
Bruaak!
"Opss!" pekiknya tertahan dan ia segera meletakkan kue yang sedang dipegangnya pada tempat kosong di atas meja.
Anin buru-buru berjongkok untuk merapikan majalah koleksi suaminya termasuk sebuah amplop coklat berukuran A4 yang juga ikut terjatuh bersama yang lainnya.
Kalau tidak cepat-cepat, bisa ngomel-ngomel dia.
Anin menyusun majalah itu jadi satu lalu meletakkannya kembali di atas printer. Dan memastikan semua persis tertata rapi seperti sebelum tersenggol.
"Oke, beress!!" Serunya dengan menatap sekali lagi tumpukan itu.
Dilihatnya ujung amplop itu menyembul keluar dengan sebagian isinya melambai-lambai, di dorong masuk tak bisa-bisa, terpaksa Aninpun menariknya dan menumpahkan semua isinya untuk ditata ulang.
"Minta banget di beresin kamu, ya.. nggak tahu apa ini buru-buru," dengusnya pada diri sendiri sambil menarik kertas itu.
Sejenis kertas dengan sebelah sisi permukaan yang licin menghadap ke bawah.
Anin membalik lembaran itu, "........."
Sekali lagi membolak balik kertas foto itu namun tidak ada tulisan yang bisa menjelaskan apa-apa. Hanya sebuah tanggal yang tertera di sudut bawah foto itu.
Anin terduduk lemas. Lututnya kepayahan untuk sekadar menumpu berat tubuhnya.
Tiba-tiba saja nafasnya sesak, dadanya terasa amat sakit.
Dengan pandangan yang mulai mengabur, selanjutnya ia membuka map yang berisi beberapa dokumen yang dapat memberatkan Abi serta seorang karyawan perusahaan yang diyakini pasti milik keluarga Abi.
Apa maksudnya semua ini.
Anin meneliti hingga ke buku tabungan atas nama wanita itu dengan sejumlah saldo masuk tiap bulan yang nilainya cukup untuk membuat Anin tak terima dan membelalakan matanya.
Lembar demi lembar ia teliti, mencocokan setiap waktu dan tanggalnya.
Pada akhirnya ia menemukan lipatan kertas yang terjatuh dari dalam salah satu halaman buku tabungan.
Dan semuanya menjadi sangat jelas.
Air matanya sudah tak dapat lagi ia tahan.
Sebuah kejutan manis yang ku siapkan untukmu, Menjadi sepahit empedu bagiku.
Kutipan pada part yang hilang,
Bima menarik kursi ke dekat Kartika. "Mari kita lakukan kesepakatan. Melindungi saksi itu dan kupastikan semuanya hancur atau kau pilih melupakan fakta bahwa Abi adalah adikmu pada urusan ini. Maka aku jamin Ayahmu, anakmu bahkan perusahaanmu, Aman!"
"ANAK KITA, MAS!! bentak Kartika.
"Ya... anak kita." akunya dengan berat hati. "Pikirkanlah!"
---Kejadian ini terjadi sehari setelah Bima mendatangi Kartika, dan sebelum Bima menemukan Anin.
Siang itu, Kartika menghubungi Bima untuk memintanya menemui dirinya di sebuah cafe.
Mulanya Bima menolak, namun setelah Kartika menyinggung soal kesepakatan, akhirnya ia pun mengiyakan.
"Mengenai kesepakatan yang kamu ajukan kemarin, sudah ku pikirkan matang-matang," Kartika memulai negosiasinya.
"Lalu?"
"Saya setuju. Setuju dengan syarat..---"
"Hei!! kau bukanlah pihak yang berhak mengajukan tuntutan," ucap Bim memangkas kata-kata wanita itu.
"Biar bagaimanapun, ini menyangkut darah daging kita," kata wanita itu seraya menyodorkan sebuah kertas.
"Apa ini?"
"Bacalah dulu," dengan sedikit gemetaran Kartika meneguk kopi dari cangkirnya. Rasanya ini salah, tapi aku harus. Walaupun seperti menjual anak dan menggadaikan adikku sendiri.
Kartika menekan kegundahannya dengan menarik nafas kuat-kuat.
Bima mengambil alih kertas yang berisi tulisan tangan kartika itu, lalu mulai membaca point demi point nya.
Point perjanjian :
Saya (pihak pertama)
Kamu (pihak kedua)
Pihak pertama (saya) akan mendapatkan sebagian saham perusahaan milik pribadi -bukan warisan- dan akan di atas namakan pada anak yang akan lahir kelak. Sebagai kompensasi tambahan, (pihak pertama) akan menerima keuntungan setiap bulannya terhitung dari bulan pertama hamil. Keuntungan akan diterima dalam bentuk deposito.
