
Three years later......
Di pagi hari yang cerah pada sebuah desa di wilayah Sumatera.
Tenang. Damai. Lengkap dengan kicauan burung dari rumah tetangga sebelah.
Wanita itu terpaksa menurunkan koran paginya ketika seorang bocah laki-laki manis lucu dengan senyum yang sangat menggemaskan itu terus-terusan menggoyangkan kakinya.
Meminta perhatiannya.
"Kenapa lagi, sayang?"
"Pesawatnya rusak Mah, Basah." Katanya dengan memasang ekspresi memelas. "Tuh lihat tuh. Jelek, Mah," katanya lagi.
"Terus?"
"Buat lagi ya mamah, Buatin lagi...." rengeknya.
"Besok lagi kita buatnya ya, kan kertasnya habis. Mamah belum belanja."
"Yaaah...." bocah itu nampak betulan sedihnya.
"Jangan sedih dong... Minggu besok kita ke pasar sekalian Mamah mau beli susu, kita beli kertasnya juga." Kata wanita itu menghibur anaknya yang kini telah kembali sumringah.
"Benar ya mamah, besok kita jalan-jalan?!"
"Iya, Jam berapa sekarang, A?"
Bocah itu gelagapan, dan selalu seperti itu setiap Ibunya menanyakan waktu padanya. "Ehhm----hhm..."
"Berapa?" tanya Ibunya lagi sambil menahan tawa.
"Itu Mah, Aa bingung," ungkap bocah yang bernama Adam itu.
"Kenapa bingung?" tanya Ibunya lagi. "Coba kamu sebutkan jarumnya di angka berapa?"
"Yang pendek apa yang panjang, Mah?"
"Ya dua-dua nya dong, sayang....." katanya sambil mengusap kepala anaknya.
"Yang pendek di angka enam Mah, Yang panjangnya..... Di....angka empat!!"
"Jadi, dibacanya.... Astaga!! A, mamah harus segera siap-siap." Kata wanita itu yang tiba-tiba saja jadi tergesa-gesa. "Ayok, A," wanita itu menggandeng masuk anaknya yang heran melihat tingkah aneh Ibunya sambil geleng-geleng kepala.
Selesai menukar baju dan memoles sedikit wajahnya, lalu menyisir rambutnya, perempuan itu pun berpamitan pada anaknya dan asisten sekaligus kini jadi satu-satunya keluarga serta sahabatnya.
"Sayang, Mamah berangkat dulu ya," ucap wanita itu lalu mengecup puncak kepala anaknya. Jangan ngerepotin Mbak Susi, ingat?!"
"Iya, Mah." Kata Adam cemberut.
"Sus, aku berangkat dulu ya, hari ini masak menu yang kemarin lusa saja."
"Baik, Bu." Jawabnya singkat. "Oh iya Bu, pas tadi Ibu mandi, ada orang dari kelurahan, katanya lusa nanti kelurahan mau ngadain acara pengobatan gratis. Dan mereka ingin mendiskusikannya dengan Ibu sore nanti."
"Oh, Oke baiklah. Kalau nanti datang lagi Bilang saja nanti sore saya datang."
"Baik, Bu."
"Jangan lupa, bangungkan juga si bocah malas itu, Sus,"
Mendengar permintaan terakhir tersebut tak ayal membuat Susi tertawa. Baginya sudah sangat jelas siapa yang dimaksud bocah pemalas itu.
Biar kata malas. Tapi tak kalah menggemaskan.
Siapa lagi kalau bukan Adiknya Adam.
***
Siang itu pasar lumayan ramai.
Toko-toko yang berjejer hampir semua sibuk melayani calon pembeli.
__ADS_1
Begitu juga Adam, ditemani ibunya tengah asyik hilir mudik di dalam salah satu toko yang menyediakan mainan dan alat tulis.
Adam tengah asyik memilih mainan mana yang akan di angkutnya pulang.
Anak itu mengangkat sebuah pistol mainan lalu menunjukan pada ibunya meminta persetujuan namun kemudian ia letakkan kembali setelah emaknya menggeleng tanda tidak setuju.
Kadang heran juga ibunya, kalau nggak pesawat pasti anaknya itu memilih pistol. Sepertinya kedua benda itu sangat menarik minat anaknya.
Adam mengambil sebuah replika pesawat tempur. Lalu menunjukan lagi pada ibunya.
