuli pasti mengaku bahwa Bintanglah yang menggodanya.
Bima memendam kemarahannya hingga bel pulang sekolah berbunyi.
Dan pada kesempatan itulah, Bima menyeret Bintang dan mencuri bibirnya dengan paksa, tangannya bergerilya meremas bagian dada gadis itu. Ini adalah hukuman buatmu!!
Bintang kemudian mendorong tubuh Bima. "Ooh, jadi karena trik murahan siang tadi akhirnya Lu berani nyium gue. Dan apa perlu di malam pengantin kita nanti, gue tidur dengan cowok lain dulu, baru lu akan tidurin gue, iya!!??" Bintang mengambil tas dan bukunya yang terjatuh, lalu kemudian pergi meninggalkan Bima.
Bima masih terdiam. Jadi apa yang diharapkan kekasihnya itu??
Bima selalu ada, selalu menemani kemanapun, selalu siap jadi bodyguard, selalu siap jadi tameng, selalu siap jadi pahlawannya. Lalu apalagi??
Gue memang tak seromantis pria lain, tapi bukannya dia sendiri yang mengatakan bahwa aku lebih cool dan macho serta pintar daripadanya.
Lalu apa lagi yang dikehendaki gadis itu??!! Wanita memang rumus yg paling sulit dipecahkan.
-Rela melakukan apapun, berkorban apapun demi kekasihnya- begitulah Bima mengartikan sebuah perasaan cinta saat itu. Yang sebenarnya hanya cinta monyet yang dialami kebanyakan remaja.
Hingga pada malam itu,
Malam itu Bima akhirnya memutuskan berkunjung ke rumah bintang- yang hanya dihuni pembantu dan dirinya saja- untuk meminta maaf.
Seperti mengetahui rencana Bima akan berkunjung, gadis itu berdandan dan berpakaian lebih cantik dari biasanya. Sehingga Bima remaja tak kuasa menahan gejolak jiwa mudanya.
Bima meraih kekasihnya dalam dekapannya. Melumat habis bibirnya, hingga muda mudi itu lupa akan adanya batasan surga dan neraka.
Suatu hari, sampai juga pada telinganya, kabar kehamilan sang kekasih -primadona sekolah- yang rupanya telah menyebar dengan sangat cepat.
Untuk pertama kalinya Bima merasa seperti pecundang. Takut untuk pulang kerumah,tl takut keluar jika sudah dirumah, takut ke sekolah ketemu teman-temannya. Takut akan semua hal. Takut seisi dunia tahu akan kesalahannya.
Namun sampai dengan saat ini tidak ada yang tahu -atau mungkin semua orang pura-pura tidak tahu, dan menutup mata atas perbuatan Bas Bima Aji yang seorang putra konglomerat dan pejabat negara.
Begitulah akhirnya, Rahasiapun tersimpan rapi. Tentu saja hanya Bima dan Bintang yang tahu tentang rahasia besar itu. Faktanya, bukan hanya mereka yang tahu. Hampir penghuni sekolah tua.
Awalnya Bima berniat untuk bertanggung jawab. Dengan senang hati akan menikahi kekasihnya dan mengakui perbuatannya kepada kedua orang tuanya Bintang. Namun justru Bintanglah yang menolak, dengan alasan masih terlalu muda, masih ingin bebas, masih ingin bersenang-senang, juga ingin meraih mimpi dan cita-citanya.
Bintang Pun dengan entengnya mengucapkan tidak akan mempertahankan Kehamilannya, karena menurutnya hanya akan menghambat karirnya kelak serta merusak tubuh indahnya.
__ADS_1
Bintang pun memutuskan untuk pindah ke Bandung. Meninggalkan kekasihnya begitu saja tanpa tahu penderitaan apa yang Bima alami. Nyaris gila, dihantui rasa berdosa sebab ikut andil menghilangkan darah dagingnya.
Hingga ia dipertemukan kembali dalam acara kampus.
Dan bukannya kapok atas kesalahan yang dulu, justru keduanya mengulang kembali gita cinta SMA- nya namun kali ini, sudah jauh lebih pintar, baik Bima maupun Bintang telah melakukan persiapan.
Untuk kemudian mereka selalu mengulanginya pada setiap kesempatan. Tidak peduli jarak yang tercipta antara Jakarta dan surabaya. Candu asmara tanpa cinta itu telah merusak keduanya.
Simbiosis mutualisme, begitu Bintang selalu bilang.
