Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Sisi Kelam Anin


__ADS_3

Entah karena terlalu berkonsentrasi melihat layar ponselnya atau karena kurang minum aqua, Jeruk yang ia kupas justru ia buang, dan kulitnya hampir ia makan kalau saja suster ida tidak datang tepat waktu.


"Ya ampun, Dok!! Diet sih diet tapi-tapi jangan makan kulit jeruk juga dong??" teriak suster Ida.


Anin terkaget. Menoleh pada tangannya lalu tersenyum salah tingkah.


"Lihatin apa sih dok?" tanya suster ida penasaran.


"Ah\, enggak! ini lagi baca artikel tentang pers____" Anin tak jadi melanjutkan kalimatnya yang menggantung.


"Pers----???" Suster Ida melebarkan matanya terkejut. "Perselingkuhan?!"


Anin tersenyum yang terkesan dipaksakan. "Hahaha, ini gosip artis."


Suster Ida mengerutkan dahinya heran. "...dokter suka gosip juga ternyata."


Lalu keduanya saling berbalas senyuman.


Menit berikutnya, Anin menghubungi Mika untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Walaupun Sampai saat ini Anin masih kepikiran bagaimana dengan sahabatnya.


Semalaman Dia menangis dan terlihat sangat syok, bagai hidup segan mati pun tak mau. Namun pagi–pagi tadi Mika bertingkah wajar. Dan seolah tidak terjadi apa-apa. Dan justru hal itulah yang membuat Anin gelisah. Takut sahabat gilanya itu benar–benar gila.


Dan dengan sangat terpaksa, Anin harus meninggalkan Mika sendirian di apartemen miliknya itu. Dan hari ini dia belum melihat batang hidungnya di rumah sakit sejak pagi.


Anin kembali mencoba menghubungi suaminya untuk yang ke tak terhitung kali. Namun sia-sia pula usaha yang –entah yang keberapa kali– ini.


Akhirnya dia pun inisiatif kirim pesan yang sama dengan yang ia tulis lalu dia titipkan ke mbok Jum.


Ketika Anin sedang duduk di belakang mejanya, dan sedang melengkapi status pasien-pasien nya, tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dulu.


"Mau apa kesini?!" ucap Anin spontanitas setelah melihat siapa yang mengunjunginya dan tubuhnya seketika dalam mode siap siaga.


"Wow!" ucap Indra tanpa menghiraukan apa yang baru saja didengarnya. "Begitukah sambutan seorang dokter pada -bekas- Pasiennya?!" Imbuhnya lagi.


Entah mengapa Anin merasa perlu membetulkan posisi duduknya. "Ada perlu apa, sampai Anda kesini? Kalau ada yang mau ditanyakan sebentar lagi saya akan visit pasien." ucap Anin tanpa mampu menatap mata lawan bicaranya dan berpura-pura melanjutkan menulis status pasien.


"Saya perlu konsultasi secara pribadi dengan anda, Dokter." Jawab Indra singkat. Tanpa menunggu perintah, Indra duduk di depan dokter muda yang masih saja terlihat cantik itu menurut Indra.


Dengan gugup dan terpaksa Anin  menerima lelaki itu.


Harumnya lotion beraroma tembakau yang berbaur dengan eau de toiletnya yang menebarkan wangi rempah-rempah, menyiratkan kesan maskulin yang menyergap hidungnya. Membangkitkan sensasi aneh di hati dan membuatnya melayang.


Dan ketika kesadarannya kembali, sekilas Anin seperti melihat senyum tipis membayang di bibir laki–laki itu. Membuat pipinya merona.


Buru–buru Anin menunduk dan menyembunyikan wajahnya pada tumpukan rekam medik pasien. Dan untungnya, Dia dapat mengangkat salah satunya dan berpura-pura sibuk membacanya. "Konsultasi mengenai apa?" Tanya Anin yang dibuat sealami mungkin.


Sekali lagi mata mereka bertemu. Tetapi kali ini, Indra menatap Anin dengan lebih lembut dan sekali lagi listrik itu menyengat. Kali ini arusnya jauh lebih kuat sampai menggetarkan tangan Anin.


