
Cuaca cerah pagi ini melengkapi bulan oktober yang spesial.
Meskipun udaranya yang busuk akibat asap kendaraan, lingkungan yang tercemar akibat limbah-limbah pabrik namun kota ini tetap jadi kota tercinta.
Sekecewa apapun kalian yang berada didalamnya, Jakarta tetaplah akan menjadi kekasih hatinya negara kita.
Seperti magnet yang kuat, Jakarta mampu menarik apapun itu agar mereka berkeinginan untuk mendatanginya.
Seperti wanita di dalam mobil merahnya ini, sekesal apapun pada kemacetan yang menghadangnya di depan mata, namun ia tetap berusaha menembusnya dengan sabar tanpa menghiraukan kendaraan di kanan kiri yang sedari tadi menyalipnya dan memotong jalannya.
Dengan sabar menanti sambil berdendang mengikuti alunan lagu miliknya melly goeslaw yang diputar.
Persembahan kalbuku
Nantikan dikau di tidur lelapku
Pujaanku.....
Spesial untuk hari ini, ia diizinkan membawa mobilnya sendiri lengkap dengan sepeda motor di belakangnya yang membuntutinya.
Memangnya aku mau kabur kemana? Mesti diikuti.
Setelah setengah jam terjebak pada lalu lintas yang padat akhirnya Anin terbebas.
Akhirnya…
Dan segera ia melajukan mobilnya secepat yang ia bisa untuk sampai di rumah sakit tepat waktu.
Sesampainya di parkiran, ia perlu berlari-lari kecil agar tidak terlambat mengikuti briefing pagi. Dan untung masih keburu, walaupun tak sempat lagi menaruh tas nya.
Padahal sudah berangkat pagi, masih telat juga dengusnya.
Setelah selesai briefing, Anin bergegas menuju ruang prakteknya.
Ia bertugas untuk lima hari kerja dalam seminggu dengan jam kerja pagi (sift satu kalau kita menyebutnya).
Toleransi untuk bumil. Jadi tidak diberlakukan sift tiga untuk Anin.
Sebagai dokter yang tergolong baru, ia sudah cukup punya banyak pasien.
Mungkin karena dia seorang wanita.
Apa hubungannya?? Entahlah.
Dan pagi ini pun seperti pagi-pagi sebelumnya.
Dengan pasien pertamanya seorang ibu yang mengeluh sakit kepala.
Pasien kedua dengan nyonya yang mengeluh sakit kencingnya.
Pasien ketiga remaja dengan keluhan telat datang bulan --- langsung takeover. Bagiannya dokter Wisnu ini mah.
Pasien berikutnya seorang wanita muda cantik dengan penyakit kelamin. Sayang sekali, kecantikannya ia salah gunakan.
Langsung ekspor ke dokter Firman yang saat ini tengah mengambil spesialis penyakit kulit dan kelamin.
Anin juga sempat kepikiran, kira-kira nanti ia akan ambil spesialis apa.
Yang pasti, ia tidak ingin seperti dokter Wisnu, yang super sibuk dengan segala macam pasien-pasiennya.
Tidak juga seperti Firman, yang harus memandangi pasiennya ops! -alat kelamin- pasiennya setiap hari. Yang kebanyakan adalah laki-laki.
Bukankah itu seperti...sedang meneliti atau bahkan membandingkan dengan miliknya sendiri? Ah sudahlah.. lupakan.
Pikiran semacam itu tidak boleh berkembang dalam diri kita, apalagi dokter Wisnu, yang pasiennya adalah hampir semua wanita -lawan jenis nya- akan sangat berbahaya jika pikiran negatif semacam itu dibiarkan berkembang biak hingga beranak pinak.
Dan ingat kita sudah di sumpah.
Tapi kadang saya juga kepikiran loh, kenapa sampai saat ini dokter Wisnu belum juga menikah?? Apa dia tidak suka perempuan-gay?
Masa sih? Enggak lah. Nggak mungkin.
