Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Ujung Labirin


__ADS_3

Anin terjaga dari mimpinya ketika ponselnya berdering melantunkan irama yang sengaja ia setting khusus untuk panggilan suaminya.


Mas Bim, mungkinkah ia sedang kebingungan mencariku?


Anin mengusap layar ponselnya ke arah kanan dan baru menyadari kebodohannya setelah terdengar suara dari ujung sana memanggil-manggil namanya. Kenapa justru malah diangkat. Bego!!


"...ya, Hallo," jawab Anin akhirnya.


"Oh, yaa......"


"Ck! Mudah, ya...Minta maaf untuk kemudian kamu ulangi lagi dan lagi.."


"Iya, iyaa~~~aku yang salah dan kamu selalu benar!!"


"Aku ngantuk, kita akhiri saja percakapan ini."


"Hah! Picik sekali pikiranmu, Mas!!!"


"Apa pedulimu? Mau tidur dimana dan dengan siapapun adalah hakku!!"


"Bukankah itu yang kau sangkaan terhadapku? Menggoda setiap laki-laki yang ku temui. Lalu membawanya ke tempat tidur?!"


"Akan aku lakukan. PUAS!!!"


Tut...tut..tut.


Sebenarnya Anin kesal sekaligus rindu juga pada suaminya.


Pada sikapnya, kecemburuannya dan sikapnya yang mudah berubah-ubah seperti dua orang yang berbeda dalam satu wadah.


Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada suaminya. Namun selalu gagal di detik-detik terakhir.


Bahkan waktu pun tidak memihaknya. Dan lebih memilih untuk membantu mensukseskan sandiwara suaminya.


Yang kemudian membiarkan Anin dengan ketakutannya, kehamilannya, masa lalunya, dan membiarkan  semuanya berjalan seorang diri.


Rasanya Ingin menyerah saja pada segalanya, pada norma, pada logika dan dengan egoisnya ia akan mengutarakan semuanya pada suaminya. Yang pasti dapat menyelesaikan masalah semudah membalikkan telapak tangan


Dengan cara baik-baik ataupun dengan cara lain.


Anin membutuhkan suaminya berada disampingnya. Namun nyatanya, sekarang pun ia sendirian.


Setelah meletakan lagi ponselnya di atas nakas, Anin kembali menumpahkan air matanya yang sesaat lalu ia tahan dengan susah payah dan berpura-pura tegar, bahkan baik-baik saja dalam percakapan dengan suaminya.


Tuhan... kenapa semuanya terasa begitu berat dan begitu sakit~~


Anin kembali tersedu yang terdengar begitu menyayat.


Jika ini cinta, Maka aku adalah wanita bodohnya, yang rela dipermainkan oleh cinta sendiri.


Jika ini yang kau sebut cinta, Maka akan kuberikan lagi sebanyak engkau membaginya.


Maka aku takkan mampu kemana-mana, dan akan kembali sebanyak engkau mengusirnya pergi.


Maka akulah wanita biasa yang siap menjadi luar biasa untuk menerima segala luka dan derita.


Jika ini yang kau sebut cinta, seharusnya hanya ada satu yang bertahta, tidak  ada kata 'dia ataupun mereka'


Dan..Jika semua ini adalah cinta, maka aku lah si buta, si tuli, si bisu dan si pincang. Karena hanya dengan begitulah kesabaranku mampu kubayar lunas hingga lelah dan sampai pada ujung jalannya.


****


"Anin,~~~kamu dimana..aku takut..." Suara Mika terdengar kacau dari ujung sana.


"Takut kenapa?"


"M_m..dia meninggal."


"Siapa?!!"


"Ist--trinyaa~~~aku ta-kut, Nin," ucap Mika yang terdengar di telinga Anin sudah seperti suara orang linglung.


"Kamu dimana, apa kau sedang bersama Abi?"


"Dia~~~~baru saja pergi ke rumah sakit."


"Kamu dimana, Mika?!"


Secepat kilat Anin keluar dari kamar hotelnya yang sengaja ia sewa untuk menghindari suaminya.


