
Bima bertengkar hebat dengan ayahnya, tak ada yang berani melerainya kala itu.
Tidak ada ibunya yang akan menenangkan ayahnya, tak ada istrinya yang membelanya.
Adu mulut itu berakhir dengan perang fisik.
Meskipun Basuki Jauh lebih tua dari anaknya namun fisiknya sangat terlatih dan badannya sama besar dengan anaknya.
Basuki tua berhenti memukuli anaknya hanya karena ia kelelahan, kehabisan tenaga.
Bima terkapar bersimbah darah.
Kalau tidak cepat-cepat disingkirkan ajudan papa tua dan cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit, mungkin nyawa Bima sudah tak terselamatkan karena luka berat serta perdarahan yang dialaminya.
Andai saja Basuki Tua bukan siapa-siapa, tentu ia sudah di jebloskan ke penjara dengan tuduhan penganiayaan berat dan hampir menghilangkan nyawa seseorang.
Namun segalanya menjadi mudah jika kita punya harta dan tahta. Begitulah kita hidup di negara ini.
Satu bulan Bima bertahan dengan segala rasa sakit dan prosedur pemulihan di rumah sakit.
Lengannya patah sehingga perlu dilakukan operasi penyambungan, kepalanya mengalami benturan hebat hingga ketika ia tersadar sempat tidak mengenali ibunya yang menangis meraung-raung meratapi nasib anak semata wayangnya.
Dan wanita tua itu, mengutuk kekejaman suaminya sendiri. Ia berjanji akan menceraikannya jika kejadian ini terulang kembali.
Bima hanya mengingat satu nama –Anin– ketika ia tersadar. Bahkan pada saat Bintang menjenguknya, Bima mengira bahwa wanita itu adalah Anin.
Buru-buru Ibu mertuanya mengoreksi ingatan anak menantunya itu. Bahwa wanita itu bukan Anin, bukan istrinya. Ya, Anin anakku yang kini entah berada dimana.
"Dialah alasan kamu berada di sini, saat ini!!" kata Ibu Anin sinis. "...dan karena wanita itu pula anakku entah dimana keberadaannya dan keadaannya."
Mulanya, nyonya Otis -Ibu Anin- mengira anaknya tengah berlibur di luar negeri seperti apa yang dijelaskan oleh besan – nya waktu itu.
"Lho, Mbak –Yu. Kok tumben sudah sampai di Bandung." tanya Ibu Anin kala ia menyambut kedatangan wanita yang diketahuinya adalah Ibu nya Bima.
"Iya Jeng, saya kesini untuk memberitahukan perihal kepergian anak kita. Jadi begini lo Jeng," tutur Nyonya Tua mulai mengawali cerita yang diketahui dari sang suami dan setelah menerima kabar itu ia langsung terbang ke Bandung.
Ibu Anin sempat menitikkan air mata di tengah-tengah pendengarannya.
Putri nya yang terlihat baik-baik saja ternyata menyimpan sebuah masalah yang sangat pelik.
Sebagai sesama wanita sebenarnya ia pun sempat curiga, ketika waktu itu –sudah sangat lama– ia melihat menantunya di Bandung bersama wanita yang bukan anaknya -Anin-.
Sebagai Ibu, Nyonya Otis merasa gagal. Ia tidak dapat membahagiakan Anin. Atau menyadari cikal bakal masalah anaknya.
Walaupun pada awalnya ia sempat protes, namun ia –pun akhirnya setuju atas rencana Papa Tua. Karena memang begitu pula keinginan anaknya.
Anin bukan anak kecil lagi. Sudah sepantasnya ia mengambil keputusannya sendiri, dan ibunya atau siapapun wajib menghormati dan menghargai keputusannya.
Ini rumah tangga mereka.
Namun sepasang suami istri itu, mulai resah dan terusik hingga akhirnya memutuskan untuk menanyakan kepada besannya ketika Nyonya Otis -Ibu Anin- tak juga mendapat kabar dari Anin di Negara seberang sana tentang kondisi dan keberadaannya.
Pada akhirnya Keluarga Otis pun tahu, bahwa Anin tidak pernah ke Singapure. Garis itu tak berada disana, dan saat ini keberadaannya masih dalam pencarian.
Kamu dimana?
Setelah dua minggu masa pemulihan ingatannya berangsur-angsur kembali.
Bima ingat apa yang telah menimpanya, dan kemelut pada rumah tangganya.
"Ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit sialan ini." makinya dalam hatinya.
Laki-laki itu ingin segera menyusuri negeri yang terkenal dengan patung singa itu atau kemanapun -ke seluruh pelosok negeri sekalipun- akan ia lakukan untuk mencari dan menemukan istrinya.
