
Anin tersentak kaget ketika ponselnya bergetar dan buru-buru ia menerima panggilan masuk itu yang rupanya dari sahabat jauhnya.
"Hai..hallo....catin ..!!! gimana..gimana" Tanya Anin.
"Jadi kalian hari apanya akan tiba di jogjanya??"
"Belum tahu, kenapa??"
"Tidak apa-apa! Aku cuma ingin memastikan kalian tidak kesasar masuk cottage orang. haaahaa~~~"
"Aiss! sialan, Lu kira kita nggak bisa baca, hah!!"
"Haha. Oke d0eh kalau gitu, kabarin secepatnya kapan jadwal kalian. Biar aku siapkan sopir spesial untuk kalian."
"Aku pesan yang kece ya...jangan yang tua!!"
"Ganjen beeud dah, emak-emak satu ini. Ingat suami buu!!!"
"Haha. Sialan. Ya sudah nanti aku kabarin secepatnya. Daah~~ meyong. Eeeh---jangan lupa, cukur tuh bulu -buluuuu menjijikan itu."
"Nggak akan~~~~hahaa. See you honey. Miss you so much.”
Tut!!
Dan terdengar nada sambungan telah terputus.
Anin tersenyum lalu meletakan ponselnya kembali. Dasar sengkleeh. Bulu kok dipiara!! Ayam kek yang dipiara atau burung. Anin kembali tersenyum lalu mengasihani pikirannya yang telah terkontaminasi oleh sahabatnya.
Mesum!!!
****
Jogjakarta, Desember 2019
Pasirnya yang putih, debur ombaknya yang indah... batas cakrawala yang membentang jelas serta semilir anginnya yang dingin-dingin hangat begitu menyegarkan pikiran.
Indahnya pantai ini. Namun Anin lupa namanya. Pantai yang terletak di selatan Yogyakarta ini memang terkenal dengan panoramanya dan merupakan salah satu pantai tercantik di kota ini.
Pintar juga Mika memilih lokasi resepsinya. Sayangnya Mas Bim tidak bisa ikut.
Sore itu Anin menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki. Dan sengaja membiarkan kakinya bersentuhan dengan pasir pasir yang sesekali menggelitik telapak kakinya.
__ADS_1
Bahkan ia sengaja membasahi kakinya dengan bermain-main ombak yang menyapanya di garis pantai ketika matahari kembali ke peraduannya. Menciptakan keindahan yang begitu menakjubkan. Tak terdeskripsikan.
Sunset yang begitu indah dan penuh keromantisan.
Pantas saja banyak muda mudi berdatangan ketika menjelang sore hari.
Banyak juga dari mereka yang sengaja datang untuk mengabadikan momen itu dalam bingkai potret kamera mereka. Ada juga yang memang sengaja untuk menghabiskan keromantisan dengan kekasihnya.
Coba lihat! burung itu saja terbang berpasang-pasangan!! Ya ampun...Apalah daya, aku cuma seorang diri sekarang. hhm...
Anin memandang ke sekeliling dengan sedikit rasa iri. Alangkah sempurna kebahagiaanku, seandainya kamu di sini sekarang. Tapi, hhmm, Sudahlah.. Bukan waktunya ber melow-melow. It's time to happy. Its holiday, so enjoy it.
"Semangat Anin." Ucapnya pada diri sendiri.
Meskipun sulit bagaimana menggambarkan perasaan rindu serta cemas dalam waktu yang bersamaan Anin tetap berusaha.
Benar apa kata Dilan, rindu itu berat, dan aku memang tidak kuat. Namun Kenyataan bahwa akhirnya mas Bima (tidak) menyusulku kesini. Memilih pekerjaannya dan membiarkanku pergi begitu saja, membuatku kecewa. Marah juga speechless.
Dan untuk pertama kalinya Anin merasakan ketakutan akan kehilangan. Tanpa disadari tubuhnya menggigil.
Bagaimana menghadapi masa depan tanpanya. Seandainya .... seandainya. Oh tuhan, ternyata aku tidak sanggup memikirkan itu.
Bukan aku tidak sadar, Aku juga merasakan ada yang salah, sejak mas Bim tidak mampu memesraiku, mengalami disfungsi organ tubuhnya. Namun tiba-tiba dia kembali dengan ketangguhannya. Dan selama ini aku membohongi diriku sendiri dengan mengatakan bahwa itu hanya perasaanku saja. Bahwa semua baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa.
"Sudahlah, untuk sementara disini, jangan kau fikirkan yang tidak-tidak." Tiba-tiba kedua tangan itu erat merangkul bahu Anin
Anin tak mampu menjawab. Pipinya mulai terasa panas. "Apa kamu mengoleskan minyak angin pada tanganmu? Pipiku panas. Mataku perih."
