Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Retak


__ADS_3

"Selamat pagi, Tante. Bagaimana kabar hari ini? Apa sudah merasa lebih segar?" Sapa Anin pada Pasien atas nama Sintya. Sudah empat hari ini dia merawat pasien yang katanya sakit diabetes, tapi hasil pemeriksaan lab angka glukosanya normal. Yang mengaku lemas, pusing kunang-kunang, tapi sekali lagi hasil lab menunjukan kadar Haemoglobin tidak mendukung untuk sekedar diagnosa Anemia. Justru dokter nya lah yang sebenarnya sedang didera rasa sakit lahir dan batin.


Anin dijadikan dokter pribadi oleh pasien satu itu. Bahkan dokter Hadi saja tidak dapat berbuat apa-apa. Dan dengan terpaksa, menempatkan Anin yang notabene masih sebagai dokter umum tapi harus dipindahkan pada bagian penyakit dalam – spesial ruang VIP / VVIP.


Ruang perawatan ini cenderung sepi, hanya hitungan jari pasien yang mengisinya. Sedangkan di bangsal kelas tiga tak pernah kosong. Dan saat ini, Anin butuh kesibukan untuk sedikit melupakan kegundahan hatinya.


Kadang – kadang Anin menyambangi tempat Mika membantu dokter Susilo atau ke ruang VK untuk sekedar mengisi waktu kosong. Daripada bengong.


Dan sudah menjadi rahasia umum semenjak Anin dipindahkan, kabar Anin menjadi dokter kesayangan Pak Hadih dan dokter spesial di rumah sakit ini pun telah terdengar hingga ke telinga suaminya maupun sampai pada orang tuanya di Bandung.


Itulah kekuatan gosip. Dan selalu di lebih-lebihkan dari yang sebenarnya.


Dan entah seperti apa berita yang diterima Bima tentang istrinya, Dia menjadi semakin dingin, tidak ada lagi kehangatan dalam setiap perlakuannya, yang tersisa hanya kekakuan dan kemarahan yang tidak jelas apa sebabnya. Seperti pagi tadi di meja sarapan, Bima marah – marah karena mencari kunci mobilnya, sedangkan dia tidak sekalipun bertanya pada Anin.


Hingga mereka berdua berangkat bersama-sama pun keduanya masih membisu,  sepanjang perjalanan hanya diisi obrolan dari suara penyiar Radio yang Sengaja Anin nyalakan untuk sekedar memecah keheningan.


"Bagaimana dengan indera perasanya? Apa masih terasa pahit buat makan?" Anin bertanya lagi pada pasiennya. Yang tentu saja hanya basa-basi. Dia tahu benar apa yang dialami wanita di depannya sekarang.


"Sudah, sudah. Saya sudah sehat, Nak." Jawab Pasiennya sumringah yang semakin menunjukan bahwa dia sebenarnya sedang tidak sakit. Perawat yang di belakang pun susah payah menggigit bibirnya menahan tawa. Menertawai  Ketololan Anin mungkin, yang masih sabar dan pintar bersandiwara.


Lah, Tumben ini banyak senyum. Anin menoleh pada perawat yang ternyata masih menahan tawa. "Suster, tolong di tensi dulu." pintanya pada suster Ida yang entah siapa nama panjangnya. Anin belum menanyakan perawat yang satu ini padahal dia yang sering menemaninya visit pasien.


"Baik, Dok." jawabnya singkat dan Kemudian mulai memeriksa tekanan darah. Tak kurang dari lima menit suster Ida sudah mendapatkan hasil pemeriksaan. "15 /100 mmHg, Dok."


Duh, kok malah tinggi tekanan darahnya, alamat bakal nambah panjang masa tugasku disini.


"Tensinya tinggi ini, Tant. Apa sebelumnya pernah tinggi? beberapa hari terakhir bagus tensinya." tanya Anin lagi.


"Ah. Saya tidak peduli. Pokoknya hari ini saya sangat bahagia." Ucap Sintya yang disertai gelak tawanya memenuhi ruangan itu.


"Tapi Tante, Tante juga harus jaga kesehatan. pola makan dijaga dan istirahat yang cukup, lho? Kecuali kalau tante masih betah berlama – lama disini." Anin menerangkan pasiennya dengan penuh kesabaran dan kelemah lembutannya.


"Tidak jadi soal, kalau saya harus sebulan lagi disini pun, saya ikhlas redho Nak. hahaa..!! Asal anak saya mau pulang dan menengok saya." semakin nyaring saja tawa sintya ketika menyebutkan kata – kata itu.


Iya, tante betah disini, Tapi saya nggak, gerutu Anin dalam hati.


