Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Close 1


__ADS_3

Jakarta hari minggu siang ini....


Nggak macet dong, Ya...walaupun nggak bebas-bebas amat sih, tapi lancar.


Selancar senyuman kamu yang naik turun kayak prosotan  ya, Nin?


Anin tersenyum menatap jalanan di depan.


Rupanya hari ini -eh dari bangun pagi- suasana hatimu lagi happy ya, Nin?


Anin masih dengan kegiatan yang sama, menatap jalanan dengan senyum mengembang yang hilang timbul.


Sesekali Bima melirik ke samping, mengamati istrinya kemudian ikut tersenyum juga.


Sebenarnya apa yang sedang gadis itu pikirkan? Hingga selebar mukanya berganti warna dari putih lalu merona dan di akhiri dengan senyuman malu malu dengan cepat.


"Kenapa sih?" tanya Bima akhirnya. Dengan masih fokus pada kendaraan dan jalanan.


Anin menoleh, "Apanya yang kenapa?"


"Ya kamu, kenapa? Kenapa dari tadi senyum senyum sendiri," tanyanya lagi.


"Nggak, pa-pa," elaknya. Mukanya kembali merona.


Karena sebenarnya Anin teringat dengan keberanian serta kegilaan dirinya sendiri pada  malam-malam yang yang baru saja ia lewati.


Aauuh!! Memalukan sekali!!


Anin mengibas-ngibaskan telapak tangannya mencari tambahan udara. Dan suaminya mengira ac dalam mobilnya kurang dingin sehingga istrinya masih merasa kepanasan.


Bima menautkan kedua alisnya, "Panas? Ac-nya kurang dingin?" Mendekatkan telapak tangan kirinya pada ventilasi Ac. Dingin kok. pikirnya. "Di rumah nanti biar ku suruh pak Min bawa ke tukang servis deh...sekalian buat lepas jok belakang...." 


Bima kembali melirik spion. "Lama juga si blacky nggak servis." katanya sambil tersenyum jahil.


Anin heran pada rencana suaminya. "Loh, kenapa dicopot? Jelek aah."


"Yaa, siapa tahu kamu butuh tambahan space buat nanti malam  kita main-main disini." Bima mengerling ke arah istrinya yang sudah seperti udang rebus.


"A-pa?!" Seraya mencubit lengan suaminya. "Jangan mimpi...."


Bima tertawa. "Loh, siapa tahu, kan saya cuma berjaga-jaga.. kali aja kamu akan seganas dan sepanas semalam."


Anin memukul bahu suaminya dan sekeras apapun usahanya untuk menyembunyikan rasa malu serta bahagia nya ia selalu gagal.


Selalu dan selalu kembali terlintas akan kegilaannya bersama suaminya semalam.


Tentang bagaimana dirinya menggoda suaminya, melakukan hal yang untuk pertama kalinya secara sadar dan terang-terangan bahwa ialah yang menginginkannya.


Melakukan kegiatan yang juga ia tahu, tidak dianjurkan dalam dunia profesinya. Walaupun ada sebagian yang berpendapat bahwa lebih baik dengan mulut daripada menggunakan tangan, bahkan tanpa rasa malu ia mengulanginya lagi hingga beberapa kali.


Belum lagi, ia meminta pada suaminya untuk mempraktekan gaya baru khusus bumil, yang sebenarnya diperuntukan ketika usia kehamilan delapan atau sembilan bulan dengan alasan: jadi nanti kalau sudah waktunya kan tinggal melancarkan saja.


Aah, alasan macam apa itu!! Sial, sial! Dan kenapa saat itu susah sekali mengontrol diri.


Aah.. mungkin faktor kehamilan juga mempengaruhi... hormon feromon, hormon ....aah, apa benar begitu??


Anin menutupi senyumnya dengan membuang pandangannya ke jendela.


Menatap gedung-gedung tinggi yang terlewati lalu tukang gorengan, toko karpet, Toko Onderdil motor, sebuah restoran jepang, Toko mahkota perabot.


Oh.. disitu juga ada bantal, ada kasur, oh springbed yang bagus, sepertinya enak buat tidur...


Tidur? Kok tidur??!


Astaga!!!!


