
-Halangan terberat adalah bukan seseorang yang berada disampingmu, Melainkan keraguanmu-
---------------------***---------------
.
.
Indra kemudian meletakkan botol mineral itu di atas dashboard mobil. "Kalau ini sebuah dosa, maka aku akan menganggapnya sebagai dosa termanis. Dan kalau ini sebuah kesalahan maka aku anggap itu adalah kesalahan yang ter indah. Dan aku akan menerima apapun konsekuensinya dengan menikmati dosa maupun kesalahan itu." suaranya terdengar begitu berat dan bergetar.
Anin mengacuhkan perkataan Indra dan lebih tertarik pada kondisinya. "Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu basah kuyup begini?? Kamu bisa masuk angin."
"persetan dengan hal itu!! Katakanlah sekarang. Apa kau mencintaiku, Anin!!??? Atau hanya karena rasa bersalahmu? Katakan??!!" Indra berkata setengah teriak.
Anin tertegun. "Ada apa sebenarnya?!! Kenapa kamu seperti ini?? bukankah kita sudah sepakat tidak ada apa-apa dan tidak terjadi apa-apa!!!"
"...please, Anin.. Jawab saja pertanyaanku. Apapun jawabanmu aku akan menerimanya karena aku lebih tau tentang kondisimu." Nadanya terdengar penuh kesakitan.
Anin terdiam. Mendadak terserang sindrom sukar bicara.
Namun menurut pribahasa jawa lama. Bagi seorang anak atau gadis ketika ditanya dan hanya terdiam itu berarti mewakili jawaban 'ya'
Bukankah Anin keturunan jawa?
Indra menarik leher Ann dengan sebelah tangannya lalu mencium bibirnya.
Tanpa sempat menghindar Anin pun tak mampu berbuat apa-apa. Kecuali ikut mengimbangi dan kemudian membalasnya dengan tak kalah dahsyatnya.
Anin melepaskan bibirnya ketika dia hampir kehabisan oksigen.
"Ple-ase~~.!!" Ucapnya tersendat. "...kita harus segera kembali. Mika pasti khawatir." Tambahnya.
Kedua mata mereka beradu pandang. Lama.
Bahkan Indra tak mampu menjawab sepatah katapun. Karena dia telah menyadari, ada cinta untuknya disana.
Indra kemudian menyalakan mesinnya. Dan mulai menjalankan mobil untuk segera meninggalkan pantai.
Sepanjang perjalanan yang tak jauh itu, Anin duduk dalam kegelisahan batinnya. Dan rupanya Indra mengetahuinya.
Sesampainya di pelataran cottage.
Sebelum Anin sempat turun meninggalkan Mobilnya Indra menyodorkan dua botol air mineral itu. "lekas tidurlah, kamu butuh istirahat. Jangan sampai mata pandamu merusak keindahanmu."
Anin mengangguk setuju.
Namun setelah satu jam lewat setelah Indra meninggalkannya, Anin masih belum juga terlelap. Sekeras apapun usahanya untuk memejamkan matanya.
Justru otaknya memutar kembali kejadian seharian ini.
Kejadian yang ternyata dirinya bertemu Indra di airport adisutjipto, dan rupanya Indra lah yang menjemput mereka berdua. Mei mengutusnya untuk menjadi sopir pribadi mereka selama berada di Jogja ini.
Pilihan yang salah!!
Rencana Anin untuk menenangkan diri gagal sudah. Berantakan bahkan di hari pertama. Rencana yang sudah tersusun rapi hanya tinggal rencana.
Bahkan di hari pertama, aku sudah melakukan dosa besar!! dosa besarkah, kalau sekedar bermesraan?! dan mengakui cintamu!
Tentu saja! kau pikir semua itu apa?? Kesenangan yang diamini tuhan!!! Hentikan kegilaan ini Anin! sebelum semuanya terlambat!
Anin menarik nafasnya yang terasa begitu berat lalu menyudahi pembicaraan hati dan akalnya yang bertarung hebat.
Awalnya mereka akan stay di jogja untuk lima hari kedepan. Namun setelah mengetahui keberadaan Indra, Rasanya mustahil bertahan selama itu -tanpa mengulangi kesalahan lagi-. Jadi Anin putuskan waktu liburannya akan dipersingkat saja.