"Kan sudah banyak yang itu A," protes si emak.
Adam cemberut, tapi tak lama ia kembali ceria. Dasar anak-anak.
Lalu Adam mengambil sebuah robot yang ia temukan pada rak paling ujung. Dekat dengan deretan kertas dan buku-buku.
Saking girangnya Adam berlari tak lihat kanan kiri lagi, karena ingin segera memamerkan mainannya pada ibunya.
Pada persimpangan lorong toko ia menabrak seseorang dan badannya terpental beberapa centi, juga mainannya. Tapi hebatnya ia sama sekali tidak menangis.
"Karena Adam jagoan. Jadi tidak boleh menangis, ya kan Mah?" bocah itu ingat kata-kata yang pernah ia ucapkan ketika mendapati ibunya menangis seorang diri pada malam-malam.
"Oh Tuhan! Apa kau baik-baik saja?" tanya pria yang ditabrak Adam.
Adam yang masih kesakitan sebab sikunya membentur lantai toko itu hanya bisa meringis pasrah.
"Come on buddy, kubantu kau berdiri," orang itu mengulurkan tangannya. "Anak pintar tidak akan menangis, Right?!" katanya lagi.
Adam menyambut uluran tangan itu, "Terimakasih," tukas Adam.
Anak yang ramah.
Bima menatap lagi bocah kecil yang mungkin berusia 3-4 tahunan itu dengan sepasang mata berwarna coklat bening yang sangat memikat. Rambutnya hitam dan sedikit ikal. Wajahnya tipikal Asia-Jawa. Mirip seperti wajah bocah-bocah yang ditemuinya di Jakarta.
Terlalu berbeda dengan tipikal anak-anak lainnya disini.
Lalu, Ibunya muncul tiba-tiba dan langsung menyergap anaknya.
Setelah dua tahun lamanya Bima mencari istrinya di singapore, akhirnya pada tahun ketiga ia menyerah. Dan belajar mengikhlaskan sambil tetap melanjutkan pengobatan. Akan tetapi kini justru seolah Tuhan mengusik hati yang sedang belajar ikhlas dengan mengirimkan seseorang yang mirip sekali denga Anin.
"Nggak banget pertemukan dengan cara yang konyol seperti ini. Tuhan pasti sedang bergurau denganku!"
"Kamu, oke sayang?!" tanya ibunya sambil mendekap tubuh bocah itu, lalu "Apanya yang sakit, mananya yang sakit?" sambil membolak balikkan tubuh Adam. Suaranya yang terdengar panik berlebihan membuat seseorang yang berdiri di belakangnya mengerutkan kening.
"Naluri emak-emak," pikirnya. Sambil mengumbar senyum.
Dan secepat kilat senyum itu hilang berganti terkejut ketika wanita itu memutar badannya.
"Kau kah itu! Anin..." Sapanya gemetar. ucapannya meluncur begitu saja.
Atap toko seperti mendadak runtuh menimpa kepala wanita itu. Ketika dia mengenali suara itu, mengenali pria itu yang tengah memandangnya dengan tatapan haru.
"Mas Bim...." Gumam Anin dengan bibir bergetar menahan haru. "Ya tuhan!"
Tadi ia sempat tidak mengenali Bima. Penampilannya sudah jauh berubah. Ia lebih kurus, dan wajahnya tampak lebih tua. Rambutnya yang dulu hitam kini sudah berwarna dua. Uban terlihat di beberapa bagian kepala seolah-olah bukti bahwa betapa sangat menderitanya pria itu selama tiga tahun terakhir.
Tak lagi peduli pada kantong belanjaannya. Dengan segenap kerinduannya Bima memeluk Anin hingga wanita itu kepayahan mengatur ritme nafas dan detak jantungnya.
Ternyata untuk pria yang telah berkali-kali menyakitinya rasanya masih sama, cintanya masih sama, hatinya masih sama.
Perasaannya masih sama!
Orang-orang menatap heran ke arah mereka.
Adam yang juga heran mulai menarik dan memukul tubuh pria yang tengah memeluk Ibunya.
"Hei, lepas!! PRIA TUA!" katanya sambil memukul-mukul kaki Bima. "Hei, LEPASKAN MAMAKU!!" teriak Adam mulai kesal dan marah.
Namun teriakannya tak membuahkan hasil hingga akhirnya ia memutuskan menggunakan senjata pamungkasnya yaitu : "MENCUBIT" Adam mencubit BETIS PRIA ITU.