Anin kembali berusaha membuang segala rasa entah apa saja yang berusaha membawanya kembali pada kejadian semalam.


Karena itu memalukan!!


Anin menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


Bima tertawa, "Nggak usah dibayangin, kita praktekan saja nanti malam." dan Bim kembali terbahak.


"Enggak!"


"Iya juga nggak apa-apa kok sayang, nggak perlu malu."


"Beneran, nggak!" Lalu, "Lagian apa enaknya di tempat sempit begi--" Anin sadar telah kelepasan bicara.


"Tuh, kan...." goda Bima. "Bener kan...."


"Apa-an, sih, Udah deh! fokus aja tuh jalanan." Gerutu Anin.


Yah, dia malu pemirsa. Dasar wanita.


"Siap nyonya." jawabnya sambil melirik istrinya, "Eh, tapi apa benar yaa sayang, kalau orang hamil itu libidonya jadi meningkat. Lebih sensitif. Benarkah begitu bu dokter?"


Pertanyaan macam apa itu. Dijawab salah, nggak dijawab kena juga.


"Aku nggak tahu, kalau soal itu."


"Ayolah sayang, jawab saja. Atau utarakan pendapatmu saja, bagaimana," katanya di tengah-tengah antrian pintu masuk parkiran apartemen mereka. "...karena kalau iya, saya sangat setuju dengan teori itu," lalu ia tersenyum nakal.


"Loh, sudah sampai. Kok cepet ya mas?!" Anin berusaha mengalihkan perhatian suaminya.


"Awas aja kalau nanti malam, merengek-rengek, nggak akan saya kasih!!" Kata laki-laki itu.


"Ku pastikan, Nggak akan ada rengekan!" Tatapannya tajam menusuk.


"Woho, Istriku telah kembali."


****


Pagi yang cerah untuk seorang ibu hamil yang sedang bahagia.


Selamat pagi sayang....--- ini suami


Pagi Neng Ayu,--- ini mbok jum


Selamat pagi Bu dokter--- ini pak satpam


Pagi, Dok...--- kalau ini suster-suster yang berseliweran atau petugas cleaning atau petugas lainnya.


Selamat datang kembali dokter, senang akhirnya mau bergabung di sini lagi. ----ini pak bos di RS ini.


Ah, dokter sudah kembali? Sudah selesai ya ishipnya. (program untuk dokter ikatan dinas). ---- nah, yang begini ini model-model sapaan bigos (biang gosip).


Jadi, akhirnya dokter ngelamar kerja disini juga?? Kalau yang ini biasanya tipe-tipe netizen julita jaya nih.


Anin menyambut, membalas  dan menyalami setiap teman, rekan dan pak bos yang ia temui.


"Selamat bergabung kembali dokter. Wah... udah buncit ajaa tuh perut," sapa dan goda suster ida seraya memeluk tubuh Anin yang disambut hangat oleh Anin dengan balas memeluknya. "Aku kangen mbak ida."


"Ah, masa?? Nggak kangen  yang lain? Dokter Firman misalnya??" Godanya lagi.


Anin tertawa mendengar kelakar perawatnya itu.


"Haha, Kangen juga sih."


"Awas ya, saya laporkan ke suami,"


"Yaaa... jangan begitu dong, wanita juga kan butuh penyegaran mbak, kalau yang di rumah sudah bikin empet." Anin membela diri.


"Yang segitu kinclongnya?!! Bisa juga bikin empet, dok??!" Suster Ida ber wah-wah ria, "Bagaimana kalau bentuknya kayak bajai, dok?"


Anin kembali tertawa, kali ini bersama-bersama dengan suster kesayangannya itu.

__ADS_1


Setelah puas menginterogasi dokter yang tengah hamil itu, suster ida kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


Anin sendiri belum tahu akan ditugaskan dimana dan kapan jadwal prakteknya, karena belum dapat jadwal baru.


Dan ia harus melapor pada bagian humas rumah sakit terlebih dulu untuk mendapatkan segala yang dibutuhkan terkait perubahan status kepegawaian dirinya.


Tapi sebelumnya ia perlu juga menyambangi praktek dokter Wisnu setelah menemui dokter Firman tentu saja. Karena ia berhutang maaf padanya.


