Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Handbody


__ADS_3

Pak Sopir yang masih kebingungan tidak tahu harus berbuat apa, melihat nyonya–nya tiba-tiba masuk lalu menangis, termenung lalu menangis lagi. Dan ia mengira Anin sedang kesakitan atau apalah yang terjadi pada kehamilannya.


Di tengah kebingungan harus berbuat apa, tiba-tiba Ia tersentak kaget oleh bunyi ponsel majikannya.


Begitu juga Anin, kaget dengan dering ponselnya sendiri. Yang ternyata dari ibunya.


Setelah menerima panggilan cukup lama, Anin kemudian menginstruksikan pada sopirnya untuk membawanya pulang ke Bandung. Padahal tidak ada undangan untuk pergi kesana, ibunya menelpon hanya untuk menanyakan kabar dan kondisi kehamilannya, tidak sampai menyuruhnya datang kesana, namun Anin merasa perlu untuk menenangkan diri sejenak, setelah apa yang baru saja ia alami, dan dirumahnya lah ia pasti mendapat ketenangan sekaligus kekuatan itu.


"Tapi, Bu, Saya belum izin dengan Bapak," jawab pak sopir.


"Biar saya yang Izin. Ayo, Pak. Nanti kemalaman dijalan."


"Baik, Bu."


Dan mobil melaju lambat-lambat hingga masuk pintu toll arah jagorawi, baru bisa tancap gas. Melaju lancar.


***


Pukul setengah lima sore tepat Anin sampai di rumah orangtuanya, kedatangannya disambut kaget ibunya. Penampilannya yang tampak tidak baik-baik saja pun dapat terbaca dengan jelas seperti papan reklame.


Setelah sesi peluk cium, ibu anak itu kemudian masuk ke dalam rumah, dan menyilahkan pak sopir untuk beristirahat juga. Dan apa kabar Pak botak plontos pengawal Anin? Di tinggal dimana dia? Waduh!


"Kamu kenapa, tiba-tiba datang kesini?"


"Boleh ya, Mah … Anin malam ini tidur disini?"


"Bocah iki, kebiasaan. Ditanya, malah nanya balik." Protes ibunya. "Kamu kenapa lagi? Dan kenapa mukamu sembab begitu?" 


Wanita itu menelisik penampilan anaknya hingga ke detail-detail maskara yang dipakainya. "Cuci muka dulu gih, sana. Mamah tunggu di meja makan." Pasti ada apa-apa lagi ini!


Anin mengangguk lalu menjalankan intruksi ibunya dengan patuh.


Punya anak wedhok, Siji kok ya aneh-aneh aja kelakuan dan masalahnya. Baru kemaren papahnya syok akibat kabar yang diterimanya dari orangtua Bima bahwa anak bungsunya menggugat suaminya sebab mengalami KDRT. Untung tidak sampai merusak hubungan baik kedua keluarga, Walaupun sebenarnya kita masih saja was-was kalau-kalau Anin mendapatkan kekerasan lagi, Meskipun dari ayahnya Bima telah menjamin keselamatan Anin dan calon cucunya. Teetapi sebagai orangtua, kami tetap saja khawatir.


Orang tua mana yang tega dan diam saja melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Rasanya kalau di ingat-ingat, Saya pun ingin membunuh atau memenjarakan Bima dengan tanganku sendiri. Terlepas bagaimana dirinya bersujud memohon ampun, memohon maaf yang juga disaksikan oleh kedua orangtuanya langsung terlepas dari pukulan, tamparan, tendangan serta hujatan yang diterima Bima baik dari ayahnya sendiri, maupun Dari kakak Sulung Anin.


Dan para ibu hanya bisa menahan perih, menahan tangis dan pura-pura baik-baik saja.


Sedangkan Ayah Anin terlalu syok sehingga tidak mampu lagi berbuat apa-apa kecuali Matanya yang memerah menahan amarah.


