Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
17. Sembilu Syahdu


__ADS_3


Ketika sedang duduk–duduk santai di salah satu lobby kantor, Bima membuka ponselnya dan menemukan salah satu pesan nomor baru dari sekian banyak pesan dari koleganya.


Setelah pagi tadi Bima berusaha menghubungi istrinya namun gagal dan lalu berhenti melakukan tingkah konyolnya, karena dia tersadar apa yang telah dilakukannya pada ponsel istrinya itu. Bima lupa bahwa ponsel istrinya rusak. Tol*l! Sekarang dia menerima sebuah pesan! Anugerah ini!!


Bima mengernyit ketika membuka pesan dari pengirim yang tak bertuan itu. Namun ia menebak dengan tepat. Bahwa itu dari Anin. Dengan nomor baru. Dan buru–buru dia membalas pesan tersebut. Lalu mengirimnya.


(Aku akan pulang!! Tunggulah dan jangan keluyuran macam jalang yang tak bertuan.)


Kemudian Bima tersenyum setelah mengirim pesan itu pada istrinya. Kali ini Bima telah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.


Dan Malam nanti akan Ia tunjukan pada istrinya, bahwa dia laki-laki sejati, dan hanya dia yang boleh menyentuhnya.


Hanya saya. Suaminya!!


***


Malam itu, Bima menepati janjinya, dia pulang dan tidak pergi lagi. Karena memang dia sudah punya rencana.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bima kemudian, setelah beberapa saat dalam situasi awkward dalam kamarnya.


Anin mendengus kesal. Suaminya itu, bahkan tidak meminta maaf setelah mengatai istrinya sendiri ‘jalang’ dalam pesannya.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu berlaku seperti ini?" ucap Anin menahan tangisnya. Jangan nangis, jangan. Jangan sampai, please.


"Kamu tahu? sikapmu itu menyakitiku dengan sangat. Apa sebenarnya salahku, hingga Kamu tega berbuat sedemikian kotor." ucap Anin seraya menggigit bibir bawahnya dalam usaha menahan tangis.


"Kotor?!" Dengus Bima pada kekesalannya.


“Kau bilang kotor? Lalu apa sebutannya seorang istri yang berbuat mesum dengan laki-laki lain di tempat kerjanya?! Apakah untuk ajang balas dendam karena kesalahanku berbohong malam itu? Atau untuk mencari kepuasan karena suaminya tidak mampu memuaskannya. Dalam keputusasaan karena rasa bersalah atas kejadian yang tidak disengaja, sebagai istri kau malah lari ke pelukan laki-laki lain.” ucap Bima yang hanya dalam otaknya itu.


Tanpa sepengetahuan Anin, Bima melakukan konseling, dan terapi pada seorang dokter kenalannya. Padahal Anin pernah menawarkan untuk mengajaknya memeriksakan dirinya, namun ditolak mentah-mentah oleh Bima.


Akibat rasa bersalahnya, pedang arturnya –bos kecilnya- selalu tertidur, bahkan sangat nyenyak ketika berhadapan dengan istrinya. Dan itu, perlu ditangani dengan segera. Jangan ditunda-tunda. Serta selesaikan faktor penyebab nya. Namun Bima terlalu takut untuk mengakui kesalahannya sendiri. Terlalu malu untuk mengakui kelemahannya saat itu.


Dan Waktu itu, Bima mendapat kiriman Video tanpa suara berdurasi singkat. Walaupun video dalam kondisi minim cahaya, Namun Bima dapat meneliti wanita dalam video itu adalah istrinya. Yang sedang beradegan intim. –seorang pria sedang menciumi leher istrinya dengan tangannya berada pada bagian kesukaan Bima -Dada istrinya- dan seorang laki-laki itu yang tidak lebih tampan darinya.


Yang Bima tidak tahu adalah, bahwa kejadian itu sudah lama terjadi, sebelum mereka menikah. Dan yang Bima tidak tahu, bahwa itu bukan adegan intim mesra seperti bayangannya, seperti yang terlihat. Melainkan tindakan pelecehan yang diterima oleh Anin.


"Mas!!" Panggil Anin, membuyarkan lamunan suaminya.


"...kau ingin tahu, apa kesalahanmu. Hah!!" kemudian Bima berdiri dan menarik wajah-dagu Anin menggunakan satu tangannya dengan kasar.


Lalu memaksa Anin menerima ciumannya. Bima tidak bisa mengontrol emosinya lebih lanjut lagi. Istrinya bukan hanya membuatnya marah besar, tapi juga kehilangan harga dirinya sebagai laki-laki.


Anin meronta. Wajahnya memerah menahan amarah. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu untuk mencegah suaminya melakukan lebih jauh, Bima telah bergerak jauh lebih cepat. Dan menempatkan dirinya diatasnya. Melucuti istrinya.

__ADS_1


Tanpa memberi aba-aba, ataupun berbasa-basi Bima menghujamkan miliknya dengan kasar dan cepat.


Anin terhenyak. Jeritannya meluncur keluar tanpa suara, beriringan dengan air matanya yang jatuh tanpa diminta. Ia memejamkan mata ketika rasa sakit itu menghampirinya seperti pisau bedah mengiris kulitnya.


Demi tuhan! izinkan aku membenci pria ini dengan segenap ragaku!


Anin memukul dan mendorong tubuh Bima. "Dan kau memperkosa istri sendiri, Suami macam apa kau ini!!!?"  Ucap Anin bergemeletuk menahan kemarahan serta rasa sakit dan tangis secara bersamaan.


Bima menepis kedua tangan istrinya. Dan terus bergerak. Tanpa memperdulikan kesakitan Anin.


Anin menahan nafas dan menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencari rasa sakit yang lain yang dapat mengalahkan rasa sakit tersebut. Namun entah Rasa sakit mana yang ingin Anin kalahkan. Sakit diperlakukan sedemikian rendah oleh suaminya sendiri. Atau sakit yang ditimbulkan oleh aktivitas Bima. Saking kuatnya hingga rasa asin darah ia rasakan.


Anin memalingkan wajahnya ke samping. Dan kembali menutup rapat-rapat matanya sekali lagi yang tak henti-henti nya mengeluarkan air mata itu, Namun Bima masih saja bergerak brutal di dalam dirinya. Sama sekali tidak peduli padanya.


Nafas Bima memburu dan terasa sampai ke leher Anin, seiring semakin tak terkendali gerakannya. Dan rasa sakit yang Anin terima semakin bertambah berkali-kali lipat merajah tubuhnya.


***


 


Jangan lupa like & komen yaa


Ig : kata_upil

__ADS_1


__ADS_2