"Kalau kali ini dokter menolak lagi, saya marah!!"


Anin tertegun. Bukan karena kata-kata itu sendiri melainkan karena ajakan laki-laki di depannya. Apa dia sinting?


Setelah apa yang pernah dia lakukan dimasa lalu? Setelah mengetahui statusku dia masih saja berusaha!! Luarbiasa!!


Flasback,  One years Ago.


Malam itu, ruang UGD sibuk, akibat tabrakan beruntun antara truk fuso, Sepeda motor dan sebuah minibus.


Dokter Stefen adalah dokter umum yang malam itu bertugas di unit gawat darurat, sedangkan suster Ambar merupakan suster senior yang sudah -barangkali lima tahunan - tugas dirumah sakit ini.


"Kecelakaan, Dok, korban pengendara sepeda motor." Lapor suster Dina pada dokter stefen yang sedang berdiri bersama Anin dan Mei.


"Motor mereka di seruduk fuso! Yang wanita fraktur tibia kiri, dok, sudah di spalk. Yang pria fraktur tibia kanan kiri namun ada trauma kapitis. Tensi 140/90, kesadaran menurun, nadi 88."


Dokter steven memeriksa kedua pasiennya sebentar.


"Mei, kita lakukan triple airway manuver pada pria, suster siapkan ETT (endotracheal tube) no.37 !!, Rani,Kau tolong yang wanita. Panggil Gina untuk membantumu. VK sedang kosong ,Kan?"


Mereka segera terlibat kesibukan serius menolong pasien. Namun belum selesai pasien satu, datang pasien baru.


Seorang ibu menangis menerobos masuk menggendong putrinya, sedangkan suaminya dibelakang menggendong anaknya yang lain.


"Tolong saya dokter! anak saya....Anak saya tertabrak!" Teriak ibu makin histeris.


Dokter Steven menghampiri ibu, menginstruksikan untuk meletakkan anaknya diatas ranjang periksa, anak itu sudah kehilangan kesadaran.


"Suster Ambar.... siapkan ETT pasien anak, dan oksigen. Desi, coba kau lihat anak yang satu lagi!”


Desi bergegas menghampiri si Bapak yang masih menggendong anaknya yang satu lagi. Anaknya menangis meronta.


"Robekkan dok, kepala," lapor Suster Desi.


"Panggil Topik, siapkan hecting, konsulkan ke dokter Muchlis!”


"Baik dok!"


Sedangkan seorang satpam menenangkan keluarga dan menginstruksikan untuk menunggu diluar.


Sementara Anin masih sibuk dengan pasien perempuannya yang mengerang kesakitan karena luka robek pada kakinya .


"Gimana kondisinya, Gi?" tanya Anin.


"Kesadaran composmentis, nadi normal, tensi bagus"


"Kalau begitu aku minta ACC dokter Stefen dulu. Kita lakukan foto rontgen. Nih, kamu lanjutkan dulu bersihkan lukanya."


Belum lagi jauh Anin melangkah, pasiennya mengaduh kesakitan sambil memegangi dadanya. Anin menoleh kaget.


Gadis itu tampak pucat. Dan nafasnya tiba-tiba sesak. Cepat-cepat Anin mengambil stetoskop dari sakunya dan memeriksa dada pasiennya.


"Jangan-jangan pneumotoraks, Gi?” Guman Anin bingung.


"Lapor dokter stefen Ra,!"sahut Gina sama bingungnya.


Setengah berlari Anin menghampiri dokter Stefen yang masih sibuk dengan pasiennya yang tak kalah gawat juga.


"Dok, tolong lihat pasien saya dulu .... " pinta Anin gugup.


"Apa yang akan kamu lakukan?”


"Foto sinar dok,"


"Apa masih keburu?" jawab dokter Stefen tanpa meninggalkan kegiatannya yang sedang meresusitasi pasiennya.


''Apa yang kamu lakukan sebelum pasien mu syock?" ucapnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya pada layar monitor di depannya.


