Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Nuansa Bening


__ADS_3

Bima kembali tersenyum sendiri, mengingat kejadian hari itu. Betapa tololnya ia di depan dokter Wisnu. Suami macam apa yang telah menelantarkan istri dan calon anaknya demi wanita di masa lalunya yang entah belum jelas mengandung anak siapa.


Yang kalau menurut -perhitungan- Dokter Wisnu, lima puluh persen kemungkinan benarnya bahwa usia kehamilannya tidak sesuai dengan fakta-fakta yang Bima jelaskan.


Tapi dokter tetap menyarankan agar dilakukan tes DNA untuk memperkuat praduganya.


Untuk sementara kamu fokus saja dulu dengan Anin dan kehamilan nya. Begitu saran dokter Wisnu padanya, sesaat sebelum ia berangkat menyusul kesini.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun, Bima sangat bersyukur, karena ia segera disadarkan dan diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.


Saya tidak akan menyia-nyiakannya lagi, sebab saya sangat mencintainya.


***


Anin terjaga ketika hidungnya terganggu oleh aroma menyengat masakan. Tumben sepagi ini Imas sudah masak pikirnya.


Dilihatnya jam yang tergantung di sudut kamar nya. Baru setengah enam pagi. Dan udara masih terlampau dingin untuk memulai aktifitas.


Anin tidak jadi menarik selimut berharap dapat melanjutkan mimpinya, ketika perutnya bereaksi dengan bau –entah masakan apa– yang sedang dimasak Imas. Justru kamar mandi lah tempat tujuannya sekarang.


Setengah berlari Anin menuju kamar mandi, Melihat sekilas ke arah dapur. Sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya.


Masih pagi begini, cari penyakit.


Anin sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi. Selain lemas, ia juga malas keluar dan melihat muka-nya.


Membayangkannya saja membuatku mual!


Tok, tok, tok.


"Sayang, apa kamu baik–baik saja?!" tanya Bima panik. Setelah beberapa saat di tungguinya, namun Anin belum juga keluar.


"...." Anime reflek menutup mulutnya sendiri. Persis buronan yang sedang bersembunyi.


"Sayang, Buka pintunya dong...." Bima kembali mengetuk-ngetuk pintu, "Are you okay? Kok lama amat di dalam?"


"_______ " okey, okey pala Lu!


"Saya dobrak nih, Kalau dalam hitungan ketiga kamu belum juga keluar." ancam Bima. Bukan apa-apa, dia hanya khawatir. Takut terjadi apa-apa.


Anin mengehela nafas kesal! Dibukannya pintu itu dan kemudian menghambur keluar begitu saja.


Anggap saja tidak ada orang.


Anin duduk-duduk di depan teras. Pagi hari yang selalu indah dengan udara dingin yang menusuk pori-porinya.


Bima mengekor di belakang dan ikut duduk di sebelahnya tanpa diminta.


"Udara di sini masih segar, ya?" tanya Bima iseng-iseng. Siapa tahu dapat respon. Dan rupanya Bima harus menelan kekecewaan ketika wanita di sebelahnya hanya duduk diam menatap jauh kedepan tanpa sepatah kata.


Yaelah, di kacangin.


Anin melipat kedua tangannya dan menyimpannya di depan dada. Cuaca disini memang selalu dingin di setiap paginya -apalagi kalau musim hujan-, baru sekitar jam sepuluh udara mulai sejuk menghangat. Mungkin pengaruh geografis dan berdekatan dengan gunung ciremai kali ya... pikir Anin, yang setiap kali ingin menanyakan hal itu selalu lupa.


Melihat Anin kedinginan, insting kelelakiannya keluar. Tanpa perlu meminta persetujuan lagi, Bima kemudian merangkul bahu wanita itu dan membawanya ke dekatnya.


Secepat kilat juga, Anin melepaskan diri dari lengan pria yang telah beberapa kali menyakiti dirinya. Kemudian ia berdiri dan meninggalkannya.


"Nasib...nasib..." katanya.


Kemudian merebahkan diri di lantai yang juga tak kalah dinginnya dengan sikap Anin padanya.


Di dalam kamar, Anin kembali menangis merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia berharap suaminya akan mengejarnya. Hingga akhirnya ia kembali terlelap di antara tangisnya.


Setengah delapan Anin terjaga, dan dia melewatkan ritual mengawinkan bunga anggreknya. Melupakan kebun nya.


