Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Fakta Dua


__ADS_3

-Jika akhirnya aku sadar apa itu cinta, maka itu adalah kamu-


-Lebih baik pernah mencintai dan kehilangan daripada tidak pernah sama sekali-- 


--------------------- ***-------------------------


.


.


.


 


Bukan hanya Anin yang tertegun, diam mematung. Mei, juga.


Mika yang masih terisak...melanjutkan kembali kata-katanya yang bak petir menyambar di siang bolong.


"~ dan dia berencana akan melenyapkan istrinya..demi akuuaku takuut~~" Mika semakin tergugu dalam tangisnya.


Mei dan Anin tercengang bersamaan.


Benarkah!! pembunuhan, kalo iya?!


Demi tuhan, dia bukan lagi setan. Melainkan iblis!!!


"Lalu dimana Abi sekarang??" Tanya Anin setelah berhasil menenangkan hati dan pikiran.


"Aku meninggalkannya di~~di sana...dia mabuk...dan aku takuut..." Mima menyebutkan nama salah satu klub malam.


Mei menarik nafas. "Tenanglah dulu... Dia tidak akan mencelakaimu, Mik. Jelas targetnya adalah Kamu Nin. Sebaiknya besok kamu ambil penerbangan paling pagi. Biar bagaimanapun di sisi suami adalah yang paling aman." Jelas Mei panjang lebar.


Mei menoleh pada Mika lalu menyerahkan sebutir obat yang dia ambil dari kotak make up -kamuflase- milik Anin dengan segelas air putih. "Minumlah. Dan besok coba kau temui Abi. Bersikaplah biasa saja."


Mika mengangguk dan menuruti perintah sahabatnya dengan patuh.


Mei meraup wajahnya yang terlihat kusut dan lelah sebab resepsinya. "Dan sebaiknya, kamu akhiri hubunganmu dengan Abi, Mik." Tambahnya.


"Akan ku coba...."


Bukan!! Bukan gue target utamanya. Jelas bukan gue!!! TAPI FIRMAN -lah yang diincarnya. Dan keluarganya.


"Astaga!!!" Anin reflek menutup mulutnya. Ia tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Lalu kenapa dia mendekati Mika!??? Hingga berencana menyingkirkan istrinya sendiri.


"Kenapa lagi???" Tanya Mei cemas.


Firman harus Tahu secepatnya. "Ya, aku akan kembali besok pagi-pagi sekali." Jawab Anin mantap. "Mei, kau kembali lah.. kamu juga butuh istirahat. Kami sudah tidak apa-apa. Biar Mika aku tangani. Sebentar juga dia terlelap dan kembali tenang."


Dan benar saja, Mika sudah mulai tenang dalam kantuknya.


"Baiklah...kalau ada apa-apa jangan sungkan…. Karena kemungkinan gue akan sulit tidur malam ini." Mei tersenyum -nakal- lalu berpamitan. Mei sengaja memancing candaan yang dimaksudkan untuk mengendurkan syaraf yang menegang. Namun ternyata, candaan yang dilemparnya tidak termakan.


Kedua sahabatnya sudah terlalu tegang dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Terutama -mungkin- Anin. Akupun sebenarnya khawatir dengannya, batin Mei sekali lagi.


***


Keruwetan sebuah kota yang iconik dengan megah dan mewah tetapi selalu macet di pagi hari itu sudah siap menyambut kedatangan Anindira Pearly Otis. Bukan hanya kota dengan kerumitannya saja yang menyambutnya, Kebingungan pun menyambutnya ketika dirinya tiba di Halim Perdana Kusuma.


Jadi, nggak ada yang jemput nih, Ya sudahlah... kita naik Taxi aja ya sayang.. sekalian kita mampir ke tempat Papa. Anin mengelus lagi perutnya dengan senyum mengembang. Masa bodoh dikira gila atau aneh sama orang - orang sekitar.


Setelah lumayan membuat kram kaki karena lama berdiri menunggu antrian dapat taxi Akhirnya datang juga babang drivernya.


