Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Lelah (tak) menyerah


__ADS_3

Di rumah…. di kamar.


Kotak biru dengan pita yang sangat manis.


Bima membuka kotak itu yang ternyata berisi foto hasil USG.


Dengan sebuah tulisan pada sepotong kertas :


-- Kado terindah dari tuhan untuk kita.


-Calon anak kita seorang jagoan dan seorang princes.


Selamat ulang Tahun papa muda.


Salah satu Doa mu terkabul.


-ttd-


Anin- (masih) your wife.


Laki-laki itu tersenyum memandangi foto calon anaknya. Menciumnya kemudian menangis haru tanpa suara.


Rasanya sudah tak sabar ingin cepat-cepat esok hari.


Malam itu, ia lalui dengan sangat menyiksa dan terasa sangat lama.


Sampai akhirnya pagi yang ditunggu tiba, ia segera meluncur ke Soetta.


***


Jogja.


Dengan perasaan tak tenang, Bima memasuki halaman rumah masa kecilnya.


Dari sepanjang perjalanan ia memikirkan hal-hal apa yang sebentar lagi akan menimpanya.


Namun kali ini ia sudah sangat siap jika harus berdarah-darah lagi.


Oke, come on...


Aku sudah sangat ingin menemui si kembar dan istriku, itu motivasi terbesarku.


Tapi ternyata semua tebakkan dan kekhawatirannya keliru.


Justru yang tidak ia sangka-lah yang terjadi.


Sesampainya di dalam rumah Ia tidak mendapatkan apa-apa.


Tidak juga menemukan siapa-siapa.


Berdasarkan info dari asisten rumah tangganya, Ibunya tengah bertolak ke Jakarta.


Yang sebenarnya ke Bandung untuk menemui orang tua Anin. Sedangkan, Ayahnya sedang menghadiri rapat.


Anin istrinya tidak ada lagi disana.


Permainan macam apa ini!!! Sungguh tidak lucu. Makinya dalam hati.


Dan barulah ketika si botak menyerahkan amplop, Bima tertegun.


Tertegun setelah membaca sebait tulisan pada bagian belakang amplop tersebut.

__ADS_1


*Akan ada fase dimana orang sabar menjadi muak. *


Orang yang peduli menjadi masa bodo,


Dan yang setia akan angkat kaki Ketika sabar, peduli dan setianya tidak lagi di hargai.


Maaf aku pergi


- Anin-


Apa maksudnya ini?


Dengan tidak sabaran laki-laki itu merobek amplop tersebut.


Membacanya.


Kemudian, Bima meremas kertas itu penuh sesal.


Ia tersedu menangisi kebodohannya.


Mengutuki ketololan dirinya yang menyangka istrinya baik-baik saja.


Seharusnya tidak seperti ini.....


Seharusnya tunggu aku sebentar lagi...


Seharusnya tidak seperti ini......


Anindiraa......


***


Tembang lawas milik penyanyi Ibukota itu mengiringi kepergian Anin yang kini tengah berada dalam pesawat.


Mungkin merasa senasib dengan syair lagu atau penyanyinya.


Entahlah. Hanya tuhan dan Anin yang tahu.


Anin bertolak dari Bandara Adi sucipto pukul setengah lima subuh penerbangan paling pagi dengan tujuan Singapure, tapi sebelumnya ia harus transit di Soeta dan bertukar pesawat. Setelah dirinya berhasil meyakinkah papa mertuanya tentu saja.


Ia pun diizinkan dengan beberapa syarat. Mengingat ia tengah hamil dan akan melakukan perjalanan udara.


Karena tanpa ijinnya, maka itu berarti Bima dalam bahaya.


Mau tak mau Anin harus pamit dan menjelaskan perkara yang melatar belakangi niatnya pergi.


Mulanya papah tua itu heran, ketika Anin meminta janji untuk bertemu di salah satu resto sebuah hotel.


Sebab di rumah itu tak mungkin. Ada seorang ibu yang sudah pasti akan sangat histeris dan tak yakin mampu menjaga rahasia. Dan bertambah syok mendengar pengakuan anak menantunya.