Tapi, ia harus bersabar, minimal untuk dua minggu kedepan. Itu kata dokter nya. Karena tangannya harus tetap mendapatkan terapy pemulihan walaupun luka-luka lainnya telah membaik.
Bima menghela nafas.
Sehari sebelum Bima di ijinkan pulang, ia mendapat kunjungan beberapa orang tamu di antaranya dokter Wisnu dan Firman yang mengucapkan turut prihatin atas hilangnya Anin yang sampai saat ini belum ada kabar. Mereka pun ikut mencari info tentang keberadaan rekan sejawatnya itu.
Tamu berikutnya adalah ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak pernah menyesal telah mengasari Anaknya sendiri, karena memang itulah yang pantas di terimanya bahkan seharusnya lebih dari itu. Dan itu belum sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Anin.
Bima pun setuju pada perkataan ayahnya. Ia sendiri tidak bisa mendendam pada orang tua itu atas apa yang telah ia lakukan pada dirinya.
Kalau waktu itu ia tidak sedang diliputi perasaan bersalah dan emosi yang meluap-luap mungkin Bima tidak akan melawan ayahnya. Lalu membiarkan dirinya mati saja ditangan pria tua itu. Dia ikhlas.
Sebab hidup pun percuma, karena keserakahan dan ketidaktegasannya ia telah kehilangan isteri dan calon anaknya. Kebahagiannya. Cintanya.
Segalanya.
Untuk apalagi ia hidup.
Barangkali hanya ucapan Papa tua–nya lah yang berhasil membangkitkan minat hidupnya.
"Saya sudah bertemu dengan wanita itu," ucapannya berat. "Kau ingin menyelesaikan masalahmu sendiri atau Papamu ini perlu turun tangan?!"
Bima tersentak dari lamunannya. "Maksud Papa?!"
"Bereskan kekacauan ini, segera!" Bentaknya sambil melempar berkas bertuliskan Nama Wanita dengan hurup besar-besar. "Dan segeralah kau cari istrimu, karena Papa yakin dia akan memaafkanmu sekali lagi, karena saya tahu istrimu wanita paling baik yang pernah Papa kenal setelah Ibumu." Imbuhnya.
__ADS_1
"Kejarlah dia," ucapnya lagi sebelum akhirnya ia meninggalkan anaknya sendirian dan menyuruh ajudannya untuk membereskan perihal kepulangan Bima.
***
Dengan sebelah tangan yang masih dibalut gips Bima akhirnya kembali ke rumahnya-Apartemenya- yang terasa dingin. Sepi.
Bahkan aromanya masih sama, setelah sebulan ditinggalkan pemiliknya.
Mungkin Simbok yang menyemprotkan parfum milik Anin.
Bima menyusuri setiap sudut rumahnya dengan menyentuh titik-titik dimana istrinya melakukan kebiasaannya.
Dengan kaki terlipat Anin menikmati jus alpukatnya sembari menonton berita kegemarannya.
Senyum simpul khas miliknya, menyapa setiap mereka bertemu di meja makan untuk sarapan bersama.
Kaos longgar dengan setelan celana pendek melekat di tubuhnya, dan tangannya yang tak lincah itu tengah membalik telor mata sapinya, atau mengaduk teh hangat yang sangat kemanisan itu. Atau sedang mengolesi mentega pada roti yang akan dipanggangnya.
Ia juga sering menggesek-gesek kakinya yang kesana kemari di atas bed -mereka-, ketika dirinya sedang asyik menelungkup sambil membaca buku-buku atau majalahnya.
Lalu kemudian Bima akan menjahili istrinya itu, dengan mengejutkannya dari belakang.
Kemudian ia akan mendapat teriakan khas milih istrinya yang mampu mengundang gairah lelakinya.
Untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan dua orang dewasa yang sedang dimabuk cinta.
Rasa manis bibirnya, aroma sabun tubuhnya, wangi shampo pada rambutnya hingga rasa di sekujur tubuhnya masih dapat Bima rasakan.
Kehangatan cintanya serta kesabaran wanita itu, Bima membutuhkannya, merindukannya.
Tak ingin sekalipun kehilangannya.
Bima mencium handuk yang ditinggalkan pemiliknya begitu saja tergantung di tempatnya. Aroma apek bercampur kampers.
Namun Laki-laki itu seolah mencium tubuh istrinya -dengan aroma sabun- yang selalu digunakan wanita itu selama menjadi istrinya.