Demi menyelamatkan masa depan anak kita, Pihak kedua akan menikahi pihak pertama pada
Tanggal
Bulan
Tempat
Note: ini Untuk mencegah pihak lain memanfaatkan situasi kita, kita harus menikah.
Pihak kedua akan memberikan nama keluarganya untuk anak yang sedang dikandung pihak pertama, jika lahir nanti. Dan menjamin kehidupannya, memastikan keamanannya serta kesehatan dan semuanya dengan layak.
----
Bima mendorong kertas itu kasar, darahnya naik hingga ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Apa kau gila!!!"
Kartika yang nampak gelisah pun semakin blingsatan. Menahan gejolak dalam dirinya. Bahwa ini semua salah.
Ia merasa takut. Dan terancam oleh semua pihak. Bagaimana kalau sampai ayahnya tahu, apalagi kalau sampai para pesaingnya tahu.
Lalu ia harus minta perlindungan pada siapa? Sedangkan laki-laki yang dicintainya pun kabur entah kemana.
Sialan!!! Segalanya akan mudah jika dari awal ku gugurkan saja kandungan ini. Dan tidak mempercayai ******** itu akan datang menikahiku.
"Kita bisa mendiskusikannya, jika kau merasa keberatan. Itu baru konsep, jadi santailah...." ucap wanita itu sesantai mungkin dan berbanding terbalik dengan ekspresinya, Di balik meja ia meremas jari-jarinya resah.
Karena baginya tidak ada yang lebih menakutkan selain hidup terkurung tanpa kebebasan dan jatuh miskin.
"Jelas saya tidak setuju, perjanjian macam apa itu!!!"
Kartika menghela nafas, "Ingat lah, jika perselingkuhan kita sampai muncul ke permukaan, siapa yang akan lebih hancur?" Kartika menyandarkan punggungnya yang mulai terasa tegang.
"Perselingkuhan apa?!! Kita tidak...." kata-katanya menggantung. Sama-sama saling butuh. Simbiosis mutualisme katamu kan!!
"Pikirkanlah dulu, dengan kau menikahiku, maka aku merasa aman, dan niatku untuk membeberkan hubungan kita -pada ayahmu -keluargamu, pesaing usahamu pun bisa aku simpan."
"KAU BENAR-BENAR LICIK!!" maki Bima.
"Dalam hal ini, kita fifthy-fifthy. Ingat, Abi bukanlah permasalahan utama kita." katanya lagi.
Kartika mengulas senyum, "Kau tahu itu kan!? Akan lebih baik kalau kamu tidak usah ikut campur. Walaupun begitu, aku akan tetap menyerahkan Abi beserta bukti terkait lainnya, termasuk saksi kunci. Kalau kau masih menginginkannya, tentu saja."
"Seumur hidup saya akan menyesali diriku, yang pernah kenal dan jatuh cinta pada wanita macam dirimu!!!!" Geramnya dalam luapan emosi.
Kartika mengangkat bahu, "Semuanya sudah terlanjur terjadi dan aku punya cukup banyak bukti." ya, kepalang basah.
Bima terdiam cukup lama dalam kebimbangan dan kegalauannya.
Memikirkan apa yang akan terjadi, seandainya....
Seandainya...
Seandainya...
Dan
Kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi.
Ucapan Kartika ada benarnya.
Jika sampai skandal ini mencuat bukan hanya Kartika, dirinya juga akan hancur, belum lagi orang tuanya yang tergila-gila bahkan obsesi dengan yang namanya menjaga nama baik dan martabat.
Lalu bagaimana nasib rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk itu, jika istrinya suatu saat mengetahui dirinya menikahi wanita lain???!!
Kenapa jadi serumit ini!!! saya hanya ingin menyingkirkan laki-laki biadab itu. Dan harus terjebak dalam lingkaran setan seperti ini.
Kemelut kali ini sungguh menguras pikiran Bima.
Setelah menimbang untung ruginya akhirnya Bima menyetujui konsep itu.
Bima mengambil nafas dalam-dalam, semoga ini keputusan yang terbaik. "Dengan mengubah point ke tiga, menjadi: aku hanya akan bertanggung jawab pada anak itu jika terbukti itu adalah benar anakku, dengan melakukan tes DNA setelah lahir nanti. Tambahan point keempat, aku menikahimu hanya sampai anak ini lahir. Setelahnya kau boleh membawa anak itu pergi jauh-jauh." Katanya tegas.
"Aku yakin, dia bukan darah dagingku," ucapnya dingin. Sedingin cuaca kutub utara.