Huh! Kenapa bisa kesiangan bangun. Kenapa nggak di bangunin. Kemana si Imas?


Anin bergegas ke kamar mandi.


Secepat kilat ia menyiapkan diri, sedikit polesan lipstik ia tempelkan di bibirnya. Kemudian memakai bedak tipis-tipis saja. Tak lupa menyisir rambutnya lalu mengikatnya serupa ekor kuda.


Okey! Beres. Mari kita lihat ada apa di dapur. Gumamnya pada perutnya.


Anin menautkan kedua alisnya, heran. Diambilnya secarik kertas yang ditindih dengan gelas berisi air putih.


Hai, sayang, -calon- jagoan papah.... Apa kabar hari ini?


Mau sarapan apa pagi ini?


Sudah papah siapkan sop buntut, ada bubur kacang hijau juga. Atau mau nasi goreng Spesial buatan papamu ini? Roti selai kesukaan juga sudah siap.


Ucapkan selamat pagi juga buat mamah-mu ya, bilang kalau papah kangen. Bilang juga jangan ngambek terus, ntar cepet tua, jelek, keriputan.


Ingetin juga agar di minum susu-nya.


Usahakan jangan buat mamah repot yaa sayang, kasian...


Sebentar papah mau pergi dulu, sore nanti kembali lagi untuk memastikan kamu dan mamamu makan dengan benar.


Selama papah pergi, kamu – lah yang harus jagain mamah.


Oke jagoan?!! Ingat kalau mamamu bandel, jewer aja telinganya. Bilang atas perintah papah.


____ Love _____


Anin menilik semua makanan yang tersaji di meja. "Pemborosan." Gumam Anin.


Pemborosan sih pemborosan tapi tetap saja tanpa sadar Anin tersenyum memandangi semuanya.


Sudah barang tentu ia merasa bahagia, merasa spesial dan merasakan keintiman suaminya. Hanya saja ia masih menyembunyikannya di balik sikap dinginnya. Tidak sekarang. Ingat tujuanmu Anin!


Lekas-lekas Anin menyambar roti selai dan segelas susu dari atas meja. Kemudian membawanya ke dalam ruang kerjanya. Biarlah sarapan di dalam saja. Jangan sampai pasien-pasiennya terlantar karena kelamaan menunggu dokternya.


Di dalam ruang praktek, Imas sedang merapikan kertas dan beberapa bungkus plastik obat.


Menyadari kehadiran Anin -yang terlihat lebih ceria pagi ini– menurutnya. Ia pun segera mendekat dan menggodanya.


"Hihiy, eta si akang meuni romantis nya, Dok." ucapnya. "Buatin sarapan sagala. Imas sampe kaget, siapa pagi-pagi sibuk di dapur. Kirain malaikat nyasar." Imbuhnya dengan tawa yang berderai-derai.


Anin merona dan gagal menyembunyikannya dari tatapan Imas. "Kenapa tidak bangunkan saya?!" tanya Anin pura-pura marah. Bukan ekspresi marah yang nampak, justru rona bahagia yang keluar.


"Euleuh, euleuh... yang pagi-pagi dapat surat cinta mah beda euy, meuni sumringah, cerah cerianya beda, nya... haha." Godanya lagi. Dengan tawa mengudara ke seluruh ruangan.


Mukanya yang sudah merah, semakin matang merahnya dibuat assistant itu. "Buruan ah, Pasiennya mana?" tanya Anin mengalihkan topik.


Sebulan lewat,


Anin merasa hidupnya tak lagi tenang, selalu mengalami gangguan kingkong -Bima- yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dengan hubungannya.


Bima masih bertahan dengan kesabarannya menghadapi dirinya, masih dengan keanehan–keanehan yang dibuatnya, serta masih dengan ke lebay-annya memperlakukan istri dan calon anak-nya yang sering kali membuat Anin meradang.


Belum lagi kehebohan yang ditimbulkannya akhir-akhir ini. Hampir kewalahan Anin menghadapinya. Sampai-sampai Ia menyumpah serapahi dokter Wisnu yang telah memberitahukan keberadaannya disini.


Bagaimana tidak, hampir semua isi perabotan dari toko di boyongan ke rumah Dinas yang ukurannya tidak lebih besar dari kamar tidur di apartemen mereka.