Karena selama ini telah bersikap tidak sopan -kasar- lebih tepatnya dan cenderung tidak profesional jika menyangkut pekerjaan yang berhubungan dengannya.


Untungnya kali ini ia tak perlu lagi menghindari Abi. Karena  Laki-laki itu sudah aman di tempat yang seharusnya.


Anin menghela nafas.


Ternyata dirinya butuh waktu lebih lama untuk memecahkan rahasia itu.


Rahasia bagaimana Abi membunuh istrinya dengan perlahan. Bahkan telah direncanakan sebelum ia menikahinya.


Dengan memanfaatkan kekurangan istrinya yang selalu ingin tampil cantik dan menarik, Abi menawarkan diri untuk merawat serta melakukan skincare secara khusus untuk istrinya.


Cukup ampuh, cara yang dipilihnya tanpa menimbulkan kecurigaan. Mengingat ia membuat sendiri krim anti aging serta krim-krim lainnya yang khusus untuk dipakai istrinya yang rupanya telah ia campur zat kimia berbahaya.


Pelan namun pasti, kandungan zat tersebut mengendap dan lama-kelamaan akan menimbulkan reaksi pada tubuh.


Rupanya hal itu telah diprediksi dengan matang oleh Abi, sehingga ia perlu meresepkan beberapa obat dan vitamin agar diminum istrinya dengan tujuan supaya menekan reaksi yang muncul secara mendadak.


Iblis apa yang merasuki dirinya. Ketika ia merencanakan semua itu. Bahkan ia sengaja membiarkan istrinya menderita.


Namun seperti kata pepatah : sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh juga. Dan tuhan maha berkehendak.


Tuhan memberikan petunjuk melalui mata dokter Wisnu dan kepintaran praduga diagnosa Anin yang cukup beralasan serta keberanian Mika yang berhasil mengambil satu-satunya mug yang terbuat dari porselen yang rupanya bekas digunakan untuk mencampur bahan-bahan krim tersebut sebelum dikemas dalam sebuah wadah sejenis toples kecil berbahan dasar kaca mika lengkap dengan tutupnya.


Mika sempat melihat benda itu tersimpan rapi di laci lengkap dengan sebuah kunci -bahkan terlalu rapuh untuk sebuah mortar (alat yang biasanya dipakai untuk membuat puyer) bagi seorang dokter sekalipun.


Mulanya ia tidak curiga, hingga interogasi dokter Wisnu berhasil mengembalikan ingatan itu.


Lalu hasil pemeriksaan Lab yang dimanipulasi pun telah diketahui oleh dokter Wisnu.


Sekali lagi tuhan memang selalu hadir membantu, Petugas Lab sempat mencatat nilai-nilai pada buku laporan jaga dengan tujuan untuk memudahkan petugas yang akan melanjutkan shift jaganya.


Namun sebelum sempat operan jaga, rumah sakit heboh. Termasuk petugas Lab.


Dan Abi menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hasil lab tersebut. Lalu menukar dengan hasil lab yang lain.


Setelah dirasa cukup kuat bukti-buktinya, dokter Dirman atas persetujuan ayahnya membongkar kembali makam adiknya untuk dilakukan autopsi.


Dan hasil nya cocok, adiknya keracunan zat kimia berbahaya Sejenis sianida yang juga terdapat pada mortar milik dokter Abi.


Diperkuat dengan kesaksian Mika yang mendengar langsung rencana itu. Akhirnya Abi dinyatakan tersangka tunggal untuk kasus itu. Dengan motif sakit hati. Ia merencanakan dan melakukan hal itu.


Meskipun awalnya dia mengelak dan menuntut balik atas pencemaran nama baik. Namun akhirnya ia mengaku dan menerima dengan pasrah ketika jaksa penuntut menanyakan dari mana dan dengan cara apa ia mendapatkan zat tersebut.


Dan setiap pertanyaan itu diajukan selama itu pula Abi diam seribu bahasa.


Anin pun heran ketika sahabatnya menceritakan hal itu. Sehingga ia pun melakukan penyelidikannya secara diam-diam dengan di bantu oleh dokter Wisnu tentu saja. Satu-satu nya orang yang mengetahui kisahnya secara lengkap termasuk perselingkuhan suaminya.


