
Satu jam sebelumnya…..
.
.
Mbok Jum gemetaran ketika menaruh Jus Alpukat yang dibawanya ke hadapan Anin. Rasanya tak tega namun ia tak kuasa melawan perintah Tuannya. Dan mbok Jum tak habis pikir, kenapa Bima berubah menjadi temperamental dan pada istrinya dia menjadi begitu tega, juga begitu peduli disaat yang bersamaan.
Orang bilang jika terlalu menginginkan juga tidak baik. Dan seiring berjalannya waktu akan berubah menjadi sebuah obsesi.
Dan begitulah kira-kira yang dirasakan mbok Jum, bahwa cinta Bima pada istrinya sedang berubah menjadi sebuah obsesi untuk memiliki. Entah karena apa mbok Jum juga kurang paham. Yang jelas jika dibiarkan maka akan jadi sebuah penyakit yang berbahaya.
Setelah mbok Jum diminta membersihkan kamar mereka dari serpihan-serpihan kaca pintu yang berserakan. Kali ini mbok Jum diminta untuk mengantarkan jus alpukat yang khusus dibuat oleh Bima untuk Anin yang mbok Jum lihat dengan mata kepala sendiri, minuman itu telah dicampur sesuatu namun entah apa.
"Paling tidak kau minum jus alpukat itu. Spesial simbok buatkan untukmu." Ucap Bima di sela-sela mengunyah makanannya.
Tanpa suara Anin kemudian menyambar gelas di depannya itu dan segera meminumnya karena memang tenggorokannya terasa kering.
Sebentar-sebentar Bima melirik istrinya yang sedang duduk tanpa ekspresi di depannya.
Maafkan aku sayang!! Aku terpaksa, dan Ini pelajaran buatmu Agar kau ingat statusmu sebagai seorang istri.
"Kenapa? tidak enak jus nya?" tanya Bima ketika melihat gelas istrinya.
Anin menatap suaminya sekilas. Lalu meminum kembali sisa jus nya hingga habis.
Bima tersenyum. Good honey, habiskan. Lalu kembali menyuap makanannya.
Beberapa menit kemudian..
Anin merasa pusing dan kepalanya terasa berat. Tubuhnya terasa ringan.
Anin mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa ini! Kenapa gelasnya berputar-putar. Kenapa lemari itu menjadi lebih panjang. Aduh.. Ada apa dengan kepalaku?! Atau Mungkin aku butuh istirahat.
Lalu Anin beranjak dari tempat duduknya, hendak meninggalkan suaminya, Namun justru suaminya lah yang menangkap tubuhnya ketika jalannya sempoyongan hampir terjatuh. Terpaksa Bima merangkul Istrinya hingga ke kamar mereka.
"Terima---kasih maas.." ucap Anin.
Bima mengangguk santai, "Sama-sama, sayang."
***
Sepanjang malam itu, Anin tidak ingat betul apa yang terjadi. Pagi harinya Dia didera kebingungan yang tak biasa. Anin berusaha mengingat-ingat lagi berharap dapat sisa-sisa ingatan namun ternyata nihil. Usahanya tidak menghasilkan apa-apa terkecuali kepalanya yang masih pusing semakin bertambah pusing.
Dan Seperti hari-hari sebelumnya pada beberapa minggu terakhir, Anin menemani suaminya sarapan tanpa percakapan yang berarti.
Hanya obrolan sapaan singkat. Tapi paling tidak pagi ini ada sedikit percakapan. Pikir Anin.
Walaupun suaminya telah sedikit melembut. Namun di urungkan juga niat Anin untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Dan kenapa pagi tadi Anin terbangun dalam kondisi memakai kaos longgar milik suaminya, Namun pakaian dalamnya masih utuh menempel semua. Dan ketika berhias di depan kaca, Anin mendapati tanda merah begitu jelas pada bagian lehernya dan ia yakin pasti itu ulah suaminya. Akan tetapi Anin enggan menanyakannya. Terlalu malu apabila ternyata semalam tidak terjadi apa-apa dan itu hanya sekedar perbuatan iseng suaminya.
Dan nanti Bima kira, Dia mengharapkan sesuatu terjadi.
Apa yang telah dilakukannya??? apa mungkin semalam kita?! astaga!! apa aku sudah gila!? Mana mungkin.
Buru-buru Anin menepis jauh-jauh pikiran yang membuat wajahnya merona. Apa sebenarnya yang diharapkannya??