"Dekompresi dengan jarum dok, yang dihubungkan dengan......"


"Lekas lakukan!!!saya segera kesana!"


"Tapi saya belum pernah melakukannya sendiri, dok!"


"Cepat lakukan!!!"


Sebagai mahasiswa yang memegang predikat cumload, Anin ingat betul tahapan dan prosesnya secara teori bahkan hafal diluar kepala. Namun teori saja tidak cukup, butuh keberanian ketika harus mempraktekkannya, terlebih tanpa bimbingan, siapa yang tidak takut. Ini nyawa orang, salah salah bukannya ditolong malah makin parah!! Atau sampai Plus.


Ragu-ragu Anin melangkah menghampiri pasiennya dan seruan panik Gina mengagetkannya.


"Pasien shock, Anin! Anin"


Anin tertegun. Bingung.Pasiennya telah kehilangan kesadarannya. Bibirnya membiru.


Anin sedang sibuk membuat status pasien di kantor Ruang perawatan. Ketika Mei menerobos masuk.


"Pasien kesayanganmu ngamuk tu, Nin!"


Anin menoleh kaget. "Pasien yang mana?”


"Yang mana lagi!!? Tentu Indra! Memangnya kamu punya berapa orang pasien istimewa?"


Anin menatap temannya sejenak sebelum memutuskan untuk melanjutkan kerjanya. Mei memang selalu begitu, sejak mereka tukar pasien sahabatnya itu tak henti-hentinya menggoda Anin.

__ADS_1


"Eh, Lu nggak percaya? lihat saja sendiri! Mbak Sri (perawat) sedang kewalahan menanganinya."


"Nah, kenapa tidak kamu rayu dia supaya diam?! kan itu juga keahlianmu?”


"Mana gue berani, menyerobot bagianmu?"


"Siapa bilang itu bagianku? Dia kan pasienmu!"


"Sejak kamu menangis berdoa waktu itu, sudah dipindahtangankan kepadamu!"


"Gih, pergi sana!” bentak Anin gemas. "Jangan ganggu aku!"


"Aku memang mau pergi, cuma kebetulan lewat!" sambil tersenyum simpul Mei melenggang meninggalkan ruangan perawatan.


Akhirnya Anin terpaksa melangkah ke kamar Indra.


Hatinya tidak bisa tenang. Pikirannya tidak dapat berkonsentrasi. Rasanya dia mesti melihat pasien nya dulu sebelum melanjutkan kegiatannya.


Ketika Anin masuk suster sedang memasang infus yang terlepas. Sedangkan pasien terkapar di tempat tidur. Nafasnya terengah-engah tapi sekali lihat Anin sudah tau bahwa kesadaran pasiennya utuh.


Kamarnya berantakan, darah tercecer dan sebagian mengotori sprei. Sementara pecahan gelas dan makanan mengotori lantai.


"Ada apa sus?" tanya Anin ramah, sambil meletakan telapak tangannya pada dahi pasiennya. Tidak panas. Suhu normal.


"Ngamuk dok.” Sahut suster Sri kesal. "Mau lompat dari jendela segala!"


"Bukan delirium. Temp-nya (temperatur /suhu) normal ini."


"Nggak tahu tuh dok, Mau bunuh diri kali!"


"Ini kamar di lantai dua, kalau lompat keluar paling-paling sambungan kakimu yang patah. Sia-sia kalau kamu berniat bunuh diri."


"BIAR!"


Anin sampai kaget, tidak menyangka dia mendapat jawaban. Indra biasanya selalu membisu sejak sadar dari komanya.


"Apa masih kurang banyak penyakitmu? sampai mau cari penyakit lain?"


"Apa pedulimu? kamu bukan siapa- siapa ku?”


"Kamu pasienku, jelas aku peduli."


"Apa artinya kehilangan satu pasien? Kalau saya mati tugas dokter berkurang!"


"Tapi kamu tidak akan mati, palingan sambungan kakimu patah lagi dan kamu jadi tambah merepotkan!"


"Kalau begitu, suntik mati saja!"


"Dokter tidak boleh membunuh pasien!"