"Hahaha," wanita itu tertawa, dengan jenis tawa kesedihan. "Lalu, jika kau yakin ini bukanlah anakmu kenapa kau repot-repot menyetujui usulku ini,"
"Anggap saja untuk melunasi hutangku, atas perbuatanku di masa lampau, yang seharusnya waktu itu kulakukan."
"Aaah, yaa!! Bahkan kau bersembunyi dan enggan menemuiku," Saat itu pun, bukan kau yang seharusnya bertanggung jawab. Maafkan aku, Jika terlahir kembali akan ku pastikan, kaulah satu-satunya pria yang harus ku cintai.
Bima membetulkan posisi duduknya. Ia teringat masa dimana ia menjadi sangat rapuh dan pecundang sejati.
"Jadi, kapan kita akan melangsungkan akad-nya." Tanya Kartika.
"Kau atur saja. Dan saat itu juga kita akan menandatangani kesepakan kita."
"Oke, setuju!" Kartika mengulurkan tangannya. "Senang berbisnis dengan anda," tambahnya sambil menjabat paksa tangan laki-laki itu.
Prosesi akad nikah sederhana dengan dresscode dan dekor seadanya namun tetap terlihat mewah dan sakral, di langsungkan di sebuah kota kecil di Bandung, dengan disaksikan pengacara masing-masing sebagai saksi serta pak Lurah dan pak RT setempat berikut pak ustad yang bertugas menikahkan mereka sekaligus wali dari pihak perempuan.
Tukang foto amatir sengaja Kartika siapkan untuk mengabadikan moment itu. Untuk mengantisipasi kalau-kalau di kemudian hari terjadi sesuatu. Foto itu bisa dijadikan bukti.
Seolah dunia pun ikut berbahagia,
Jepretan yang pas di dapatkan oleh sang fotografer itu, moment ketika Bintang/ Kartika mencium tangan Bima, dan moment Bima mencium kening kartika Yang dilakukan dengan sangat terpaksa sebab desak kan para saksi dan pak ustaz -siapalah namanya- yang menikahkan mereka.
Dalam bingkai foto terlihat sepasang kekasih yang tengah tersenyum bahagia karena akhirnya mereka menikah.
Dan seperti itu pula yang Anin artikan dari sebuah foto yang ia lihat.
Bima sedang mencium kening Kartika dalam balutan jas, lengkap dengan peci.
Foto satunya lagi, suaminya sedang menjabat tangan pak -mungkin penghulu- dengan orang-orang di sekelilingnya dan wanita itu sebelahnya.
Lembaran kertas yang berisi konsep itu lah yang kini berada di tangan Anin.
Meski Anin belum mempercayai penglihatannya sepenuhnya, tapi cukup untuk membuatnya menyerah dan berhenti mengorek-ngorek rahasia suaminya.
Segalanya sudah sangat jelas.
Deposito.
Foto bertanggal.
Secarik kertas lengkap dengan sebuah tanggal yang sama dengan di foto.
Map berisi dokumen dengan logo perusahaan Kartika.
Seharusnya bukan itu yang kau baca Anin?? Suamimu tidak sejahat itu.
Dia hanyalah korban, sama sepertimu.
Apa lagi??
Apalagi yang harus diketahui??
Semua sudah jelas.
__ADS_1
Anak itu anaknya!! Darah dagingnya, dan mereka telah menikah.
Demi anak itu.
Hingga ke detail kekayaan, wanita itu sudah mengurusnya jauh-jauh hari.
yang seharusnya hanya akan menjadi milik anak-anak sahnya.
Selidiki dulu, kebenarannya Anin. Mengingat wanita itu bukan wanita baik-baik.
Ya.. aku akan menyelidikinya.
Dan ingat, jika tak ingin jadi janda kau harus apa.
Ya!! Aku akan menyimpannya hingga ke dasar hati.
Anin menyusut air matanya, menghapus bekas-bekas di wajahnya.
Mengatur tarikan nafasnya yang masih tersedu.
"Sepertinya perlu mencuci muka. Haaah…." gumamnya. Dengan mengeluarkan nafas panjang dengan harapan dapat mengurangi rasa sesak dadanya.
Anin mengubah rencananya, yang semula akan memberitahukan hasil USG siang tadi -sebagai kabar gembira, kini ia batalkan.
Semula ia akan memberikan berkas serta bukti foto bahwa Kartika dulu berselingkuh dengan sahabat Bima semasa SMA hingga hamil, tapi kemudian ia urungkan juga.
Percuma.
Dengan atau tanpa masa lalu itu, kejadian itu telah terjadi dan terulang kembali.
Biarlah malam nanti kita lakukan bagian tiup lilin saja dengan sedikit sandiwara tentu saja.
Gadis itu segera mengembalikan dokumen dari tangannya lalu merapikannya seperti sedia kala.