Kini rumah mungil yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, dua kamar mandi itu penuh sesak oleh barang-barang elektronik terbaru. Belum lagi sepeda motor yang ditinggalkan Bima, alasannya supaya bisa di pakai Imas kesana kemari. Dan ketika ada orang dari sebuah toko hendak memasang AC, akhirnya Anin mengeluarkan ultimatum yang selama ini hanya di dalam mulutnya.

__ADS_1


Gadis itu tiba-tiba membelalakkan matanya. "Kau ingin membuatku mati membeku?!" Bentaknya.


"Bukan begitu, Sayang...., Walaupun udara disini sejuk, tapi tetap saja panas menyengat kalau siang hari. Saya nggak mau kamu kegerahan...."


Anin menggeleng cepat. "Aku tidak butuh! Bawa saja semua barang-barangmu! Atau Aku yang akan membawa diriku pindah dari sini!" ucap Anin berang. "Dan bisa aku pastikan, kamu tidak akan bisa menemukanku!!"


"Oke, oke, Okee...... segala permintaanmu akan saya lakukan. Tapi, Please jangan menghilang -lagi- kau boleh berlaku sesuka hatimu, tapi tolong jangan kau Jauhkan Saya dengan Calon anakku." Ucapnya getir menahan emosi.


Jadi semua hanya karena anak! Oke...


"Sudah ku katakan berapa kali, INI BUKANLAH ANAKMU!!"


"Anin, Please..." ucapnya memohon. "Kau boleh membenciku hingga ke sumsum tulangmu, tapi jangan kau larang Saya untuk peduli pada kalian...."


"Tak perlu berlaku baik padaku, Tak perlu kau tunjukkan perhatian palsumu. AKU MUAK DENGAN SEGALA TENTANGMU!!" teriak Anin yang kemudian berlari ke kamar. Hampir saja ia menabrak kursi sebab pandangannya kabur tertutup air mata.


Untungnya Imas tengah keluar rumah, nonton pertunjukan bersama ibu-ibu arisan. Sehingga Anin maupun Bima tak perlu sungkan kepadanya.


Bima menyusul gadis itu ke kamarnya. Dan aroma ruangan itu membangkitkan gairahnya.


Persis seperti aroma pada malam pertama pengantinnya. Aroma rumput bercampur tanah basah dan Aroma Mint entah dari mana. Dejavu.


Suasana kamar pengantin yang tak terlalu mewah. Sebab sudah penuh sesak dengan barang-barang istrinya semasa gadis.


Foto gadis cantik mengenakan seragam SMA menggantung disana, yang kini telah syah dipersuntingnya.


Bima tersenyum ketika mengingat betapa malangnya dirinya, di tinggal tidur begitu saja, di malam pengantinnya.


Bima kembali menatap lekat-lekat istrinya yang sedang menangis membelakanginya. Bahunya naik turun seirama dengan tangisannya.


Bima merebahkan dirinya pada sisi ranjang yang tersisa sedikit. Kalau saja Anin bergerak maka sudah dapat dipastikan Bima akan terguling.


Bima memeluk istrinya yang masih terisak. Sekuat apapun berontak, Bima tetap bertahan pada posisinya dan tak membiarkannya lolos dari dekapannya.


Hingga akhirnya mereka sama-sama tertidur, dan untuk pertama kalinya berada dalam satu ranjang setelah dua bulan mereka tidur terpisah.


Bila raga bersatu maka hati bertaut.


Kamu adalah cahaya, 


kamu adalah malam


Kamu adalah warna darah


Kamu adalah obat


Kamu satu-satunya hal yang ingin ku sentuh


Setiap inci kulitmu adalah abu suci bagiku


Kamu satu-satunya hal yang ingin aku sentuh


Untuk mengobatiku..


Lihatlah mataku..


Beritahu aku...


Mintalah padaku, 


Sebanyak yang kamu mau...


Maka kamu akan tahu...


Sebesar apa rinduku


Seburuk apa keadaanku


Seluas apa ketakutanku...


Separah apa rasa sakitku...


Kamulah obat dari sakitku...


____


Cintamu adalah sebuah kesakitan


Tidak ada yang menandingi rasanya.


Jika penyesalan dan kesalahan adalah bagian daripadanya –cinta–


Lalu, Apa artinya sebuah kepercayaan...


Jika luka dan bahagia adalah dua mata pisau cinta


Kebenaran dan kesalahan, adalah jalan pilihan untuknya


Dan kemana akan kau arahkan salah satu ujungnya… Sedangkan cintaku saja kau gadai di pintu neraka


Lalu, siapa yang mampu mengukur bagaimana rasa sakitnya...