Dan akhirnya Anin tahu, Abi melakukan hal itu untuk melindungi keluarganya, kakaknya atau mungkin ayahnya.


Dan yang sebenarnya terjadi adalah, karena semua akses yang berkaitan dengan Kartika telah ditutup rapat oleh suaminya sendiri beserta segala yang berhubungan dengan rekaman video sialan itu!!


Bahkan Abi tak luput dari ancaman Bima.


Nyawa harus dibayar nyawa. Dan kau tahu, semua bisa kulakukan untuk membalas dendam atas semua perbuatanmu padaku, Istriku dan kakakmu sendiri.


Jadi jangan coba-coba untuk mengacau lagi serta berbaik hatilah pada kakakmu. Atau fikirkan Ayahmu. Ancam Bima pada saat itu.


Abi yang sedikit paham siapa Bima menciut juga. Atau mungkin karena pertimbangan ayahnya, bisa juga kakaknya.


Hingga Anin mengetahui setelah menerima berkas dari tangan Wisnu. Dan dengan mata kepalanya sendiri ia mengeja kalimat yang tertulis pada selembar kertas dengan jelas hubungan darah antara keduanya.


Dan hanya menjawab Abi menutupinya untuk melindungi keluarganya dan tidak menyebutkan namanya secara jelas. Namun, karena hal itu pula ia bisa mengancam wanita itu.


Untuk sementara waktu, berkas itu Anin simpan dan akan digunakan apabila kedepannya si jalang itu berbuat ulah lagi.


Dan Anin tidak tahu, jika saat itu tiba, maka ia akan berhadapan dengan suaminya sendiri.


Bom waktu yang kapan saja bisa meledak untuk keduanya.


Atas perbuatannya Abipun akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup dan segala yang berkaitan dengan profesinya harus ia relakan.


Sekarang kita semua dapat bernafas lega tanpa beban.


Se-dahsyat itu dunia berhasil mengubah seorang dokter dengan ilmunya menjadi seorang pembunuh.


Dan biarlah motif sesungguhnya hanya akan menjadi milik Abi hingga ajalnya tiba.


Anin  kembali fokus pada keadaan sekitar.


Lama juga ia  berperang dengan Firman.


Mungkin ada satu tahun atau bahkan lebih.


Satu tahun?


Jadi, yang waktu itu..


Si kingkong nyusul ke Kuningan


dengan seikat bunga.. 


makanan banyak ..


Lalu mainan...


Anin membekap mulutnya sendiri.


Ya ampun, pantas saja... kenapa aku sampai lupa!


Tanggal berapa sih ini??


Anin mengambil ponsel dari dalam saku jas-nya. Terperanjat. Udah kelewat jauh. menepuk jidatnya sendiri.


Sekarang, Bulan oktober tanggal sepuluh, Itu berarti… Masih bisa untuk mencari sesuatu yang spesial untuknya.


Apa ya??


Sambil memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan pada suaminya, Anin kemudian melanjutkan langkahnya.


Bermaksud menemui dokter Firman dan tak sengaja berpapasan dengan dokter Wisnu yang juga ingin menemui Firman.


"Kalau begitu, mari..silahkan ladies first." kata dokter Wisnu ketika menawarkan diri untuk bersama-sama pergi ke tempat Firman.


Hari yang bagus untuk mulai beraktifitas pikirnya.


Sementara itu,  Dokter Firman sedang dalam kebingungan ketika dokter Wisnu dan Anin menyambangi tempat prakteknya.


Karena tiba-tiba ia mendapat pasien yang seharusnya masuk IGD - kebidanan dan bukan malah kesini.


Dan benar saja, baru akan diperiksa gadis itu mengalami perdarahan lagi.


Seperti mendapat pertolongan tuhan, Firman berucap syukur atas kedatangan sang pawangnya bagian kebidanan. Dokter Wisnu.


"Seorang gadis datang bersama teman laki-lakinya diantar oleh seorang wanita yang entah siapa, gadis itu mengalami perdarahan pasca coitus (bahasa kita 'istilah medis' - untuk mengganti kata bersenggama) dok," lapor Firman pada dokter Wisnu.


"Loh, kenapa jadi ke saya, Justru saya kesini mau menilai kinerjamu."


Anin terkekeh. Melihat teman sejawatnya kebingungan.