Ya nggak mungkin lah Nin, dia kan naksir elu begoo, dari jaman Lu koas. Kamunya aja yang batu nggak peka. Kata kata Mei dulu.
Atau karena saking seringnya melihat -kalian tahu apa yang dimaksud- sehingga dia sudah merasa cukup bosan dan tidak tertarik lagi?
Mengingat yang datang ke kita adalah bukan kondisi yang sehat. Maksudnya dalam bentuk yang sedang tidak cantik.
Memangnya ada yang jelek? Bukannya sama saja?
Maksud saya, yang cantik itu ya yang bersih, terawat, wangi...dan sedang tidak berdarah-darah. Atau sedang tidak dalam proses persalinan.
Persalinan?
Ya tuhan... aku membayangkannya saja, sudah bikin ngilu... seberapa hebat rasa sakitnya dan seberapa besar perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan.
Ngomong-ngomong soal lahiran, apakah nanti kamu sendiri akan di bantu dokter Wisnu? Atau dokter lain.
Entahlah, saat ini hanya dia yang ku anggap mampu dan kompeten di bidangnya.
Malu!? Kenapa mesti malu.
Inget ya... jangan sampai ada diantara kalian -para pasien- merasa bahwa kita -tenaga medis- akan menertawakan kondisi kalian. Jadi jangan pula kalian berpikir negatif pada kami.
Sebab kalian harus percaya dulu pada dokternya. Sehingga segalanya bisa berjalan dengan mudah tanpa beban.
Walaupun ada juga sekarang -oknum dokter- yang menyalahgunakan wewenangnya.
Dan bisa dipastikan!! Pasti kuliahnya dulu di mall, bukan di kampus. Muehehe.
Pasien berikutnya....
Pasien atas nama nyonya Kartika, G3P0A2
Kartika? Anin mengerutkan dahi.
"Mba, mba...mba Ida," panggilnya pada perawat yang sedang sibuk mengukur tekanan darah pasien itu.
"Sebentar, dok."
Setelah selesai dengan tugasnya, suster ida segera mendatangi dokter Anin.
"Ada apa, dok?"
"Ini, apa tidak salah? Pasien dokter Wisnu ini??"
"Benar, Dok. Si pasien yang meminta."
"Haduh.. mana diagnosanya ngeri pula G3P0A2. (artinya hamil yang ketiga lahiran belum pernah, dan abortus sudah dua kali.) Ya sudah mbak, tidak apa-apa. Biar nanti saya telpon dokter Wisnu."
"Baik, dok." Suster itu kembali ke tempatnya.
Anin segera mengambil gagang telepon dari atas meja kerjanya dan mendial nomor ekstension ruangan dokter Wisnu.
Jangan sampai ada salah paham diantara kita. Anin terkekeh sendiri.
Tak perlu menunggu lama sampai dokter Wisnu mengangkat panggilannya.
"Hallo, dok.. panen? ooh...ini mau info saja, ini ada pasienmu nyasar ke tempatku,"
"Apa?? Ooh iya, dengan G3A0P2, atas nama nyonya Kartika."
"Ohh, bukan ya.., hehe, oke deh kalau begitu, nanti coba saya anamnesa dulu, baru nanti saya rujuk ke bagian kebidanan."
"Oke deh, selamat siang dok, maaf saya telah mengganggu kesibukan anda. Haha"
Gelak tawa dari ujung sana pun tak kalah nyaringnya hingga terdengar sampai keluar gagang.
Anin Pun segera meletakkan kembali gagang telepon itu bersamaan dengan seorang pasien masuk dan menyapanya.
"Selamat siang, dokter Anindira Aji," sapanya.
Siapa pikirnya, yang menyapa dengan menggunakan nama lengkap suaminya.
Anin mendongak, "Ya...Selamat siang."
__ADS_1
Dan bulu kuduknya meremang melihat hantu yang kini tengah berdiri di depannya. Pengennya sih iya, kalau bisa hantu saja, jangan wujud manusia.