Dirinya kembali membayangkan wanita itu datang kepadanya, bergabung bersama dalam satu tempat lalu menggodanya hingga berujung pada percintaan panas yang menyebabkan gadis itu kehilangan pertahanannya. Pasrah, menyerah pada mahkota yang ingin ia jaga sampai kelulusannya.
Bima menitikkan air mata, namun bibirnya terbuka, mengulas senyum.
Sudah gilakah aku?
Pria itu mendekap erat handuk di tangannya dengan suara tangis yang tertahan.
Sayaang...kamu dimana?
****
Pencariannya di mulai dari sana. Karena ada kemungkinan istrinya berada di Jakarta juga sangat besar.
Bisa saja, pada saat harus pindah pesawat di Bandara Soetta Anin tidak naik. Dan justru keluar dari Bandara.
Bisa saja. Lalu kemudian sengaja bersembunyi. Untuk kemudian muncul pada saat dirinya merasa tenang.
Setiap kemungkinan selalu ada. Dan Basuki Bima Aji meyakini setiap 'kemungkinan' itu.
Hingga pada sebuah jalan yang sudah sedikit lengan karena waktu saat itu sudah menunjukan pukul Dua dini hari -di kawasan Condet dalam- mobil nya terpaksa mengerem mendadak karena dihadang seseorang yang teriak-teriak minta pertolongan.
"Siapa malam-malam begini?" Pikirnya. Rampok-kah??
Beruntung Bima tidak sendirian. Ia bersama sopirnya.
"Pak, tolong, Pak!" suara seseorang dari luar jendela. Dengan mengetuk kasar kaca mobil.
Pak sopir agaknya sedikit ketakutan. Ia menoleh ke arah Bima yang baru akan menekan tombol untuk membuka kaca. "Takutnya Modus perampokkan, Pak."
Benar juga.
Bima mengurungkan niatnya.
Tok, tok,tok
Sekali lagi kaca itu diketuk orang dari luar. Bima masih saja diam di dalam.
Kalau sekali lagi orang itu mengetuk, maka akan ku suruh pak sopir menancap gas-nya.
Namun yang ketiga bukan di ketuk. Tapi di gedor dengan suara makian melengking.
"Buka!!!! AN*JING!!! Apa kau tidak lahir dari seorang wanita! Cepat buka!! Tolong wanita itu!!!" Maki seseorang dari luar.
"Keburu mati dia!!!" teriak seorang lagi yang berada persis di depan mobil. Namun tak nampak Mukanya. Cuma kelihatan sedikit kepalanya yang bergerak-gerak.
Disuruhnya sopir itu melongok agak kedepan. Untuk melihat ada apa di depannya itu. "Pak, sepertinya ada yang kecelakaan, ditabrak atau ____ "
Bima segera membuka pintu mobilnya, menghambur keluar sebelum sopirnya selesai bicara.
Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada istrinya.
Bima semakin mendekati sosok yang terkapar dengan kepalanya dipangku salah seorang pria yang teriak tadi.
__ADS_1
Dari pakaian yang dikenakannya jelas dia seorang wanita, semakin dekat Bima mengenali jenis pakaian itu.
Benarkah dugaannya??
Ya tuhan!! Semoga saja hanya mirip.
"Lekas bawa ke rumah sakit, Pak! Woi jangan bengong, siapa tahu bisa menyelamatkan salah satunya."
Bima terduduk lemas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ia mengenali dengan sangat jelas wanita itu. Wanita yang tengah hamil itu dengan nafas satu-satu menatap ke arahnya.
Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengucapkan sesuatu namun tak ada satupun kata yang keluar.
Kepalanya berlumur darah, begitu juga dari sela-sela pahanya.
Bima teriak histeris. Menangis sejadi-jadinya.
Hingga sopirnya berlari menyusul sang majikan yang terlihat sangat syok itu.
Lalu pada kedua orang itu, pak sopir menginstruksikan untuk membawa wanita itu masuk dalam mobilnya. Dan segera melarikan nya ke rumah sakit terdekat. Meninggalkan Bima yang masih histeris.
Baru setelah selesai dari rumah sakit, sopir itu kembali menjemput majikannya yang masih dijaga oleh dua orang baik entah mereka siapa.
Setelah mengucapkan terima kasih, pak sopir pun berpamitan dan membawa Bima ke rumah sakit yang sama karena sepertinya Bos nya itu butuh perawatan medis melihat kondisinya yang setelah histeris, kini hanya diam mematung.
Tatapannya kosong. Bibirnya bergerak-gerak. Matanya masih berlinang.