Setelah memastikan bahwa tidak ada orang suruhan suaminya  yang berjaga di sekitar apartemen, Anin kemudian keluar melalui akses pintu  hotel sebelah kiri. Sebab lobby utama hotel sama dengan lobby apartemennya. 


Yap. Setelah Anin mendapat hadiah dari suaminya. Ia memutuskan untuk menghindar dan bersembunyi. Dan dia memilih swissbell hotel yang gedungnya persis berada di sebelah gedung apartemen, selain karena sudah larut malam saat ia kabur, hal ini dimaksudkan agar ia tidak terlalu capek dan bisa membahayakan kehamilannya.


Karena mereka masih satu komplek. Jadi, tidak perlu drama berjalan jauh menyusuri dinginnya malam ibu kota. Dan Anin masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan hal bodoh.


Hampir lima belas menit menunggu pesanan Taxi namun tak juga ada yang muncul.


Anin mulai gelisah...


Masa Naik ojek?? Ah tidak..tidak..itu sangat berbahaya.


Lima menit kemudian....


Anin Heran dan hampir tidak mempercayai penglihatannya ketika pemuda itu semakin mendekat pada posisinya. 


"Anin, sedang apa disini?" Tanya Indra tak kalah heran.


"Kamu, ngapain kesini?" ucap Anin balik tanya sembari menenangkan  degup jantungnya.


"Sudah jadi kebiasaan rupanya, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."


"Ngapain kamu kesini?!!" Anin mengulang pertanyaannya lagi.


"Bukan ngapain kesini, tapi ngapain keluar pagi-pagi buta begini?" terang Indra sambil menatap wanita yang terlihat semakin cantik di hadapannya itu.


Buru-buru Anin memutuskan kontak matanya dengan pria itu lalu membuangnya pada bunga-bunga yang berjejer disana.


"Apa kali ini saya bisa minta tolong? Hmm-- Jangan salah sangka dulu ___"


"Tentu. Apa itu, katakan saja..."


"Bisakah...bisakah kau antarkan aku ke tempat temanku...kebetulan aku sedang terburu-buru."


"Kebetulan juga, saya mau ke rumah sakit. Karena barusan dapat kabar kalau Keluarga dokter Firman mengalami musibah."


"Rumah sakit??!! okeh kalau begitu aku ikut. Tapi antarkan aku ke tempat Mika terlebih dulu."


"Baiklah. Mari..."


Anin segera meluncur ke rumah sakit sesaat setelah memastikan kondisi Mika baik-baik saja dan mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama. Setelah sebelumnya, Anin menolak tegas tawaran Indra, Namun akhirnya ia menerima dengan pasrah. Karena apa yang diucapkan Indra memang benar.


"Mana ada taxi jam segini, masih jam dua pagi. Ayolah..kita lupakan dulu persoalan kita," ucapnya saat itu.


Begitu sampai di rumah sakit, Anin segera menemui dokter Wisnu yang ia ketahui bahwa dokter Wisnu juga ada di rumah sakit setelah menelponnya dijalan tadi.


Kemudian mereka pergi bersama-sama menuju ruang emergency untuk melihat dan mengucapkan turut berduka cita pada dokter Abi dan keluarga.


Meskipun awalnya dokter Wisnu sempat kaget dan melarang datang ke rumah sakit pagi buta begini. Sedang bunting pula.


Hingga Anin muncul bersama Indra didepan mukanya. Keterkejutannya pun semakin naik menjadi beberapa level.


Ini Kemana suaminya??!! Dan bukannya bocah boyband ini yang dulu... aah sudahlah, bukan urusan saya dan semoga saja dia tidak menuntut balas.


Ada rasa kelegaan ketika Anin mengetahui bahwa Dokter Firman sedang berada di luar negeri. Paling tidak malam ini dia aman.


Syukurlah!!


***


Sudah hampir putus asa Bima mencari istrinya kesana kemari, Ketika akhirnya, ia menemukan nya sedang asyik bercengkrama dengan pria paruh baya di sebuah Resto Jepang.