Dan anak gadis kesayangannya, Ah bocah itu, Bagaimanapun jahatnya suaminya, Dia tetap membelanya mati-matian dengan air mata berderai menghalangi ayah mertuanya yang sedang mencambuk dan menendang suaminya yang sudah babak belur dan berdarah-darah. Dan dia berhasil meyakinkan kami semua, bahwa Bima sedang tidak baik-baik saja –sakit jiwa- saat itu, sedang dalam pengaruh alkohol. Sehingga ayah mertuanya dengan sengit menyuruh untuk sekalian bunuh saja anak kurang ajar itu, Anak tak tahu diri, tak tahu diuntung, memalukan keluarga. Walaupun setelahnya Ia sendiri yang membawa Bima ke rumah sakit untuk mendapatkan beberapaa jahitan serta mengobati luka-luka dan menilik seberapa berat bekas cambuknya.


Yaa.. Begitulah orangtua.


Dan memang begitu seharusnya, Seberapapun masalah yang menerpa, seberapa besar riak gelombang dalam biduk rumah tangga, sudah semestinya sebagai seorang istri harus bertahan hingga akhir karena pondasi berumah tangga terletak pada seorang istri. Apalagi saat ini kau sedang mengandung, Mamah yakin kau wanita yang kuat dan setiap kesalahan pasti bisa termaafkan. Dan setiap masalah pasti ada jalan keluar. 


Kurang lebih begitu nasehat yang kemaren diberikan pada Anin sebelum ia kembali ke Jakarta bersama Suami dan Ayah mertua yang katanya akan mengurus pemindahan hak waris.


Nyonya Otis Menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak beberapa kali, ketika teringat hal itu lagi. Dia tak habis pikir, Pak Cipta Aji kok ya tega, menghajar anaknya habis-habisan. Yang walau sebenarnya saya sendiri belum merasa puas. Tapi kalau saya yang berada di posisinya pasti tidak akan tega melukai anakku sendiri.


Nyonya rumah kemudian tersenyum geli. Sampai mengubah surat wasiat segala. Orang kaya mah bebas ya.


Wanita yang sebentar lagi –jadi nenek– itu duduk pada salah satu kursi menghadap meja makan lengkap dengan beberapa makanan yang sudah tersaji termasuk sambal kesukaan Anin.


Tak berapa lama, Anin muncul kemudian mengambil posisi duduk diseberang ibunya.


Benar kan, Bocah itu langsung mencocol sambal dengan mentimun.


Lah iki jadi nggak sesi cerita-ceritanya? Kok malah asyik nyocol-nyocol sambal. Nyonya Otis menghela nafas. Geleng–geleng kepala seraya tersenyum melihat aksi anak bungsunya.


Anin yang tengah asyik menikmati sambal buatan ibunya, mendadak terserang lupa ingatan dengan apa yang ingin ia curhatkan pada ibunya.


Sambelnya terlalu menggoda untuk di anggurin, sumpah!! Makan lagi yuk, Dek! gumamnya pada mahluk yang sedang berkembang dalam perutnya.


Yang sebenarnya Anin ingin menceritakan perihal perselingkuhan Suaminya pada ibunya–pun terlupakan. Dan bukannya sudah seharusnya begitu sebagai istri harus bisa menjadi apa saja. Bahkan menjadi lautan dengan sejuta rahasia di dalamnya. Jadi... Tak usahlah, Begini juga sudah cukup menghibur.


"Awas jangan kebanyakan, inget perutmu," kata ibunya.


"Heh, .. Oh, iya mah," lalu tertawa.


Kau benar-benar tidak bisa berbohong, bahkan pada dirimu sendiri. "Jadi...kenapa tiba-tiba kamu ingin menginap disini?" tanyanya.


Anin menyendok nasi dan menempatkan di atas piringnya. "Ooh, itu...." lalu mengambil kacang panjang banyak-banyak dan menaruh di samping nasi.