**
"Bagaimana anak saya, dokter?!!" tanya nyonya Tua pada dokter yang ditemuinya.
"Anak ibu mengalami syock berat."
"Lalu, saya harus bagaimana, dokter? Dia satu-satunya penerus kami?! Kami juga telah kehilangan calon cucu kami...." ucap wanita tua itu dalam isak tangisnya.
"Anak Ibu butuh seorang psikiater, dan kalau boleh Tahu, siapa itu Anin?" kata dokter itu, "Kalau memang bisa, coba ibu ajak juga Anin. Sepertinya ia seseorang yang penting untuk anak Ibu."
Wanita tua itu tak kuasa menahan kesedihannya lagi. Air matanya pun tumpah ruah.
"Apa ada masalah dengan Anin? Mohon maaf sekali lagi, saya lancang. Tapi jika memang kalian berkonflik dengan wanita itu, sepertinya bapak dan ibu harus berbesar hati untuk mengalah. Ini penting untuk kita coba, demi kesembuhan anak ibu."
:Konflik orang kaya tak jauh dari hubungan cinta terlarang –si kaya dan si miskin. Orang tua tak merestui cinta anaknya, lalu dipisahkan dengan cara-cara yang ... aah sudahlah!!! Bukan urusanku.: Gerutu dokter itu dalam hatinya.
"Anin is-trinya, dok." Gumam wanita tua itu terbata-bata.
Dokter itu tersentak.
Oh.. istrinya. aku kira… ya maaf deh..salah sangka. Ya ampun! Wanita yang masih koma itukah?? Yang baru saja selesai operasi bedah kepala?!! Astaga, benar juga, jangan-jangan. Wanita yang mengalami kecelakaan –tabrak lari, sehingga harus dilakukan operasi sesar dilanjut dengan prosedur bedah kepala.
Malang sekali, bayinya pun tak selamat. Pantas pria ini jadi gila!!
"Mohon maaf, saya turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga Ibu," ucapnya lirih penuh simpati.
"Iya dok, terima kasih."
Ini dokter, siapa sih?? udah mah sotoy!!! Nggak ada simpati-empatinya sama sekali.
Eh pinter banget lagi aktingnya. Udah hampir setara Anjasmara.
Hatimu mu di taruh dimana, dengkul?? Kok bisa yang begini lulus jadi dokter! Di rumah sakit mana sih Bima dirawat. Lekas dipindahkan duh!!! Etika dokternya nggak bagus.
"Rencananya saya dan suami saya akan membawa mereka ke Singapura, dok." Kata Nyonya Tua setelah menyusut hidung dan air matanya.
"Oh, bagus itu, kebetulan saya ada kenalan seorang psikiater hebat di sana. Nanti sekalian saya buatkan surat pengantarnya." Kata dokter itu. Lalu, "Dan .. tapi, Bu, untuk pasien yang perempuan ini agak susah kalau dia juga harus dipindahkan keluar negeri. Mengingat kondisinya yang....." Tapi orang kaya mah bebas, suka-suka mereka ya kan??
"Saya mengerti maksud dokter, nanti biar saya diskusikan dulu dengan keluarga nya."
Dan setelah musyawarah panjang, akhirnya kedua keluarga tersebut sepakat untuk memindahkan anaknya masing-masing di rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas dan pelayanan bertaraf internasional.
Yang laki-laki, dibawa ke Singapura untuk menjalani serangkaian terapi kejiwaan dan baru diketahui, Bima juga mengalami gangguan bipolar -bipolar disorder-
Mungkin trauma di masa remajanya.
Atau serangkaian tekanan yang diterima dari Ayahnya dari semenjak ia masuk sekolah dasar.
Dan barulah Papa tua menyesali tindakan serta sikap dirinya dalam mendidik anaknya.
Selama ini dia menyangka telah melakukan yang terbaik, tapi ternyata berdampak buruk hingga melibatkan banyak orang.
Semua bencana bermula dari dirinya.
Yang perempuan di pindahkan ke rumah sakit masih di dalam negeri –Jakarta- tapi dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih baik. Yaitu Rumah sakit dimana Firman bekerja. Disana banyak orang-orang yang dikenal. Sehingga akan lebih maksimal dalam melakukan tindakan apapun serta mudah dalam mendapatkan info terkini mengenai perkembangannya. Serta dijamin keamanan dan kerahasiaannya dari media.
Walaupun di dalamnya, orang-orang telah bergunjing seputaran hal itu.
Hidup terasa tak lengkap tanpa gosip yang mengiringi. Netizen yang maha -benar- pun siap sedia menggunakan jari-jarinya.
*****
__ADS_1