Ia mengambil ponsel, lalu mengirimkan picture yang ia ambil sebelum merapikan dokumen itu.
Detik berikutnya ia menghubungi orang yang sama yang kemarin ia gunakan jasanya untuk mencari tahu tentang kasus Abi.
"Ha--llo, pak. Ya, pa--k tolong kau cek dan cari tahu, apakah foto yang barusan saya kirim itu asli atau tidak. Saya tung--gu secepat-nya," ucapnya terbata-bata, walaupun telah sekuat tenaga agar tidak terdengar bergetar dan sengau sebab ia menahan tangis tapi toh si penerima telpon mampu menebak dengan benar.
Segera ia akhiri telpon itu ketika suaminya tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
***
Pukul 00.00 wib, ketika suaminya masih terlelap Anin menjalankan rencananya.
Dengan susah payah menahan tangis dan menyulap ekspresinya se sumringah mungkin.
Anin nenatap lekat-lekat wajah polos suaminya yang tengah tertidur.
Semakin lama ia pandang semakin dalam rasa sakit yang dia rasakan.
Semakin ia menyadari rasa cintanya, semakin lebar luka di hatinya.
Apa yang telah kulakukan...dunia dan seisinya pasti menertawakanku saat ini...
Apa sebenarnya yang sedang ku perjuangkan....
Seandainya alarm tidak berbunyi tepat waktu. Mungkin sudah jebol pertahanan dirinya. Marah sejadi-jadinya. Menangis sejadi-jadinya.
Kali ini sandiwaranya terselamatkan.
Anin masih mematung dengan sebuah kue di tangannya lengkap dengan cahaya lilin yang terombang-ambing.
Persis seperti dirinya saat ini.
Sebuah panggilan alarm mengembalikan fokusnya, begitu juga suaminya yang ikut terbangun.
"Hai... se-la-mat ulang tahun sayang," ucapnya terbata. "Semoga dengan bertambahnya usia, kamu_____" doa apa yang harus ku panjatkan untukmu saat ini mas!!??
"Ya ampun, sayang… saya malah lupa," teriak Bima girang.
"Ayo, make a wish. Terus tiup apinya."
Bima mencium kening, hidung serta bibir istrinya bergantian, "...makasih ya sayang, doaku: semoga keluarga kita selalu bahagia, dengan kamu yang selalu mencintaiku dan kamu lah wanita terakhir untukku...akan ku buktikan, bahwa segalanya akan lebih baik dengan Bima yang terlahir kembali, pria ini yang sangat mencintai istri dan keluarganya." Kata nya penuh keyakinan. "Ayo kita tiup sama-sama."
"Satu, dua, tiga...."
Fuuuh.....
Pada detik api padam saat itulah air mata wanita itu menetes. Tak kuasa menahan haru dan sakit mendengar doa yang diucapkan tanpa beban.
Untung saat itu suasana gelap gulita sebab sumber cahaya satu-satunya telah padam.
Ia pun segera menyusut air mata dan ingusnya, sebelum lampu utama dinyalakan untuk melanjutkan sesi potong kue dan suap-suapan.
"O iya, maaf yaa mas, aku nggak sempat cari hadiah untukmu." Sambil meletakkan kue di atas nakas supaya Bima bisa leluasa memeluknya.
"Kalau begitu, tukar saja hadiahnya," godanya sambil terus menciumi wanita dalam pelukannya itu, jemarinya pun sudah beredar menjelajah istrinya. "Sekalian kita tengokin anak kita, bagaimana...?" Kelakar Bima yang terdengar menyakitkan bagi Anin.
"Maaf mas, seharian tadi banyak banget kegiatan di rumah sakit." elakk Anin.
Bima sedikit kecewa, tapi iya juga tak mau memaksakan keinginannya. "Kamu capek ya? Mau aku pijat tidak?" Tiba-tiba muncul ide brilian untuk memijat istrinya.
"Nggak usah mas, kita tidur lagi aja yuk... pegal-pegal nih ototku." Sambil melepaskan diri.
"Yasudah, kalau begitu." Ucap pria itu lagi. Tanpa menutupi kekecewaannya bahwa tawaran pijatannya di tolak.
Padahal ia berharap dengan di pijat mungkin saja Anin menjadi bergairah.
Bima mematikan lampu utama, diganti dengan lampu tidur remang-remang kemudian berbaring di sebelah istrinya yang sudah lebih dulu terbaring.
Mungkin dia benar-benar sangat lelah.
Mari kita tidur.
Anin pun menangis tanpa suara dalam tidurnya. Ia sadar, di madu ataupun di racun rasanya sama saja.
Sama-sama sakit dan menyakitkan.
****
__ADS_1