Anin menaiki Taxi berlogo burung tersebut dengan tak lupa memegangi perutnya. -autoreflex melindungi perutnya-. "Pak, kita ke Cawang ya.. Gedung Penta Prima." Ucapnya.


"Mohon maaf, hamil ya bu?" Tanya Pak Sopir tanpa maksud lain selain ingin menyesuaikan pelayanan jika benar pelanggannya sedang hamil.


Anin tersenyum. "Iya, pak. Kita pelan-pelan saja." Lalu mengelus lagi perut yang masih rata itu.


"Siap, Bu." Pak supir pun membalas dengan memberi bonus senyuman.


Pasti terlihat sangat konyol. Memalukan sekali! Yaa ampun. Gadis bernama Anin itu merona.


Setelah menghabiskan satu jam kurang lebihnya di perjalanan, akhirnya tiba pada tempat tujuan. 


Lama ya, padahal biasanya setengah jam sampai.


Nggak usah protes! Kan tadi kamu sendiri yg minta pelan - pelan.


Yaa, baiklaah!! Nggak.


Setelah membayar tagihan, menurunkan barang bawaan, melangkahkan kakinya memasuki area kantor suaminya untuk yang pertama kalinya.


Sungguh nekat kau, Nin!! Apa lupa akibat kau menelpon ke kantor???


Aahh, nggak lah.. kali ini kan beda.


"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Salah seorang yang bertuliskan security pada seragam yang dikenakannya menyambutnya.


Anin menautkan kedua alisnya. Wajarlah kalau dia nggak mengenali istri bos nya, mungkin dia tidak hadir pada acara pernikahan bos nya.


"Saya ingin bertemu pak Bima -- maksud saya pak Bas Aji, Apa bapak ada?" Jawab Anin. Oh ya, sampai lupa, di kantor suamiku lebih dikenal dengan panggilan depannya : Basuki. Sedangkan aku lebih suka memanggilnya Bima.


"Sebentar Ibu, saya konfirmasi sekretarisnya dulu." Lalu pak security yang bertuliskan Suwoto pada tanda pengenalnya itu menekan tombol pada pesawat telepon.


Tiba-tiba Anin merasa lapar. Perutnya berdendang. Padahal tadi pagi dia sudah makan banyak. Dan sekarang baru pukul sepuluh lewat, sudah lapar lagi. Astaga!!!

__ADS_1


"Mohon maaf, Ibu. Bapak sedang ada tamu. Dan kebetulan jadwalnya penuh hingga jam makan siang nanti." Pak suwoto menjelaskan.


"Nggak apa-apa, Saya tunggu." Ucap Anin lagi dengan sedikit kesal. Karena ini mau sampai kapan berdiri! capek woi.. dan asal Lo tau, gue bunting anak bos Lu!! belum lagi heels sialan ini, huh!! Kenapa juga pake heels setinggi ini. Aaaah!! Kata-kaya yang tentu saja hanya berani Anin ucapkan dalam hati sekesal apapun dirinya tidak akan sanggup memaki.


"…silahkan ibu bisa menunggu disana." Pak Woto menunjukan ruang bertuliskan 'waiting room terbuka' yang berpenghuni bapak-bapak yang sedang merokok. "Oh ya, sebelumnya boleh saya pinjam tanda pengenal ibu?" tanyanya lagi.


Anin bengong memandangi ruang tunggu. Gila aja!! Masa Sebelahan dengan smoking area!!!


"Saya ingin tunggu di dalam saja pak, yang adem. Disini panas." protes Anin kibas-kibas tangan, kemudian menyodorkan Kartu tanda pengenal.


Seorang Security lain menyahut dengan cibirannya. "Namanya Jakarta mba, ya begini, panas. Memang mbak dari mana, bawa-bawa koper segala??" Memandangi Istri bosnya dari ujung kaki hingga ke pucuk kepala. "Baru keterima kerja yaa???"


Sabar Nin, sabar..... mereka hanya menjalankan tugas. okeey....sabaaarr~~~~


"Selera bos memang yahuud-yahuudd ya, To." Tandas security tersebut.