"Tapi saya bosan Hidup!"


"Kamu tidak tahu bagaimana kami berjuang keras untuk menyelamatkan nyawamu?!!" Geram Anin gemas.


"Hidup saya tidak ada artinya lagi. Percuma dokter..." rintih Indra. "Saya sudah kehilangan pacar saya dan tidak  bisa main  bola lagi. Dia mati karena saya! Saya yang membunuhnya!!!"


Lama Anin mengawasi pasiennya dengan getir. Bukan hanya kamu saja yang punya perasaan bersalah.


Walaupun tidak banyak pengalaman, -barangkali hanya dengan Abi- namun Anin tidak bodoh. Anin merasa Indra perlahan-lahan sedang berubah. Laki-laki itu bukan hanya menyambut kedatangannya melainkan selalu menantikan kehadiran Anin setiap pagi dengan keramah-tamahannya.


"Selamat pagi, bagaimana kondisimu hari ini?"


"Lebih baik dok." Jawab Indra semangat. "Kalau saya sudah bisa berjalan normal lagi...." suara Indra tiba-tiba menjadi lembut. "Kamu adalah orang yang pertama aku ajak kencan..."


Kalau ada bom meledak di sampingnya, mungkin Anin tak akan sekaget ini. Anin tercenung sejenak. Parasnya langsung berubah Pucat. "Fokus saja pada kesehatanmu, jangan pikirkan yang lain."


"Tapi, dokter mau kan?"


Anin tak mampu menjawab pertanyaan itu, bukan karena jelek atau cacat, sungguh dia sangat manis dan cute ala-ala boyband korea, Namun karena dia tidak mau memberi rasa kecewa pada pasiennya. "Jangan lupa obatnya diminum ya...."


"Selalu dokter." Ucap Indra dengan penuh semangat.


Bersama rombongannya, Anin pun meninggalkan pria itu.


"Mulai sekarang kamu yang kontrol Pasien Indra ya, kondisinya sudah lebih baik sekarang,"


"Lho! kenapa?"


"Aku takut..."


"Takut?” Mei hampir tidak dapat menyembunyikan tawanya. "Takut dia jatuh cinta sama Lu??! Kepedean banget deh Lu, Nin!"


"Takut dia kecewa, setelah tahu siapa aku...”


"Astaga..!!"


"Dia mengira, aku bidadari penolongnya....”


"Dia beneran menaruh hati sama Lu?!!!" sahut Mei setengah kaget. Walaupun sebenarnya tidak heran kalau siapapun bisa dengan mudah jatuh hati kepada sahabatnya itu, Dia cantik. Ramah.


"Lu sih, Kelewatan! peduli pasien memang wajib, tapi sikap Lu, kelewat manis." akhirnya lolos juga cekikikan dari mulut Mei.


"Aku takut dia kecewa dan....”


'"Ah, itu kan anggapanmu, jangan menyalahkan diri sendiri.”


"Bukan, bukan begitu...hanya sajaa...." ucapan Anin mengatung. Kalaupun ia, aku bisa apa. Masa depanku saja tak bisa ku rubah. Sudah diatur mereka.


"Ya sudah, besok-besok aku yang pegang Indra, puas sekarang?!!" sahut Mei gemas.


"Thankiss bebeb ku..." raut muka Anin yang kusut sedari tadi mendadak berubah segar dan bersemangat.


"Traktir bakso!" Mei pura-pura cemberut. "Ketahuan dokter Susilo mampus kita, main-main sama pasien."


"Siapp."


"Double porsi."


"Buseeet deh… Tu perut apa karet?!"


Dan Anin Pun tak pernah lagi melihat Pasien -istimewanya-itu.


 


 


Dan semenjak itu pula Anin mulai menjaga jarak dengan setiap pasiennya. Sudah cukup, karena Anin tidak mau lagi perhatiannya disalah artikan oleh pasiennya kelak, dan tidak mau ada Indra-Indra berikutnya.