"Itu apa?" tanya ibunya tak sabaran.


"Sabar dong, Mah. Kan Aku lapar." kata Anin protes.


Hhmm, kalau saja masih kecil seperti dulu, sudah mamah cubit kamu, Nin. Gemes. "Ya...makanlah dulu, mamah masih punya banyak stok sabar buat nungguin kamu." Oceh nyonya Otis.


"Hhm…." Anin menyuapkan nasi ke mulutnya. "...enak ini mah, mamah kok nggak makan sih?"


"Kenyang, tadi habis makan kolak pisang."


"Enak tuh...Mau atuh, Mah?"


"Ada dikulkas, ambilah sendiri, Ah. Manja." Dengusnya.


"Hehehe, mah...."

__ADS_1


"Ya, ya, ya...Sebentar mamah ambilin." Nyonya rumah bersungut-sungut ria. Tapi tetap saja ia juga yang ambil kolak itu.


***


Suara deru mobil yang tiba-tiba hilang berganti suara ketukan pintu beberapa kali. Namun Anin acuh saja pada suara itu. Ia tengah asyik nonton sinetron sambil nyemil makanan dalam kaleng.


Tok, tok, tok.


Siapa sih, yang bertamu malam-malam begini? Gerutu Anin. Kedua kakaknya kan nggak mungkin, Papanya juga nggak mungkin lah wong barusan telpon kalau ada pasien gawat dan harus segera dilakukan operasi. Jadi siapa, dong?


Tok, Tok,Tok.


Bodo amat!


Tok, Tok,Tok.


Terserah! maki Anin dalam hati. Masih dengan sikap masa bodohnya.


"Iki bocah, mamah kira kau tidur," berjalan mendekati pintu. "Ada yang ketuk pintu kok ya diem aja, ngawur kowe, Nduk." omelnya. 


"Lho, Nak Bima.... Kok sampai menyusul malam-malam begini, Memangnya Anin nggak pamitan?"


Bima tersenyum lalu mencium tangan ibu mertuanya.


"Mari silahkan masuk," Nyonya Otis lalu menutup pintu setelah Mempersilahkan Bima.


"Anin ada di dalam, lagi nonton TV dan telinganya Budeg tuh," terang ibu-mertuanya. "Coba besok kau ajak dokter THT."


Bima bersemu merah dengan kelakar ibu mertuanya. "Iya, Mah..." tanpa menunggu lagi Bima segera masuk dan menghampiri istrinya. Duduk disebelahnya. Dan istrinya masih saja acuh -atau pura-pura aja.


Dalam langkahnya nyonya Otis berhenti sejenak, "Bagaimana luka-mu? Sepertinya masih basah itu, yang di pelipis kiri?" katanya sedikit bergidik. "Kok sudah dibuka balutannya? Kan itu jahitannya juga belum kering." Imbuhnya.


Anin menoleh pada suaminya. –Ralat– pada luka jahit suaminya. Dan apa benar masih basah?


Nyonya Otis tersenyum, "Yasudah, mamah tinggal dulu ya, lagi masak Gudeg. Takut gosong." lantas melanjutkan kembali langkah kakinya.


Hening


Hening --- Suara iklan royko terlewati berganti adegan iklan shampo.


Jadi duta sampho lain..... (ketawa khas singer yang jadi model sampo itu)


Masih hening.


Dan iklan telah berganti dengan iklan Sprite.


Hai gais..pernah ngerasa..kalau sprite itu kaya ada lemon-lemonnya gitu….. sprite nyatanyaa nyegerin no bokis….


Bukalapak emang cincay.. harga santai... kagak lebaay....


Biasanya Anin akan auto ngakak atau memindah chanel kalau iklan ini muncul. Tapi kali ini ia membiarkannya dan menahan senyumnya setengah mampus.


Berlanjut dengan Layar Tivi yang kali ini menampilkan jargon iklan alat kontrasepsi laki-laki. Nyaman... seperti tidak...