Sampai pada akhirnya rasa bosan menyapa kehidupan Bintang, jiwa petualangnya kembali hidup dan berkobar disaat Bima merasakan cinta dan ingin meminangnya. Namun sekali lagi gadis itu menghilang setelah memutuskan hubungan aneh mereka.
Lagi, Bima kembali berkubang dalam lumpur cintanya sendirian. Hingga tak tersisa rasa minat, apalagi cinta pada gadis lain. Sekeras apapun dan secantik apapun gadis yang menggodanya Bima tetap tak bergeming.
Hidupnya ia habiskan untuk belajar dan belajar. Memperdalam ilmunya dan mengabdikan dirinya pada perusahaan milik keluarganya hingga kian berkembang dan maju pesat.
Ketenangannya mulai terusik ketika orangtuanya memaksanya menikah dan mulai menjodoh-jodohkannya. Namun Bima pasrah saja. Toh, akan sama saja dengan siapapun dia akan menikah.
Dan hatinya terusik, hasratnya terguncang ketika untuk pertama kali melihat gadis yang akan menjadi calon istrinya. Dia merasa menemukan kembali perasaannya.
Apa ini yang disebut cinta pandangan pertama?!
-Bima jatuh cinta bahkan sebelum masuk hitungan ke tiga-
Dan semakin menggebu setiap kali gadis itu menolaknya.
***
Bima mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, berusaha mencerna informasi yang baru saja ia terima.
Seandainya waktu bisa ditarik mundur dan kabar serupa diterimanya lagi pada saat itu, saat dimana Dia sangat mencintai kekasihnya yang justru memilih menyudahi hubungannya demi sebuah kebebasan mungkin dirinya akan sangat bahagia.
Harga yang sangat mahal yang harus Bima bayar.
Dan sekarang Kabar serupa kembali menyapanya, dalam kondisi yang sudah kian berbeda.
Kini ia merasa seolah dunia sedang mempermainkannya untuk menuntut pembalasan.
Situasi macam apa ini!!?? kenapa menjadi begitu sulit.
Berita Yang seharusnya menjadi kabar yang sangat membahagiakan seandainya yang mengucapkan adalah istrinya, justru ia terima dari teman senang-senangnya.
Lalu aku harus bagaimana??? Bukankah ini sekedar hubungan simbiosis mutualisme?!!
Jika kamu sadar, dirinya lah yang menemanimu disaat kondisi terpuruk. Menyelamatkanmu dari situasi terburuk. Mengembalikanmu dari ketidakmampuanmu.
Apa itu yang kau sebut teman senang-senang? dimana akal sehatmu, kau taruh?!
Lalu aku harus bagaimana??
Pilih salah satu!!
Tidak bisakah ku pertahankan keduanya?
Jangan gila!!
Saya mencintai istriku dan juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja, karena saya membutuhkannya dengan adanya darah dagingku didalamnya.
Bim meraup mukanya dengan gusar. "Saya kira, kita sudah sama-sama dewasa dan kenapa bisa terulang lagi kecerobohan di masa lalu?" Bima tertawa getir. "....sepertinya tuhan ingin menghukumku atas kesalahan dimasa lalu."
Bintang tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan. Kemudian ia berdiri dan berpindah pada sofa tamu. "Kenapa, Kamu takut?"
Bintang mulai mengeluarkan sebatang rokok dari dalam tasnya lalu menyalakannya. "Santai saja laah..lagian ini bukan suatu permasalahan yang perlu dibesar-besarkan dan bukan yang pertama kalinya buat kita. Saya bisa mengakhirinya -lagi-" Bintang memelankan suaranya. Ada nada getir dalam ucapannya. "Karena aku tidak mau dia lahir sepertiku, karena sebuah kesalahan!!" Bintang kembali menyesap rokok dan menyemburkan asapnya ke udara.
Bima menghampiri lalu berlutut di depan Bintang. "Tidak..tidak, tidak...saya tidak akan mengulangi kebodohanku." Ia maju lalu mencium kening Bintang. "Berikan kesempatan anak itu untuk mengenali siapa ayahnya."
"Lalu istrimu?! Keluargamu??!"
"Biar kupikirkan nanti saja...."
Dipandanginya Pria tampan di depannya, lalu Kartika pun tersenyum bahagia dan keduanya saling memeluk.
Adakah kata maaf dalam cinta atas sebuah kesalahan???
--Ada, dengan berbagai bentuk---
****
__ADS_1