Mau apa perempuan ini? pikirnya.
Setelah berhasil menguasai keadaan Anin pun mempersilahkan pasiennya untuk duduk.
Tenanglah, saat ini dia adalah pasienmu, Anin! Bukan musuhmu.
"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu." Tanyanya sopan dengan senyum sehangat mentari pagi setelah berminggu-minggu hujan lebat.
Salut juga dengan ke-profesional dokter satu ini.
Kartika a.k.a bintang yang kini tengah duduk di depannya sampai bengong terkesima.
Hebat juga pengendalian dirinya pikir wanita itu. Padahal berharap dia akan marah, lalu memaki atau mengusirnya. Ternyata harapannya zonk.
"Ada yang bisa di bantu, nyonya Bi-ma?" Apa maksudnya perempuan ini. Menulis nama Bima Aji di lembar kertas pemeriksaan sebagai nama suaminya juga.
Kartika menyeringai, ketika dilihatnya dokter muda itu terkejut membaca nama suaminya sendiri ada di cacatan medis pasiennya.
"Kenapa, Dok? Sepertinya anda terkejut..." ucapnya dalam nada sarkastik.
Apa sebenarnya tujuanmu?
Anin tersenyum dalam gelengan kepalanya.
"Oh, tidak... hanya saja, saya jadi teringat dengan suami saya sendiri, yang akhir-akhir ini bertingkah sangat manis dan romantis, maunya berdua-duaan terus, nggak akan berangkat kerja, kalau belum di ancam. Belum lagi hampir setiap saat, setiap waktu selalu menciu--" Anin kembali tersipu dan bergegas menutup mulutnya sebelum kebablasan.
"Oh, maaf. Kok malah saya yang curhat," pungkasnya, ketika dilihatnya wanita di depannya terlihat semakin kesal.
"Tidak apa-apa, saya suka juga Mendengarnya." katanya keki.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" Anin kembali mengulangi pertanyaan yang belum juga mendapatkan jawaban itu. "Kalau melihat kondisi anda saat ini, seharusnya ibu konsul ke dokter spesialis kandungan dan bukan ke--"
"Oh, bukan untuk itu saya kesini." sela Kartika.
"Lalu?"
"Karena saya tahu, menemui di luar akan lebih susah, sehingga disinilah tempat yang tepat."
"Dengan sengaja agar terlihat aneh, ibu hamil periksa ke dokter umum, di rumah sakit sebesar ini?!"
Cuih. "Anda pikir apa tujuanku ke rumah sakit ini? Periksa kehamilan? Untuk seorang dokter jenius sepertimu Kau naif sekali, dokter…."
Apa maunya.
Dan kalau saja Anin tidak sedang memakai baju kebesarannya, sudah barang tentu ia akan melawan setiap ucapan wanita itu. Mengacak-acak rambutnya lalu menyiram mukanya pakai air cabe, terus menyumpal mulutnya pakai handuk yang habis masuk got. Lalu terakhir mencongkel mulut pedasnya untuk kemudian dijahit ulang dengan posisi tegak.
Nah loh.
"Kalau tidak ada keluhan, untuk selanjutnya saudara bisa datang kembali untuk melakukan cek kehamilan." Sambil menyodorkan buku pink.
"Di rumah sakit ini juga ada dokter kandungan yang sangat bagus. Anda bisa membawa surat rekomendasi dari saya ini," ucap dokter itu sambil menyelipkan selembar kertas berisi rujukan.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" katanya selembut mungkin. "Mengingat ini kehamilan yang ketiga, anda harus sering-sering berkonsultasi dengan dokter anda."
"Ck! Seharusnya, dirimulah yang kau khawatirkan. Sebab apa?" Ejek Kartika.
"Ibu, silahkan ... langsung saja untuk ke bagian apotik depan...saya sudah menuliskan beberapa resep vitamin yang baik untuk ibu hamil."