Katamu, Milikku adalah milikmu,


Sakitku adalah sakitmu....


Janjimu...


Sebelum kau sentuh seluruh hatiku


Sebelum Memporak porandakan pertahananku


Dan kau katakan padaku


Aku akan menjadi cinta terakhirmu


Kau dan aku


Itu yang kamu katakan padaku....


Dan aku benci 


menyerahkanmu


Aku benci  memaafkanmu 


Aku Benci membebaskanmu..


Namun itulah hukumanmu


Rasa kehilangan harapanmu bahkan belum -sebanding dengan rasa sakit- ku 


Simpan saja maafmu 


Sebab


Setiap kali mendekat kau juga menumpahkan air mataku

__ADS_1


Aku ingin tanpamu


Tanpamu...


Mari kita akhiri semuanya..


***


Anin diam saja melihat Bima tengah asyik memainkan kunci mobilnya.


Kecanggungan di ruang tengah terasa hingga ke kamar sebelah. Namun imas tidak ingin mengganggu kenyamanan disana dengan melibatkan dirinya diantara keduanya.


Baik Anin ataupun Bima tidak ada yang berniat membuka suara. Semuanya asyik dengan pikirannya.


Bagaimana mereka bangun pagi tadi dalam satu ruangan yang sama, berbagi ranjang yang sama dengan sisa-sisa kehangatan yang masih terasa sampai saat ini.


Sesekali Bima melirik ke arah istrinya yang masih enggan menatap ke arahnya.


Seharusnya, sore ini jadwal pemeriksaan kehamilannya, tapi bagaimana Bima akan mengajak Anin untuk pergi ke dokter kandungan sedangkan memandangnya saja gadis itu enggan.


Bima menghela nafasnya.


Perutnya sudah nampak sedikit menggembung dan semakin menggemaskan. "Jam berapa kita akan pergi..." katanya.


Anin menoleh sinis ke arah suara, sebentar kemudian menatap ke arah lain lagi.


"Biarkan saya mengantar kalian, karena sepertinya hujannya sudah di formalin."


Benar juga pikir Anin. Sudah satu jam ia menunggu, bukannya reda malah  semakin lebat.


"Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Bima.


"Tunggulah, Aku tukar baju dulu." Anin berdiri secepat ia menghilang di balik pintu kamar.


****


Sore itu antrian dokter kandungan lumayan padat.


Anin dapat nomor antrian tiga dua, padahal ia sudah pagi-pagi sekali menelpon bagian pendaftaran.


Dari siang hujan turun deras dan belum ada tanda-tanda akan berhenti, heran juga, kenapa hujan turun disaat musim kemarau, belum lagi udara kian dingin menusuk tulang sebab hujan tak kunjung reda.


Anin duduk pada kursi panjang ditemani  Bima yang mondar mandir gelisah tak mau diam. Anin Sampai pusing kepala dibuatnya.


Sepanjang antrian dari satu sampai dua lima, keduanya tidak terlibat pembicaraan apa-apa. Beda dengan pasangan-pasangan lain yang ada saja masalah yang diributkan.


Semakin malam udara bertambah semakin dingin dan Anin menyesal kenapa ia tidak memakai sweater nya. 


Gadis itu menggosok-gosokkan telapak tangannya pada lengannya sendiri.


"Dingin?"


Anin mengangguk.


Srrtt!!


Anin merasakan bulu di sekujur tubuhnya menegang ketika Bima menarik bahunya dan menempelkannya pada dadanya. Tangannya mulai mengusap usap lengan Anin sedangkan tangan yang lainnya menuntun kepalanya untuk bersandar di dadanya.


Nyamannya....


Situasi macam apa ini?!


Namun sekali lagi Anin tidak dapat menolaknya, sebab ia sungguh kedinginan. Akhirnya ia biarkan saja dirinya berada dalam pelukan laki-laki itu.


Tak berapa lama tiba giliran antriannya.


"Nyonya Basuki...silahkan masuk." panggil perawat yang sudah tak lagi muda itu.


"Ya." jawab Bima, Lalu ia membimbing istrinya. Dan betapa ia sangat gugup. Sebentar lagi akan melihat calon anaknya.