"Oh, Maaf. Maafkan...Aku lupa." Ucapnya dengan suara lembut. Dan buru-buru menarik tangannya dari bahu Anin.
Namun tak disangka Anin justru menahannya. Dan malah memindahkan nya agar melingkar saja di pinggangnya. Tanpa sadar Anin menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu.
Terasa begitu nyaman.
Anin melupakan bahwa Indra juga seorang laki-laki normal dan dia pernah mengutarakan perasaannya. Terlebih dia mencintainya. Dan Indra terlena hanya karena mendapat reaksi seperti itu dari wanita pujaannya. Dan melupakan akal sehatnya.
Saat itu hari telah gelap. Bumi pun telah menjemput dewi malamnya dan saat itu Indra benar-benar tidak peduli dimana mereka sedang berada. Bahkan tidak peduli seandainya bukan hanya mereka berdua saja yang ada disana.
Bangunlah sudah Dewa perangnya yang sedari tadi tidur tenang akibat kenakalan Anin.
Pria itu semakin erat memeluk Anin dan semakin liar menjelajah tengkuk gadis itu.
__ADS_1
Dalam keadaan yang sedang dilanda rindu, dengan sedikit sentuhan saja Anin merasakan hatinya menyala dan ditambah desakan ingin melampiaskan seluruh perasaan kesalnya karena telah diduakan dengan pekerjaan sialan itu. Anin ingin mencurahkan kemarahan serta kekecewaan yang sudah lama disimpan.
Terlena sudah Anin dibuatnya. Namun disaat Anin ingin menyerahkan segalanya pada laki-laki itu, disaat Anin ingin segera menyudahi penyiksaan yang diterimanya. Tiba-tiba Indra tersentak seperti disambar petir. Tangannya yang memeluk Anin segera dilepaskannya. Kemudian, dengan gerakan bagai kilat di langit dia mengubah posisi tubuhnya. Lalu meraih rokoknya dari saku celananya. Dengan gemetar Indra mulai menyelipkan rokoknya pada mulutnya lalu menyalakannya.
Dengan tangan yang juga gemetar Anin menjauhkan dirinya dan sedikit menyisir rambutnya dengan jarinya.
"Ku antarkan kau pulang ke cottage."
Mulut Anin terkunci kehilangan kata-kata. Tetapi dengan cepat Indra mampu mengendalikan suasana dan menguasai dirinya.
"Nin, tolong lupakan apa yang baru saja terjadi." Katanya kemudian.
"Aku minta maaf sebesar-besarnya kepadamu." suara Indra terdengar penuh permohonan.
".....semestinya aku mampu berfikir waras. Semestinya aku tidak terlarut dalam suasana."
"Tidak ada yang harus aku maafkan." Sahut Anin dengan susah payah. "Aku juga bersalah." Anin terdengar bergetar pada suaranya.
"...kau tidak bersalah. Akulah yang patut disalahkan. Aku telah bersikap seperti laki-laki tidak bertanggung jawab memanfaatkan kesempatan dalam kesusahan."
"Tidak, Akulah yang salah. Semestinya aku tidak memulainya dan menyandarkan kepalaku di sana." yang pastinya sensitif untuk seorang laki-laki dan akulah yang memulainya. Seharusnya aku menyadarinya.
"Tidak Ra, Seharusnya akulah yang malu pada dirimu, dan pada diriku sendiri. Otakku tidak dapat dikendalikan. Jadi, akulah yang pantas disalahkan."
"Baiklah, baiklah.. kita berdua yang bersalah. Dan jangan berebut siapa yang salah. Dan aku hampir saja menyerahkan diriku kepadamu, betapa kotornya diriku!!" suara Anin mulai bergetar lagi.
"Aduh Anin, jangan menilai dirimu sendiri seperti itu, Sungguh aku begitu mengasihimu dan mengagumimu, tapi aku tak sampai hati merusak nilai keindahan itu sendiri hanya demi nafsu semata. Demi tuhan, bukan aku tidak menginginkanmu. Sekali lagi Aku mohon maaf. Aku memang patut disalahkan."
"Sudahlah, dalam hal ini caranya adalah dengan melupakan peristiwa tadi."
"Aku setuju."
"...dan, mari kita kembali, sudah mulai larut dan anginnya semakin kencang."
"Siap, Setuju. Apa kau mau air minum?"
"Boleh, yang dingin kalau ada."
"Oke!Tunggulah di mobil, aku segera menyusul." Perintahnya.
Beberapa saat kemudian. Indra kembali dengan air mineral di tangannya. Badannya basah kuyup. Nafasnya menderu seperti pelari yang baru saja sampai di garis finish.
__ADS_1
"Indra, Ada apa??"
***