Dan Sepertinya memang pasien kita sedang sangat bahagia. Anin menatap Suster Ida, yang sepertinya mengerti kata hati yang dilemparkan Anin padanya.


Anin tersenyum. "Saya ikut merasa bahagia buat kepulangan anaknya, tante. Tapi saya akan lebih bahagia lagi, melihat pasien saya pulang dengan perasaan bahagia dan dalam kondisi yang sehat." Terang Anin tanpa bermaksud menyindir.


"Hahaha! Nanti saya mau kenalkan Nak Anin dengan Anak sulung saya. Mungkin kalian seumuran." Sintya berucap penuh antusias.


"Ah. Ya ya.." Anin menganggukan kepala. Lalu kemudian mereka berpamitan untuk memeriksa pasien yang lainnya.


Dalam perjalanan .


"Dok, jangan-jangan dokter mau dijodohkan dengan anaknya itu dok?" kelakar suster Ida.

__ADS_1


"Hus. Ngawur aja mbak Ida ini! mau dikemanakan suami saya." Ucap Anin menimpali kelakar perawatnya itu.


"Hehehe, kalau tampangnya lumayan bolehlah Dok, dicoba., dan ___" Suster Ida menjentikan ibu jari dan jari manisnya ke udara hingga menciptakan suara nyaring. "Perlopkan saja suamimu." Jawab suster Ida sedikit sentimentil. Namun hanya dibalas senyuman oleh dokter Anin.


Sedikit banyak suster Ida, tahu apa yang sedang dialami dokter Anin. Barangkali Anin tidak pernah bercerita secara langsung, namun suster Ida dapat menarik kesimpulan, ada yang tidak beres pada rumah tangga dokter Anin. Namun sejauh ini dia tidak berani menanyakan nya. Takut dibilang Kepo deh, mau tahu urusan orang aja!


Padahal kalau dokter Anin mau bercerita dia sungguh orang yang dapat dipercaya. Terlepas dari banyaknya dia makan asam garam dalam mengarungi biduk rumah tangga, Suster Ida juga pernah merasakan dihianati suaminya yang seorang Tentara. Dan suster Ida sudah menganggap Dokter Anin seperti adiknya sendiri. Karena memang usia yang terpaut 10 tahun di antara mereka. Namun suster Ida tetap menghormati Anin sebagai atasan.


***


Sore itu terpaksa Anin menggunakan Taxi, Karena suaminya tidak bisa menjemputnya. Masih banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal katanya.


Dan ketika Anin terjaga dari kantuknya, pukul sebelas malam Bima belum juga sampai di rumah.


Padahal sengaja Anin memasak sendiri dan mengungsikan mbok Jum untuk sementara waktu di rumah lama Bima. Berharap akan ada malam romantis pada acara makan malam itu. Namun hingga sayurnya dingin dan lilin yang Anin nyalakan habis Bima tak juga pulang. Lelah menunggu sampai-sampai tak sadar kapan Anin tertidur dalam posisi duduknya.


Pintu apartemen terbuka ketika Anin baru saja akan melangkahkan kakinya ke kamar tidur.


"Sorry, telat. Ada meeting dadakan dengan owner." Terang Bima ketika menemukan istrinya sedang berdiri di antara sofa tamu menyambutnya.


Bima mencium kening istrinya sebentar lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Anin yang masih mematung. Hingga akhirnya Anin tersadar dan menyusul suaminya. Yang tercium aroma pekat tembakau dan – Mungkin – alkohol.


Anin hendak membantu melepas kemeja suaminya namun ditolak mentah-mentah oleh Bima.


"Saya bisa sendiri." Ucapnya dingin. "Kamu kenapa belum tidur?"


"Aku nunggu kamu pulang, hari ini Aku masak." Ada nada getir dalam ucapan Anin.


Mendadak Anin merasakan sakit yang teramat sangat. Sakit pada bagian dadanya, sakit hatinya seperti ditikam pisau bedah mendengar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut orang yang dicintainya. Sorry! Dan hanya kata Sorry!! Segampang itu.


"Okey, akan ku gunakan seluruh daya ingatku untuk mengingat pesan kamu itu." jawab Anin dengan nada sarkastik dengan ketegaran yang dipaksakan tentunya.


"Baguslah!" Bima melangkah menuju ruang sebelah.


Anin pun memilih untuk –memaksakan dirinya- tidur. Semoga malam ini segera berlalu.


Bima melongok lagi pada istrinya, itupun setelah Ia yakin kalau istrinya sudah tertidur dan memastikan istrinya menggunakan selimut.


Tolong jangan benci padaku, Bima membelai pipi dan mengecup kening istrinya.


Bahkan dalam –kepura-puraan- tidurnya Anin dapat merasakan belaian suaminya. dan dengan sekuat tenaga menahan air matanya.