Namun biar bagaimanapun, aku wanita normal dan yang kubayangkan adalah suamiku sendiri. Apa salah???! dan hal itu terasa sudah begitu sangat lama. Terakhir tidak masuk hitungan itu perlakuan kasar.
Anin menatap curiga pada suaminya. Dan yang dicurigai pura-pura tidak tahu menahu. Terkecuali sorot bahagia yang tertangkap oleh mata istrinya.
Terimakasih!! Jangan kepedean. Au tidak akan menanyakan nya.
Dan terpaksanya, Ani harus menutupi tato abstraknya itu dengan usaha ekstra.
Bisa habis digodain suster Ida.
__ADS_1
***
Hari ini rencananya Anin ingin menemui Mika. Sejak kemarin dia tidak melihat sahabat gilanya itu.
Dan karena malam nanti resepsi pernikahan dokter Abi dan sekalian pesta pertunangan dokter Firman. Jadi, Anin ingin memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Mima baik-baik saja.
Anin melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata. Sepanjang perjalanan Anin masih berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Dia nggak mau dibodohi suaminya lagi.
Dan sikapnya pagi tadi begitu mencurigakan. Tidak marah tidak juga ramah tapi tidak dingin seperti biasanya. Dia terlihat bahagia.
Dan haruskah nanti malam ke pesta dengannya?? pikir Anin
Tanpa sadar Anin menekan tombol dan mencari nama suaminya disana namun di urungkannya lagi.
Malu!!!
Dan akhirnya, ketika Mobilnya sampai di parkiran Anin memutuskan untuk mengirim pesan kepada suaminya.
Tanpa menunggu lama pesan balasan langsung di terima oleh Anin.
[Oke, Nanti saya temani ke acara itu.]
[Bersiap-siaplah, dandan yang cantik.]
[Saya jemput pukul tujuh. Miss you]
Anin tersenyum tanpa ia sadar. Bahkan, sebab kenapa ia tersenyum pun ia tak tahu.
Ketika membaca pesan dari suaminya, Anin hanya berharap hubungan dengan suaminya kembali romantis hangat penuh cinta. Mudah-mudahan.
Anin berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya terasa begitu ringan. Beban di pundaknya terasa lebih ringan. Paling tidak, rasa bersalahnya sedikit berkurang karena menolak Firman waktu itu.
Sepertinya mood dokter Anin sedang bahagia, ucap salah satu petugas cleaning.
Anin menyambangi ruang poli praktek dokter Mika, berharap dia ada disana. Namun yang dicari justru nihil.
"Dokter Mika izin tidak masuk, Dok. Ada keperluan keluarga katanya." Ucap perawat jaga.
Dan Anin buru-buru mengambil ponselnya. Menyentuh layarnya untuk melakukan panggilan telepon.
Setelah tiga kali mencoba menghubungi sahabatnya akhirnya percobaan yang ke empat berhasil tersambung.
"Hallo, hai..Mik, are you okay??"
"Im ok! Why honey??"
"Perawat bilang, kamu ijin, kenapa???"
"Aah, iya gue keluar kota dari semalam, begadang bareng Abi."
"Ooh...whaaaattt!!!!! Are you kidding me???"
"Oops! sorry for your heart."
"Are you crazy, Mikayla??!!!! Nanti malam pesta pernikahannya dan kalian....oh my god!!! Demi tuhan Mik, kalian benar-benar gilaaaa!!!!!"
Dan hanya gelak tawa yang terdengar dari seberang sana. Lalu Anin menutup panggilan teleponnya.
Rupanya sia-sia juga mengkhawatirkan sahabat gilanya itu dan mereka benar-benar gila.
Dan bagaimana kalau sampai sahabatnya mendapat masalah?!
Ya tuhan, Mika!
Cinta bisa membuat orang gila itu ternyata memang benar.
Anin menarik nafas frustasi lalu melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
****
"...dari siapa? Sepertinya kabar bahagia?" Ucap seseorang yang enggan beranjak dari pangkuan Bima sambil bergelayut manja.
Bima memasukan lagi ponselnya ke dalam saku celananya. "Ooh, dari istriku. Dia minta ditemani ke acara pernikahan temannya nanti malam."
Bima menyapu sekilas bibir merah wanita yang duduk dipangkuannya dengan jarinya lalu mengecupnya.
"Kenapa? Kamu cemburu??" Tambahnya lalu mulai memagut bibir itu lagi.