 


 


***


 


 


"Apa anda tahu? Apa penyebab kekasih anda tidak tertolong malam itu?" tiba –tiba dokter yang membantu menggantikan tugas Mei memulai pembicaraan. Setelah ruangan dalam keadaan sepi tentunya. Karena memang ruangan vvip selalu sepi hanya beberapa yang terisi.


"Maksud dokter?" tanya Indra heran.


"Apa saudara kira, kematian itu karena takdir?"


"Tentu, dan saya sudah mengikhlaskan kepergiannya,walaupun itu karena kecerobohan saya."


"Hhaha, Saudara, naif sekali."


"Apa sebenarnya maksud dokter!!??" Indra mulai tersulut emosi. Dokter di depannya itu sungguh berperangai jelek.


"Dokter cantik yang setiap hari anda tanyakan lah yang telah menyebabkan kekasihmu mati. Apa tidak ada yang memberitahumu??!!! Ah. Sayang sekali!! Pasti kekasihmu disana tidak tenang dan sangat membencimu!!"

__ADS_1


"Saya tidak mengerti!! Apa hubungannya dengan dokter Anin!!" Tanya Indra semakin heran. Dan apa tujuan dokter yang bahkan Ari sendiri tidak kenal. Jangankan namanya, mukanya saja tertutup masker.


"Heh, bocah!! Dengarkan baik-baik. Tidak seharusnya pasien jatuh cinta pada dokternya. Terlebih lagi dokter itu yang telah menyebabkan kekasihmu meninggal karena kecerobohannya! Dan bukankah seharusnya kau membalas dendam?! Bukan malah sebaliknya, mengagung-agungkan nya seperti malaikat. Dasar idiot!!!"


"Tidak Mungkin. TIDAK MUNGKIN !!! Kau bohong!" Teriak Indra histeris.


"Lalu apa sebab, dia tidak menjengukmu lagi?? Dan justru mengalihkan tanggung jawab pasiennya sendiri, kalau bukan karena dia merasa bersalah dan berusaha menghindarimu.!! "


"_____" Semakin merah muka Indra menahan amarah yang siap meledak bagai gunung merapi.


"Dengan modal tampang pas-pasan sepertimu?" Dokter yang memakai masker itu menatap Indra dari ujung kepala hingga berhenti pada kakinya. "Mimpimu terlalu tinggi, Man!! Bahkan jalanmu pun kalah lambat dari siput!!" ucap nya setengah mengejek.


Meskipun Indra sudah bisa berjalan, namun masih dalam batas waktu tertentu, dan harus menggunakan tongkatnya sesekali untuk bertumpu untuk sementara waktu. Dan memang benar semenjak pagi itu, Indra tidak pernah lagi melihat dokter pujaannya. Justru dokter Mei lah yang selalu mengunjunginya.


Dan dari dokter Mei lah Indra mengetahui bahwa dokter Anin dipindah tugaskan ke bagian lain. Bukan sengaja menghindarinya. Setiap Indra menanyakan kabar Anin pada, Mei selalu menjawab Anin baik dan Pesan Dokter Anin adalah ingin Indra cepat sehat dan bisa berjalan bahkan berlari. Itulah sebab Indra semangat berlatih, semangat ikut therapy. Agar bisa segera menjumpai dokter kesayangannya yang belum sempat mendapatkan ucapan terimakasih darinya itu.


Hari itu Meilani mendadak terkena diare akut. Setelah malam sebelumnya ikut party bersama Mika. Entah apa yang telah Mei minum atau makan sehingga pagi harinya dia mengalami mencret mencret.


Dan sebagai dokter yang sedang menjalani koass seharusnya lebih bisa menjaga sikap. Perbanyak membaca,belajar, bukannya malah pergi party happy-happy.


"Ogah!!! Mending gue tidur. Lagian besok ada quis lho!!" Tolak Anin ketika dirinya juga diajak oleh sahabatnya untuk menghadiri pesta semalam suntuk itu.


"Alaah...kita kan cuma absen muka doang abis itu kita juga pulang kok. Yuuk??!" Jawab Mika dengan nada merayunya.


"Ayolaah Nin," Pinta Mei. Dengan nada suara yang dibuat mengiba- memelas.