Marah sudah pasti. Malah Papa Tua berniat ingin menghabisi wanita jalang itu, Jika saja Anin tak memohon dan meminta sumpahnya demi cucu yang akan lahir nanti.


"Demi tuhan, Pah, demi calon cucu papa ini, jangan lakukan itu...."


"Kau ini bodoh atau apa!!" Geram papa tua.


Anin terisak. "Semuanya sudah terjadi, dan sangat terlambat untuk diperbaiki."


"Seharusnya ku bunuh saja anak itu sejak bayi," gumam Pria tua itu pada malam yang kian larut.


Tatapannya menerawang jauh kedepan. "Aku pikir dengan perjodohan ini, kalian akan bahagia. Ternyata kami -para orangtua- salah!" tambahnya.

__ADS_1


"Tidak, Pa. Kalian tidak salah." ucap Anin dalam isak tangisnya."...kami yang lalai, dan tidak saling menjaga," tambahnya.


Bahkan papa tua saja sampai berkaca-kaca mendengar setiap kalimat yang meluncur tersendat dari mulut Anin


Pria tua itu menepuk bahu Anin dengan memalingkan tatapannya, "Apa yang bisa Papa lakukan untuk mu? Rasanya papa tak sanggup menatapmu lama-lama, pun pada keluargamu, aku sangat malu!"


"Kepergianku, tolong papah rahasiakan kepergianku dengan nyawa papah sendiri!"


"Itu tidak mungkin, lihat dirimu?!"


"Pah, please...kali ini saja, aku cuma ingin mas Bima sadar. Bahwa segalanya harus diputuskan dengan tegas. Dan tidak berlarut-larut." Ucapnya memohon.


"Lalu kau mau pergi kemana dengan membawa cucuku? Kau juga harus memikirkannya, kesehatannya, kelahirannya?!!"


Anin menghela nafas resah.


Bagaimana ini?


Lalu, tiba-tiba Pria itu kembali bersuara tegas.


"Papah yang akan tentukan, kemana kau harus pergi. Anggap saja liburan untuk menenangkan diri."


Anin tak mampu membalas kata-kata itu, Pikirannya kacau saat ini. Pusing mendera kepalanya sebab ia belum kemasukan nasi sejak sore tadi.


"Kau tunggulah sebentar." Kata pria tua itu, lalu ia bangkit dengan ponsel sudah menempel di telinganya.


Berdiri agak jauh dari posisi mereka duduk sebelumnya.


Beberapa menit kemudian,


Papa tua kembali menghampiri Anin, "Sebentar lagi, Susi akan kesini. Kalian akan berangkat besok pagi ke Singapura. Biar Susi yang akan mengurus segalanya untukmu."


Singapure?


"Ya, singapure. Kau akan disana untuk beberapa bulan bila perlu kau bisa melahirkan disana." Ucap papa tua lagi ketika melihat ekspresi heran anak menantunya.


"Kau Istirahatlah, biar papa yang tunggu susi di sini." Pinta pria tua itu.


Sambil mengusap sisa-sisa air matanya, Anin mengangguk. Karena ia pun sudah sangat ingin merebahkan diri.


Lelah. Sangat lelah.


Keesokkan hari....


Setelah segalanya beres, sampai pada ponsel lama ditukar dengan ponsel baru. Segala macam kartu debit kredit yang terpaksa Anin terima. Hingga pengawalan yang agak nya terlalu berlebihan. Anin tak mampu menolak.


Begitulah papa mertuanya.


Pagi itu, Anin dan Susi berangkat lengkap dengan pengawalan papa tua beserta ajudannya.


Hingga perlu mengecek sampai ke detile penerbangan segala. Dan memastikan tidak salah naik pesawat.


Penerbangan pagi dengan tujuan Singapure.


Tentu saja.


Namun sampai pada kabar mengejutkan yang diterima papa tua dari kawannya bahwa Anin tak pernah sampai di Singapure, Karena ia tak pernah pergi ke sana.


Dan Susi ikut lenyap bersamanya.


***

__ADS_1


Hai, jangan lupa like and koment yaa


__ADS_2