__ADS_1


"Tolonglah, dok. Sekali ini saja, saya belum pengalaman untuk yang satu ini, salah-salah bisa makin rusak hymen (istilah untuk selaput dara- selaput kegadisan.) itu." Katanya memohon.


Wisnu mendengus setengah kesal.


"Ya sudah, tapi untuk kali ini saja."


"Siap." Jawab Firman girang.


"Nin, kau juga boleh ikut, kalau nanti ketemu kasus serupa tidak kebingungan macam si do*dol ini." Perintah dokter Wisnu.


Anin mengangguk setuju dan kemudian ikut masuk dan memperhatikan ex-dokter pembimbingnya itu.


Setengah jam kemudian pemeriksaan selesai dengan diagnosa perdarahan pervagiman akibat robekan dan pasien harus mendapatkan perawatan pemulihan di rumah sakit untuk beberapa hari.


Namun masih menunggu pihak keluarga yang infonya masih dalam perjalanan. Walaupun pemuda yang menemaninya bersikeras bisa bertanggung jawab namun dokter Wisnu tidak mengizinkan karena mereka masih berstatus pelajar putih abu-abu.


Miris sekali ya.


"Bukan saya tidak percaya Dek,  Karena ini penting sehingga harus ada pihak keluarga."


"saya pacarnya dok, saya pasti akan bertanggung jawab." kata pemuda itu terbata-bata dengan muka pucat.


"Iya, saya percaya, dan saya bangga sama kamu, karena telah berani berterus terang." kata Dokter Wisnu berusaha menenangkan, "...jadi, dimana kalian melakukan nya?"


"Di kamar mandi, Dok."


"Di rumah?"


"Kosan dok." Ucap pemuda itu tertunduk malu. "Pacarku sedang cuci baju...terus saya ajakin begituan."


"Berapa kali?" Tanyanya lagi dengan sangat hati-hati.


"Baru satu kali itu, dok..., tapi selesai itu tidak apa-apa, terus itu baru keluar da-rah pas mau berangkat sekolah."


"Jadi kalian melakukannya malam tadi?"


"Nggak, bukan dokter."


"Lalu?"


"Selepas subuh tadi, pacar saya lagi nyu-ci di sumur, terus aku ajak berhubungan di dalam kamar mandi, setelah itu dia lanjut nyuci lagi dan tidak terjadi apa-apa, baru setelah itu pas kita mau be-rangkat se-sekolah dia keluar darah banyak. Aku suruh istirahat. Terus aku suruh pake pembalut tapi masih tembus, terus aku kasih selendang buat ganjal itunya. Sambil minum obat yang beli di warung tapi wak-tu i-itu wa-wajahnya makin pucat." Kata pemuda itu menjelaskan.


Metode macam apa yang kau lakukan hingga terjadi robekan. Wisnu menghela nafasnya, "Jadi tadi Kamu kesini naik apa?"


"Di antar sama orang yang kebetulan lewat. Itu ta-di ada masih di luar,  Aku ng-nggak tau siapa."


Dokter Wisnu menoleh ke arah Anin, "dok, tolong panggilkan orang yang antar mereka kesini, ya."


"Baik, dok." Dan Anin segera menuju pintu untuk memanggil siapa pun yang membawa pasien dengan perdarahan.


Ketika panggilan ketiga di teriakkan akhirnya ada juga seseorang yang menyahut.


Segera Anin menginstruksikan untuk masuk keruangan dan pada saat yang bersamaan orang tua dari kedua muda mudi itu pun muncul tergopoh-gopoh menyerbu dokter Anin dengan berderai air mata.


Tak menyia-nyiakan waktu, Anin pun segera membawa masuk ibu dari masing-masing muda mudi itu, dan menyuruh sang ayah agar menunggu di luar saja.


Sekedar berjaga-jaga saja.


Takutnya terjadi adu jotos di dalam ruangan.


Ketika seorang wanita masuk, dokter Wisnu kaget saking kagetnya matanya terasa mau loncat melihat kecantikannya, namun ia segera menata otaknya, dan akhirnya berhasil menguasai dirinya lagi.


Disusul dua wanita yang ternyata adalah ibu dari muda mudi tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya, dengan ibu siapa?"tanya dokter Wisnu.