Akan aku usahakan, Mas. semampuku bertahan dan tolong jangan acuhkan aku seperti ini.


Beberapa jam sebelumnya…..


Sore itu Bima sudah keluar dari ruang kerjanya. Karena memang tidak ada kegiatan lagi setelah pukul lima sore. Tidak ada meeting, tidak ada janji apapun dengan owner.

__ADS_1


Namun Dia tidak buru-buru pulang ke rumah ataupun memenuhi permintaan istrinya untuk menjemputnya pulang. Bima tak sampai hati bertatap muka dengan istrinya dan takut akan mengasarinya, baik ucapan maupun perbuatan, seperti pagi tadi. Ingin rasanya ia memeluk dan memohon maaf atas kesalahannya saat itu juga. Namun egonya mengalahkan segalanya. Dan ternyata tidak cukup kuat rasa cintanya melawan keegoisan dirinya.


Dan disinilah sekarang, Bima menghabiskan sebagian waktunya di salah satu tempat hiburan malam di daerah Jakarta pusat. Setelah merasa bosan, kemudian dia berpindah pada sebuah kamar hotel yang juga berada tak jauh dari tempatnya, dengan wanita yang sengaja ia sewa tentunya.


Bukan tanpa alasan, Bima membayar seorang wanita, semata-mata hanya untuk memastikan reaksi bos kecilnya. Namun se sexi apapun wanita tersebut menggodanya, secantik apapun wanita yang ia sewa, tak mampu juga membuat bos kecilnya bereaksi. Nampaknya ia tertidur sangat nyenyak. Dan bukan sekali dua kali Bima melakukan hal tersebut, namun sudah beberapa kali dan semuanya berakhir sama. Wanita bayarannya hanya dijadikan pelampiasan emosinya dengan mengasari wanita-wanita tersebut.


***


Keesokan harinya.


Anin menyempatkan menghubungi sekretaris di kantor suaminya, untuk menanyakan perihal meeting yang sampai larut malam.


"Oh, begitu, jadi memang tidak ada jadwal Meeting ya mbak ya. Oke deh, terima kasih. Oh iya, kalau besok-besok Bapak ada jadwal sampai larut, tolong kabarin ke rumah juga ya mbak ya…."


"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa, hanya saja, saya khawatir, karena bapak sedikit pelupa. Oke, terimakasih mbak anggun. Selamat pagi." Anin mengakhiri obrolannya.


Dan Anin meyakini suaminya menemui wanita itu lagi.


***


Sore harinya, Bima sampai rumah lebih dulu daripada Anin, dan dia mengetahui dari sekretarisnya perihal Anin menelpon ke kantor dan menanyakan keberadaannya.


Bima Begitu murka pada istrinya. Dia merasa dipermalukan oleh istrinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam rumah tangganya terjadi pertengkaran hebat. Walaupun tidak sampai pada kekerasan fisik, namun hal itu membuat Anin histeris ketika ponselnya dilempar ke dinding dan mengenai tivi plasma yang tergantung di sana. Ponsel menjadi beberapa keping dan tivi nya retak-retak namun masih kokoh bertengger pada kaitannya.


"Mas! Aku hanya khawatir, nggak ada maksud menguntitmu." Ucap Anin setengah ketakutan.


"Kamu pikir, pantas mencurigai suamimu sendiri, Hah!!!" bentak Bima.


"Aku, aku hanya ingin memastikan, bahwa aku ini sedang tidak dibohongi." Ucap Anin dalam isak tangisnya yang tertahan. "Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya."


Bima merampas ponsel dalam genggaman Anin dan mengangkatnya ke udara. "...kamu pikir, saya tidak tahu, apa yang kamu lakukan dengan benda ini!" Teriak Bima emosi. "Jangan kira saya tidak tahu kelakuanmu!" tambahnya.


"Apa maksudmu!" Anin tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.


Fungsi reflek Anin bekerja secepat tangan Bima yang bergerak meraih sesuatu di atas meja. Anin memejamkan matanya dan melindungi kepalanya.


Bruaakk!!!!


“Stop!” Teriakan Anin keluar hampir bersamaan dengan suara benda beradu. Suara nyaring itu hanya mampu ia dengar, namun tak mampu Anin lihat.


Hening


Beberapa detik kemudian terdengar derap langkah kaki yang kasar dan suara pintu dibanting.


Setelah tidak di dengarnya lagi derap langkah kaki suaminya, Anin membuka matanya.


Pertama-tama Anin mengira asbak-lah yang dilempar suaminya. Namun ternyata ponselnya yang beradu dengan tivi plasma.

__ADS_1


Anin mulai memunguti kepingan telepon genggamnya dengan air mata yang turun tanpa diminta.


***


__ADS_2