"Hhmm…" Anin mengulangi lagi menarik nafasnya.
Kepalanya terasa berdenyut. Lalu mulai mengambil sebutir obat tidur dalam kotak make-up nya -yang kebanyakan isinya adalah obat-obatan yang selalu dibawanya.
Anin kemudian tersenyum heran sendiri, memandangi kotak makeup-nya yang justru berisi sebagian obat-obatan rumah sakit.
-Ralat- Anin kembali memandangi kotak berukuran postcard yang berada di dalam kotak makeup nya yang berisi pil kontrasepsinya.
Astaga!!! Seketika senyumnya menghilang. Dan berganti dengan entah -rasanya- campur aduk. Tanpa sadar Anin memegangi perutnya yang rata.
**
Anin meraih beberapa alat tes kehamilan dengan merk yang berbeda pada salah satu rak yang terdapat di supermarket terdekat itu lalu kemudian membayarnya.
Sesampainya di pondok, ia segera memakainya. Walaupun ia sendiri tahu bahwa hasil akurat didapat ketika test dilakukan di pagi hari.
Masa bodo dengan teori!!!
Anin tertegun dan memandangi hasil dari ketiga alat yang dipakainya. Yang semua menunjukan hasil yang sama.
__ADS_1
Anin memegangi keningnya dengan tangan kirinya, sedangkan sebelah kanannya meraba perutnya. Kenapa aku tidak menyadarinya!!! Ya tuhan....bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Bagaimana kalau sampai kekurangan nutrisi?
Anin gelisah tidak karuan. Mondar mandir di depan meja makan. Dan baru saja dia menelan obat tidurnya. Bagaimana kalau sampai hal itu membahayakan janinnya?
Padahal sejatinya Anin tahu, hal itu tidak berbahaya dan tidak berpengaruh apa-apa selama dalam batas dosis aman.
Bahkan seorang dokter pun bisa panik dan hilang kontrol ketika dihadapkan pada permasalahan yang menyangkut keselamatan kesehatan keluarganya.
"Ck!! Anin, Anin … kamu ini bodoh apa tolol?! Kamu sendiri kan dokter. Tenanglah... jangan stres, nanti janin ikut stress!!! Tarik nafas.... lalu buang. Keep calm okey?!!" Tiba-tiba Mika Bersuara. Yang ternyata sedari setengah jam yang lalu tiba di pondok -entah darimana dia- dan dia mendapati sahabatnya yang mirip setrikaan rusak itu, mondar-mandir sambil memegangi alat -entah apa- di tangannya.
Anin yang kaget tidak mengetahui kedatangan Mika buru-buru dia menyembunyikan apa yang ada di tangannya kebalik punggungnya.
"Sudahlah, gue sudah tahu nggak usah di tutup-tutupi! lagian heran deh gue, tingkahmu itu pantesnya buat ABG yang hamil di luar nikah!! Bukan seorang dokter dengan status bersuami." Mima tertawa. Menertawai ketololan Anin tentunya.
Padahal Mika menebak asal saja, apa yang tengah dialami Anin dan dirinya juga tidak tahu betul, apakah sahabatnya itu memegang alat test atau memegang yang lain dan sejatinya Mika juga tidak tahu kalau tebakannya benar bahwa Anin hamil. Karena dia dalam pengaruh alkohol.
"Hah!! Aaahhh~~~hahaa." Setelah beberapa menit Barulah Anin menyadari kekeliruannya. "Dari mana saja kau ini?" Tambahnya setelah mengatur nafasnya.
"Cari kesenangan dong, masa kau suruh gue disini seharian dan menyaksikan ketololanmu itu!! Bisa mati berdiri gue." Jawabnya sambil lalu.
Mika kemudian melemparkan tasnya dan melepas heels nya asal. Lalu membantingkan tubuhnya pada kasur yang tersedia disana. "Aaah~~nyamannya." Gumamnya.
"Tidak salah kupilihkan tempat ini untuk Acara Mei besok. Seharusnya aku buka usaha W.O saja yaa...aku sungguh berbakat." Rancaunyalagi.