"Kalian memang gila!!" Dengus Anin kesal. "...dan jawaban saya tetap TIDAK.!" ucap Anin tegas. Akhirnya mereka pergi dengan ke alfa'an Anin.


Keesokan harinya Mei absen tidak masuk karena sakit. Dan dengan terpaksa akhirnya tugas untuk pasien ruang lantai dua diserahterimakan sementara kepada dokter Abi yang pada saat itu dialah yang sedang senggang.


Dan disanalah akhirnya Abi bertemu dengan pasien atas nama Indra. Pasien spesial kesayangan - mantan- kekasihnya. Dan akhirnya Abi mengakui bahwa ternyata bukan hanya gosip belaka bahwa Indra sangat tergila-gila dengan dokter Anin.


Segurat kesal timbul tatkala dia sedang melakukan visite dan bukannya kooperatif justru Indra sangat merepotkan dengan terus menerus menanyakan dokter Anin kepada para perawat yang disana. Cemburu? Sorry!! Dia bukan lawan sepadan. Hanya saja saya kesal dengan tingkahnya!!. 


Namun sejengkel apapun. Sebagai seorang dokter sudah kewajibannya untuk bersikap profesional. Tidak mencampuradukkan persoalan pribadi dalam pekerjaan. Apalagi sampai mempengaruhi pelayanan. TIDAK!


Dengan sekuat tenaga Abi menggunakan keahliannya saat meng -anamnesa Indra Dan jawaban dari si pasien tidak banyak membantu Abi untuk dapat mengambil kesimpulan. Akhirnya Abi memutuskan untuk menyerah dan segera meninggalkan pasien VIP itu.


Ketika dokter Abi beserta susternya meninggalkan ruangan, kondisi Indra masih sehat secara fisik dan mental, terkecuali kakinya yang masih dalam tahap penyembuhan dan itu pun sudah banyak kemajuan.


Namun ketika Abi kembali lagi untuk menanyakan sesuatu terkait therapy pasiennya telah dalam kondisi apatis, gelisah dan emosional.


dan tak ada satupun pertanyaan yang dijawab olehnya. Justru sebaliknya. Dialah yang mengajukan pertanyaan yang membuat Abi seketika ingin menonjok rahangnya.


"Permisi pak Indra," Sapa Abi beramah tamah. "Saya sedikit akan mengganggu waktu bapak nih. Kebetulan saya butuh jawaban pak Indra." Imbuhnnya.


"...."


"Pak Indra kapan terakhir kali ikut terapi? " Tanya Abi.


"...."


"Pak Indra?" Mirza mengulang lagi.


"Pak Indra Apa ada yang anda rasakan sesaat setelah mengikuti sesi latihan berjalan?"


"...."


"Pak Indra, bisa tolong bantu saya, jawab pertanyaan saya," ucap Abi dengan sisa-sisa kesabarannya.


Jangankan menjawab, melihat ke arah Abi saja tidak.


Sialan nih -bocah-!! Kau mau menguji kesabaranku hah???!!


"CK! Indra, apa Anda mengenal dokter yang barusan kesini?? Sepertinya kalian akrab??!" Tanya Abi kemudian setelah mengisi ulang kesabarannya.


Indra menoleh cepat ke arah Abi. Saking cepatnya hingga Abi sendiri kaget mendapat sambutan dari pasiennya yang sejak tadi membisu dan bergerak-gerak gelisah.


"Memangnya siapa, Dokter tadi??" Tanya Indra membalas pertanyaan dengan sebuah pertanyaan.


"Kamu ini aneh!" jawab Abi singkat. "Dokter yang tadi? Siapa dia itu nggak penting buat saya!!! Dan yang terpenting, jawab saja pertanyaan saya agar cepat selesai." Dengus Abi masih dengan sabar.


"APA Anda YANG BERNAMA DOKTER Abi?" Teriak Indra..


"Abi? Ya saya dokter Abi." Abi membalik id card yang dipakainya. Dan menunjukkannya pada Indra.