Nadanya terdengar sumbang dan angkuh. "Apa kau yakin, ini bukan racun?!"
"Saya jamin itu aman dan bagus untuk kehamilan, bu. Jadi anda tidak perlu khawatir." Jawab Anin dengan masih sangat sopan dan senyum ramah. "Monggo silahkan, ibu...." telapak tangannya mengudara, menuntun ke arah pintu.
Baru kali ini, Sikapnya yang ramah, perhatiannya yang tulus dan sikapnya yang hangat bisa membuat pasiennya jengah. Kesel, mangkel dan lain sebagainya.
Kartika berdecak kesal, "Kau tidak akan bisa mengancamku?"
"Maksud ibu mengancam bagaimana...saya tidak paham."
"Jangan berlagak bego, dokter Anin yang terhormat. Karena apa?"
"Mohon maaf, Silahkan ibu bisa meninggalkan ruangan saya…dan langsung ke sebelah barat untuk menebus resep itu."
"Gimana, gimana...?!" Ani memasang telinganya tanpa bermaksud mengejek atau merendahkan cuma ingin membunuh saja wanita di depannya ini biar secepatnya jadi hantu.
Dan hampir saja, Anin tidak bisa lagi berpura-pura. Bagaimanapun dia manusia biasa.
"Apa terdengar kurang jelas?" balas Kartika dengan nada ejeknya. "Biar ku ulangi sekali lagi, -Bima lah yang selama ini melindungiku-menjagaku serta menjamin tidak akan ada hukum apapun yang bisa menyentuhku ataupun menjeratku." ucapnya dengan suara lantang penuh percaya diri.
Anin terhenyak, namun tak cukup kuat untuk membuatnya terkejut.
"Apa kau yakin?" Anin balik bertanya.
"Sure."
"Apa kau mau bertaruh denganku?"
"Lebih baik jangan, karena kau pasti akan kalah."
"Saudara terlalu percaya diri."
"Lalu, harus seperti apa saya menunjukan kemenanganku kepadamu. Kau boleh saja memiliki tubuhnya, segala perhatiannya, tapi hati dan cintanya tetap milikku."
Anin menghela nafas untuk sekedar melonggarkan dadanya yang mulai terasa menghimpit. "Apakah akan se yakin ini, seandainya mas Bima tahu, bahwa sejak dulu ia tidak pernah menghamilimu?! Dan kau menghianati cintanya dengan bermain bersama sahabatnya sendiri." Ucap Anin tanpa sudi lagi melihat pasiennya itu.
Dan ia lebih memilih memandangi dan memainkan stetoskop abu-abu nya. Menyembunyikan lukanya.
Rupanya kalimat itu berhasil memukul mundur wanita itu. Namun tak sampai membuatnya kabur.
"Ingatlah dokter, kau mengancamku, maka kau akan melawan suamimu sendiri. Karena itulah, sampai dengan saat ini saya masih bisa berdiri disini, bebas kesana kemari. Walaupun dia tahu, kasus yang menimpa --yaa you know lah siapa itu Abi- ada hubungannya dengan ku, dan dari awal dia sudah tahu hal itu, tapi tetap berniat melindungi kita -aku dan calon anaknya-" ucapnya seraya mengelus-elus bagian perutnya. "Karena apa? Tentu kau bisa menebaknya sendiri."
Jadi, mas Bima tahu... tapi kenapa?
Anin terdiam cukup lama,
"Apapun itu, pasti dia punya penjelasan untukku."
"Dan...apakah kau sudah mendapatkan penjelasan itu? Secara itu sudah sangat lama...."
Deg.
"Atau mungkin ia sengaja menyembunyikannya darimu?!" Kena kau kali ini dokter.
"Apapun itu, bukan urusanmu! Silahkan keluar atau ku panggilkan satpam." Ucap Anin mulai emosi. Dan suaranya yang lumayan berat lagi nyaring berhasil membuat suster Ida masuk ke dalam yang langsung memasang mimik terkejut.