Anin melebarkan matanya, setelah apa yang baru saja ia dengar. kurang ajar ni satpam!!


"Huss, ngawur kamu, Sis." Jawab pak Suwoto. Lalu menoleh ke arah Anin. "Sebentar Bu, yaa... Saya izin dulu ke sekretarisnya apa boleh atau tidak. Soalnya bapak suka marah bu."


"Aah, yaa! saya tahu itu." Jawab Anin singkat karena mulai teramat sangat kesal. Sekali lagi ditolak, demi bulu ketek monyet, gue obrak abrik nih kantor.


Anin menarik nafas panjang. Dan kenapa gue... merasa seperti...Aah iya!! Mungkin karena hormon kehamilan, jadi sensian. baiklah, Anin tenang... kalem... everything will be fine. Lupakan Jogja! Lupakan Indra. Lupakan. Yaa lupakan!! Firman, ingat kamu harus segera memberitahu Firman.


Tak lebih dari sepuluh menit. Pak Suwoto kembali dengan muka yang memucat.


Kenapa deh, ni orang...pikir Anin. Kena marah kah??


"Ibu, Mari silahkan ikut saya." Pak Woto lalu menyerahkan kembali tanda pengenal milik Anin.


Anin terlihat bingung. "Lho, malah dibalikin. Dan saya nggak dikasih visitor id?"


"Anu--tidak perlu, Mari silahkan ibu ikut saya, biar saya antarkan ke dalam." Pak Woto menjadi sangat ramah. Terkecuali si Sis-Sis itu.


"Lho,To, Pos kosong itu lho, malah mbok tinggal, piye tho??!!" protes Sis teman Pak security.


Pak Woto menyikut Sis temannya itu. "Maafkan kami, Bu. Kami tidak mengenali Ibu."


Oh..jadi sebab itu, mereka sudah tahu siapa saya. Anin membalas dengan tersenyum ramah. Dalam hati sih tertawa puas.


"Lho, ngopo tho iki? Koe kenapa tho..?? Lah kok malah mundhuk-mundhuk ngono kui." Ucapnya sengaja dengan bahasa daerah dengan maksud agar tamunya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Bodoh!! Gue juga dari jawa keless!!! batin Anin.


"Diem dulu." Bentak Pak Woto pada rekan kerjanya itu yang menurut Anin sedikit kurang ajar. "Saya mau antar istri bos dulu."


Seketika Sis melongo. Dan entah apa yang ada dalam otaknya saat itu Anin sama sekali tidak peduli. Mati berdiri sekalipun, Anin tak akan peduli.


Dan ketika perempuan itu hendak menyeret kopernya. Pak Woto melarangnya dan menawarkan diri untuk membantunya.


"Siswoyo, Bu." Ucap Pak Woto takut-takut. Tamatlah riwayatmu,Sis.


"Ooh..."


**


Anin bertemu resepsionis -dan dia ingat gadis ayu berparas kental jawa -hitam manis- itu pernah datang ke resepsi pernikahannya dulu- di garis depan.


Dan gadis itu pun langsung menyambut Anin dengan ramah. "Di lantai 15 Bu," ucapnya sopan.


"Oke,Terimakasih." Jawab Anin dengan tak ketinggalan menyelipkan sedikit senyum.


Anin kemudian melangkah menuju lift yang terletak di sebelah kiri tak jauh dari meja resepsionis. Dan mengekor di belakangnya pak Woto dengan patuh.


Dengan jarak yang tersisa, Anin sendiri masih bisa melihat dan menangkap pembicaraan yang terdengar samar-samar dari obrolan beberapa wanita yang sedang berkumpul disana.


Padahal masih jam kerja.


"Siapa itu?" Seseorang bertanya pada petugas resepsionis.


"Istri bos."


"Wih, gilaa yees, si Bos."


"Dengar-dengar, istri si bos dokter? Apa Apoteker, ya?"


"Ho-oh, katanya sih dokter. Kok, tumben ya, dia berkunjung..." Tanya seorang wanita yang terlihat paling putih dan montok diantara teman-temannya.


"Feeling kali..." Jawab seorang wanita lagi yang juga ada ditempat.