Dua hari nggak pulang, nggak Ada kabar -Yang tentu saja itu versi Bima, kenyataannya Anin menyempatkan pulang jika dilihatnya suaminya sudah berangkat. Atau ketika suaminya malam itu tidak pulang kerumah- dan ternyata disini dia sekarang.


Percuma selama dua hari ini ia pusing kesana kemari, mencarinya, mencemaskannya tapi rupanya ia baik-baik saja, sehat wal-afiat dan malah terlihat lebih montok.

__ADS_1


Kalau saja Bima saat itu datang seorang diri sudah diajak duel-nya pria itu. Saking Emosinya.


Jadi, rupanya selama menghilang kemarin dia bersama laki-laki itu. Hah!! percuma saya mengkhawatirkanmu.  Buang-buang energi. Dan dengan bodohnya kupermalukan diriku sendiri datang ke tempat kerjamu, mencarimu.


Tanpa sadar Bima mengepalkan tinju.


Bukannya tidak sadar akan kehadiran suaminya di Restoran yang sama dengannya saat ini.


Namun ada hal yang lebih penting dari sekedar menemui suaminya lalu menegurnya atau memaki wanita yang bergelayut manja pada lengannya.


Dan adakah sakit yang melebihi rasa sakit melihat suamimu bermesraan dengan wanita lain di depan matamu sendiri?!


Jadi dugaan Anin benar. Prasangkanya terbukti Suaminya menghianatinya.


Yang jadi pertanyaan Anin saat ini adalah sudah sejauh mana hubungan mereka?


Melihat betapa mereka sangat intim bahkan di tempat umum. Dengan si wanita tanpa malu-malu berani mengecup bibir sang pria.


Sengajakah??


Dan kejadian di-kantor...


Keterangan pak supir..


Pasien bernama Bintang


Wanita yang bertemu di Bandung..


Potongan reka adegan yang pernah di alaminya kembali berputar hingga ke detail-detailnya.


Lalu, Kartika?!  Apa mungkin orang yang sama atau ada dua orang berbeda?!


Ingin meledak rasanya dada Anin. Memikirkan hal itu. Kenapa suaminya sampai hati terus-terusan menyakitinya.


Sekuat tenaga Anin menahan amarah dan menahan tangis nya.


Begitu juga usahanya dengan sedemikian rupa mengatur ritme nafasnya yang mulai terasa sesak lalu menyembunyikannya dari teman ngobrolnya.


Entah apa jadinya seandainya ia seoang diri disana.


"Bicarakan baik-baik dengan suamimu, Nin. Mau sampai kapan kucing-kucingan terus begitu. Habis lama-lama duit mu buat bayar kamar hotel." Ucap dokter Wisnu menggodanya, yang ternyata menangkap keserasahan Anin.


"Inget, kamu juga sedang hamil." imbuhnya lagi, tanpa menghentikan aktifitas tangannya yang sedang mengaduk kuah soba.


"...nanti saya coba, Dok." jawab Anin singkat.


Sore hari nya, mau tidak mau Anin pun memutuskan untuk pulang, karena besok dia sudah harus masuk Kerja.  Dan lumayan juga kalau harus membayar tagihan hotel terus-terusan. Bisa bangkrut dia.


Bima belum pulang ketika Anin memutuskan untuk masuk ke Apartemen itu. Dan hanya ada mbok Jum yang sedang melipat baju.


Hingga menjelang subuh, barulah ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.


"Hoo, ingat pul--lang ju--ggaa kau!" Bima menarik selimut dengan kasar, lalu membuangnya ke lantai.


Anin terpekik kaget. Namun tak cukup waktu untuknya untuk sekedar mengatur kesadaran setelah terjaga dengan kaget.


"Bangun. Bangun!! BANGUN KAU SIALAN!!!" Ia mengguncang tubuh istrinya dengan kasar, kemudian jarinya bergerak menekan tepat pada bagian leher mulus istrinya.


Anin memekik. Meronta.