"Kau mabuk ya?!!"
"Mabok cintaaa~~~~ "
"Astaga!!! Mik... apa kau barusan pergi ke tempat..... " Anim menutup mulutnya. "Kau ini, benar – benar gila."
"Yaa…." Bisiknya.
Anin menggeleng-gelengkan kepala. Percuma saja pikirnya, menasehati sahabatnya untuk saat ini. Dan apa masih pantas??
Apa bedanya aku dengan Mika? Bahkan aku telah bersuami. Dan sedang mengandung anaknya!! Sedangkan Mika hanya bersenang-senang.
"Sudahlah, lekas bersih-bersih sana, lalu istirahat, besok jangan sampai terlambat." Gumam Anin kemudian.
"Baiklah nyonya bos...." Mika lalu bangkit setengah limbung dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Sepeninggal Mika, Anin berusaha menghubungi suaminya, namun suara sexi operator lah yang menjawabnya. Nomor yang anda tuju sedang selingkuh.
Lalu kemudian Anin inisiatif untuk menghubungi nomor rumahnya. Dan tersambung. Mudah-mudah simbok belum tidur.
Tidak juga ada yang mengangkat. Kemana semua orang?? Pikirnya. Baru jam segini, apa sudah tidur?
Sekali lagi Anin mencoba menghubungi nomor suaminya. Dan kali ini tersambung dan diterima oleh pemiliknya.
"Nggak ada apa-apa!! Apa kamu sudah pulang??"
"Oohh, kirain kenapa malam begini kau menelpon, apa pestanya ramai? Sampaikan maafku untuk Mei," Bima menarik nafas panjang dan sekali lagi mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Acaranya baru besok, Mas, apa kamu baik–baik saja? Suaramu terdengar aneh...."
"Hooh!! Iya, ini baru selesai nge-Gym, dan sekarang mau mandi."
"Ooh, yasudah mandi gih, besok aja aku kasih tahu kabar gembiranya."
"Oke. kamu hati-hati disana, jangan lupa makan. Dan segeralah kembali, rumah sepi."
"Hhm… jadi cuma karena sepi?!" Tanpa curiga sedikitpun, Anin memutuskan sambungan teleponnya.
***
Hari bahagia untuk kedua mempelai.
Mika mencibir dengan decakan mulutnya di sebelah Anin saat ia memandangi sahabatnya. "Gila bener si Mei ini ya, tau-tau sudah selangkah di depanku saja! Nggak setia kawan. Coba lihat mereka, seperti Romeo and Juliet."
Anin sibuk melayangkan pandangannya menyapu seisi taman belakang cottage yang dijadikan tempat pesta. Mencari sosok Indra.
Buat apa mencarinya??
Aku perlu untuk meluruskan kesalahpahaman.
"Hhmm." Mika meneguk lagi minuman orange nya, dengan wajah memelas.
Mei menghampiri tempat mereka dengan sumringah. Ia tampak cantik pagi ini. dengan balutan gaun putih pengantinnya yang simpel dan minim detail yang sengaja dirancang untuk pesta kebun. Rambutnya dibiarkannya tergerai dengan mahkota kecil menghiasi di pucuk kepalanya. Tak henti–hentinya dia menebar senyum bahagianya.
"Eheem." Ia berdehem dengan sengaja. "Tolong jangan bergosip di belakangku, Jadi, kali ini aku menang taruhan lagi kan??? "
Anin dan Mika saling menatap.
Mika menggerutu. "Kenapa nggak lupa ingatan saja sih Lu?"
"Ssst..itu tidak mungkin! Eeh, coba tolong benerin mahkota aku dong beib... mencong deh, kayaknya."
"Pala, lu yang mencong."
Anin maju lalu merapikan mahkota di kepala Mei yang sebenarnya sama sekali tidak miring ataupun mencong. "Sudah, jangan ribut dan jangan mulai kegilaan kalian disini, Malu!!" Ucapnya kalem.
__ADS_1
"Fine, jadi gila temen kita yang satu ini?"
"Mmmm...." Anin mengedikkan bahunya.
"Gila karena ditinggal kawin, Nin??"
"Heh!!" tatapan mata Mika membesar.