Dan usahanya berhasil.
__ADS_1
Cubitan kecil itu mampu mengembalikan kesadaran kedua orang dewasa yang menurut Adam sedang bertingkah aneh dan memalukan itu.
Bima pun akhirnya melepaskan pelukan itu berlanjut menatap bocah kecil yang baru saja mencubitnya yang rasanya persis seperti di gigit semut. Lalu menatap Anin bergantian.
Wanita itu tersenyum di barengi dengan sebuah anggukan kepala.
"Dia?? Anak...Saya?!" Desah Bima gemetar menahan keharuan yang mengharu biru di hatinya.
Matanya kembali menatap bocah di dekatnya itu dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Perasaan seorang laki-laki yang untuk pertama kali menyadari, dia telah menjadi seorang ayah. Dari seorang anak yang bahkan tidak mengenalinya.
Anak yang sejak lahir belum pernah dilihatnya. Belum pernah disentuhnya.
Perasaan bahagia dan perasaan bersalah berbaur di hatinya. Membuat lengannya seperti dialiri tenaga listrik yang maha kuat untuk segera memeluk bocah itu.
Mendekapnya kuat-kuat di dadanya. Membisikan di telinganya bahwa kini ia punya seorang ayah yang akan melindunginya.
"Boleh saya memeluknya?" Pinta Bima ragu-ragu.
"Peluklah. Dia memang selalu menanyakan ayahnya." Lalu Anin menginstruksikan pada anaknya. "Adam, beri salam sama papa!"
"Namanya Adam?" Tanya Pria itu terharu. Diraihnya anak itu ke dalam pelukannya.
"Cium papa, sayang!" pinta Bima.
Tetapi Adam mendorong dadanya dan menatapnya ragu-ragu.
"Betul...Om papa saya?" tanya adam dengan suara selucu tatapan matanya.
"Tentu saja saya papamu," sahut Bima sambil tersenyum. "Kamu tidak lihat, bagaimana kita berdua sangat mirip?"
"Siapa namamu?'' tanya Adam tanpa mengacuhkan kalimat Bima. Perhatiannya sedang tertumpah pada makhluk di depannya.
"Adam!!"
Bima menatap haru ke arah Anin.
Anin membalas tatapan Bima sambil tersenyum. Dan karena tersenyum dengan air mata menggenang wanita itu jadi tampak sangat menggemaskan.
Membuat Bima hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk memeluknya. Menciumnya. Menumpahkan kerinduannya.
"Kamu tinggal dimana? Ada tempat kosong untukku?"
"Sayang sekali, semua kamar penuh."
"Kalau begitu Kita perlu sebuah kamar hotel untuk malam ini."
"Setelah kau urus belanjaanmu itu."
Mereka bertukar senyum dengan mesra, seolah-olah tidak ada orang lain disana.
"Bagaimana kabar Papa Tua, baik?" tanya Anin perlahan dengan matanya melirik pada lengan pria itu.
-bekas luka jahit-
Mereka terus mengobrol bertukar informasi, sambil berjalan beriringan dengan Adam berada di pundak Bima.
Sore itu, mereka bertiga berjalan menyusuri pertokoan yang hanya ramai pada akhir pekan. "Urusan apa sampai terdampar kesini?" tanya Anin penasaran.
"Menjemputmu pulang." Tukasnya dengan senyum memikat khas ala Bas Bima Aji. Yang sebenarnya Bima tengah meninjau lokasi proyek toll Trans-Sumatera yang sedang ditanganinya.
Bima merangkul bahu wanita yang lama tak di temuinya itu. Membawanya dekat ke dalam tubuhnya.
Senja memang tak selalu sama. Tapi Senja tahu di mana tempat yang indah untuk menemukan malam yang merindunya.
Sepertinya waktu telah berhasil menghapus amarah dan benci Anin. Atau bahkan tidak pernah ada benci diantara mereka?
Jarak selalu berhasil -perpisahan- mengajarkan untuk ikhlas serta merelakan segala rasa sakit di hatinya.
Dan lambat laun kematangan usia berhasil mengajarinya sebuah kontrol ego yang sangat sempurna.
__ADS_1
Semua tak lepas dari rasa cinta yang tulus yang mampu mengalahkan segalanya. Dengan keikhlasan berada di puncaknya.