"Andaresta."


"Ooh ya," katanya manggut manggut "Emm, maaf, maksud saya, ya-- jadi andalah lah yang membawa mereka kesini?!"


"Kebetulan saya lewat dan melihat bocah-bocah ini sedang duduk, yang satu kebingungan yang satu menangis. Ku pikir mereka sedang dalam masalah." Ucap Resta menjelaskan, "Jadi, apa sudah bisa saya tinggal? Saya sedang terburu-buru."


"Oh iya, bisa.. silahkan. kebetulan walinya sudah ada, I--"


"Oke, saya permisi kalau begitu." sela Resta tanpa basa basi lagi.


Wanita itu pun berpamitan setelah mendapat beberapa kali ucapan terima kasih dari para orang tua itu.


Dan kedua ibu itu menangis yang terdengar sangat pilu, terlebih ibu dari si gadis Setelah mendapat penjelasan dokter Wisnu dan pengakuan pemuda itu. Bahwa anak gadisnya sudah hilang kegadisannya, dan dia perlu dilakukan tindakan rekonstruksi liang ****** karena mengalami robekan. Serta butuh transfusi darah.


Reaksi wajar ketika sang ibu si gadis menyalahkan pemuda itu, karena dalam kasus ini pasti yang sangat dirugikan adalah pihak perempuan.


Akan membekas seumur hidup. Belum lagi trauma psikis yang akan dialami gadis itu.


Jadi Pesan dokter Wisnu, buat kalian "Jagalah dengan nyawa kalian mahkota itu untuk nanti dipersembahkan pada saat yang tepat."


Semua orang yang menyaksikan pasti sangat menyayangkan. Termasuk dokter itu sendiri.


Hal terberatnya adalah ketika harus memberitahu pihak keluarga.


Dokter Wisnu menghela nafas panjang.


"Jadi... untuk kasus yang tadi, siapa diantara mereka yang paling cantik?" Tanya firman iseng setelah segala urusan dengan pasiennya beres.


"Gila ya.. ternyata ada wanita secantik dan seanggun itu di dunia." Katanya lagi.


"Eheem, jadi ada yang kecantol nih?" Anin menimpali kelakar Firman. "Sampe terbengong-bengong. Saya lihat loh tadi."


"Heh, kalian ini bicara apa!" Ucap Wisnu kikuk.


Firman dan Anin tertawa hampir bersamaan.


"Oh iya, dok," Anin menghentikan tawanya karena baru saja ia ingat tujuannya datang kesitu.


Sama-sama merasa terpanggil, Kedua laki-laki itu pun menoleh.


"Dokter Firman maksud saya," Anin memperjelas maksudnya.


"itu.. saya kesini-- sebenarnya i-tu, anu...eehm, saya ber--maksud untuk meminta maaf atas sikap dan ketidak sopanan saya di masa lalu." Ucap Anin malu-malu dan sedikit tersendat.


"Aah...itu," Firman mendadak ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, karena ternyata selama ini saya telah salah sangka. Mohon dimaafkan ya, Dok," seraya mengulurkan tangan kanannya.


Firman menjabat lembut jemari wanita itu, "Its oke, Nin. Kita sama-sama korban." Lalu melepaskannya lagi.


Seketika suasana jadi hening dan canggung.


Wisnu yang paham dengan situasinya akhirnya buka suara,  "Nah gitu dong, kan jadi enak lihatnya." 


"Jadi siapa yang akan traktir makan siangku di kantin?" Tanya Wisnu lagi.


"Biar saya saja, dok. Itung-itung bayar ongkos jasa." Seru Firman.


"Eih, si kampret ini, jasaku kau hargai dengan harga semangkok bakso. Tapi ya sudahlah,  Tak apa."


Anin tersenyum melihat kedua rekan sejawatnya tengah bernegosiasi.


Kini hatinya merasa lega, satu beban berat telah terangkat.


"Saya juga dong, jadi kepingin bakso nih, Bawaan orok juga sepertinya, dok. Katanya minta di bayarin juga." Ucapnya tak mau ketinggalan.


"Ah, pemerasan."


Ketiganya lalu terkekeh bersama. Tanpa berniat benar-benar ingin semangkuk bakso.


 

__ADS_1


__ADS_2