Memukul-mukul tubuh suaminya namun ia kalah tenaga. Ia berfikir harus segera lepas dari cekikan suaminya kalau tidak akan sangat berbahaya untuk janinnya.


Tuhan, tolong selamatkan kami!!


Diliriknya lagi ke sebelah kiri, tangannya bergerak-gerak berusaha meraih apa saja.


Lampu itu..aku harus...


Dengan sebelah tangannya Anin berusaha melepaskan jeratan tangan suaminya dan satu tangan lainnya meraih-raih pot lampu yang terasa sangat jauh itu.


"Mm--maas, sad-dar" rintihnya terputus-putus.


"Den, Non Anin! Astaga. Den, lepaskan!!" Mbok Jum yang hendak ke ruang tamu, terkejut melihat kamar kedua majikannya terbuka. Ia pikir ada maling.


"Den, eling.. iki istrimu, Lepasno, Den!!" dengan sisa-sisa tenaga dimasa mudanya mbok Jum berusaha menarik Bima. Namun justru ia sendiri lah yang terpental ketika Bima mengibaskan sebelah tangannya. Dan pada saat yang bersamaan Anin menggunakan kelengahan pria itu untuk meloloskan diri dengan mendorongnya sekuat tenaga kemudian ia berlari menghampiri mbok Jum yang tergolek di lantai  tak bergerak.


Kali ini ia telah melepaskan Ikat pinggangnya.


"Mbok...bangun..mbok..." gumam Anin dalam ketakutannya sambil memeluk tubuh renta itu.


Hingga semakin dekat jarak suaminya dengannya, wanita tua itu tak juga sadar. 


Anin bergidik semakin ngeri melihat kilatan dendam dimata suaminya. 


Di depannya kini, bukan lagi suaminya. Melainkan Iblis dengan sebuah ikat pinggang ditangannya.


Anin dapat menebak dengan tepat bencana apa yang ada di depan matanya yang sebentar lagi akan ia terima.


"Mbok..bangun!! Ayo kita pergi mbok." teriaknya dalam isak tangis.


Bima mulai mengayunkan tangannya.


Bunyi nyaring menggema tak ter elakkan ketika  ikat pinggang itu menyentuh tubuh istrinya.


Anin menerima cambukan pertamanya tepat mengenai lengan yang berusaha melindungi kepala dan perut nya serta mbok Jum yang berada dalam pelukannya.


****


Wajah pertama yang dilihat ketika membuka mata adalah Indra lengkap dengan pakaian olahraganya.


Pria itu memandanginya dengan cemas di bangsal klinik, kedua tangannya memegangi jari-jari nya.


Anin hampir tidak dapat menggeser badannya, saat ia merasakan sakit disekujur tubuhnya.


"Jangan banyak gerak dulu, Kondisimu lumayan parah," Bisik Indra dengan suara tertahan. "Simbok-mu teriak-teriak minta tolong dan kebetulannya pas saya hendak keluar, Katanya saya harus ke rumah dan membawa mu pergi."


"Terimakasih." Anin merasa kesulitan menggerakkan tangannya untuk meraba perutnya. Baru saja tangannya hendak bergerak ia sudah mengernyit kesakitan.


Memorinya berputar mengingat sebagian peristiwa pagi tadi, tentang bagaimana ia menerima perlakuan kasar suaminya -penghianatan, cekikkan, cambukkan. Sampai-sampai ia tidak bisa lagi membedakan rasa marah, benci dan rasa sakit.


"Kandunganmu baik-baik saja. Kalau itu yang kau khawatirkan."


"Simbok?"


"Ada di bangsal sebelah."


"Parah?"


"Nggak parah-parah banget. Hanya perlu sedikit jahitan untuk menghentikan darah di belakang kepalanya."


Anin mengambil nafas lega. Dan dia teringat seseorang, walau bagaimanapun dia ayah dari calon anaknya.


"Bagaimana kondisi---?"


"Si Sinting suami mu? Dia baik-baik saja, paling-paling perlu kompresan air dingin, setelah mukanya ku jadikan samsak tinju."