Bima berusaha meredam suara genderang di dadanya. Bersikaplah layaknya laki-laki man! ucap batinnya menenangkan.


"Silahkan duduk." Sapa dokter itu di balik kacamata ovalnya. "Ini nih, suster. Saya suka pasangan suami istri yang ini. Tidak banyak bicara tapi saya tahu mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain." kelakar dokter itu.


Suster itu ikut tertawa bersama dokternya.


"Mari nyonya silahkan berbaring, kita lihat apakah babienya setampan ayahnya atau tidak...." kata dokter itu dan mulai mengoperasikan alat di tangannya.


"Sudah pasti dong, dokter." Perawat itu menjawab  sambil sesekali melirik Bima dan Anin bergantian.


Dokter berkacamata itu Manggut-manggut. "Segalanya baik, jantungnya sehat. Perkembangannya juga bagus... usianya sudah memasuki  minggu ke dua belas nih, Apa masih kesulitan makan?" tanya dokter tersebut.


"Iya, dok," kata Anin singkat.


"Bulan depan mungkin sudah bisa enak makan. Anda juga seorang dokter bukan?" dokter itu kembali bertanya.


Anin mengangguk.


"Tentu segala sesuatunya sudah anda ketahui. Sedikit saja saran dari saya agar ayahnya lebih berhati-hati jika 'ingin bertemu anaknya'."


Dokter tua itu melirik Bima yang salah tingkah. Lalu kembali menatap pasiennya yang juga tengah merona, "Dan boleh kau jewer ayahnya kalau yang di dalam perut tidak mau berhenti main bola." kata dokter tua itu sambil tertawa.


Dan bukan main malunya pasangan suami istri itu dibuatnya. Sudah tentu Anin tahu apa maksud dari ucapan dokternya itu. Sampai-sampai Anin perlu melihat sendiri apa reaksi Bima.


Laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Sekaligus merona dan memucat wajahnya bergantian.


Dokter satu itu memang pandai berkelakar. Dan pandai membuat pasiennya menggeliat macam cacing kepanasan.


***


"Mengenai usulanmu, sudah ku fikirkan, dan aku setuju dengan ide surat perjanjian itu. Jadi... Kapan kita bisa ke tempat Notaris?"


Bima terhenyak. "Pakai Notaris?!"


"Tentu saja, kau pikir ini main-main?!" teriak Anin dengan nada meninggi.


"Baiklah, Baiklah... nanti saya yang urus, Bagaimana isi perjanjiannya?"


"Intinya, Kita tunda proses perceraian sampai dengan waktu tertentu -setelah bayi ini lahir. Dan mengenai hal tersebut, aku tidak berkewajiban menjalankan tugasku sebagai istri, dan Kamu tidak dapat menuntut apapun sebagai seorang suami." kata Aninirih sambil mengelus perutnya.


Bima menyeringai menggoda. "Kalau ternyata, anak kita kangen papanya gima____?!!


"Tidak akan pernah terjadi!!" ucap Anin dongkol sekaligus malu bukan main. Hingga ia perlu memalingkan wajahnya dari suaminya.


Bima merosot lemas. Ya nasib….


"Aku akan memberitahukan rencana perceraian kita kepada orang tuaku, setelah menyelesaikan tugas disini." Imbuh Anin melunak.


Kali ini Bima yang terperanjat kaget. Jadi ini beneran. "Kapan itu?"


"Tiga bulan lagi," Gumamnya. "Jadi, Kapan selesai surat perjanjian kita ....?"


"Besok Lusa." Ucap Bima dingin.


Dua hari kemudian Bima kembali dengan surat perjanjian tersebut, lengkap dengan materai dan disahkan oleh Notaris.


Dan waktu tiga bulan itu Bima gunakan dengan sebaik-baiknya. Ia rela bolak-balik Jakarta - Kuningan demi untuk calon anak dan istrinya. Tak peduli dirinya sendiri yang semakin hari terlihat semakin awut-awutan dan tak lagi terawat.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama bulu-bulu di wajahnya tak tersentuh alat cukur. Setiap kali datang rambut acak-acakan dan penampilan yang jauh dari kesan rapih. Yang kadang Anin sendiri heran, Sebenarnya dia itu pulang kerja atau baru bangun tidur.


Hingga pagi itu, Anin menerima panggilan telepon dari papah mertuanya dan iapun akhirnya tahu penyebab Bima bertingkah seperti kingkong hutan .


__ADS_2