"Masih sore begini, iklannya sudah ngajak ribut aja, Provokator tuh iklan." Gumam Bima Memecah keheningan.


"Iya," jawab Anin tanpa sadar.


Bima tersenyum, rupanya Anin sependapat dengannya.


"Heh, Bilang apa tadi?" ucap Anin dengan menatap suaminya.


Bima menggeleng dengan senyuman merekah di bibirnya.


Duh, manis banget sih. Anin pun balas tersipu.


"Kamu tega banget deh,Yang. Pak Gito kau tinggal di parkiran, Lupa ya?"


"Astaga!" Anin menepuk jidatnya. "Terus sekarang dimana dia?"


"Tuh, di depan sekalian saya ajak aja, tadi."


"Aduh, iya lupa banget aku deh," sesalnya.


"Lain kali, jangan suka kabur-kabur gitu  dong, sayang. Kami semua khawatir," Nadanya cemas.


"Kenapa?" Anin berdehem. "Takut jatuh miskin ya? Atau takut nyawa melayang?"


"Nggak Lah," elaknya.


"Coba mana sini, Aku lihat, lukamu?" Anin menarik kepala suaminya mendekat. Memeriksa dengan seksama. "Ah, sudah kering gini kok, Mamah ini, ngibul aja deh." buru-buru Anin melepas pegangan tangannya.


Anin merasa di bodohi dan dicurangi ibunya sendiri. Dan malu pada suaminya.


Sebelum sempat terlepas jauh, Bima segera meraih kedua telapak tangan istrinya. Dan menahan posisinya agar tetap Di Kepalanya.


Lalu...


Sebuah ciuman mendarat tepat di bibir tipis itu.

__ADS_1


Anin menatap suaminya protes.


Sekali Lagi sebuah kecupan ringan mendarat di tempat yang sama.


Anin mulai terserang sakit kepala dadakan, pandangannya kesana kemari tak tentu arah, menghindari tatapan intens suaminya. Karena selanjutnya ia tahu persis akan jadi seperti apa.


Bima kembali mengecup Bibir istrinya. Kali ini lebih pada ciuman panas yang syarat akan tuntutan. Dan selain membalas, Anin bisa apa... Karena dia juga merindukannya.


Suami istri yang tengah kasmaran -lagi- itu sampai lupa dimana sedang berada saat ini.


"Eeheem, eehh'eem…." lalu garuk-garuk kepala, salah tingkah sendiri. Anak dan anak menantunya berhasil membuatnya malu dan terpacing pada tengah malam begini.


Kalian keterlaluan. Jadi begini sambutan untuk orangtua yang baru saja pulang kerja! Kalian Luar biasa!! Kurang ajar ini namanya. Otis sampai perlu menepuk bahu anak menantunya, baru deh, mereka sadar.


Aduh….


Anin menyembunyikan mukanya. Sedangkan suaminya bergegas bangun lalu mencium tangan ayah mertuanya.


Otis kembali menepuk-nepuk Bima, "Sudah malam, Ajak istrimu masuk." Kemudian ia pun pamit masuk.


Bima mengangguk tak bersuara dan sekujur tubuhnya terserang rasa malu yang teramat sangat dahsyat.


Anin pun sama, tapi saat melihat ekspresi suaminya mendadak ingin tertawa. Namun ditahannya sekuat tenaga.


Mampus kamu, Mas, rasain tuh. Makanya jangan usil! Kena batunya kan?


Setelah puas memaki dalam hati Anin pun pergi ke kamarnya, meninggalkan suaminya begitu saja.


Ah, sial. memalukan! Maki Bima pada udara, dan bergegas menyusul istrinya.


***


Pintu kamar dibuka, Bima menerobos masuk dan mendapati istrinya tengah duduk menyisir rambut di depan cermin.


Tanpa perlu melihat siapa yang baru saja -hampir- menjebol pintu, gadis itu sudah tahu siapa pelakunya.