Petugas resepsionis menjawab rasa penasaran teman-temannya dengan menganggukan kepala kemudian melempar pandangannya ke arah Pearly yang juga tidak sengaja sedang menatap ke arahnya.


"Ssstt..." petugas resepsionis itu berisyarat agar teman-temannya diam melalui jarinya. Lalu berpura-pura melanjutkan pekerjaannya lagi.


Pe menoleh lagi ke depan. Menunggu pintu lift terbuka. Dimanapun sama saja. Biang gosip selalu tumbuh subur. Pe kemudian menghilang bersama pintu elevator yang terbuka.


Ting…


Lantai 15


Begitu Pintu elevator terbuka, Anin disambut oleh beberapa lukisan yang menggantung pada sisi dinding yang menghadap elevator itu.


"Arah sebelah kiri, Bu." Seru pak Woto yang mengira nyonya bosnya kebingungan padahal sedang mengamati Wanita yang baru saja melintas di depannya.


Cuma kebetulan saja: mirip.


"Oh, iya Pak." Pe pun melangkah sesuai arahan pak Woto, hingga berhenti tepat di depan meja sekretaris yang langsung terkejut atas kunjungan yang mendadak. Tanpa sadar Sekretaris itu menoleh ke arah pak Woto dengan ekspresi penuh tanya.

__ADS_1


Anin yang mengira keterkejutan sang sekretaris karena koper yang dibawakan Pak Woto segera memutuskan untuk membawa sendiri kopernya. "Sudah pak, sampai disini saja. Terima kasih sudah dibantu." Ucap Pe kemudian.


"Ooh, biar saja bu, ibu masuk saja. Biar kopernya saya yang simpan." potong sekretaris itu. Lalu merebut koper itu dari tangan pak Woto yang sesaat lalu dilanda bingung, namun akhirnya ia menyerahkannya pada sekretaris lalu berpamitan.


Dengan raut wajah siaga empat lima. sekretaris yang tak kalah cantik dari petugas resepsionis itu menyilahkan Anin masuk.


Jelas tamunya sangat penting dan semua staff mengerti bahwa bos mereka galak sampai-sampai untuk mengetuk pintu saja sekretaris itu gemetar. Anin pun sudah siap jika seandainya suaminya marah atas kedatangannya.


Anin mendorong pintu itu. Yang kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Sepi. Kemana Mas Bim??


Anin akhirnya memutuskan untuk masuk dan menunggu di dalam. Ingin segera rebahan atau sekedar mengistirahatkan kakinya.


Anin  berkeliling sebentar, mengamati pigura yang tergantung rapi. Menilai selera suaminya dalam mendekor ruangan. Indaaah... Tata letak yang bagus. Dengan pemilihan warna yang pas senada dengan furniture di dalamnya.


Anin berhenti pada sofa tamu yang tersedia di sudut kanan ruangan yang berbatasan langsung dengan kaca besar menghadap keluar dan berinisiatif membuka tirai yang menutupinya. Kenapa di tutup. kan lumayan, bisa pantau kemacetan dari atas sini.


Anin kemudian mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa. Aaah...akhirnya. Kita bisa selonjoran yaa dek. Anin mengusap perutnya. Ruangan yang cukup luas pikir Anin lagi.


"Hai sayang," Bima muncul dari ruangan di belakang meja kerjanya. "Kok tumben mampir kesini...." Bim menghampiri istrinya lalu mendaratkan bibirnya tepat di pucuk kepalanya.


Ooh, ada ruangan juga disitu, boleh juga..bisa buat tidur-tiduran.


Bim mengikuti arah tatapan istrinya. "Ooh, di belakang situ toilet. Kenapa?"


Anin menoleh pada suaminya. "Yah, aku kira kamar tidur pengen rebahan."


Bim mengambil posisi duduk di sebelah istrinya. "Lagian, bukannya langsung pulang. Ini malah jalan-jalan kesini. Mau minum apa??"


"Adanya apa?"


"Semua ada..."


"Jus alpukat, ada...??" Anin menyeringai. Pasti tidak ada.