Dari awal suster itu pun sudah merasa aneh dengan pasien yang satu ini. Namun ia tak berani menanyakannya. Tidak sopan.
Anin pun tak peduli lagi dengan dirinya yang sedang berada di ruang praktek. Ia sudah cukup sabar menahan emosinya jadi jangan salahkan dirinya jika akhirnya meledak juga. Dan kali ini emosinya meledak di depan seorang suster.
"Sabar dokter, ingat kehamilanmu, jangan mudah emosi, karena menurut pengalaman saya, di usia kehamilanmu saat ini sangat rawan lahir prematur."
Sok tahu. "Silahkan tinggalkan ruangan saya!!" katanya, seraya berdiri dan menunjuk ke arah pintu keluar.
"Suster tolong bawa pergi wanita ini, bila perlu seret. Sebelum saya khilaf dan memberinya obat dosis tinggi!!" Selebar parasnya kini merah padam menahan muntahan lahar amarah yang sepertinya belum sepenuhnya keluar.
Perawat yang baru kali ini melihat -sedikit- kemarahan dokter Anin pun segera membimbing setan itu untuk keluar. Bukan membimbing tapi dengan sedikit paksaan.
Ada apa sebenarnya? bathinnya.
Sedikit?? Marah sedikit saja sudah terlihat sangat menakutkan, apalagi muntah semua.
Orang bilang sih begitu, marahnya orang biasa lebih menakutkan ketimbang marahnya orang yang sering marah-marah.
Anin kembali menarik nafasnya yang tersengal. Mencoba menata diri, mengatur emosi dan debar jantungnya.
Dan... jawaban apa yang akan ia ucapkan seandainya suster ida bertanya padanya perihal kejadian tadi.
Untungnya, hingga pasien terakhir pun suster itu tidak juga menyinggung-nyinggung kejadian tadi, bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Itulah kenapa aku suka padanya, sehingga ku jadikan perawat tetapku.
Hampir selama sisa pemeriksaan berlangsung, tidak sedikitpun Anin membiarkan dirinya untuk memikirkan kata-kata busuk wanita itu. Sejauh ini ia berhasil memfokuskan diri hingga pasien terakhir.
"Sudah habis, Mba?"
__ADS_1
"Sudah dok. Sekarang Waktunya dokter yang jadi pasien...sudah di tunggu dokter Wisnu, dok."
"Hoho.. baiklah, terimakasih, Mba...." Anin pun bangkit dari kursi putarnya. "...sudah daftar ya?"
"Sudah, dok. Saya daftarin paling akhir. Biar kalian puas ngobrolnya, hehehe."
"Mba ida memang joss lah, makasih ya mbak, saya pergi dulu." Pamit Anin pada wanita itu
"Ya, dok. Hati-hati." Jawabnya sambil melanjutkan merapikan alat-alat dan berkas-berkas pasien.
Dan malam harinya Anin dilanda rasa gelisah ketika jarum jam menunjuk di antara angka delapan dan sembilan namun suaminya belum juga pulang.
Telinganya kembali terngiang-ngiang ucapan si nenek sihir laknat itu.
Kenapa harus disembunyikan?? Sejak kapan mas Bim tahu??
Kenapa tidak....
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam otaknya.
Kenapa dan kenapa?
Lalu apakah ini, apakah itu.
Tepat pukul sembilan terdengar bunyi nat nit nut dari arah pintu.
Pasti kingkong pulang.
Anin segera menepuk bubar segala macam pikirannya ketika dilihatnya suaminya tengah masuk dan berjalan ke arahnya.
"Maaf sayang, kena macet." Sapa laki-laki itu, sambil mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya yang sedang menikmati pepaya.
Laki-laki itu menyambar koran pagi tadi, lalu mendaratkan pantatnya di salah satu kursi makan.
"Sudah mandi?"
"Belum," Bima mulai menenggelamkan wajahnya di antara lipatan koran.