Bima menutup kembali pintu itu, lalu mengambil posisi duduk di ujung tempat tidur.


"Ada yang ingin kutanyakan?" tanya Bima


"Ya, tanyalah," jawab Anin masih dengan menyisir rambut.


"Apa tadi, Kau... dan Bintang -maksudku Kartika, apa kalian_"


"Ya, aku mendatanginya."


"Kenapa?"


Meletakan sisir dari genggamannya, "Kenapa? mas tanya kenapa?!!!" Anin berbalik menatap suaminya tajam.


"Sayang, jangan lekas marah, Saya cuma penasaran, itu saja."


Anin memutar pandangannya jengah, "Penasaran dengan apa yang telah kuperbuat pada pela__" Anin tak jadi melanjutkan kalimatnya, ia pun segera mengecilkan volume suaranya mengingat dirinya sedang tidak di rumahnya sendiri.


"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya? Siapa tahu bisa sekalian reunian!" nadanya sarkastik dan langsung membuat nyali suaminya menciut.


Salah, menanyakan itu sekarang, pikirnya.


Anin beranjak dari duduknya kemudian mengambil gaun tidur dari dalam lemari. Padahal ia ingin memakai celana pendek dan kaos saja kalau boleh. Tapi pasti ibunya ngomel-ngomel lagi.


Tanpa ragu dan malu-malu lagi, ia menukar bajunya dengan gaun tidur yang ia ambil tadi. "Karena sepertinya, 'Wanita-mu' sedang menunggu kunjunganmu dan malah aku yang berdiri di depan pintu apartemennya." celotehnya.


Bima membetulkan posisi duduknya sedikit lebih tegak. Pandangannya lurus pada sosok wanita yang tengah berganti pakaian.


"Apa kau berencana akan menemuinya lagi?" Anin mengikat rambutnya asal saja, menyibak anak rambut dengan tangan kiri. Dengan tangannya ia mulai membersihkan mukanya dengan kapas yang telah diberi cairan milk cleanser di depan cermin tadi.


Bima menggeleng. Susah payah Bima menelan ludahnya sendiri, selama ini ia tak pernah memperhatikan istrinya hingga sedetail itu.


Anin bukan tak sadar bahwa Suaminya tengah memandangi dan memperhatikan setiap gerakan yang ia lakukan. Ia sengaja. Sengaja sedang mempermainkan emosi laki-laki itu.


Selesai dengan urusan muka, Anin meraih kaitan Bra, lalu melakukan gerakan melepas benda itu dari tubuhnya dan menjatuhkannya asal.


"Apa arti gelengan kepalamu? Apa itu berarti kau berjanji, atau kau takut?" Merapikan rambut yang tak terbawa ikatan dan menyimpannya ke belakang telinga.


Sekali lagi, Bima menegapkan posisi duduknya, dengan tatapan masih pada objek yang sama.


Anin mengambil lotion dan mengoleskannya pada jari-jari dan lengannya, "Ada apa dengan mulutmu? tak satupun pertanyaanku Mas jawab."


Anin menaikkan sebelah kakinya pada kaki yang satunya lalu dengan gerakan yang sengaja -dibuat menggoda- ia mengoleskan lagi lotion itu, dari ujung kaki terus hingga bagian bawah pakaiannya tersingkap akibat gerakan itu.


Bima mulai terintimidasi.


Anin membalik posisi kakinya dan mengulangi gerakan dengan gerakan yang sama. "Apa perlu aku periksa, kalau-kalau ada sesuatu pada mulutmu, sehingga Mas ___"


Persetan dengan semua itu!!


Laki-laki itu bangkit dan meraih dagu istrinya, lalu menjadikan bibir gadis tu sebagai sasaran emosinya.


Anin tersenyum dengan tak bergeming. Aku akan merebutmu kembali.

__ADS_1


I got to have you , coz i love you


 


__ADS_2