"Oh!jadi benar, ini dokter Abi yang katanya tampan itu!!" Suara Indra mencibir. "...orang yang paling bodoh yang tega menukar cintanya untuk sekedar memuaskan nafsu!" Tambahnya.


Abi mengepalkan tinjunya menahan emosinya. "Jaga ucapanmu?!!" Ucap Abi setengah gemetar karena menahan emosinya.


"Ckckck!! Dasar banci!!" Maki Indra.


Abi telah maju satu langkah dan meraih kerah baju khas pasien yang Indra kenakan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya siap untuk meninju rahangnya.


"Silahkan saja, saya tidak akan melawan tapi kalau ucapan saya benar, saya akan menuntut saudara beserta rumah sakit ini!!"


"Apa masalahmu? Dan apa hak mu menghina saya!!!" Ucap Abi penuh emosi.


"Nothing! Saya hanya tidak suka laki-laki mempermainkan wanita!!! Dan hanya banci yang sanggup melakukan itu!!"


Abi semakin erat mencengkeram baju yang pakai Indra. "Seharusnya anda tidak perlu ikut campur urusan saya!! atau jika ingin menyesal di kemudian hari silahkan saja!" Ancam Abi.


"Anda mengancam saya?!!"


Abi lalu melepaskan cengkeramannya. "Lanjutkan saja kalau bernyali." Dan kemudian pergi meninggalkan ruangan pasien Indra.


Lihat saja!!! Akan saya tunjukan siapa bos pada permainan ini!!


Firman...Firman!! Tunggu saja hadiah dari saya.


Silahkan bersenang-senang!!! Dan setelahnya kau akan menangis dan terus menangis menyesali perbuatanmu!!!


Abi teringat sesuatu. bahwa sebelum ia masuk, ia melihat dokter Firman baru saja keliar dari ruangan pasien atas nama Indra.


Lima belas menit sebelum Abi masuk ke ruang Pasien Indra, Abi melihat Dokter Firman baru saja keluar dari dalam sana.


Ngapain dia disana??


***


Dalam balutan amarah yang memuncak, Indra keluar kamar – entah dengan cara apa dia bisa menyelinap keluar. Indra meneliti setiap sudut rumah sakit. Dari ruang pantry hingga post keamanan, tak terlewat satupun olehnya. Hingga pencariannya berakhir pada sebuah kantin rumah sakit, Dokter yang dicarinya ada di sana rupanya. Sedang duduk seorang diri. Indra menyesap lagi tembakau yang tadi sempat ia minta pada pak satpam yang baik hati.


Diperhatikannya Anin dari belakang. Semakin lama semakin menarik dan ingin rasanya Indra mengusap punggungnya lalu memeluknya.


Shit! Bukan itu tujuan ku datang menemuinya. Saya hanya butuh penjelasan perempuan itu!


Sekali lagi Indra menghisap tembakaunya. Dan entah kenapa pikirannya semakin kacau dan otaknya sulit dikendalikan.


Walaupun kakinya mengajukan protes, Indra tak menghiraukan rasa sakit yang ditimbulkan dari langkahnya itu. Ketika penjaga kantin sedang sibuk di belakang. Indra menghampiri Dokter Anin. Alih-alih duduk sopan di sebelahnya, justru emosinya memerintahkan dirinya untuk mencengkeram lengan dan membekap mulut dokter itu. Lalu menyeret gadis itu pada sebuah lorong gelap yang tak terjamah.


Dari sudut yang tak jauh seseorang sedang mengamati adegan kekerasan yang menimpa dokter Anin. Dan lalu tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan itu.


Flasback Off


****


Debaran jantung  yang tak karuan ritmenya kembali menyerbu Anin. Belum lagi keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangan gadis itu semakin membuat keeadaan dirinya terhimpit rasa sesak nafas.


Indra is back ....


Tak jauh dari sudut pintu dokter Firman sedang mengawasi keduanya. Dengan perasaan tidak senang. Tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Kecuali menguntit.


 


***


Jangan lupa tinggalin komen ya....


noveltoon


bellacandra

__ADS_1


anin


__ADS_2