"Di rumah sana tidak ada kamar mandi?"
"Hee-hem," jawabnya asal dari balik koran.
"Sudah makan?"
"Sudah tadi di--"
"Oh, jadi pulang cuma untuk numpang mandi dan ganti baju..." katanya lagi memotong ucapan Bima sambil mengunyah pepaya yang baru saja masuk mulutnya.
"Hhmmm...mbok, mbok..." serunya.
"Yaa, Neng."
"Besok besok, Kupas pepaya nya agak tebelan dikit. Pahit ini..."
Mbok Jum tersipu, "Iyaa neng, tadi buru-buru."
"Ya sudah, silahkan di lanjut lagi."
Simbok pun undur diri.
Bima yang tak acuh melihat kelakuan istrinya itu pun ikut tersenyum.
Tumben amat, segala kulit pepaya ia perhatikan.
Anin mengamati gerak-gerik suaminya.
"Mas...."
"Hmm...."
"Tidak ada yang ingin kau sampaikan?"
"Apa?"
"Apa saja,"
"Contohnya..??"
"Ya, apa kek...!" Anin mulai kesal.
Bima akhirnya menyerah, melipat lalu meletakkan koran itu.
"Kamu kenapa?"
"Mas yang kenapa!?"
Dasar wanita!! "Okeh, ada apa sayang, kamu kenapaa, hmm…."
Sejak hamilnya masuk di angka tujuh, tingkat kemanjaannya naik 3 level sodara-sodara.
Anin menarik nafas, lalu menghembuskannya cepat-cepat.
"Mas, kamu tidak merasa menyembunyikan sesuatu dariku?"
Apa? Bima mengingat-ingat dan rasanya tidak ada yang ia sembunyikan lagi.
Ia pun menggeleng, "Rasanya tidak ada, memangnya kenapa?"
"Oh, tidak. Tidak kenapa-napa. Iseng aja tanya," katanya lagi sambil membajak mangga milik suaminya.
"Hei, itu bagianku." Protes Bima.
"Nyicip."
"Nyicip kok semangkuk," gumamnya. "Yasudah, saya tak mandi dulu, jangan di habisin mangganya, saya mau."
"Iya, iya."
Dan semenjak hari itu, Anin berjanji pada dirinya sendiri, akan sering-sering memperhatikan suaminya, mengecek segala macam yang ada pada tubuhnya.
Keterlaluan nggak sih?
Ah biar saja.
Dan janjinya di mulai dari malam ini.
Ketika suaminya tengah mandi, Anin memulai aksinya.
Pertama-tama ia membuka ponsel milik Bima dan tidak menemukan apa-apa.
Lalu tasnya, tidak ada yang aneh ataumencurigakan juga.
Saku baju, kantong celana pun tidak ada yang aneh-aneh.
Hingga meja kerja suaminya pun tak luput dari kecurigaannya.
Sapa tau ia menemukan sesuatu di sana.
Dan tidak ada apa-apa, tidak menemukan apapun di sana.
Mungkin hanya kecurigaann mu saja yang berlebihan.
Anin bernafas lega.
Ketika Anin telah menyerah, dan hanya bermaksud ingin meletakkan sebuah kado dan menyembunyikan kue ulang tahun untuk suaminya yang tepat pada tengah malam nanti akan ia nyalakan lilinnya lalu ditiup bersama- bersama. ia tidak sengaja menyenggol tumpukan majalah di atas mesin printer hingga jatuh berserakan.
Sebuah amplop coklat ikut terjatuh bersama majalah itu, hingga sebagian isinya pun ikut keluar.
Hanya rasa ingin merapikan saja yang membuat Anin menarik keluar isi amplop tersebut, tidak lebih dan tidak kurang
Tidak pula curiga, ataupun praduga lainnya. Bahwa ternyata isinya akan sangat mengguncang jiwanya.
Apa maksud semua ini ....
***
__ADS_1