Anin membelalak ngeri. Membayangkan kondisi suaminya.


"Mengenai kehamilanmu itu terus terang Aku tidak keberatan, jika itu alasan kau menolakku dan seandainya kau lelah dengan suamimu aku siap ___"


Anin menggeleng. "Tidak, Kau pantas mendapatkan gadis yang lebih baik daripada ku. Dan aku harus pulang, untuk memastikan suamiku baik-baik saja." Lalu mengaduh kesakitan saat berusaha membangunkan tubuhnya.


Melihat perjuangan Anin yang keras kepala, Indra mendengus kesal. Kekawatirannya dengan cepat berubah jadi emosi.


"Kenapa kau mau menemuinya? Dia hampir mencelakakan-mu dan calon anak nya sendiri!"


"Karena dia suamiku tentu saja, dan-- " Anin memejamkan matanya saat ribuan jarum terasa menusuk hatinya, "Karena aku mencintai nya."


Indra menatap langit-langit menahan siksaan emosi. "Aku mencintaimu lebih dulu, dan sedikitpun kamu tidak pernah peduli pada perasaanku."


Kau salah!! Karena aku pernah mencintaimu.


Anin menangkap kesakitan pada ucapan yang baru saja dia dengar.


"Thank, Ndra," Jawabnya pelan. "Thanks Sudah menyelamatkan nyawa kita."

__ADS_1


"Aku nggak butuh itu, Aku cuma mau kamu sadar, Lelaki itu nggak pantas buatmu. Gue nggak terima, Si brengsek itu memperlakukanmu seperti ini!"


Sungguh mati, Anin tidak ingin menyakiti Indra, dan demi apapun Ia tidak bisa begitu saja mengganti isi hatinya semudah membuka mata di pagi hari.


Jatuh cinta pada orang yang salah bukan kemauannya. Jika ia boleh memilih, ia akan menolak perjodohan itu, kemudian kabur kemana saja. Tapi ia tidak kuasa, tidak punya nyali untuk melawan kedua orangtuanya.


"Aku harus pulang," desah nya lirih dan memaksakan dirinya untuk bangun dari bed.


Indra menuntun tubuhnya. "Biar ku antar. Dan jangan lupa, rutin olesi salepnya, agar tidak meninggalkan bekas."


***


Bima sedang duduk termenung di meja makannya seorang diri, sampai-sampai ia terkesiap melihat kedatangan Indra disusul Anin muncul dari belakangnya.


Bima menghambur memeluk istrinya dan tak henti-hentinya meminta maaf dengan berurai air mata. Sampai-sampai Indra muak melihatnya.


Kalau saja Anin tidak menahannya untuk tinggal menungguinya sebentar, sudah langsung kabur saat itu juga.


Seperti baru sadar akan kehadiran laki-laki lain. Buru-buru ia menghentikan aksi nangis bombay nya.


"Kau__" Ucap Bima emosi.


"Mas, Please. Ada hal yang lebih penting yang ingin aku tanyakan," Anin mengajak suaminya untuk duduk di meja makan dan mengisyaratkan Pada Indra untuk menunggu saja di sofanya.


Bima membanting pantatnya sendiri diatas kursi. Disusul Anin kemudian.


"Siapa Wanita itu, Mas?" tanya Anin kemudian dengan menahan amarahnya.


"Siapa laki-laki itu!?" Bima balik bertanya.


"Kau salah sangka, Beliau dokter Wisnu, Dan hubungan kami tidak seperti apa yang ada dalam pikiranmu."


"Hah!" Bima mendengus kesal. "Lalu, apa saya salah selama beberapa hari ini kau menghilang bersamanya?!"


"Mas!!" Teriaknya menahan tangis. "Sehina itukah aku dimatamu."


"Tidak akan kubiarkan siapapun merebutmu dariku!" geramnya.


Anin melihat kilatan itu lagi, dimata suaminya sama persis seperti waktu itu. "Kau gila, Mas! sakit jiwa."