Bima tersenyum. "Tentu, tunggu lah." Ia pun bangkit kemudian meraih telepon kabel di atas mejanya dan menyuruh seseorang untuk mendapatkan jus alpukat tidak peduli bagaimanapun caranya.


Dasar kingkong!! Sama aja bohong!! Pe terkekeh puas, sampai ia merasa perlu menggeser posisinya. Dan ia tersadar ada sesuatu yang menyangkut pada heels-nya.


Apa ini?? Anin membungkuk untuk memastikan benda apa yang tersangkut. Lalu, berinisiatif menariknya keluar dari kakinya dan buru-buru menjatuhkannya lagi.


Mendorongnya hingga masuk kolong sofa.


Demi tuhan!!! Katakan itu tidak mungkin?


Seketika Anin merasakan mual yang teramat sangat. Dan sudah tak tertahankan minta dikeluarkan.


Anin setengah berlari menuju ruangan di belakang meja itu. Lalu kemudian memuntahkan sebagian sarapan tadi pagi.


"Sayang... kamu kenapa?? kamu sakit??" Tanya Bima khawatir. Pria itu mengetuk pintu lagi lalu meminta izin untuk masuk.


"Nggak apa-apa, Mas. Tiba-tiba saja mual." ucap Anin ketika Bima sudah berada di dalam toilet bersamanya.


Bima mendukung istrinya untuk kembali duduk di sofa. "Saya antar pulang yaa? Dirumah kan bisa istirahat."


"…sudah sampai sini, paling nggak kita makan siang bareng dulu..." Anin merajuk. “Lagian suruh siapa, ditelpon susah banget. Kirim pesan gak dijawab juga. Sesibuk apa sih sampai ngebiarin istrinya naik taxi!" Protes Anin.


"Mana saya tahu kamu pulang lebih awal. Katanya kan masih besok lusa."


"Ya pasti tahu kalau seandainya kamu baca pesanku!" Anin mulai kesal.


"Oke..oke.. sorry.  saya yang salah. Saya mengaku salah. Okeee?" Bim kemudian mencium punggung tangan istrinya dengan lembut. "…jadi kita mau makan siang dimana?"


Anin menarik mundur tangannya. "Nggak usah, biar aku pulang saja."


"Lho, katanya tadi minta makan siang dulu..."


"Nggak jadi lapar dan pasti kamu juga sibuk."


"Jangan marah dong sayang, kan tadi sudah minta maaf." Rayu Bima. "…lalu jus nya bagaimana?"


"Nggak, Nggak marah. Bener deh, aku lebih baik pulang." Gumam Anin berusaha senatural mungkin. "Kayaknya memang perlu istirahat."


"Oke. Saya antar."


"Nggak, nggak usah. Nggak perlu mas..lebih baik kamu selesaikan pekerjaanmu disini. Biar cepat selesai dan cepat pulang."


"Kalau begitu, biar pak Suripto yang antar."


"Boleh..kalau tidak repot." Anin memaksakan senyumnya.


Bima kemudian menghubungi sekretarisnya agar menghubungi pak surip untuk standby di lobby.


Pria itu pun memeluk istrinya sebentar lalu mencium keningnya sebelum melepas kepergian sang istri. "Kamu hati-hati dijalan. Kabari kalau sudah sampai rumah."


Kayak mau minggat aja. Anin membalas pelukan suaminya. "Pasti kamu terima kabarku, asal ponselmu tidak mati lagi." Sindirnya.


"Iyaa, sayang..." Bima mengulum senyum.


Dan setelah Anin meninggalkan ruangan, Bima menyempatkan membuka ponselnya yang ternyata dalam mode *pesawat*.


Setelah di aktifkan rupanya ada cukup banyak pesan -whatsApp- masuk dari istrinya dan beberapa panggilan tak terjawab. Dan baru dia ingat sebelumnya Bintang lah yang bermain dengan ponselnya.


shitt!!! Bima memekik ketika seseorang dengan tiba-tiba menghambur ke arahnya.


"Apa sudah pulang?" tanya gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2