Bintang melepaskan pagutan Bima. "Of course not. I enjoy our relationship like this. Simbiosis mutualisme, hehe."
"Ck! Masih juga belum berubah, mau sampai kapan kamu seperti ini. Tidak adakah laki-laki tampan yang mampu menyeretmu ke pelaminan?"
"Hahaa... buat apa?? Agar terikat dalam ikatan dan terkekang selama sisa hidupku!! its not good idea."
"Tapi, saya tidak bisa selamanya seperti ini. Kau tau, saya begitu mencintai istriku."
"Iya, tapi kau juga membutuhkanku, apa kau lupa?"
Lalu Bintang mulai mencium kembali bibir lelaki itu. Laki-laki yang dulu tergila-gila padanya.
Bintang mulai melonggarkan dasi membuka kancing kemeja Bima satu persatu dan berhenti setelah dirasa cukup muat untuk menelusupkan jari tangannya kedalam dada bidang milik Bima dan mulai merabanya. Merasakan bulu-bulu halus yang tumbuh menutupi permukaan kulit Bima.
Bima mengerang atas perlakuan Bintang padanya dan melepaskan ciuman mereka.
"Stop it! Kita masih di ruang rapat."
"So, apa kita perlu ke apartemen seberang? Apa itu maumu boy?" Goda Bintang.
"Hhmm..." Bima membopong Bintang lalu membaringkannya pada meja rapat yang cukup lebar. "Kau ini, laling bisa merayu." Keluh Bima pura-pura kesal.
Bintang merangkul bahu dan menarik leher Bima mendekat. "Dan kau, paling tidak bisa berkata tidak padaku."
"Tunggu sebentar," Bima meraih telepon pada sudut meja rapat.
"Hallo, yaa.. saya sedang ada diskusi penting di ruang rapat. Tolong jangan ganggu untuk satu jam kedepan, mengerti??!" Lalu Bima menutup kembali telpon itu.
Bintang menahan senyumnya lalu bangun terduduk. "Diskusi penting?? Apa seperti ini bisa disebut diskusi!!" Bintang menarik kasar ikat pinggang Bima.
"Woow, woow... please slowly ladies. I will not go anywhere. Dan kita punya satu jam." Jawab Bima.
"i'm only have fifteen minutes away." balas Bintang singkat. Dan selanjutnya dengan sekali hentakkan, celana itu merosot hingga ke lutut.
"Ooh, dear... please... sloo--wwly." Tenggorokan Bima serasa tercekat dan tubuhnya terasa ringan melayang-layang seperti kapas. Hal yang belum pernah didapatkan dari Anin dan selalu diberikan oleh Bintang.
"Hhmm.." ucap Bintang tanpa menghentikan aktivitasnya.
Setelah merasa puas bermain dengan bos kecil. Bintang lalu menarik diri dari bawah sana dan mendorong Bima hingga terduduk pada salah satu kursi putar disana lalu Bintang mulai menyatukan dirinya. Dan tanpa sungkan mulai bergerak liar.
Semakin lama semakin liar dan terasa panas terbakar ruangan rapat itu dengan aroma khas sensual.
Tak mau kalah, Bima mulai menjelajahi Bintang dengan mulut dan tangannya. Hingga wanita itu terbang dan meraih bintang-bintangnya. Tak lama Bima segera menyusulnya.
"Kamu memang luar biasa." Bima mengecup kecil pipi itu.
"Tentu," Bintang segera bangkit kemudian berjalan menuju kamar kecil yang terletak di belakang kursi tempat mereka melakukan 'diskusi-penting' itu lalu membersihkan tubuhnya serta merapikan pakaian dan make upnya.
Bima sedang membetulkan kembali dasinya ketika Bintang keluar dari toilet itu dengan kecantikannya. "Sudah mau pergi? Tidak makan siang dulu? Atau mau saya antar. Kemana??" Ucap Bima menawarkan diri.
Bintang Menilik arloji. "No, thank! Nggak keburu. Aku ada presentasi dengan pengembang di Kemang dan langsung ke Bandung. See you next time beb. Semoga malam mu menyenangkan. Bye…." pamit Bintang.
Lalu kemudian berlalu meninggalkan Bima yang bahkan masih belum tenang irama jantungnya.
Bagaimana ini?? apa Bintang tidak menyadarinya. Bagaimana kalau sampai…. Aahh!! Sudahlah.
__ADS_1
***