Bima membuka lalu melempar handphone –nya ke arah Anin yang hampir saja mengenainya. "Siapa yang gila? saya atau Kamu, Hah!"


Buru-buru ia meraih handphone tersebut yang ternyata sedang memutar sebuah video berdurasi pendek.


Reflek Anin menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat. "Dari mana video ini, Mas?!"


"Tidak penting! dan sialnya itu adalah aib istriku yang sangat menjijikan dan murahan!!"


Sekali lagi Anin menahan sakit ketika ribuan jarum menikam hatinya. Bahkan suaminya menjulukinya murahan dan menjijikan.


"Penting buatku, buatnya dan perusahaannya." Anin menoleh kearah dimana Indra duduk. Spontan Bima mengikuti nya.


"Oh..jadi itu, Pria simpanan yang lainnya?!"


Merasa dirinya nya lah yang dimaksud Indra pun ikut menoleh.


"Kalau begitu, biar sekalian Kuhabisi dia disini!!" Geramnya marah. "....dan kali ini saya takkan kalah," lalu ia berdiri. Indra pun ikut berdiri melihat situasi yang sepertinya mengancam dirinya.


Jujur saja, Indra pasti akan kalah melawan Bima, jika mereka bergulat dengan kondisi sama-sama sadar tanpa pengaruh alkohol.


"STOP MAS!! Kendalikan dirimu! Ini bisa ku jelaskan." dan wanita lemah dihadapannya tiba-tiba saja berubah menjadi emak-emak tegas yang bertanduk. Karena Anin merasa suaminya itu sakit jiwa dan bisa saja membahayakan Indra atau siapapun.


Anin menarik suaminya agar duduk kembali, lalu memanggil Indra untuk bergabung bersama mereka.


Kemudian ia mulai menceritakan persis seperti apa yang ia ketahui dari awal hingga kasus terakhir yang menimpa adik perempuan Firman.


"Aku tidak pernah menodai diriku maupun pernikahan kita, kamu Sendiri sudah membuktikan salah satunya." ungkap Anin.


Baik Bima maupun Indra menggeram penuh emosi. Terlebih Bima. Ia dirundung rasa bersalah teramat besar pada istrinya. Bukan karena ia telah meyiksa fisiknya –yang ia sendiri tidak mengerti, setiap melakukan itu, ia seperti tidak menyadarinya, tidak dapat mengontrol dirinya- melainkan atas kesalahan lain yang lebih besar dan sangat mengancam kelangsungan perkawinannya.


Kepada laki-laki yang bernama Abi Aku harus buat perhitungan denganmu. Kau penyebab semua kekacauan ini! kau juga lah yang telah berani menyentuh milikku!! ucap Bima dalam hati.


"Mungkin target berikutnya adalah dokter keluarga dokter firman. Aku takut mereka mengalami hal yang sama seperti Lily." ucap Anin bergidik ngeri.


"Kita bisa laporkan dia ke polisi," Indra menimpali.


"Kita belum menemukan bukti nya, dan itulah yang sedang kami –aku dan dokter Wisnu– selidiki. Karena yang kita hadapi bukan orang sembarangan makanya kita lakukan diam-diam tanpa harus membuatnya curiga." Anin menerangkan panjang Lebar.


"Benar, Biarkan itu menjadi urusan yang berwajib, tidak perlu kau ikut-ikutan sok jadi detektif." Jelas Bima yang keberatan jika istrinya harus ikut terlibat dan berkumpul dengan laki-laki lain.


Anin mulai merasakan perih di sekujur tubuhnya, sebab menahan sakit ngilu dimana-dimana. "Tapi, Mas... bisa jadi semua bermula karena istrimu ini, dan aku merasa bersalah atas kematian Lily, sebab aku mengetahui rencananya tapi tidak dapat berbuat apa-apa."


"Sudahlah! saya tetap tidak setuju kau melibatkan dirimu dengan ___"


"Kalau kau saja bisa bersama wanita lain, Kenapa aku tidak!!" Teriak Anin berang. "Dan aku tidak bermesraan di tempat umum, seperti mu!!"