"Lalu, apalagi, kegilaan dia setelah ditinggal nikah Nin?"
Anin mengangkat bahu.b"Entahlah.... kau tanyakan saja langsung."
"Sirik aja kalian. Masih mending gue, daripada Lu, kucing-kucingan di pantry rumah sakit dengan dokter...."
"Sssstt... " Anin menggaruk pelipisnya yang tak gatal sembari mengirim kode kepada kedua temannya, dengan cara sebelah matanya melirik ke samping. Bahwa bapak ibu di meja sebelah sedang tercengang mendengar celotehan mereka.
"Pokoknya, akan kutagih nanti..." Mei mengangkat dagu penuh kemenangan.
Anin terkesiap kencang seperti melihat Hantu. Atau memang pemuda yang baru saja dilihatnya itu memang hantu bagi Anin. Bukan, tapi monster.
Pangeran kuda putih bagi Mika.
Tamu tak diundang bagi Mei.
"Kenapa, Abi ada di pesta ini?!" Sahut Ani dan Mei bersamaan.
Mika mengulum senyum penuh rasa bersalah. "Aku yang mengundangnya."
"Yah, sudah tentu kamu yang mengundangnya. Nggak mungkin Sri sultan!" Mei mengerang gemas pada Mik.
Mei menoleh pada Anin. "Ini yang dimaksud kegilaan selanjutnya?!"
Sekali lagi Anin hanya diam membisu dan menjawab dengan tatapan lasernya.
"Sorry..." seringai Mika lagi.
"Apa kamu akan gila-gilaan dengannya disini??"
"Mungkin..."
"See, Nin. Dia...apa itu pantas..." Mei mulai senewen.
"Mei, Aku tidak mengerti, kenapa kamu harus se-senewen seperti ini." Protes Mika.
"Karena aku peduli denganmu, bodoh!!"
"Karena kamu tidak mengerti, Mei..bagaimana rasanya memiliki rasa yang kuat dan sukar untuk..."
"Untuk apa.?? tapi tidak dengan suami orang!!???"
Mika terperangah. Anin pun tak kalah kaget.
Mei pun lebih kaget lagi. Ia mengerjap panik begitu sadar kalimat apa yang telah keluar dari mulutnya. "...maaf, Maksudku---- "
"It's oke, Aku sudah menangkap jelas maksudmu....."
"Sudah, sudah. Mei, kau kembalilah kesana." Anin menengahi. Dan kalian tidak tahu apa yang telah kualami dengan pria yang bukan suamiku!!
'"Mik, " Mei merasa tak enak hati.
"Santai saja, aku tidak marah karena ucapanmu memang benar."
"Tapi, kamu menyiratkan begitu."
"Asal kamu tahu, Mei. Lebih baik seperti ini, daripada kita melepaskan apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita dan menjadi manusia bodoh seumur hidupnya."
Deg! Anin merasa terpukul atas apa yang baru saja Mika ucapkan.
"Sudahlah!! Kalian seperti anak kecil saja." Bentak Anin yang tak ayal telah menarik perhatian tamu di dekat mereka.
Mika melangkah kesal meninggalkan tempat mereka. Tak lagi peduli pada penjelasan apapun yang masih tersimpan pada mulut sahabatnya.
"Biar aku susul, kau kembalilaah...."
"Thank, Nin."
Anin mengangguk dan meninggalkan Mei, kemudian segera mengejar langkah Mika.
Ketika melewati meja dimana Indra duduk samar-samar ia menangkap guratan senyumnya. Jenis senyuman manis yang mampu melelehkan hati perempuan.
Tidak, jangan terpesona olehnya. Ingat, Tuhan telah memilihkan cintamu!!
Anin menepis tangan Indra yang dengan lancang telah meraih pergelangan tangannya. Kemudian meninggalkannya begitu saja tanpa peduli disana Indra yang masih diam mematung, kaget karena mendapat perlakuan yang mengejutkan.
Dia pikir siapa?? Apa dia sudah gila?? kalau mau cari mati,sendiri saja ! jangan ajak-ajak.
Dari kejauhan Mei hanya bisa mengawasi tingkah Mika dengan bingung.
Ada apakah?
__ADS_1
****