Bima hanya mampu menatap tajam pada istrinya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata untuk membela dirinya. Menyelamatkan harga dirinya di depan saingannya. Dalam hal ini ia kalah telak.


Anin telah mengetahui semuanya.


Indra yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia, kini mulai angkat bicara. "Sepertinya, untuk hal ini saya sebaiknya undur di____ "


"Jangan kemana-mana, Aku takut dia mengasariku lagi!" Anin melirik sinis pada suaminya.


Indra yang sudah berdiri, terpaksa menempelkan kembali pantatnya pada kursi itu. Dan merutuki nasibnya yang malang.


Kenapa bisa, terjebak dalam situasi seperti ini. cintanya yang malang hanya berputar-putar saja pada porosnya yang telah menjadi milik yang lain. Dan belum lagi, skandal pelecehan yang –tidak sengaja- dilakukannya  membuatnya semakin pusing.


Kalau sampai pemilik video itu menyebarkan nya ke media, tamat sudah riwayat dirinya, perusahaannya, karir orangtuanya.


Astaga!!!


Seperti baru menyadari bahaya besar mengancam di depan mata, Indra pun memutuskan untuk undur diri. Dan terpaksa menolak permintaan Anin yang memintanya untuk tetap tinggal atau mengajaknya pergi bersamanya.


Pertama-tama Indra akan mencari Firman dan memberitahunya. Biar bagaimanapun Firman calon adik iparnya dan Indra tidak mau adikknya menjadi janda di usia muda. Atau bahkan menjadi janda sebelum ia dinikahi.


Sepeninggal Indra, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka berdua. Hampir lima belas menit berlalu, Ketika Anin mengambil langkah duluan.


Anin menggeser posisinya sedikit menjauh- buat jaga jaga- "Jadi, Bisa kau jelaskan siapa wanita itu, Mas??"


Cukup lama Bima menimbang-nimbang hingga akhirnya ia memutuskan untuk angkat bicara. "Dia rekan kerja-ku…."


"Bukan itu yang ku maksudkan!"


"Ya—dia mitra perusahaan kita, dia juga mantan kekasihku dan dia___ "


"Bintang, Simpananmu?! Sudah berapa lama?!!" Amin berusaha meredam getar pada suaranya.


Bima hanya diam menunduk. "...sejak kita pulang dari rumah mamah waktu itu....."


"Sudah kuduga..." Anin kembali merasakan sakit. Entah yang mana yang lebih sakit diantara luka tubuhnya atau batinnya. "...lalu siapa lagi Kartika?"


"Demi tuhan saya tidak bermaksud… saya khilaf, tidak sengaja. Waktu itu saya mabuk...terbawa suasana. Bintang dan kartika adalah orang yang sama, Demi tuhan." 


"Khilaf sampai Selama itu?! Tega kamu, Mas." Anin merasa tidak perlu menahan air matanya lagi.


"Maafkan saya sayang, demi tuhan tidak pernah ada, tidak ada, saya tidak lagi mencintainya."


"Lalu, kenapa kau masih menemuinya..." ucap Anin di tengah-tengah tangisnya.


"Awalnya karena Saya sengaja ingin memberi pelajaran padamu, karena marah, video itu...."


"Lalu sekarang, bisa kah aku percaya padamu? Untuk tidak lagi ber urusan dengan nya?"


Bina menggeleng lemas. "Saya tidak bisa menjanjikan apapun saat ini."


"Kenapa?"


"Karena dia masa laluku sekaligus kesalahanku yang kembali terulang."


"Apa maksudnya, Jangan bertele-tele, Mas!!"


Bima merasa perlu menyembunyikan tatapan matanya dari istrinya. "Dia sedang mengandung anakku."


Seperti disambar petir disiang bolong, seperti dihujam seribu pedang, Seperti di sayat ribuan silet dan seperti apalagi yang mampu menggambarkan kesakitan Anin saat itu.

__ADS_1


♧♧♧♧♧♧


__ADS_2